Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
cemburu


__ADS_3

Bima mengedarkan pandangannya keseluruh kantin. Matanya bersirobok dengan sepasang mata tajam yang menatapnya penuh permusuhan.


Alis Bima berkerut, seingatnya, ia belum membuat masalah dengan siapapun sejak pagi tadi menyandang gelar siswa di SMA itu. Lalu mengapa ada pemuda yang menatap tajam pada dirinya? Atau mungkin pemuda itu salah satu lelaki yang kekasihnya mengagumi dirinya?


"Bengong mulu lo, Bim. Liat tuh baso lo, udah pindah tempat". Suara Bulan menyadarkan Bima dan segera menoleh.


Benar saja, mangkok bakso nya sudah berpindah ke hadapan seorang gadis yang asyik menikmati bakso miliknya.


"Aelah Bin..yang bener aja sih lo". Bintang menoleh sekilas lalu melanjutkan makannya.


"Makanya kalo lagi makan ama dia, yang fokus. Badannya doang dia mah kecil, perutnya ngalahin kuli". Kelakar Bulan yang disertai tawa kecil.


"Gue lupa kalo punya adek kuli bangunan". Balas Bima membuat Bintang mendengus kesal. Namun ia melanjutkan acara makannya. Atau lebih tepatnya memakan bakso milik Bima.


"Eh Bul.." Bima yang sudah tahu jika Bintang tak akan menanggapinya jika sedang makan, lebih memilih bertanya pada Bulan.


"Apa?". Tanya Bulan dengan dahi berkerut.


"Itu..( Bima melirik dengan ujung matanya seseorang yang sejak tadi menatap tajam dirinya ) lo kenal cowok yang di pojokan itu kaga?". Bulan mengikuti kemana arah mata Bima melirik.


"Dari tadi melototin gue mulu. Perasaan gue belom bikin masalah ama siapa-siapa deh. Tapi dari tadi liatin gue nya udah kaya mau makan gue idup-idup". Cerocos Bima panjang lebar membuat Bulan terkekeh, pun dengan Bintang yang terkekeh pelan di sela makannya.


"Muka lo udah mencurigakan aja sih. Makanya belom apa-apa udah banyak musuh lo". Ledek Bintang setelah ia berhasil menelan makanannya.


"Ck.." Bima berdecak kesal karena ledekan Bintang.


"Kenal kaga?". Tanya Bima mendesak. Ia merasa tak nyaman sejak tadi ditatap penuh permusuhan oleh pemuda itu.


"Apa jangan-jangan ( Bima menatap keduanya penuh kecurigaan ) salah satu dari lo berdua pacarnya dia?".


"Nggak punya pacar!". Keduanya kompak menjawab.


"Terus kenapa tu bocah keliatan kesel banget ama gue?". Tanya Bima dijawab Bintang dengan mengendikkan bahunya.


Lain dengan Bulan yang memberi kode pada Bima dengan menatap Bintang penuh arti.


"Pacar elo ya Bin?". Tanya Bima setelah melihat Bulan menunjuk Bintang dengan dagunya.


"Pacar apaan sih. Punya juga kaga". Semprot Bintang membuat Bulan terkekeh.


"Kata si Bubul itu cowok pacar elo". Bintang langsung menatap Bulan horor.


"Liat dulu siapa yang di maksud si bisul". Bulan menangkup wajah Bintang dan memutar kepalanya hingga menghadap ke samping, melihat siapa yang dibicarakan Bima.


"Uhuk..uhukk..." Bintang yang hendak menelan makanannya jadi tersedak karena melihat Langit masih menatap mereka.

__ADS_1


Ya, laki-laki yang sejak tadi menatap mereka itu adalah Langit. Tatapan mata tajamnya mampu membuat Bintang kesulitan menelan makanannya hingga akhirnya tersedak.


"Minum.." Bima menyodorkan air mineral miliknya pada Bintang. Dalam sekali teguk, Bintang menghabiskan sisa air minum milik Bima.


