Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
ayo kita menikah


__ADS_3

"Semua keputusan ada ditanganmu sayang.. " Bunda mengelus lengan Bintang saat menyadari ketegangan di wajah putri cantik nya.


"A-aku... "


"Tidak perlu terburu-buru nak.. kamu bisa memikirkan semuanya terlebih dahulu. Kami akan menunggu.. " Mommy Sekar bersuara membuat Bintang langsung menatap nya.


"Ini pasti sangat mengejutkanmu, kami memahami semua itu. Jadi pikirkanlah dulu.. tidak harus menjawab sekarang". Mommy memberikan senyuman lembutnya pada Bintang.


" I-iya mom.. " Mommy tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya saat Bintang masih memanggilnya mom.


"Ayolah, kenapa jadi tegang begini? ". Ayah mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang karena menunggu jawaban Bintang.


" Kita makan malam saja dulu.." Ajakan ayah disetujui bunda dan yang lainnya.


Semua bergegas menuju ruang makan, tak terkecuali Bintang dan juga Langit.


"Ini benar-benar nyata?". Gumaman yang menyertai langkah kakinya menuju ruang makan. Bintang masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


Namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa tenang juga senang saat mengetahui siapa sosok lelaki yang ayahnya pilihkan. Untuk kedua kalinya sang ayah memilih Langit untuk mendampinginya. Bahkan setelah lelaki itu pergi bertahun-tahun lamanya pun pilihan ayahnya tetap jatuh pada lelaki itu,


Sementara Langit yang berjalan dibelakang Bintang tampak menarik dua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Bahkan hanya dengan melihat punggung wanita yang dicintainya saja ia bisa bahagia.


"Entah, sebenarnya aku benar-benar siap atau hanya sedang menenangkan diriku sendiri. Bahkan aku tidak bisa memikirkan apalagi membayangkan jika kamu benar-benar tidak mau lagi menerimaku.. " Suara itu hanya Langit yang mendengar, seperti tengah berbisik pada dirinya sendiri tentang akan seperti apa dirinya nanti jika pada kenyataannya ia harus benar-benar melepaskan Bintang.


Makan malam berlangsung hangat, terdengar ayah dan daddy yang membahas bisnis, dan ditimpali oleh kedua kakak Bintang. Sementara mommy dan bunda juga terlihat masih sama seperti dulu, akrab dan hangat. Diantara semuanya itu, hanya Langit dan Bintang yang tak bersuara.


Hingga suara Dewa membuat mereka saling menatap dengan tatapan terkejut. Selepas makan malam, saat semua berbincang hangat, Dewa menyuarakan juga apa yang sejak tadi mengganjal di hatinya.


"Mungkin kalian butuh waktu berdua, berbincang lah. Bicara dengan tenang dan dapatkan jawabannya. Kalian sudah dewasa.. bukan lagi anak remaja. Pergilah, bicarakan dari hati ke hati". Apa yang Dewa ucapkan di dukung sepenuhnya oleh semua orang. Karena mereka pun tahu jika Langit dan Bintang memang membutuhkan waktu berdua,


Dan disinilah sepasang anak manusia itu berada. Duduk bersebelahan di teras rumah ditemani cahaya rembulan dan kerlip nya bintang di langit malam itu.


Sejuknya angin malam menerpa wajah keduanya. Sedikit mengurangi rasa tegang juga canggung yang sejak tadi memyelimuti keduanya.


"Ehm.. " Langit berdehem, mencoba memikirkan apa yang ingin ia katakan untuk membuka pembicaraan ini.


"Maaf.. " Bintang menoleh sekilas mendengar permintaan maaf Langit, lalu kemudian kembali menatap gelapnya malam yang terlihat begitu indah saat disinari sang rembulan dan taburan jutaan bintang.

__ADS_1


"Maaf untuk apa, Langit? " Tatapan mata Bintang masih lurus menatap gelapnya malam.


"Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama.. " Yah, hanya permintaan maaf yang terlintas di benaknya saat ini. Mungkin dirinya memang harus meminta maaf lebih dulu pada Bintang.


"Maaf tidak pernah memberi kabar apapun.. "


"Kenapa?? ". Akhirnya ada juga kesempatan itu. Kesempatan untuk bertanya pada Langit tentang apa alasannya tidak pernah memberikan kabar apapun.


"Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? ". Bertanya sambil menatap Langit yang juga tengah menatap dirinya.


" Maaf.. "


"Jangan hanya terus meminta maaf Lang! Jelaskan padaku, kenapa?!! " Meledak juga akhirnya, sesuatu yang sudah bertahun-tahun ia pendam sendiri. Bahkan kini matanya sudah terasa panas, sedikit lagi sudah pasti dirinya akan menangis. Namun sebisa mungkin ia tahan.


"Aku tidak akan membela diri.. aku memang bersalah". Menghela nafasnya sejenak.


" Aku hanya takut tidak akan bisa menyelesaikan apa yang aku mulai jika aku menghubungi mu. Menanyakan kabarmu, apalagi jika aku sampai mendengar tangisanmu. Aku pasti akan berlari pulang dan memelukmu. Aku akan gagal dan tidak akan mencapai apapun.. " Bintang masih diam, mendengarkan semua dan apapun yang ingin ia dengar dan apa yang akan Langit sampaikan.


"Tapi sungguh, bahkan hingga detik ini. Disini... " Langit menunjuk dadanya.


"Cuma kamu yang ada disini, Bintang. Tidak ada yang berubah sedikitpun tentang perasaanku. Bahkan sekarang tumbuh lebih besar dan kuat lagi perasaan ini.. " Bintang memalingkan wajahnya. Karena nyatanya, ia tak bisa menutupi perasaan senangnya mendengar segala apa yang Langit ucapkan. Bahkan mungkin kini wajahnya bersemu, dan ia tak mau Langit melihatnya.


