Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
ulah daddy dan kakek


__ADS_3

Bintang masih memasang wajah masam saat masuk kedalam rumah. Tingkah Langit benar-benar membuatnya kesal.


"Emang dia kira gue cewek apaan! Main sosor-sosor aja!". Gerutu Bintang sambil berjalan memasuki rumah.


"Sosor apa dek?". Bintang berjingkat karena tiba-tiba Kiran sudah berdiri disampingnya.


"Astagfirullah..mbak Kiran ngapain disini?Bikin aku kaget tau". Bintang balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Kiran.


"Mau panggil kamu, soalnya kakek Wira sama keluarganya mau pamit". Bintang hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Kamu belum jawab pertanyaan mbak. Apanya yang sosor-sosor?". Bintang menghela nafas panjang. Ia kira Kiran sudah lupa, rupanya belum.


"Ah itu mbak, lagu. Sosor bebek angsa..masak di kuali itu.." Bintang menjawab asal. Apa yang terlintas dibenaknya ia keluarkan.


"Sosor bebek angsa?". Gumam Kiran nampak berpikir keras. Kiran merasa ada yang janggal dari lagu yang dinyanyikan adik iparnya.


"Ngaco kamu! Bukan sosor bebek dek, potong bebek..gimana sih kamu". Akhirnya Kiran menemukan dimana kejanggalan lagu yang dinyanyikan Bintang.


"Iya gitu mbak? Perasaan sosor bebek deh.."


Langit melipat bibirnya rapat-rapat. Mencoba menahan diri untuk tidak tertawa. Apalagi saat ini tatapan mata Bintang seolah siap melahapnya hidup-hidup.


Ia tahu pasti Bintang tengah mengumpati dirinya karena kembali mencuri kecupan di bibir gadis itu.


"Mana ada sosor bebek, yang ada tuh potong bebek angsa, masak di kuali, nona minta dansa, dansa empat kali..gitu lagunya". Kiran jadi menyanyikan lagu itu untuk meyakinkan Bintang jika apa yang tadi gadis itu nyanyikan salah.


"Oh iya, Bintang yang salah ya mbak". Bintang nyengir menampakkan deretan giginya.


"Ish kamu tuh. Mbak jadi nyanyi lagu anak-anak begitu". Kiran tampak merona saat semua menatap dirinya dan Bintang dengan senyum lucu.


"Nggak apa-apa mbak. Masih keliatan imut kok". Kiran memukul pelan lengan adiknya yang justru menggodanya.


Bintang mendaratkan bobot tubuhnya tepat di sebelah ayah. Ia tak mau lagi duduk di sebelah Langit yang sejak tadi terus menatap pada dirinya.


"Kami pamit dulu Hen.." Daddy Prabu membuka suara setelah semua berkumpul.


"Baiklah..Sampai bertemu lagi". Kedua ayah itu saling berpelukan sekilas.


"Saya pamit dulu jeng Ratih..semoga secepatnya kita bertemu lagi". Mommy Sekar memeluk bunda Ratih yang membalas pelukan mommy tak kalah erat.


"Sepertinya kita akan sering bertemu jeng Sekar". Seloroh bunda membuat mommy tertawa.


"Semoga saja begitu ya.." Bunda mengangguk.


"Bintang.." Merasa namanya dipanggil, Bintang mendekat pada kakek Wira.


"Kakek pamit dulu..maaf jika semua ini membuatmu terkejut nak". Langit mencibir kakeknya yang memperlakukan Bintang dengan sangat lembut. Tidak seperti saat dengannya. Sang kakek sering memanggilnya berandalan.


"Tidak kek..sama sekali tidak. Maaf juga kalau tadi Bintang.." Bintang tersenyum kaku saat mengingat tingkah konyolnya saat tadi berusaha melarikan diri.

__ADS_1


"Bukan salahmu..kamu pasti sangat terkejut tadi". Bintang hanya menundukkan kepalanya saja.


