
Semua masih menatap Bintang dan Alva yang berjalan mendekati meja tempat Bulan dan teman yang lain berada.
Bukan wajah keduanya, melainkan tautan tangan keduanya lah yang menjadi titik fokus Bulan dan teman-temannya.
Bintang seolah tengah menegaskan statusnya atas semua keraguan yang dimiliki teman-temannya itu.
"Selamat malam.." Alva menyapa dengan ramah dan itu berhasil membuat semua kembali dari rasa ketekejutannya.
Bintang memasang senyum terbaiknya. Memang apalagi yang akan ia lakukan saat Alva sudah melakukan perannya dengan begitu apik.
Merasa bersalah sekaligus bersyukur. Itulah yang Bintang rasakan saat ini. Bersalah karena merasa memanfaatkan Alva, namun bersyukur karena Alva mau membantu dirinya dan berperan dengan sangat apik.
"Hai.." Bintang melambaikan tangannya yang bebas pada teman-temannya.
Dalam hati Alva bergumam, apa sebegitu hebatnya lelaki itu? Hingga melihat Bintang datang membawa dirinya seolah dunia baru saja runtuh.
"Waah, ini ya pacar Bintang yang kemarin diceritain". Langsung merepet begitu jaraknya sudah dekat dengan Bintang.
Siapa lagi kalau bukan Nindy si paling riweuh dan cerewet.
"Kenalin semua, ini namanya kak Alvaro. Panggil aja kak Alva.." Bintang memperkenalkan Alva pada yang lainnya.
"Hai kak, kenalin..nama aku Nindy". Orang pertama yang memperkenalkan dirinya adalah Nindy.
"Ardi.."
"Iwan.." Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri. Pun Sam dan yang lain. Meski terlihat tidak ramah, namun mereka tetap menerima uluran tangan Alva.
Nindy menatap Alva dan Bintang bergantian, kemudian turun menatap tautan tangan keduanya. Lalu menatap outfit keduanya dan langsung memekik heboh.
"Waaah, bener-bener couple goals deh.." Seru Nindy membuat semakin banyak saja yang memperhatikan Bintang dan Alva.
"Ni anak kaga bisa diungsiin dulu ke planet mana gitu. Misal pluto.." Batin Bintang yang berharap Nindy berhenti mengoceh. Karena sejujurnya ia merasa kurang nyaman dengan tatapan teman-temannya saat ini.
"Lihat deh..." Seru Nindy lagi menunjuk outfit Bintang dan Alva bergantian.
"So sweet banget siiiih..." Memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri dan menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri karena gemas melihat keserasian Bintang dan Alva yang sebenarnya tidak disengaja.
"Bajunya aja serasi banget, ya ampun.." Sontak saja ucapan Nindy membuat Bintang dan Alva saling menatap outfit yang mereka kenakan.
Bahkan kini mereka baru sadar jika apa yang mereka kenakan saat ini sangat serasi. Warna senada dari baju yang mereka pakai jelas semakin membuat semua meyakini hubungan palsu mereka saat ini.
Keduanya saling menatap kemudian tersenyum bersamaan seolah sama-sama lega dengan ketidaksengajaan itu.
"Boleh gabung?". Tanya Alva setelah kehebohan Nindy sedikit mereda.
"Boleh-boleh. Ayo duduk". Siapa lagi yang menjawab jika bukan Nindy si paling exited melihat temannya move on.
Alva menarik kursi untuk Bintang duduk. Dan hal itu kian memantik kehebohan seorang Nindy yang berkali-kali memuji keromantisan yang ditunjukkan Alva dan Bintang.
"Makasih kak.." Ucap Bintang tulus. Bukan hanya berakting, ia benar-benar tulus berterimakasih atas semua yang sudah Alva lakukan untuknya.
"Sama-sama". Menepuk lembut pucuk kepala Bintang beberapa kali kemudian duduk tepat disamping Bintang.
"Ya ampuuun..romantis banget mereka". Gumam Nindy yang menangkup wajahnya sambil memperhatikan interaksi Alva dan Bintang.
__ADS_1
Alva terlihat sibuk memainkan ponselnya, sepertinya lelaki itu tengah berbalas pesan dengan seseorang.
Sementara Bintang tampak berbincang dengan Bulan dan Nindy. Sedangkan Arsen, Sam dan Roman terlihat menatap Alva. Seolah mereka tengah menilai Alva.
"Mau kemana?". Tanya Alva saat Bintang bangkit dari duduknya.
"Mau ambil minum, kak. Haus.." Bintang mengelus lehernya yang kini terasa kering setelah berbincang dengan Bulan dan Nindy cukup lama.
"Tunggu disini, aku ambilin.." Alva langsung bangun dan bergegas mencarikan minuman untuk Bintang. Tidak ketinggalan Alva mencarikan cemilan untuk Bintang.
Segala yang Alva lakukan tidak luput dari pengamatan Sam dan yang lainnya. Kini mereka semakin gusar melihat kedekatan Bintang dan laki-laki bernama Alva itu.
Meskipun mereka masih ragu dengan status keduanya, namun melihat cara Alva memperlakukan Bintang serta bagaimana Bintang tersenyum dan terlihat nyaman disamping Alva membuat keraguan mereka kian terkikis. Membuat mereka semakin tidak tenang saja.
Ditambah melihat pemandangan didepan mereka kini, saat Bintang dengan cekatan membantu Alva menggulung lengan baju nya hingga ke siku.
"Biar aku bantu, kak". Bintang membantu Alva menggulung lengan bajunya saat melihat Alva sedikit kesulitan melakukan hal itu sendiri.
"Makasih ya.." Senyum tulus Alva membuat Bintang ikut tersenyum.
