Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
nasihat seorang kakak


__ADS_3

Tidak ada yang berubah. Tak ada kemajuan apapun dalam hubungan Bintang dan Langit. Malah Bintang kian menjaga jarak dari Langit karena kesalahpahaman yang tidak ia luruskan.


Berulang kali Langit mencoba menjelaskan tentang siapa Sofia. Namun Bintang selalu menghindar darinya hingga membuat Langit kesulitan meluruskan kesalahpahaman diantara mereka.


Ditambah lagi Sofia yang kini hampir setiap hari datang ke kantor nya. Membuat Bintang semakin salah paham dengan status hubungan mereka.


"Kamu jangan kesini tiap hari dong". Ucap Langit frustasi.


"Kenapa?". Bertanya tanpa rasa bersalah karena ucapannya sudah membuat wanita lain salah paham.


"Jadi bener kan ? Gadis yang waktu itu". Batin Sofia yang sebenarnya sudah menyadari siapa gadis bernama Bintang yang sudah beberapa kali bertemu dengannya tanpa sengaja.


"Sofi, tolong". Memohon karena sudah sangat frustasi. Permasalahannya dengn Bintang saja masih belum menemui titik terang. Ditambah Sofi.


"Kakak tahu kan aku suka sama kakak.." Langit menghela nafas panjang. Adik dari temannya semasa di bangku kuliah ini memang sudah menyatakan perasaannya sejak dulu.


"Dan kamu tahu kalau aku hanya menganggapmu sebagai adik". Tegas Langit menatap tajam Sofia.


"Kurasa liburanmu sudah usai. Kembalilah, atau aku akan menelpon kakak mu agar kau dijemput paksa". Akhirnya mengancam Sofia yang keras kepala.


"Aku tidak mau pergi. Lagipula gadis yang kakak cintai juga sudah tidak mau kembali pada kakak. Jadi sebaiknya kakak menerima perasaanku saja". Berbicara dengan penuh percaya diri.


Langit menghela nafas lelah. Ia lebih memilih mengakhiri pembicaraan yang ia yakini tak akan berujung.


Ia tak mau membuang tenaganya untuk meladeni Sofia. Hari ini ia bertekad, bagaimanapun caranya ia harus bisa membuat Bintang mendengarkan dirinya.


Sementara Langit tengah dipusingkan dengan keberadaan Sofia. Bintang tengah mendapat ceramah panjang dari Alva.


Lelaki yang katanya menyukai Bintang itu terlihat jengah juga kesal melihat hubungan Langit dan Bintang. Entah mengapa ia yakin jika ada kesalahpahaman diantara Bintang dan Langit.


"Jangan keras kepala. Dengarkan penjelasannya, setelah itu baru putuskan langkah apa yang akan kalian ambil". Mungkin karena memang usianya lebih matang daripada Bintang, hingga Alva bisa bersikap sangat dewasa.


"Kamu bukan anak kecil lagi. Bukan lagi remaja berumur belasan tahun, Bintang". Imbuhnya sebelum Bintang menyela.


"Kakak kenapa sih. Katanya suka sama aku, tapi nyuruh aku buat--"

__ADS_1


"Ini nggak ada hubungannya sama perasaan suka aku ke kamu. Lagipula buat apa aku bisa milikin kamu kalo cuma raga nya?? Sementara hati kamu, aku tahu pasti milik siapa". Bintang merengut meski hatinya membenarkan semua ucapan Alva.


Ia pun merasa terlalu egois, ia merasa hanya dirinya yang sakit atas perpisahan mereka sebelumnya. Ia tidak memikirkan jika Langit mungkin sama menderitanya seperti dirinya.


Namun ia tak bisa menampik jika ia merasa kecewa saat ada gadis yang mengaku sebagai calon istri Langit, tepat didepan wajahnya. Ia merasa seperti dihianati oleh Langit.


Memang aneh bukan, dirinya yang tidak mau memberi kesempatan Langit untuk menjelaskan. Namun dirinya juga merasa tidak terima dan sakit hati saat ada wanita lain mengaku sebagai kekasih bahkan calon istri Langit.


"Apa memang aku harus berbicara dengannya?". Batin Bintang yang mulai memikirkan ucapan Alva. Ia cukup merasa menjadi wanita yang egois karena tidak memberikan kesempatan pada Langit.


"Baiklah..nanti. Setelah acara pernikahan Bulan dan Sam besok selesai, sepertinya aku juga harus menyelesaikan urusanku dengan Langit". Akhirnya itulah keputusan akhir Bintang. Ia akan mendengarkan semua penjelasan Langit nanti setelah acara pernikahan sahabat baiknya selesai.


"Jangan ngelamun". Langsung mengelus keningnya saat Alva menyentil keningnya.


"Sakit kak.." Mengeluh dengan wajah kesal. Namun justru membuat Alva tergelak.


