
"Lang..ada yang mau kakek sampaikan padamu". Langit diam, senyumnya yang sempat mengembang perlahan memudar. Berganti rasa tak nyaman dan pikiran yang mulai menerka apa yang akan kakeknya sampaikan.
"Asal nggak usah aneh-aneh". Ketus Langit yang masih setia duduk disamping sang mommy.
Langit menatap kakeknya yang berulang kali menghela nafas. Sudah bisa ia tebak jika itu pasti sesuatu yang tidak akan dia sukai.
"Kalo kakek nggak mau ngomong, Langit mau tidur. Capek". Langit bangkit, namun segera ditarik sang mommy setelah Daddy Prabu meneriakkan nama Langit.
"Langit!!!". Langit duduk, wajahny tak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Karena bukan satu atau dua kali sang daddy memarahi bahkan memukulnya jika melakukan kesalahan fatal.
"Dia kakekmu! Hormati dia Lang.." Suara daddy melembut, kadang ia tak bisa mengontrol amarahnya jika berhadapan dengan sang putra yang selalu sengaja menguji kesabarannya.
"Oke oke...jadi tuan Wiratmaja yang terhormat, apa yang ingin anda sampaikan??". Daddy Prabu kembali menghela nafas. Putra bungsunya memang benar-benar paling pintar jika menguji kesabarannya.
Bukannya marah, tuan Wira justru tertawa melihat kenakalan cucu tersayangnya itu. Sikap daddy Prabu saat muda benar-benar menurun pada Langit. Kakek hentikan tawanya, sudah cukup berbasa-basi. Sudah saat nya ia menyampaikan tujuannya datang kerumah putranya.
"Kakek akan menjodohkanmu". Hening, tak ada yang bersuara. Hingga beberapa detik kemudian, Langit tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha...Ayolah kek, ini bukan jamannya Siti Nurhaliza.." Mommy Sekar menepuk keningnya, lalu mencubit lengan putranya yang masih sempat-sempatnya bercanda disaat kakeknya sedang serius.
"Kenapa?? Apa yang salah mom??", Langit bertanya dengan wajah tanpa dosa. Membuat mommy kesal sekaligus ingin tertawa.
"Kakek sedang tidak bercanda, Lang". Suara berat sang kakek menghentikan tawa Langit.
"Aku juga nggak bercanda kek. Come on lah..Langit masih 17tahun. Apa-apaan sih main jodoh-jodohan". Langit tak suka dengan pembahasan kali ini. Dari semua yang kakeknya pernah lakukan, ini adalah hal yang paling Langit benci.
"Bukankah kamu suka berganti-ganti pacar? Daripada seperti itu, bukankah lebih baik menikah muda saja". Langit mendengus, baginya berganti pacar berulang kali hanya ajang pembuktian diri jika dirinya lelaki populer yang akan mendapatkan gadis manapun dengan pesona dan hartanya.
"Langit hanya bersenang-senang. Lagipula kakek tahu sendiri Langit tidak pernah melampaui batasan ataupun norma agama kita". Kini Langit dan kakek beradu pandang, saling menatap tajam tanpa ada yang mau mengalah.
Baik mommy maupun daddy hanya bisa menghela nafas panjang. Hal seperti ini sudah sering terjadi jika keduanya bertemu. Namun tak akan lama, karena kedua orang itu sebenarnya saling menyayangi.
"Langit nggak mau". Tegas Langit
"Kamu harus mau. Kalian sudah dijodohkan sejak kecil. Bahkan sejak kalian masih dalam kandungan". Langit kembali tertawa mendengar kekonyolan kakeknya. Bagaimana bisa bayi yang masih didalam kandungan dijodohkan.
"Jangan mengada-ada kek. Tidak masuk akal". Sengit Langit membuat kakek tersenyum miring.
"Kenapa tidak kau tanyakan pada mommy dan daddy mu?". Langit menatap kedua orang tuanya. Namun baik mommy ataupun sang daddy tak ada yang mau menatapnya. Dari sikap keduanya saja Langit sudah tahu jika apa yang dikatakan kakeknya adalah sebuah kebenaran.
__ADS_1
"Kalian benar-benar konyol! Bagaimana mungkin kalian menjodohkan aku dari bayi". Kesal Langit menatap kedua orang tua dan kakeknya.
"Dia gadis yang baik Lang. Dia juga cantik, setidaknya, lihatlah dulu". Kakek menyodorkan sebuah foto. Seorang gadis cantik dengan senyum menawan, tapi jangankan menerima selembar foto yang kakeknya ulurkan, melirik pun tidak Langit lakukan.
"Kakeknya dan kakek sudah bersahabat lama. Kami sudah memutuskan akan menjodohkan kalian. Sayang, sahabat kakek sudah lebih dulu dipanggil sebelum melihat cucu tercintanya menikah denganmu". Langit tak peduli. Ia tak mau dijodohkan dengan alasan apapun.
"Kakeknya sudah banyak menolong kita saat dulu kesulitan. Tidak ada salahnya kamu mencoba hubungan baru bukan?". Langit mendengus. Tiba-tiba bayangan Bintang melintas di kepalanya.
"Nggak bisa! Langit udah punya pacar". Tidak ada yang terkejut, bukankah sudah biasa Langit berganti pacar berulang kali dalam satu bulan.
"Kamu bisa putuskan pacarmu". Ucap kakek tenang membuat Langit merengut kesal.
