
Bintang benar-benar menepati janjinya pada Langit. Dengan diantarkan sopir keluarga dan didampingi Bunda, sejak pagi Bintang sudah duduk manis disamping ranjang rawat Langit dengan senyum seribu watt nya.
"Seneng banget sih lo kayanya hari ini". Langit tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengusap kepala Bintang yang sejak tadi menampakkan senyum manisnya.
"Enggak, biasa aja". Elak Bintang namun senyumnya tak luntur.
"Bintang, Langit.." Suara mommy membuat keduanya menoleh.
"Mommy tinggal beli makan dulu sama bunda ya". Karena memang sudah masuk waktu makan siang, mommy berinisiatif mengajak bunda untuk makan siang bersama.
"Kalian mau dibeliin apa?". Tanya bunda yang juga sudah berdiri disamping mommy.
Selain pergi untuk mengisi perut mereka, baik bunda maupun mommy memang ingin membicarakan perihal rencana pergi nya Langit dalam beberapa hari ke depan.
"Jus jambu.." Sahut Langit cepat saat melihat Bintang sudah membuka mulutnya.
Baik mommy maupun bunda tertawa. Sedangkan Bintang terlihat cemberut karena merasa Langit menggodanya.
"Apa?", Tanya Langit menatap Bintang
"Ngeledek gw lo ya". Sengit Bintang membuat Langit menggeleng.
"Mana ada gw ngeledek. Gw beneran mau pesen itu.." Bintang mencebik namun juga menyebutkan minuman yang sama seperti yang Langit pesan.
Kini tinggal Langit dan Bintang berdua dikamar itu. Hening setelah keluarnya bunda dan mommy dari ruang rawat Langit.
"Gw belajar suka apapun yang lo sukain". Bintang menoleh menatap Langit yang baru saja membuka suara.
"Semuanya..makanan, minuman, hobi, apapun tentang lo gw suka.." Bintang mengulum bibirnya menahan senyumannya mengembang.
Langit meraih tangan Bintang, menautkan jemarinya dengan jemari Bintang. Menikmati setiap detik kebersamaannya dengan Bintang sebelum nantinya ia akan berpisah jarak dengan Bintang.
"Nggak perlu sampe kaya gitu juga, Lang. Lo nggak harus suka sama apa yang gw suka". Ucap Bintang setelah terdiam cukup lama.
"Lo tetep harus jadi diri lo sendiri. Apapun yang mau lo suka, makanan, minuman, hobi atau apapun yang lo suka itu--"
"Yang gw suka itu elo..makanya apapun yang menyangkut elo, gw pasti suka". Bintang tak bisa menyembunyikan senyumannya, wajahnya pun menunjukkan reaksi serupa dengan munculnya rona merah di kedua pipinya.
"Dasar kang gombal.." Ucap Bintang memalingkan wajahnya dari tatapan Langit.
"Gw sayang sama lo, Bin. Sayang banget.." Bintang merasakan genggaman tangan Langit menguat. Membuatnya menoleh kembali pada Langit.
"Gw juga cinta sama lo..dengan seluruh hati yang gw punya". Langit menatap langsung mata Bintang yang kini terlihat mengerjap lucu.
"Gw juga sayang sama elo Lang.." Mata Langit melebar mendengar pengakuan Bintang. Ini kali pertamanya Bintang menyatakan perasaan padanya setelah satu tahun ia lewati untuk mengejar Bintang.
"Lo nyari apa?", Tanya Bintang karena Langit seperti sibuk mencari sesuatu.
"Hp gw dimana? Tanggal berapa ini? Jam berapa?", Tanya Langit beruntun membuat Bintang ikut mencari keberadaan ponsel Langit.
__ADS_1
"Tadi ditaruh mana? Jangan-jangan lo sakuin kaya pas kemaren. Lagian mau buat apa sih?". Tanya Bintang yang masih ikut mencari keberadaan ponsel Langit.