"Masuk sana. Pikirkan baik-baik apa yang sudah aku katakan. Jangan terlalu larut dengan perasaan kecewa". Menghela nafas saat ternyata petuah Alva belumlah selesai.


"Bisa jadi rasa sakitmu saat ditinggalkan olehnya tidak seberapa dibanding rasa sakit yang harus ia tahan karna meninggalkam kamu". Terdiam saat mendengar ucapan Alva yang mungkin saja benar.


"Aku pulang dulu.."


"Kak..." Alva mengurungkan niatannya untuk meninggalkan Bintang saat gadis itu menahan lengannya.


"Kenapa? Kenapa kakak ngomong gini? Terus perasaan kakak?". Mendapat pertanyaan dari Bintang membuat Alva menyunggingkan senyumnya.


Mungkin bahkan dirinya baru menyadari apa itu cinta saat Langit hadir diantara perasaannya pada Bintang.


Bahkan ia merasa malu, jika ada lelaki seperti Langit yang rela pergi hanya demi kebahagiaan dan juga keamanan wanita yang dicintainya, lalu apalah dirinya yang hanya hadir untuk sekedar menghibur gadis yang mendapat lara karena ditinggal cinta.


"Mungkin aku mencintaimu..mungkin.." Berhenti sejenak untuk meyakinkan hatinya yang entah sejak kapan mulai merelakan rasa yang dimilikinya untuk Bintang.


"Tapi bagaimana denganmu?? Apa kamu sudah menanyakan perasaanmu sendiri??". Balik bertanya yang membuat Bintang kembali bungkam.


"Dia laki-laki baik..aku sangat meyakini itu". Mengelus kepala Bintang yang tertunduk seperti tengah menenangkan seorang adik yang gundah gulana.

__ADS_1


"Bahkan mungkin aku tidak akan bisa seperti dirinya. Melakukan hal seperti dia.."


"Rela jauh dari wanita yang dia cintai hanya agar bisa menempa diri menjadi laki-laki tangguh dan berhasil seperti saat ini".


"Percayalah, dia jauh lebih terluka dari apa yang mungkin kamu rasakan". Kembali menghela nafas sambil menurunkan telapak tangannya dari kepala Bintang.


"Aku tidak bilang jika kamu tidak terluka. Kalian pasti sama terluka nya..kesalahannya hanya satu.." Bintang menatap Alva menunggu apa yang akan diucapkannya lagi.


"Dia tidak memberikan kabar padamu selama kepergiannya. Dan mungkin dia punya alasan untuk semua itu.."


"Jadi...berdamailah dengan hatimu dan berbicaralah dengannya dari hati ke hati". Tersenyum menenangkan membuat hati Bintang tak tenang.


"Jika memang setelah berbicara dengannya, kamu tetap tidak bisa menerima alasannya. Aku tetap menunggumu..aku akan tetap ada disisimu jika itu terjadi". Kembali mengelus kepala Bintang yang tampak berkaca-kaca.


"Kakak..." Lirih Bintang, namun Alva justru tersenyum.


"Aku baik-baik saja. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu..anggap saja aku adalah seorang kakak yang sedang menasehati adiknya". Masih tersenyum dengan gejolak perasaan yang berkecamuk dihatinya.


"Jika kembali bersamanya membuatmu bahagia..maka itu juga kebahagiaan untukku, Bintang. Percayalah..aku sudah belajar tentang perasaan cinta". Meyakinkan Bintang yang kini terlihat hampir menangis.


"Sekarang masuklah. Aku harus pulang.." Menepuk pucuk kepala Bintang beberapa kali dan kemudian memakai helmnya.


Ia melambaikan tangannya pada Bintang dan melajukan motornya menjauh dari gedung apartemen Bintang.


Bintang meyakinkan dirinya untuk segera menyelesaikan permasalahannya dengan Langit. Apa yang dikatakan Alva semuanya benar. Ia tidak bisa hidup seperti ini, ia juga tidak mau egois lagi dan memikirkan dirinya sendiri.


"Memang sudah terlalu lama. Lagipula aku harus menanyakan siapa gadis yang mengaku sebagai calon istrinya".


"Jika benar gadis itu calon istrinya, maka semua ini harus diakhiri. Aku harus benar-benar melupakannya". Bergumam sepanjang jalan memasuki lift.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Holla readers👋🏻👋🏻👋🏻 Maafin othor yang menghilang berhari-hari🙏🏻🙏🏻 semoga masih ada yang setia menunggu kelanjutannya😊...


...Salah pahamnya sudah kepanjangan ya, ayo kita selesaikan secepatnya😊😊...

__ADS_1


...Happy reading semua, maaf kalau garing🙏🏻🙏🏻 Sarangheo readers🥰🥰♥️💋💋😘💐💐💐💐💐...


__ADS_2