Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Dion dan kegilaannya 2


__ADS_3

Langit berhenti saat sampai ditempat tujuannya. Sebuah rumah dengan gerbang tinggi menjulang yang membuat siapapun akan kesulitan melihat kegiatan didalamnya. Tapi gerbang itu sedikit terbuka, sepertinya di pemilik rumah sudah menunggu kedatangannya.


Langit menghela nafas panjang, menyiapkan diri dan mentalnya dengan segala kemungkinan yang akan terjadi jika dirinya masuk kedalam rumah itu.


Dirinya sudah ingin meninggalkan masa lalu kelamnya. Namun sepertinya masa lalu itu tidak mudah ia tinggalkan dan justru menyeret orang-orang tersayangnya, seperti Bintang saat ini.


Langit memantapkan diri dan segera melajukan motornya memasuki rumah dari musuh lamanya. Entah akan seperti apa saat nanti dirinya keluar, atau mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari rumah itu nantinya.


Semua resiko itu tak Langit pikirkan, tujuannya hanya satu. Mengeluarkan Bintang dari rumah itu dengan selamat. Setelah itu, dirinya baru akan mengurus sisanya.


Dion mengintip dari jendela kamar. Senyum devilnya tersungging saat melihat Langit memasuki halaman rumahnya.


"Gede juga nyali tu orang. Nggak salah gw pancing dia pake Bintang". Gumam Dion yang sebenarnya tidak menyangka jika Langit akan benar-benar datang sendiri.


Dion menatap Bintang sekilas, kemudian berjalan ke sisi kamar yang lain untuk duduk diatas sofa. Ia melakukan itu untuk menyambut Langit. Itupun jika Langit bisa mengalahkan orang-orang bayarannya yang ada diruang tamu dan yang berjaga di depan rumah.


"Kurangajar, bibir gw sakit banget". Umpat Bintang yang merasakan sakit diujung bibirnya karena sempat terkena pukulan keras sebelum dilumpuhkan dengan obat bius.


"Ini gw diiket pake simpul apaan sih? Susah banget gw buka". Rupanya Bintang diam saja sejak tadi karena sedang mencoba ikatan ditangannya.


Belum terbuka, tapi sudah mengendur karena sejak tadi ia menggesekkan tali ditangannya dengan sisi kursi.


"BINTANG!!!!!".


Bintang menghentikan gerakan saat mendengar seseorang meneriakkan namanya.


"Langit? Dia kesini? Nggak..jangan Lang". Bintang panik, apalagi melihat senyuman penuh arti dibibir Dion.


"Pergi Lang!!! Jangan kesini!!!". Dion langsung menoleh pada Bintang saat memdengar gadis itu berteriak yang jelas akan terdengar sampai ke luar ruangan.


Dion kembali tersenyum, sepertinya gadis itu pun sudah jatuh hati pada Langit hingga lenih peduli dengan keselamatan Langit dibandingkan dirinya sendiri.


"Dimana Bintang, baj*ngan!!!". Teriak Langit yang sedang bertarung dengan beberapa orang yang menghalanginya.


Tubuhnya yang sedang tidak sehat membuatnya terkena pukulan beberapa kali. Namun Langit tidak merasakan sakit karena yang dipikirkannya hanya Bintang, Bintang dan Bintang saja.


Langit semakin menggila saat mendengar suara teriakan Bintang. Ia mencoba fokus mendengarkan dari pintu mana asal suara Bintang. Karena didalam rumah itu terdapat beberapa pintu kamar di lantai satu.


"Nggak akan ada gunanya, Bintang. Langit nggak akan selamat keluar dari rumah ini". Dion mengedipkan sebelah matanya pada Bintang yang menatapnya penuh kebencian.


"Lo gila!! Sakit jiwa lo!!". Teriak Bintang marah.


Namun Dion justru terbahak melihat bagaimana marahnya Bintang. Semakin terlihat cantik dan menarik saat marah, begitu isi pikiran Dion.