" Lalu siapa Sofi? ". Bibir yang tadi hanya tersenyum tipis itu kini semakin menampakkan senyum terangnya saat mendengar nada tak suka dari pertanyaan Bintang.


" Sofi? ". Beo Langit yang memilih berpura-pura tak paham kemana arah pertanyaan Bintang.


" Ya, Sofi. Dia bilang dia calon istri mu. Lalu kenapa kamu datang kesini? Apa karena daddy memaksa tentang perjodohan ini?". Tiba-tiba Bintang dilanda ketakutan dengan segala hal negatif yang ia pikirkan sendiri.


"Jika benar, maka jangan lakukan perjodohan ini. Lebih baik kamu kembali pada wanita yang kamu cintai itu. Aku sama sekali tidak keberatan". Meski bibirnya bisa dengan lancar mengucapkan segalanya, namun percayalah. Hatinya sangat tidak baik-baik saja saat mengucapkan semua kalimat itu.


" Kamu mau kemana? Kita belum selesai.. " Langit mencekal lengan Bintang karena gadis itu sudah bangun dari duduk nya.


"Aku akan bilang pada ayah dan daddy untuk membatalkan semua ini. Aku tidak ingin kamu terpaksa melakukan semua ini hanya karena terpaksa". Langit menghela nafas panjang, Bintang berpikir semaunya sendiri tanpa mendengar penjelasan. Bahkan Langit bisa dengan jelas melihat mata indah milik wanitanya itu berkaca-kaca.


" Lebih baik aku sakit lagi sekarang, daripada nanti saat kami sudah menikah". Pergolakan batin yang benar-benar menguras emosi nya sendiri. Semua ketakutannya saat ini adalah akibat ulahnya dan pikirannya sendiri.


"Dengarkan aku dulu.. kenapa kamu memutuskan segalanya sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasanku dulu". Langit kini memegang kedua lengan Bintang agar menatap dirinya.

__ADS_1


Bukan tanpa sebab Bintang seperti ini, ia hanya takut jika apa yang ia pikirkan ternyata benar adanya. Hatinya tak akan siapa menerima jika semua itu benar.


"Sofi bukan calon istriku. Kenapa kamu mempercayainya?? Untuk apa aku berjuang bertahun-tahun, menyelesaikan semuanya secepat mungkin? Memang kamu pikir apa alasan semua itu, Bintang?? ".


" Untuk apa aku kembali jika aku bisa melupakan semua tentang kita?? Aku bisa menikahi wanita lain diluar sana bahkan tanpa restu orang tuaku.. jika aku mau". Ucap Langit tegas, dan akhirnya air mata yang sejak tadi coba Bintang tahan keluar juga.


"Aku berjuang, aku memantaskan diri cuma buat kamu, Bintang. Buat kamu.. nggak ada yang lain". Tangan lebar Langit menangkup pipi Bintang. Mengusap air mata yang menganak sungai itu.


" Nggak ada, dan nggak akan pernah ada yang bisa gantiin posisi kamu dihati aku. Sampai kapanpun". Setulus hati Langit mengatakannya, karena memang begitu adanya. Hanya Bintang yang selalu ada dihatinya, wanita yang mengisi hati yang ia miliki sepenuhnya.


Bukannya mereda, tangis Bintang semakin pecah. Antara tak percaya sekaligus bahagia dengan segala yang Langit ucapkan. Hatinya terasa damai dan tenang saat ini.


"Peluk aku, Lang.. " Meskipun sedikit terkejut, namun Langit bisa langsung tersenyum.


Ia mundur dua langkah, menepuk dada bidangnya kemudian merentangkan tangannya. Memberitahu wanitanya jika ia telah menunggu Bintang berlari dalam pelukannya.


Bintang tersenyum meski air mata masih tak mau berhenti. Ia berjalan cepat dan langsung masuk kedalam pelukan Langit. Menempelkan kepalanya didada bidang yang terasa nyaman itu.


"Detak jantung ini..masih sama seperti bertahun-tahun lalu". Bintang memejamkan mata nya. Menikmati detak jantung yang seirama dengan debaran jantungnya saat ini. Debaran yang begitu keras hingga mungkin saja Langit juga bisa mendengarnya.


Bintang mendongakkan kepalanya untuk melihat Langit yang ternyata juga tengah menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Hingga sebuah kecupan hangat singgah di kening Bintang yang membuat gadis itu memejamkan mata untuk menikmatinya.


Kini ia yakin, tak ada alasan apapun untuk dirinya menolak Langit. Sama seperti dirinya, ia yakin jika Langit juga memang masih benar-benar mencintainya.


"Lang.. "


"Hm... " Hanya berdehem menanggapi panggilan Bintang, karena ia masih mau menikmati pelukan ini.


"Ayo kita menikah! ".


" Eh.. "


...**¥¥¥••••¥¥¥...


...Kuy lah gas keun bang Langit, nikah langsung sekarang🤣🤣🤣...


...Double up nya ya manteman🙏😘 Jangan lupa tabok pake like nya, komen nya juga jangan ketinggalan 🤭😘😁 Mau dikasih kembang setaman juga mau banget, kopi nya juga boleh lah🤭 lah jadi maruk🤣🤣🤣...

__ADS_1


...Pokoknya, selamat menikmati wes lah ya readers...


...SARANGHEO SEKEBON READERS😍😍😘😘😘😘😘🌹💐🌹💐🌹💐**...


__ADS_2