
Bintang tampak masih terpana menatap sosok kecil didalam baby box disamping ranjang Naura.
Naura tersenyum melihat Bintang yang tampak asyik sendiri menatap anaknya. Bahkan kedatangan Bulan dan pemuda yang belum Naura tahu siapa namanya tak mampu membuat Bintang mengalihkan fokus matanya.
Bintang masih dibuat kagum dengan kebesaran sang maha kuasa. Ia berpikir, bagaimana bisa ada sosok mungil seperti itu didalam perut Naura.
Bunda menepuk pelan pundak putrinya yang masih menatap keponakannya. Bintang mengangkat alisnya, seolah bertanya ada apa.
Bunda tersenyum gemas melihat Bintang yang sangat antusias dengan keponakan pertamanya itu. Tanpa bersuara, bunda hanya melirik sofa yang ada dikamar Naura. Disana ada Bulan dan Sam yang duduk bersebelahan sambil menatap Bintang.
Bintang tampak terkejut dengan keberadaan Bulan dan Sam. Karena terlalu fokus dengan keponakannya hingga tak menyadari kedatangan Bulan dan Sam.
Bulan terkekeh geli melihat reaksi Bintang. Sementara Sam hanya tersenyum tipis sambil menggeleng.
Awalnya Sam dibuat terkejut dengan kenyataan tentang identitas Bintang yang sesungguhnya.
Sungguh Sam hampir terkena serangan jantung melihat Bintang ada diruangan yang sama dengan istri serta anak dan menantu tuan Henry Laksmana.
Ia menatap Bulan penuh tanya. Sedangkan yang ditatap hanya bisa tersenyum kaku karena bingung menjelaskan pada Sam.
Sam baru memahami siapa Bintang sesungguhnya setelah diam beberapa saat diruangan itu dan Bulan menjelaskan tentang siapa Bintang sebenarnya.
Bintang menegakkan tubuhnya, kemudian berjalan mendekati Bulan dan Sam yang masih menatap dirinya.
Saat semakin dekat dengan Bulan dan Sam, wajah Bintang tiba-tiba berubah panik. Ia baru menyadari keberadaan Sam. Dan tentu saja lelaki itu kini tahu siapa dirinya.
"Duduk aja, gw udah tau". Seolah mengerti dengan jalan pikiran Bintang, Sam bersuara dengan senyum sejuta makna.
"Mati gw". Batin Bintang. Kenapa jadi semua orang tahu identitasnya begini. Pekik Bintang dalam hati.
Bintang menatap Bulan. Mata Bintang menyiratkan sejuta pertanyaan yang ia tujukan pada Bulan.
"Kenapa elo bawa si kulkas dua pintu kesini??". Mungkin saat ini itulah yang sangat ingin Bintang tanyakan pada Bulan.
"Bulan khawatir sama lo. Makanya dia nyusul kesini. Cuma nyokap nyuruh gw anter dia". Bintang menatap Sam dengan tatapan tak percaya saat Sam seolah bisa membaca pikirannya.
"Ni kulkas dua pintu merangkap jadi cenayang apa dukun sih?". Bulan menunduk, terlalu panik dan khawatir dengan Bintang membuatnya lupa jika belum ada yang tahu tentang siapa Bintang.
Hanya tatapan penuh permohonan maaf yang kini bisa Bulan berikan pada Bintang. Bintang yang melihatnya hanya bisa menghela nafas, bukan sepenuhnya salah Bulan.
Ia tahu Bulan peduli pada dirinya dan keluarganya. Pasti gadis itu panik saat melihatnya buru-buru ke rumah sakit tadi. Lagipula Langit sudah mengetahui siapa dirinya, lambat laun dua antek-anteknya pun pasti akan diberitahu.
__ADS_1
Semua akan tahu, hanya saja waktunya terlalu cepat menurut Bintang. Ia seolah belum siap jika banyak yang tahu tentang siapa dirinya.