"Kakek pulang dulu..sampai bertemu lagi". Bintang menganggukkan kepalanya kemudian mencium punggung tangan kakek.


"Lain kali kalian harus datang ke rumah kami". Kakek menatap ayah Henry yang langsung mengangguk menyanggupi undangan tak langsung yang kakek berikan.


"Pasti paman, kami akan berkunjung nanti". Kakek menganggukkan kepalanya.


"Langit pamit dulu om, tante.." ayah Henry menepuk pundak Langit saat pemuda itu berpamitan padanya.


"Hati-hati di jalan ya, Langit". Langit tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bunda memang selalu baik dan ramah.


"Bintang..cantik.." Bintang tolehkan kepalanya saat pundaknya ditepuk lembut oleh mommy Sekar.


"Mommy pamit dulu ya.." Bintang mengerjap mendengar Sekar menamai dirinya mommy juga untuk Bintang.


"Biasakan panggil mommy mulai sekarang, oke". Bintang tersenyum kaku saat mommy Sekar tertawa.


"Sering-sering main kerumah mommy ya.." Bintang mengangguk dan membalas pelukan mommy Sekar.


Setelah berpamitan, keluarga Langit benar-benar meninggalkan kediaman keluarga Laksmana.


Tinggalah keluarga inti ayah Henry yang duduk diruang tamu setelah mengantar kepulangan keluarga kakek Wira.


"Langit ganteng ya dek.." Bintang menatap kakak iparnya lalu tersenyum tanpa berniat menjawab pertanyaan sang kakak ipar.


"Bunda sudah dua kali bertemu dengan Langit.." Ayah menatap bunda dengan alis berkerut.


"Memangnya kapan bunda bertemu dengan Langit?". Tanya ayah Henry


"Waktu itu, di sekolah Bintang". Ucap bunda tanpa menjelaskan kapan tepatnya waktu pertemuan bunda.


"Hoaahh.." Bintang sengaja menguap dengan keras agar semua mendengarnya.


"Bintang ngantuk yah..Bintang istirahat dulu ya". Ayah dan bunda mengangguk.


Mereka tahu, pasti Bintang kelelahan karena ulahnya yang mencoba kabur tadi.


Sesampainya di kamar, Bintang segera masuk kedalam kamar mandi. Melepaskan gaun cantik dan melemparkannya sembarang. Sebenarnya Bintang gadis yang rapi dan bersih, namun kejadian beberapa waktu lalu membuatnya malas hanya untuk sekedar meletakkan gaunnya dikeranjang pakaian kotornya.


Selesai membersihkan wajah dan mengganti bajunya, Bintang menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya.


Kali ini sandiwaranya benar-benar sudah berakhir dihadapan Langit. Ia yakin jika Langit akan semakin mempersulitnya dan terus mengganggu dirinya.


"Aaaaahhhh!!!", Teriak Bintang keras. Untung saja kamarnya sengaja dibuat kedap suara, jadi teriakannya tidak akan mengejutkan penghuni rumah yang lain.


"Kenapa musti si biawak sih yang dijodohin sama gue? Sekarang harus gimana?". Bintang bertanya sendiri pada dirinya.


Sementara Bintang tengah pusing memikirkan nasibnya, Langit yang masih dalam perjalanan pulang nampak duduk tenang dengan senyum yang terus merekah dibibirnya.

__ADS_1


Kakek dan mommy yang melihat nya ikut tersenyum.


"Bagaimana menurutmu? Bukankah Bintang gadis yang cantik, Sekar". Kakek sengaja membuka pembicaraan dengan menantunya yang sejak tadi juga terlihat antusias.


"Benar pa..dia gadis yang sangat cantik, dan juga....menarik". Mommy Sekar masih mengingat saat pertama tadi melihat Bintang tadi.


Gadis cantik dengan gaun yang cantik, meski tanpa alas kaki sekalipun. Mommy Sekar terkekeh pelan saat mengingat Bintang tadi. Apalagi mendengar percakapan singkat kedua kakak ipar Bintang tadi, semakin membuat mommy Sekar tertarik pada gadis bernama Bintang itu.


