Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Memilih baju


__ADS_3

"Bintang..."


"Sayang, nak.." Panggilan merdu sang bunda terdengar untuk kedua kalinya.


"Eeeuunghhh.." Bintang mengguliat sambil melenguh panjang. Meregangkan otot-ototnya setelah tertidur cukup lama.


"Masih tidur nak?". Suara bunda kembali terdengar diiringi ketukan pintu.


"Udah bangun bun.." Sahut Bintang dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Cepet turun ya, Langit udah nunggu di bawah.."


"Iya bun.." Sahut Bintang yang belum sepenuhnya sadar.


Beberapa detik kemudian, matanya yang masih terpejam langsung terbuka lebar.


"Langit? biawak??", Bintang langsung menatap jam di atas nakasnya. Mau apa sore-sore begini Langit datang? Pikir Bintang.


Bintang belum beranjak, terlalu lama tidur membuatnya sedikit pusing setelah terbangun.


Bintang menggelung asal rambutnya dan bergegas keluar kamar tanpa ada niatan untuk membersihkan diri dulu atau hanya sekedar mencuci muka. Masih terlalu siang untuk mandi, pikir Bintang.


Langit mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Bintang menuruni anak tangga. Terlihat sedikit berbeda dari pakaian yang biasa Bintang pakai.


Sebuah kaos kebesaran yang dipadu dengan sebuah hotpants. Bahkan karena kaosnya sampai setengah paha, hotpants yang dipakai Bintang tidak terlihat, Bintang seolah hanya memakai kaos tanpa celana. Menampakkan paha mulus kaki jenjang nan putih milik Bintang.


Bunda geleng-geleng kepala melihat anak gadisnya. Seperti nya Bintang lupa apa yang ia kenakan. Karena biasanya gadis itu akan memakai celana yang panjangnya sampai lutut jika sedang dirumah.


Bintang sendiri langsung berhenti di tengah tangga saat matanya bersirobok dengan mata tajam Langit yang tengah menatapnya.


Setelan serba hitam, sebuah kaos hitam berlengan panjang dipadu celana jeans panjang hitam yang terdapat robekan dibeberapa bagiannya membuat Langit terlihat, wow.


"Aaaa!! Kenapa ganteng banget sih!! Tambah topi item sekalian pasti..aaaaa!!". Batin Bintang menjerit melihat penampakan Langit yang sangat keren dan membuatnya semakin terlihat tampan.


"Kamu nggak ganti celana, sayang?". Pertanyaan bunda menarik kembali kesadaran Bintang. Ia melihat ke bawah, kemudian berteriak sambil berlari kembali memasuki kamarnya.


Bunda tersenyum geli, putrinya memang ceroboh sekali. Salahnya juga tidak mengingatkan saat tadi membangunkan gadis itu.


"Tunggu sebentar ya, Lang. Bunda suruh Bintang siap-siap sekalian". Langit tersadar kemudian mengangguk dengan seulas senyum.


Bunda berjalan tenang menaiki tangga menuju kamar Bintang. Ingin memberitahu Bintang agar membersihkan dirinya dan bersiap-siap karena Langit mengajaknya menonton.


"Bunda boleh masuk sayang?". Bunda mengetuk pintu, setelah mendapat jawaban dari dalam kamar, bunda masuk.


"Kamu sedang apa?". Tanya bunda yang melihat Bintang berjalan hilir mudik didalam kamarnya.


"Langit masih dibawah bun?". Pertanyaan bunda dijawab Bintang dengan sebuah pertanyaan.


"Masih..kenapa?". Tanya bunda dengan alis berkerut.

__ADS_1


"Ng-nggak apa-apa bun..hehe. Bintang cuma nanya aja". Bunda tersenyum melihat putrinya salah tingkah.


"Langit mau ajak kamu nonton katanya.." Bintang langsung menoleh menatap bunda. Sudah berjalan lima hari hukumannya dari sekolah, dan selama itu pula dirinya terkurung dirumah karena sang ayah melarang dirinya untuk keluar rumah.


"Langit sudah minta izin sama ayah, dan diizinkan oleh ayah, dengan syarat tidak pulang terlalu larut". Bintang melongo, bahkan saat dirinya memohon untuk sekedar berjalan-jalan atau datang ke restoran kakak iparnya saja sang ayah tidak memberi izin.


Dan apa ini? Langit meminta izin dan langsung diizinkan?? Apa ayahnya kini sudah lebih percaya dan berpihak pada Langit?? Tanya Bintang pada dirinya sendiri.


"Jadi?". Bunda tengah menunggu keputusan Bintang rupanya, apakah gadis itu mau pergi atau tidak.


"Jadi apa bun?". Bunda tertawa, karena Bintang tidak paham maksud pertanyaannya.


"Jadi kamu mau atau enggak? Kalau enggak, bunda bilang ke Langit supaya pulang saja. Kasian udah lama nunggu kamu bangun".


"Hah? Nunggu aku bangun gimana sih bun?". Tanya Bintang yang tidak mengerti maksud bunda.


"Langit udah nunggu kamu satu jam. Tadi bunda udah mau bangunin, tapi kata Langit nggak usah. Biarin aja kamu tidur dulu, Langit nunggu sebangunnya kamu aja katanya". Mulut Bintang menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Kok malah bengong sih sayang..." Bintang kembali tersadar saat bunda kembali bersuara.


"Jadi mau apa enggak? Kalau enggak bunda bilang Langit dulu biar.."