Ketiganya terdiam sesaat dengan pikiran mereka masing-masing. Sam yang sejujurnya masih terkejut dengan kenyataan tentang siapa Bintang, dan Bulan yang masih merasa tidak enak karena membuat identitas Bintang terbuka didepan Sam. Dan Bintang yang bingung harus berkata apa supaya Sam mau ikut menyembunyikan identitasnya meskipun pemuda itu sudah tahu.
"Dimana Langit?". Sam dan Bintang saling menatap saat pertanyaan yang sama terlontar dari bibir keduanya.
Bintang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak ada Langit disana. Lalu dimana lelaki yang sejak tadi menyertai dirinya itu?!
"Kok malah nanya kita sih. Kan tadi lo ama Langit". Bulan jadi bingung sendiri, bukankah tadi Langit pergi mengantar Bintang. Lalu kenapa Bintang tidak tahu dimana Langit sekarang.
"Langit sedang pergi bersama ayah.. mungkin mereka makan malam". Bunda menjawab kebingungan para anak muda itu.
Sedangkan dilain tempat, ayah dan Langit sedang duduk berdua disebuah meja di kantin rumah sakit. Meskipun sudah malam, kantin rumah sakit masih terlihat ramai pengunjung.
Sebenarnya Langit masih bingung, mengapa ayah Henry tiba-tiba mengajaknya pergi berdua dengan alasan makan malam. Padahal jika dipikirkan, Bintang pun belum makan malam. Kenapa tidak diajak sekalian saja? Namun Langit hanya bertanya dalam diam saja.
"Kamu mau makan apa Lang?". Tanya ayah sambil menatap Langit.
Ayah memang sengaja mengajak Langit untuk mengobrol berdua. Ayah rasa, ia perlu menyampaikan apa alasan Bintang bisa takut terhadap segala hal tentang rumah sakit. Dan segala sesuatu tentang Bintang.
Ia ingin Langit bisa menjaga putrinya saat dirinya atau orang kepercayaannya tak bisa menjaga Bintang.
"Baiklah. Kamu suka kopi?". Langit mengangguk, ia memang penggemar kopi. Dan rupanya ayah pun sama.
"Black coffe saja om.." Jawab Langit saat ayah menanyakan Langit ingin kopi apa.
"Selera kita sama. Sepertinya darah Prabu mengalir kuat padamu". Ayah terkekeh, ia teringat sahabat baiknya Prabu, yang juga menyukai black coffe.
"Panggil saja ayah, Lang. Ayah dengar tadi kamu memanggil bunda. Bukankah lebih nyaman jika memanggilku ayah?". Langit tak bisa menutupi keterkejutan sekaligus kebahagiaannya saat ayah Henry meminta dirinya untuk memanggilnya ayah.
"Hah, iya om. Ah maksud saya ayah.." Ayah Henry terkekeh pelan melihat Langit yang tiba-tiba gugup.
"Ayah sengaja mengajakmu kesini untuk membicarakan segala hal tentang Bintang". Langit langsung menatap ayah. Segala tentang Bintang? Apa itu artinya ayah Henry telah mempercayakan Bintang padanya? Atau ayah Henry mempercayainya untuk menjadi pendamping Bintang? Banyak pertanyaan dibenak Langit.
"Ayah mendengar saat tadi dirimu mencoba menenangkan Bintang. Ayah mendengar semuanya. Dan ayah rasa, kamu harus tahu beberapa hal tentang Bintang. Karena ayah rasa, kamu yang akan lebih sering berinteraksi dengannya jika diluar rumah". Langit menatap ayah dengan serius. Dirinya ingin benar-benar tahu segala hal tentang Bintang. Bahkan hal paling sepele sekalipun.
"Kamu pasti bingung kenapa Bintang sangat tidak menyukai rumah sakit bukan?". Langit langsung mengangguk cepat. Inilah yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Ayah terlihat menghela nafas panjang. Baginya, penting Langit tahu tentang mengapa Bintang sangat tidak menyukai bahkan cenderung takut pada rumah sakit.
Harapan ayah, Langit bisa menjaga Bintang dan menjauhkan gadis itu dari hal yang tidak disukai juga ditakutinya.