"Gw mau bikin pengingat, hari ini..di tanggal ini, jam ini..lo nyatain perasaan sayang lo ke gw. Ini harus diinget seumur hidup Bin.." Bintang yang tengah sibuk mencari langsung mematung. Ia tatap Langit yang seperti masih mencari ponselnya.
Mata Bintang mengerjap beberapa kali. Yang benar saja, hal seperti ini harus dibuat pengingat??
"Ish..gw kira apaan. Ngapain bikin pengingat pake dicatet di kalender sih". Sungut Bintang yang kembali duduk.
"Ah ini dia.." Tanpa peduli omelan Bintang, Langit tampak sibuk dengan ponselnya. Sepertinya ia benar-benar membuat pengingat di ponselnya. Karena bagi Langit, momen ini sangat-sangat penting dan juga berharga untuknya.
"Udah.." Langit tersenyum lebar. Menunjukkan catatan yang baru saja ia buat pada Bintang.
"Ish.." Bintang menggelengkan kepalanya, namun bibirnya tersenyum. Tak bisa juga menyembunyikan kebahagiaannya.
"Sini.." Bintang kembali dibuat kaget saat Langit menarik tangannya hingga kini tubuh mereka merapat.
"Mau apa lagi?", Tanya Bintang pelan. Karena Langit merangkul pundaknya hingga kini tubuh mereka saling bersentuhan.
"Kita harus foto.." Langit sudah mengangkat ponselnya didepan wajah mereka berdua.
"Buat apaan? Gw nggak biasa foto-foto gini". Bintang menundukkan kepalanya. Ia memang sudah biasa berselfi ria dengan Bulan. Namun ia merasa kurang percaya diri saat harus berfoto dengan Langit.
"Cepet liat sini..tangan gw pegel". Ucap Langit jujur. Tangannya tak luput dari luka, terlalu lama mengangkat ponsel yang sebenarnya tidak seberapa berat itu saja sudah mampu membuat tangannya ngilu.
"Ya udah turunin aja. Nggak usah foto, kan tiap hari juga ketemu. Jadi nggak us---"
cup.. cekrek..
"Bagus.." Gumam Langit sambil melihat layar ponselnya yang menampakkan gambar dirinya tengah mencium pipi Bintang.
"Kita harus sering-sering ambil foto berdua ya.." Langit menoleh pada Bintang yang masih bengong menatap dirinya.
"Oke, gw anggep setuju. Soalnya lo diem". Dengan seenaknya Langit memutuskan meski Bintang belum menjawab.
"Ish..kan gw--"
"Nggak ada penolakan". Sambar Langit cepat membuat Bintang memberengut kesal, dan..
cup...cekrek
Lagi dan lagi, Langit mencuri sebuah kecupan. Dan kali ini tepat di bibir Bintang yang langsung melebarkan matanya dengan wajah panik.
plak..!!
Bintang memukul lengan Langit yang dengan seenaknya mencuri kecupan dibibirnya. Bagaimana jika bunda atau mommy tiba-tiba kembali. Atau bagaimana jika ada perawat atau siapapun lah yang tiba-tiba masuk.
"Lo suka seenaknya banget sih". Gerutu Bintang dengan tatapan galaknya.
cup..cup..cup
__ADS_1
Tiga kecupan berturut mendarat kembali di bibir Bintang membuat Bintang semakin kelabakan karena ulah Langit. Jantungnya berdebar seperti akan meledak. Mungkin hanya kecupan, namun efek pada jantungnya sudah luar biasa. Padahal sebelum ini, Langit pernah mencuri ciuman darinya. Ciuman yang benar-benar ciuman, bukan hanya sekedar kecupan.
"Laaang..." Langit tersenyum mendengar rengekan Bintang.
cekrek..cekrek..
Foto sana foto sini, Langit seperti tak bosan mengambil foto Bintang dengan berbagai ekspresi.