"Nggak bisa! Langit cinta sama dia". Semua kompak menatap Langit. Terutama mommy Sekar yang terlihat terkejut dengan pengakuan Langit.
"Sejak kapan kamu bisa mencintai satu gadis". Sinis kakek membuat Langit semakin cemberut. Ia tak bisa menyalahkan sikap kakek, karena selama ini dirinya memang senang bermain-main dan berganti-ganti pacar demi kesenangan nya sendiri.
"Ck! Kali ini aku serius. Aku udah punya pacar. Nggak mau jodoh-jodohan nggak jelas gini". Pungkas Langit.
"Lagian kenapa bukan kakek aja yang berjodoh sama sahabat kakek itu. Kenapa musti aku yang jadi korban".
"Langit!!!". Bukan hanya daddy, namunmommy dan kakek menyerukan nama Langit bersamaan.
"Langit nggak mau tau! Yang jelas aku nggak mau dijodohin! Titik!!!". Langit bangkit dan menyambar tas miliknya, kemudian pergi ke kamarnya. Meninggalkan ketiga orang dewasa yang memijit pangkal hidungnya karena ulahnya.
"Sekar.." Mommy menatap kakek yang kini menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja dulu. Kita berikan dia waktu". Mommy menghela nafas kemudian mengangguk. Ini sudah ia prediksikan sebelumnya. Langit jelas menolak rencana perjodohan ini.
"Anak itu benar-benar bikin pusing". Daddy Prabu memijit pangkal hidungnya, menghadapi Langit memang memerlukan kesabaran lebih.
"Kan sama kaya daddy". Ketus mommy yang membuat kakek tertawa. Sementara daddy tersenyum masam menatap istrinya yang terlihat cemberut.
Langit sampai dikamarnya. Ia kunci pintu kamarnya dan berjalan ke ranjangnya. Ia hempaskan tubuhnya keatas kasur empuknya kemudian memejamkan mata.
"Perjodohan?".
"Heuh..yang bener aja". Gumam Langit dengan sesungging senyum sinis.
"Hari gini mau jodohin gue. Udah nggak jaman". Gumamnya lagi sambil mendengus kesal mengingat permintaan kakeknya.
__ADS_1
Langit menutup matanya dengan sebelah lengannya. Namun kilasan kejadian saat dirinya dan Bintang berciuman secara tidak sengaja membuatnya langsung membuka mata.
Bukan ciuman yang sesungguhnya, hanya bibir yang saling menempel saja namun mampu membuat Langit kesulitan melupakan kejadian tak disengaja itu.
"Bintang.." Langit menggumamkan nama gadis yang berhasil memporakporandakan hatinya yang sudah lama tak tersentuh cinta.
Bibir Langit menyunggingkan senyuman, mengingat wajah Bintang yang memerah semakin membuat bibirnya melengkung sempurna.
Ia menghela nafas panjang, rupanya mendapatkan Bintang tak semudah yang ia bayangkan. Sudah berjalan dua bulan, jangankan mendapatkan hati gadis cantik itu, untun sekedar dekat saja masih belum bisa Langit lakukan.
"Aaaahhh!!!", Tiba-tiba Langit berteriak keras
"Susah banget sih deketin elo, Bin". Gumamnya kemudian. Ia sudah tak peduli dengan taruhannya bersama Sam dan Roman, yang ia inginkan hanya Bintang.
"Lagi apa ya dia?". Gumam Langit yang mengambil ponselnya didalam saku celananya.
"Bintang.." Tak hentinya Langit menggumamkan nama Bintang. Bayangan wajah Bintang selalu menari didalam pikirannya.
"Elo pake sihir apa sih, Bin". Jika saat ini ada yang melihat Langit, maka pasti mereka mengira Langit mulai gila. Karena sejak tadi lelaki itu berbicara sendiri kemudian tertawa.
Langit menggulir layar ponselnya, banyak pesan dari gadis yang mendekatinya. Mengabaikan pesan-pesan dari para fans nya, ia memilih membuka percakapan grup kelasnya. Ia mencari nomor ponsel Bintang disana, dan setelah menyimpannya, Langit tulis pesan pada gadis itu.
Berulang kali menulis, namun berulang kali juga Langit menghapusnya. Ia seolah tak memiliki kepercayaan diri untuk sekedar mengirim pesan pada Bintang.
plak!!
Langit menampar pipi nya sendiri. Ia benar-benar seperti orang yang baru pertama kali hendak mengirim pesan pada seorang gadis.
"Ayolah!! Jangan kaya amatiran gini!". Gumam Langit yang kembali mencoba menulis pesan namun kembali ia hapus.
Kesal pada dirinya sendiri, Langit lemparkan ponselnya ke ujung ranjang besar miliknya. Rupanya bukan hanya mendekati orangnya saja yang terasa sulit bagi Langit.
Bahkan sekedar menulis pesan untuk gadis itu saja Langit seolah tak memiliki kata-kata yang pas. Langit kembali berteriak karena merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Bintang!!!! Lo harus mau jadi pacar gue!!!". Teriak Langit.
Terlalu lelah memikirkan Bintang, Langit jatuh tertidur. Bahkan hingga sore hari, pemuda tampan itu masih terlelap.
...¥¥¥•••¥¥¥...
__ADS_1
...Hari ini mau kreji up lagi, biar yang baca ikutan kreji like🤭😅😊...
...Happy reading kalian semuaaa😊😊 sayang kalian banyakbanyak🥰🥰😘😘😘💋💐...