"Berarti aku tidak salah bukan menjodohkan mereka?". Mommy Sekar langsung menggeleng cepat.


"Bagaimana menurutmu Lang?". Kini kakek bertanya pada cucu kesayangannya yang sejak tadi hanya diam sambil tersenyum.


"Apanya?". Langit yang asyik dengan pikirannya sampai tidak mendengarkan percakapan ibu dan kakeknya.


"Ish..kamu nggak dengerin dari tadi?". Mommy Sekar melotot kesal pada putranya.


"Memang apa yang mommy dan kakek bicarakan?", Langit balik bertanya membuat mommy Sekar mencebik kesal.


"Kami akan membatalkan perjodohan kalian. Lagipula kan kamu memang tidak ingin dijodohkan, jadi daddy pikir lebih baik perjodohan ini dibatalkan saja". Daddy Prabu yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara mambuat mommy dan Langit langsung menatap ke arahnya.


"Apa maksud daddy?!". Pertanyaan yang sama meluncur dari bibir Langit dan mommy. Dari suaranya saja, daddy tahu jika keduanya tidak suka dengan ucapannya.


"Bukannya kamu tidak suka dijodohkan? Papa masih ingat kan, Langit bilang dia tidak mau dijodohkan?". Daddy mencari dukungan dari ayahnya yang terlihat mengangguk. Dari semua orang, sepertinya hanya kakek Wira yang tahu apa maksud daddy mengatakan pembatalan perjodohan ini.


"Mommy nggak setuju". Mommy cepat menolak usulan daddy.


"Langit juga! Mana ada kaya gitu! Langit udah setuju, sekarang daddy seenaknya mau batalin". Bibir Langit merepet tak terima jika sampai perjodohan ini dibatalkan.


Daddy Prabu tersenyum samar, ingin tertawa sebenarnya. Namun coba ia tahan karena masih ingin melihat seberapa ingin putranya dijodohkan dengan anak sahabatnya itu.


"Iya dad, Langit benar. Lagipula apa yang akan kita katakan pada keluarga mas Henry dan jeng Ratih kalau sampai membatalkan sepihak". Kini giliran mommy yang mengoceh membuat senyum daddy semakin tak tertahankan.


Rupanya bukan hanya putranya yang masuk kedalam perangkapnya. Istrinya pun ikut terjebak.


"Aku yang akan membatalkan jika memang Langit tidak suka. Kakek baru memikirkannya sekarang setelah daddy mu berbicara seperti itu. Sepertinya kakek salah telah memaksakan kehendak kakek". Daddy Prabu memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumnya yang kian melebar. Rupanya ayahnya juga sangat pro dalam berakting.


"Jangan!!!", Langit bahkan sampai bebalik menghadap kursi belakang untuk menatap kakek dan daddy nya.


Bisa gagal semua rencananya untuk mendapatkan Bintang jika sampai pejodohan ini dibatalkan.


Akhirnya tawa kakek dan daddy meledak saat melihat wajah panik Langit. Rupanya putranya itu memang sudah jatuh hati pada Bintang bahkan tak rela jika perjodohan yang awalnya ia tentang itu dibatalkan.


Langit yang menyadari tengah dikerjai oleh kakek dan daddy nya kembali menghadap kedepan dan mendengus keras. Bagaimana bisa ia masuk dalam perangkap kakek dan daddy nya.


Sementara mommy yang baru menyadari ulah kakek dan daddy Langit hanya bisa menghela nafas sambil memukul pelan lengan suaminya. Dirinya ikut terjebak dalam permainan ayah mertua dan suaminya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Selamat sore readers🥰😊 semoga harinya menyenangkan dan semua diberi kesehatan ya, aamiin🤲🏻🤲🏻😊...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya, like komennya jangan ketinggalan pemirsah semua😘😊...


...Happy reading😊😊💐💐🥰...


__ADS_2