"Kaya anak kecil banget sih kalo makan. Kebiasaan". Alva mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan yang menempel disudut bibir Bintang.
Dari kejauhan, Catherine menatap benci pada Bintang yang selalu mendapat perhatian dari banyak orang.
Ia sempat bahagia saat mendengar kabar bahwa Bintang ditinggalkan oleh Langit. Ia merasa diatas awan. Ternyata bukan hanya dirinya yang terbuang, namun Bintang juga sama.
Tapi kini melihat Bintang mendapat pengganti Langit yang tak kalah tampan dan bahkan terlihat sangat perhatian, membuat panas hatinya.
Rupanya waktu tidak mampu mengikis rasa benci dan iri dengki yang Catherine miliki pada Bintang
"Bintang emang selalu beruntung ya dari dulu". Semakin besar saja kebenciannya terhadap Bintang saat telinganya mendengar hampir semua orang memuji Bintang dan segala yang dimilikinya.
Kembali pada Bintang dan Alva yang sejak tadi menjadi pusat perhatian. Keduanya terlihat asyik mengobrol. Beberapa kali keduanya terlibat obrolan tentang design apa yang akan mereka berikan bulan depannya lagi.
Mereka terhanyut dalam obrolan ringan itu hingga tak menyadari jika sekelilingnya tiba-tiba sunyi.
"Aku tinggal ke toilet sebentar ya.." Pamit Alva pada Bintang yang langsung mengangguk.
Alva menepuk kepala Bintang sebelum berlalu meninggalkan Bintang yang langsung meraih gelas minumannya dan meneguknya hingga menyisakan setengahnya saja.
"B-Bin..." Panggil Nindy gagap.
"Hem.." Berdehem menjawab panggilan Nindy.
Bintang sudah sibuk dengan ponselnya, melihat grup chat kantornya yang sibuk membahas masalah pekerjaan padahal ini adalah weekend.
"Pada nggak capek apa ya ngomongin kerjaan mulu". Gumam Bintang yang masih terus menggulir layar ponselnya.
"B-Bin..!" Panggilan kembali terdengar disertai tepukan dipundaknya.
"Apa Nindy??". Sahut Bintang tanpa melepaskan tatapannya dari layar ponselnya.
"Bintang!!". Kini berseru lebih keras dengan pukulan dipunggung tangannya.
Dan pelakunya masih sama. Nindy orangnya, yang sejak tadi sibuk memanggil nama Bintang tapi tidak mengatakan apa tujuannya memanggil namanya.
__ADS_1
"Apasih ya ampun.." Kesal juga lama-lama Bintang.
"I-itu..." Alis Bintang berkerut saat Nindy menunjuk arah belakang tubuhnya.
Bintang tersenyum tipis. Ini bukan kali pertama hal ini terjadi, dirinya tak akan lagi tertipu oleh ulah temannya itu.
"Apa? Itu apa?". Tanya Bintang.
"La-Lang-Langit Bin.." Nindy benar-benar costplay jadi bang aziz gagap malam ini.
"Langit nya kenapa?". Tanya Bintang lagi dengan nada teramat santai.
"Lang-Langit dateng Bin". Bintang menatap satu persatu temannya. Ekspresi wajahnya sama. Menunjukkan wajah terkejut didepannya.
Tapi kali ini dirinya tidak akan tertipu dengan ulah teman-temannya itu lagi. Sudah cukup ia selalu dikerjai selama lima tahun berturut-turut.
"Iya-iya. Langit dateng, terus sekarang lagi jalan ke arah sini kan?", Tanya Bintang dijawab anggukan kepala teman-temannya. Bukan hanya Nindy, namun Bulan juga sama.
"Makasih banyak info nya ya, tapi aku nggak akan ketipu lagi ama ulah kalian". Ucap Bintang tegas dan kembali menatap layar ponselnya.
"Ta-tapi beneran..." Nindy jadi gemas sendiri karena melihat Bintang yang terlewat santai itu.
"Iya beneran..." Sahut Bintang.
"Beneran boongnya kan??", Imbuhnya sambil terkekeh pelan.
Sementara sosok yang membuat semua orang tak mampu berbicara normal itu kini semakin dekat dengan Bintang berada.
"Hai semuanya.." Hanya dua kata, namun suara itu berhasil membuat Bintang membeku ditempatnya. Bahkan senyum yang tadi sempat terpatri diwajah ayu itu hilang seketika.
Bahkan jemarinya yang tadi terlihat menggulirkan layar ponselnya pun kini terlihat tak bergerak.
Tatapan matanya lurus menatap kosong ke depan. Tangannya bergetar, bahkan ponselnya hampir terjatuh jika dirinya tidak cepat menggenggamnya erat.
"Lang-Langit.." Gumamnya sangat lirih. Bahkan mungkin hanya dirinya yang mampu mendengarnya.
"Sorry telat.." Jantung Bintang benar-benar seperti berhenti bekerja saat suara yang begitu ia rindukan namun juga begitu ia benci itu kembali terdengar.
"Bin.." Lirih Bulan yang melihat wajah pias sahabatnya.
Deg..
deg..
deg..
Jantung Bintang berdetak kuat. Laki-laki yang membuatnya merasakan cinta, sekaligus laki-laki yang membuatnya tak bisa lagi merasakan cinta pada laki-laki lain itu kini kembali. Setelah enam tahun lamanya, dia kembali.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Nah loh akhirnya ketemu kan😱😱...
...Kira-kira Bintang gimana ya?? Dimaafin apa nggak nih Langitnya?🧐🧐...
...Bintang bakal pilih Langit atau kak Alva nih kira-kira??🧐🤔🤔...
__ADS_1
...Dari judulnya aja udah ketauan ya😂😂😂...