"Jangan!! Jangan bun.." Cegah Bintang cepat. Ia sudah bosan di rumah, ia ingin keluar untuk sekedar jalan-jalan atau menonton.


"Kalau begitu cepat mandi, bunda turun dulu temenin Langit. Kasian sendiri", Bintang mengangguk dan segera melesat menuju kamar mandi.


"Gw pake baju apa ya?".


Saat sedang mandi, otak Bintang terus berpikir tentang baju mana yang akan digunakan olehnya nanti.


Hingga dirinya selesai membersihkan diri, ia masih kebingungan mau memakai pakaiannya yang mana.


Berdiri didepan lemari pakaian yang sudah ia buka. Bintang masih belum menemukan pakaian yang ia mau.


"Ish, kenapa baju gw kaya begini sih semua". Gerutu Bintang menatap tumpukan kaos oversize dan celana panjang robeknya.


"Ck.." Berdecak kesal, dirinya bergeser ke lemari sebelahnya. Membukanya lebar-lebar, dan nampaklah jajaran gaun koleksinya yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah ia kenakan.


Mulai dari gaun yang berbentuk simple dan sederhana, sampai gaun pesta yang berkilauan ada didalam lemarinya.


"Apa gw pake ini aja ya?". Gumam Bintang menarik sebuah gaun berpotongan sederhana berwarna biru langit dengan motif bunga-bunga di bagian bawahnya.


Sementara Bintang pusing memilih pakaian, Langit tengah mengobrol dengan bunda.


"Tumben banget ini anak lama siap-siapnya". Gumam Bunda yang didengar oleh Langit.


"Sebentar ya Lang, bunda panggilin dulu.." Bunda sudah berdiri dari duduknya saat Bintang berjalan menuruni tangga.


"Ah, itu dia anaknya.." Ucap bunda

__ADS_1


"Kenapa lama sekali sayang? Kasian Langit sudah lama menunggu". Bintang hanya tersenyum dan meminta maaf. Memberi alasan jika ia lupa menyimpan ponsel dan terlalu lama mencari ponselnya.


Bunda hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia pikir Bintang terlalu lama karena berdandan, tapi nyatanya? Gadis itu tetap pada style yang selama ini melekat padanya.


Celana yang robek di beberapa bagian, dipadukan dengan kaos hitam bermotif yang ukurannya tak usah ditanyakan.


Namun meski begitu, apa yang melekat pada tubuh Bintang saat ini tetap membuatnya terlihat cantik dan menawan di mata Langit.


Apalagi Langit melihat Bintang sedikit berdandan, bibir yang biasanya hanya terlihat memakai pelembab bibir itu, kini terlihat memakai pewarna bibir berwarna pink natural.


Mungkin bunda tidak menyadari, atau hanya berpura-pura tidak tahu, tapi Langit sangat melihat perbedaannya.


"Ya sudah sana berangkat, nanti keburu malam". Ucap bunda membuat kedua anak muda itu mengangguk.


Bergantian mencium punggung tangan bunda dan berjalan beriringan keluar dari rumah.


"Inget ya, jangan terlalu larut". Peringat bunda saat mereka sudah sampai di teras rumah.


"Iya bun.." Sahut keduanya.


"Nggak apa-apa kan pake motor? Atau mau di tuker dulu pake mobil?". Tanya Langit saat keduanya sudah berdiri disamping motor Langit.


"Pake motor aja, hemat waktu sama nggak kena macet". Langit mengangguk, memasangkan helm ke kepala Bintang.


Semua perlakuan Langit tidak lepas dari penglihatan bunda yang langsung tersenyum senang. Entah mengapa, bunda sangat yakin jika kali ini dugaannya tak keliru tentang perasaan putrinya.


"Berangkat dulu bun..Assalamualaikum.." Pamit Bintang yang sudah duduk dibelakang Langit yang akan mengemudikan motornya.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya dijalannya". Bunda melambaikan tangannya, menatap Bintang dan Langit yang semakin menjauh dan semakin lama menghilang dari pandangannya.


"Hah, dia sudah besar sekarang". Gumam bunda dengan seulas senyum lembut.


"Sekarang, ayo kita lihat kamar anak gadis itu". Bunda kembali bergumam sambil berjalan memasuki rumah.


Wanita paruh baya itu berjalan menaiki tangga, tujuannya adalah kamar putri bungsunya.


Bunda membuka pintu kamar Bintang, kemudian tatapan matanya terfokus pada pintu yang akan menghubungkan kamar Bintang dengan ruangan dimana pakaian Bintang disimpan.


Pemandangan pertama yang bunda lihat adalah, pakaian yang berserakan dimana-mana. Bahkan lemari yang menyimpan gaun-gaun yang ia belikan pun terbuka. Padahal selama ini, lemari itu hampir tidak pernah disentuh putrinya.


Sesungging senyum terpatri di wajahnya yang mulai menampakkan keriput tipis. Ternyata dugaannya benar. Ponsel hanyalah alasan Bintang untuk menutupi kebenarannya, bahwa gadis itu tadi sempat bingung memilih pakaian.


"Dia benar-benar sudah beranjak dewasa". Gumam bunda yang mulai merapikan kembali pakaian yang berserak diruangan itu.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Cieee Bintang..yang lagi gugup nih ceritanya🤭🤭😆...


...Buat readers yang setia, terimakasih banyak untuk kesetiaan dan dukungannya🙏🏻🙏🏻...

__ADS_1


...sayang readers banyakbanyak🥰🥰😘😘💋♥️💐♥️♥️♥️...


__ADS_2