"Jadi bener, dia pacar elo? Pantes aja matanya kaya mau loncat liatin gue duduk deket elo". Bintang melirik Bima dengan tatapan kesal.


"Dibilang gue nggak punya pacar!". Protes Bintang dengan nada tak terima.


Bima memasang wajah jahilnya, jika dilihat lebih baik, seperttinya memang ada sesuatu yang aneh dari Bintang dan juga lelaki yang sejak tadi menatap dirinya.


Bahkan dengan sekali melihat saja, Bima bisa menyimpulkan jika lelaki yang sejak tadi menatap ke arah mejanya itu memang tengah mengawasi seseorang. Hanya saja Bima masih belum tahu siapa yang diawasinya.


"Calon pacar ya? Gebetan?". Dengan sengaja Bima merangkul Bintang karena tahu gadis itu tak akan menolak kontak fisik dengannya, tak seperti dengan laki-laki lain.


Dan benar saja, Bintang diam saja. Hanya matanya saja yang melotot tajam dengan bibir terus mengumpati ucapan Bima.


Bima kembali melirik Langit. Dari jauh dapat ia lihat jika rahang lelaki itu semakin mengeras, bahkan urat di lehernya menyembul keluar karena kerasnya ia mengetatkan rahang.


Bima menatap Langit yang juga menatapnya, kemudian Bima tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Breng sek!!! Belom pernah gue hajar tu laki!!", Roman yang duduk disebelah Langit segera menahan lengan temannya itu. Ia tahu sejak tadi Langit sudah kesal.


"Sabar Lang", Ucap Roman coba menenangkan, namun sepertinya sia-sia.


"Sam!". Yang dipanggil hanya menatap sekilas kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. Membuat Roman melotot kesal karena ulah kedua sahabat laknatnya.


"Lo nggak bisa seenaknya kaya gini dong. Liat si Bintang.." Roman menunjuk Bintang dan Bima. Tangan Bima masih merangkul pundak Bintang yang asyik menyeruput jus jambunya.


"Bintang juga kaga nolak, jadi kita nggak tahu sebenernya apa hubungan mereka. Lebih lagi lo nggak punya hak larang si Bintang deket ama siapa aja". Panjang lebar Roman berbicara, berharap Langit akan mengerti dan bisa mengurangi rasa kesalnya.


Namun sepertinya ucapan Roman justru semakin membuat Langit kesal. Berulang kali menatap meja dimana Bintang berada, hatinya kian terbakar melihat interaksi Bintang dengan pemuda asing itu.


Di bawah meja, Roman menendang kaki Sam. Memberi temannya itu kode agar membantunya menenangkan Langit. Namun justru Sam hanya mengendikkan bahunya saja hingga membuat Roman benar-benar kesal.


Karena rupanya bukan hanya Langit yang tengah kesal. Samudra pun sama kesalnya melihat Bulan berinteraksi begitu dekat dengan laki-laki asing itu. Hanya bedanya, Sam jauh lebih pandai menyembunyikan kekesalan dan perasaannya yang sebenarnya.


Tak tahan lagi melihat Bintang terus bercengkrama dengan laki-laki lain, Langit menghempas kasar tangan Roman yang masih menahannya hingga akhirnya terlepas.


Melihat Bintang tertawa begitu lepas dengan laki-laki benar-benar bisa membuat hati Langit terasa terbakar.


"Lang!!! Woi Langit!!!!". Langit menulikan pendengarannya. Ia terus berjalan menghampiri meja Bintang.


"Sam!! Kejar! Diem aja sih lo!". Sengit Roman yang sebenarnya heran melihat Sam justru membiarkan Langit.


"Biarin aja lah. Bentar lagi juga masuk". Acuh saja Sam berbicara dan kemudian bangkit. Berjalan pelan jauh dibelakang Langit.

__ADS_1


Sementara Bima yang melihat Langit berjalan cepat ke arahnya tampak tersenyum tipis. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu.