__ADS_1
"Bintang memiliki trauma tersendiri terhadap rumah sakit dan segala yang ada kaitannya dengan rumah sakit". Mata ayah terlihat menerawang. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam saat istri tercintanya berpulang setelah berjuang melawan penyakitnya.
"Saat itu, Bintang masih kecil. Masih terlalu kecil untuk menghadapi hal mengerikan itu Lang.." Langit mendengarkan semua yang ayah ucapkan tanpa berniat menyela sedikitpun.
"Entah bagaimana hatinya kala itu. Jika ayah saja hampir gila karena kepergian ibunya Bintang. Hanya Bintang yang membuat ayah masih mempertahankan kewarasan ayah". Langit termangu mendengar ucapan ayah. Begitu besar arti Bintang bagi ayah.
Ayah menceritakan segalanya, dimulai dari ibu kandung Bintang yang menderita sakit bawaan hingga mengharuskan beliau keluar masuk rumah sakit untuk pengobatan.
Hingga pada saat hari itu tiba, saat Bintang melihat dengan mata kepalanya sendiri sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya tepat didepan mata Bintang.
"Kehilangan sosok ibu yang sangat menyayanginya membuat Bintang sangat terpukul. Apalagi dia masih sangat kecil kala itu.."
"Sejak saat itu, Bintang sangat membenci rumah sakit Lang. Bintang kami yang ceria berubah murung dan menjadi penyendiri. Bintang paling takut jika orang terdekatnya masuk rumah sakit. Seperti tadi saat dia menangis melihat Naura kesakitan. Traumanya terlalu dalam".
"Itu membuat Bintang selalu berpikir jauh jika ada keluarganya yang sakit atau bahkan sampai masuk rumah sakit. Dia takut jika harus kembali merasakan kehilangan orang terkasihnya". Langit buru-buru mengerjapkan matanya saat merasa desakan air mata.
"Setelah kepergian ibunya, Dia seperti kehilangan dunianya. Bahkan tidak mau berteman dengan siapapun setelah hari itu.." Ayah menyeka sudut matanya yang tanpa sadar sudah berair. Ia selalu sedih jika mengingat tentang masa kecil Bintang.
"Tapi kami masih beruntung.." Ayah menatap Langit yang terlihat hanyut dalam ceritanya.
"Bintang dipertemukan dengan Bulan". Wajah yang sejak tadi terlihat sedih itu perlahan menyunggingkan seulas senyum tipis.
"Ya, hanya dengan Bulan saja Bintang kembali menjadi dirinya. Dan Bintang seperti saat inipun tidak luput dari campur tangan Bulan".
"Kami sangat berhutang budi pada gadis itu".
"Jadi karena ini mereka sangat dekat dan seperti memiliki ikatan batin". Kini Langit paham mengapa kedua gadis itu seperti tak terpisahkan satu sama lain. Rupanya Bulan berperan besar dalam mengembalikan keceriaan Bintang yang sempat menghilang.
"Kamu adalah laki-laki yang opanya Bintang jodohkan dengannya. Dan ayah menyetujuinya.." Kini ayah tersenyum pada Langit.
"Ayah berharap kalian akan berlanjut hingga nanti menikah". Langit merasa terbang diatas awan, hubungannya dan Bintang benar-benar didukung sepenuhnya oleh orang tua Bintang.
"Mungkin terlalu cepat membahas sampai pernikahan..tapi dari yang ayah lihat, kamu sangat menyayangi putri ayah. Dan sepertinya Bintang juga nyaman berada didekatmu". Ucapan ayah seperti oase ditengah gurun pasir gersang. Langit seolah mendapat tambahan kekuatan untuk bisa meluluhkan Bintang.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Biawak langsung dapet lampu ijo dari ayah sama bunda euyyy...mantap pisan😅😅👍🏻...
...Lanjut nggak?? Lanjut lah ya..masa macet tengah jalan kan nggak seru ya readers😂😂😂kalian jangan bosen ya kalo othornya up banyakbanyak🙏🏻...
...Happy reading😊😊🥰 sayang kalian banyakbanyak readers😘😘🥰💋💐♥️...
__ADS_1