Tak lama ponsel Dion bergetar, Dion mengambilnya dan menatap layar ponselnya. Ia berdecak kesal karena melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


Belum sempat ia membuka pesan-pesan yang dikirimkan padanya, kini berubah menjadi sebuah panggilan suara.

__ADS_1


Dion mendesah kesal namun kemudian menggeser layar ponselnya untuk mengangkat telepon.


"Jangan sakiti dia, bodoh!!". Dion menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan dari seberang sana.


"Ck!". Berdecak kesal saja yang ia lakukan, kemudian mematikan sambungan telepon saat yang diseberang sana belum selesai mengomel.


Diluar kamar, wajah Langit sudah babak belur. Bagaimana tidak, sehebat apapun dirinya, itu tidak akan berlaku jika lawannya banyak.


Langit masih beruntung karena bisa menumbangkan semua orang suruhan Dion. Dia bahkan masih sanggup berdiri dengan kedua kakinya sendiri.


"BINTANG!!! Lo dimana Bin??". Langit kembali berteriak, sambil membuka beberapa pintu kamar yang terletak paling dekat dengannya.


Hingga sampailah Langit pada sebuah pintu yang rupanya terkunci dari dalam. Langit meyakini Bintang ada didalam kamar itu.


"Dion!! Buka pintunya!! Baj*ngan lo!!!!". Langit menggedor pintu berulang kali.


"Lang..." Bintang berteriak dari dalam kamar. Sementara Dion tertawa keras karena tidak menyangka Langit bisa melewati orang-orang suruhannya.


"S*alan!! Dasar orang-orang nggak berguna". Gumam Dion yang kesal karena orang-orang yang sudah ia bayar mahal tidak berguna.


Langit berjalan mundur beberapa langkah. Percuma meminta baik-baik pada orang gila semacam Dion. Ia harus membuka paksa pintu itu dan menyelamatkan Bintangnya.


Sekali, dua kali percobaan masih gagal. Bahkan lengan Langit sedikit ngilu karena membentur pintu yang keras itu. Namun Langit tidak patah semangat, hingga akhirnya di percobaan keempatnya, Langit bisa membobol pintu itu.


"Bintang!!". Teriak Langit yang melihat Bintang diikat diatas kursi.


Mata Bintang melebar, gadis itu terus menggeleng saat Langit hendak masuk kedalam kamar.


Bukan tanpa sebab, karena saat ini Dion sedang tersenyum miring memegang sebuah balok kayu yang jelas akan digunakannya untuk menghantam tubuh Langit saat lelaki itu masuk.


"Ehm..hemh.." Bintang terus menggelengkan kepalanya. Bahkan air mata sudah menggenang dikedua pelupuk matanya.


"Pergi Lang!!! Jangan masuk!! Lo harus pergi!". Batin Bintang berteriak. Ia benar-benar takut jika Langit masuk dan akhirnya apa yang Dion rencanakan akan berhasil.


Langit masih berdiri didepan pintu, ia menghela nafas lega meskipun nafasnya terdengar tersengal. Ia tersenyum dan kemudian berjalan cepat menghampiri Bintang dan memeluknya dengan erat.


Bintang memberontak ketika melihat Dion berjalan mengendap mendekati Langit hingga kini berdiri dibelakang Langit. Bintang terus menggeleng kuat, memberi isyarat yang tak dimengerti oleh Langit karena fokus Langit hanya Bintang.


"Hemh..hemh.." Bintang menatap Dion dengan mata sayu penuh permohonan, kepalanya terus menggeleng seolah meminta Dion tidak menyakiti Langitnya.


Ya, kini Bintang baru menyadari perasaannya pada Langit. Bukan hanya sekedar terbiasa karena setiap hari bertemu, namun Bintang menyadari arti Langit dalam kehidupannya.


Langit mengurai pelukannya, melepaskan kain yang menyumpal mulut Bintang. Bersamaan dengan kain terbuka, Bintang berteriak keras.