"Eh!!". Pekik Bintang saat tiba-tiba tangannya dicekal seseorang.


"Ayo!". Bintang semakin terkejut saat melihat Langit lah yang sudah mencekal tangannya.


"Santai bro..jangan kasar sama cewek". Bima ikut berdiri karena Langit dan Bintang juga sudah berdiri.


Langit diam, hanya menjawab dengan sorot mata tajamnya saja. Namun Bima tetap tenang dan santai menghadapi Langit yang seolah siap meledak kapan saja.


Bulan juga berdiri, menatap was-was pada Langit dan Bima secara bergantian. Dirinya tidak bodoh, ia tahu Langit cemburu. Semua itu jelas terlihat dari sorot mata Langit saat ini.


Bima hendak melepaskan tangan Langit yang mencekal pergelangan tangan Bintang. Namun dengan cepat Langit menarik Bintang hingga berdiri rapat dengannya.


"Lang.." Bintang bersuara. Ia seolah kehilangan kesadarannya sendiri karena ulah Langit.


"Ayo kelas. Bentar lagi masuk". Ucap Langit hendak menarik tangan Bintang. Namun dengan sengaja Bima menahan tangan Langit. Hingga kini posisinya Langit memegang tangan Bintang, dan tangan Langit dipegang oleh Bima. Pemandangan yang cukup menarik bagi para siswa yang masih ada di dalam kantin.


"Biar gue yang anter Bintang". Ucap Bima yang kini saling menatap tajam dengan Langit. Padahal yang sebenarnya, Bima ingin tertawa keras melihat bagaimana Langit cemburu.


Ya, Bima yakin Langit tengah cemburu pada dirinya. Terlepas dari hubungan apa yang dimiliki keduanya, namun Bima sangat yakin jika Langit memang menyukai Bintang.


"Nggak perlu. Biar gue aja!", Langit melepaskan secara paksa tangan Bima.


"Ayo!". Sam datang dan langsung menggandeng Bulan dan membawanya pergi tanpa memberi kesempatan pada Bulan untuk menolak.


"Pada kenapa sih hari ini! Semua orang hobi narik orang". Gerutu Bulan yang berjalan dibelakang Sam. Ia tak menolak karena sudah mendengar bel berbunyi. Lagipula ia tahu apa tujuan Bima melakukan semua itu.


Bintang yang bingung hanya menatap Langit dan Bima secara bergantian kemudian menatap tangan mereka yang terlihat bertumpuk.


"Apaan sih ini!". Bintang mengibaskan keras tangannya hingga tangan Langit terlepas. Juga tangan Bima.


"Duluan.." Bintang menatap Bima.


"Ati-ati jalannya. Nanti pulang bareng ya pacar.." Sengaja Bima memanggil Bintang pacar. Dan bumi memang tengah berpihak padanya. Bintang menjawab oke dengan kode tangannya tanpa berbalik.


Bima mengulum bibir melihat wajah merah Langit. Benar-benar menyenangkan sekali bisa mengerjai seorang laki-laki yang tengah jatuh cinta dan membuatnya cemburu.


Langit bergegas menyusul Bintang. Dan memaksa menggandeng tangan Bintang meski Bima bisa melihat jika Bintang coba melepaskannya.


"Udah pada gede lo berdua.." Gumam Bima sambil menatap punggung dua gadis yang berjalan menjauh.


Ia selalu menganggap Bintang dan Bulan seperti adik kandungnya sendiri. Bahkan selalu berusaha menjaga keduanya. Kini melihat gadis-gadis itu ada yang menyukai seolah melihat gadis kecilnya tumbuh dewasa. Padahal jika dipikir, jarak umur mereka hanya 2tahun.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Double upnya readers🥰🥰 jangan lupa double like nya yaaa🥰 sarangbeo banyakbanyak🥰🥰😘😘😘♥️💐...


__ADS_2