"Gw mau simpen sebanyak yang gw bisa Bin. Semua tentang lo, gw mau simpen sebanyak-banyaknya. Karna gw belom tau sampai selama apa kita bakal pisah. Tapi percaya, gw bakal berusaha sekuat tenaga supaya bisa cepet jadi laki-laki hebat yang nantinya pantas bersanding sama lo. Laki-laki yang akan datang ke elo dengan sebuah kesuksesan, sampe lo nggak punya alasan buat nolak gw meskipun sebentar lagi lo bakal kecewa sama keputusan gw". Batin Langit sambil menatap Bintang yang tengah mengomelinya karena mengecupnya.
"Lang.." Ucap Bintang saat Langit tiba-tiba memeluknya dengan erat. Mendaratkan kecupan bertubi diatas kepalanya.
"Biarin kaya gini, Bin. Tolong biarin, bentar aja kaya gini.." Lirih Langit mengeratkan pelukannya.
Bintang tersenyum tipis, kemudian tangannya terangkat membalas pelukan Langit yang terasa hangat. Ia menepuk pelan punggung Langit, membuat pemuda itu memejamkan matanya.
Langit membuka matanya tanpa melepaskan pelukannya. Ia bertekad akan membuat Bintang benar-benar jatuh hati padanya hingga tidak akan pernah melupakannya dalam waktu yang singkat ini.
Setidaknya jika ia meninggalkan Bintang dalam keadaan gadis itu mencintainya, masih besar kemungkinannya untuk bisa merebut kembali hati gadis itu nanti saat ia kembali.
Langit benar-benar menyusun rencana dadakannya dengan matang.
Langit melepaskan pelukannya, menangkup pipi Bintang dengan kedua tangannya kemudian menatap kedua mata indah itu.
"Lo emang bukan cewek pertama dihidup gw, tapi lo..cewek pertama yang bisa bikin gw jatuh cinta, Bin". Ucap Langit tanpa mengalihkan tatapan matanya.
"Dan gw, bakal jadi laki-laki pertama buat lo. Dan satu-satunya laki-laki yang ada buat lo, apapun yang terjadi". Imbuhnya lagi. Langit seperti tengah mendoktrin alam bawah sadar Bintang untuk terus mengingat ucapannya kali ini.
"Gw bakal jadi ciuman pertama, kedua, dan seterusnya buat lo. Selamanya lo itu cuma punya gw.." Langit tersenyum karena Bintang benar-benar fokus padanya dan semua ucapannya.
cup..
Langit kembali mengecup bibir Bintang. Kali ini, lama Langit menempelkan bibirnya dan bibir Bintang. Setelah merasa cukup, Langit lepaskan kecupannya dan mengusap lembut bibir Bintang dengan ibu jarinya.
Wajah Bintang merona saat menyadari apa yang dilakukannya dengan Langit. Ia benar-benar terbuai dan lupa dengan keadaan dan tempat. Ia merutuki semua sikapnya ini.
"Cantik banget sih kalo malu-malu gini". Langit mengusap-usap pipi Bintang yang memerah. Terlihat semakin menggemaskan.
"Bin.." Bintang kembali menatap Langit saat memanggilnya.
"Apapun yang nanti gw lakuin..tolong jangan benci sama gw dan tolong maafin gw". Ucap Langit dengan wajah sendu.
"Emang lo mau ngelakuin apa?". Tanya Bintang.
"Tolong maafin gw, Bin.." Kini reaksi di wajah Bintang berubah. Terlihat kerutan di dahinya saat tiba-tiba Langit meminta maaf.
"Maaf? Maaf buat apa?". Tanya Bintang bingung.
...¥¥¥¥•••¥¥¥¥...
__ADS_1
...Satu dulu ya..doakan semoga bisa double up, sukur-sukur kreji up🥰🥰...
...Happy reading semua, sayang readers banyakbanyak💋💋♥️😘🥰😘🥰💐💋...