"AWAS LANG!!!!". Langit menoleh, namun sayang semua terlambat. Dion sudah mengayunkan baloknya hingga mengenai tubuh Langit.


Langit tersungkur dan merasakan sakit yang luar biasa di lengannya. Ia benar-benar masih beruntung karena sempat sedikit menghindar. Karena jika tidak, sudah pasti potongan balok itu akan mengenai kepalanya.

__ADS_1


"Jangan!! Dion jangan!! Gw mohon jangan!!". Air mata Bintang akhirnya tumpah. Air mata yang menetes untuk Langit. Dan inilah kali pertama Bintang menangis untuk Langit.


Saat Langit tengah mencoba bangkit, beberapa orang suruhan Dion sudah berhasil memulihkan dirinya.


Ada enam orang masuk kedalam kamar di mana Bintang di sekap dan langsung menghajar Langit yang masih belum siap menghadapi serangan itu.


"Selamat menikmati.." Ucap Dion diikuti tawa kerasnya.


"STOP!!! Jangan!!! Jangan pukul lagi.." Bintang menangis, ia seperti ikut merasakan sakit saat melihat Langit dipukul dan ditendang berulang kali.


Dion berjongkok, melepaskan ikatan di kaki Bintang karena yakin gadis itu tidak bisa melarikan diri. Namun tubuh Bintang tetap terikat. Dion tidak menyadari jika Bintang sudah mulai berhasil melepaskan ikatan yang membelit tubuhnya.


"Gw mohon.." Lirih Bintang memohon pada Dion untuk menghentikan penyiksaan itu.


"Lang.." Lirih Bintang yang sudah berurai air mata.


"Berhenti!". Ucap Dion yang melihat Langit tergeletak tak berdaya setelah dihajar habis-habisan oleh orang-orang bayarannya.


"Gw mohon lepasin Langit, Dion. Jangan pukul dia lagi.."


Langit menatap Bintang, meskipun wajahnya dipenuhi darah, namun ia masih bisa tersenyum. Karena inilah kali pertama ia melihat air mata Bintang untuknya.


"Gw bakal lepasin dia. Asalkan.."


"Apa?? Apa yang lo mau? Uang? Gw bisa kasih berapapun yang lo mau. Tapi gw mohon lepasin Langit.." Dion justru tertawa mendengar tawaran Bintang.


"Gw nggak butuh duit lo.."


"Terus apa yang lo mau..gw mohon lepasin Langit". Air mata belum surut dari mata Bintang.


"Tinggalin dia, kalo lo mau sama gw. Gw akan anggep semua masalah gw sama dia selesai sampai disini". Mata Bintang membelalak mendengar ucapan Dion.


Ya, sejak melihat Bintang, Dion sudah memikirkan semua ini. Jika Bintang mau bersama dengannya dan meninggalkan Langit, maka dirinya akan melepaskan Langit dan menganggap semua permasalahan diantara keduanya selesai.


Dengan tertatih, Langit bangkit. Ia menatap tajam Dion yang menawarkan hal gila pada gadis yang sangat ia cintai itu.


"Lang.." Lirih Bintang yang melihat Langit sudah berdiri meski berulang kali terhuyung.


"Masih bisa berdiri rupanya". Sinis Dion melirik Langit yang memang selalu ia akui kekuatannya itu.


"Jangan harap, bisa rebut Bintang dari gw". Dibalik wajah yang berlumur darah itu, Dion bisa melihat senyum meremehkan Langit yang ditujukan untuknya. Hingga menyulut kembali amarahnya yang bahkan belum sempat mereda.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Aduh kumaha ieu?? Kasian ya Langit sama Bintang ketemu manusia modelan Dion😩🤦🏼‍♀️...


...Udah dikasih kreji up lagi ya, semoga suka dan terimakasih buat semua dukungannya🙏🏻🙏🏻...

__ADS_1


...Happy reading semua, sayang readers banyakbanyak🥰😘😘😘💐💋♥️...


__ADS_2