Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
penyesalan Langit


__ADS_3

"Bunuh dia!!". Teriak Dion yang membuat Bintang menjerit keras ketika orang-orang suruhan Dion mulai menghajar Langit tanpa ampun.


Memukul, menendang bahkan menginjak Langit yang sudah terkapar dilantai. Darah memenuhi wajah tampan yang selalu tersenyum itu, membuat Bintang semakin histeris saja.


"Minggir kalian!". Perintah Dion yang sudah menyeret balok kayu yang ada diruangan itu.


"Enggak!! Jangan!!! Tolong jangan!!". Teriak Bintang.


"Dion jangan!!! Gw mohon jangan!!". Teriaknya lagi namun sepertinya Dion sudah menulikan pendengarannya.


"Oke, gw bakal tinggalin Langit. Tapi lepasin Langit, gw mohon". Dion berhenti sejenak ketika mendengar ucapan Bintang.


"Udah terlambat". Ucap Dion yang kembali melangkah pelan penuh dramatisasi mendekati Langit yang tengah berusaha bangkit.


Bintang berhasil melepaskan ikatan di tubuhnya, secepat mungkin ia berlari dan langsung memeluk tubuh Langit yang tergolek dilantai.


Dion coba menghentikan gerakannya mengayunkan balok kayunya saat melihat Bintang berusaha melindungi Langit.


Namun terlambat, ia tidak bisa menghentikannya, hanya kecepatannya saja yang berkurang, dan...


brakkk...!!!


Balok kayu yang masih kokoh itu menghantam punggung Bintang, bahkan mungkin ada bagian yang mengenai kepalanya.


"BINTANG!!!!". Seru Langit dan Dion bersamaan.


Dion bahkan mundur beberapa langkah melihat Bintang terkena kayu yang hendak ia gunakan untuk menghantam Langit.


Bintang masih bisa tersenyum menatap Langit sambil tangannya gemetar menyentuh wajah Langit yang sudah tidak berbentuk karena penuh darah dan luka.


"Payah". Lirih Bintang sebelum akhirnya jatuh pingsan dalam pelukan Langit.


"Nggak!! Bintang!! Bangun Bin!! Bangun!!! BINTANG!!!". Teriak Langit sambil menepuk pelan pipi Bintang.


Saat semua masih terkejut dengan apa yang Bintang lakukan, Arsen dan Sam serta Roman datang dan langsung menghajar orang-orang suruhan Dion.


Arsen langsung menghampiri Langit. Ia berjongkok disamping Langit, menatap Langit yang sudah babak belur serta Bintang yang tak sadarkan diri dipangkuan Langit yang terus memanggil nama Bintang.


"Baj*ngan!!!". Seru Arsen yang langsung menerjang Dion.


Hingga akhirnya pertarungan keduanya tak bisa dihindarkan. Arsen benar-benar seperti kesetanan menghajar Dion.


Bahkan Dion tidak diberikan kesempatan untuk sekedar membalas pukulan Arsen yang membabi buta itu.


"Mati aja lo s*alan!!!". Arsen terus melayangkan tinju nya ke wajah Dion yang sudah tergeletak.


Hingga suara sirine terdengar memekakkan telinga. Membuat orang-orang yang sudah dibayar Dion itu kalang kabut, mencoba kabur untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


Namun sayang, usaha mereka sia-sia karena beberapa anggota polisi sudah lebih dulu masuk dan membekuk mereka.


"Sen, cukup. Bisa mamp*s ni orang". Roman menarik tubuh Arsen dari atas tubuh Dion yang sudah tergeletak babak belur. Tidak jauh berbeda dengan Langit.


"Biarin aja! Bagus kalo dia mati!!!". Roman benar-benar harus mengerahkan tenaganya untuk memegangi tubuh Arsen karena terus mencoba merangsek maju mendekati Dion yang sudah terkapar.


"Bintang..bangun Bin". Suara Langit yang semakin terdengar lirih membuat yang lain menatapnya. Kesadaran Langit perlahan menurun karena lukanya yang cukup parah.


Hingga akhirnya ia juga jatuh pingsan masih dengan memeluk Bintang yang sudah lebih dulu pingsan.


"Lang!!!". Seru Sam berlari menghampiri kedua temannya yang pingsan.


"Bintang!!!". Roman dan Arsen menoleh, mendapati Dewa sudah berdiri dengan beberapa anggota polisi.


Sementara polisi mengamankan Dion dan membawanya keluar. Dewa berlari mendekati adiknya.


"Bantu saya". Pinta Dewa menatap tiga teman adiknya yang langsung mengangguk dan membantu mengangkat tubuh Langit.


Sementara Bintang sudah ada didalam dekapan Dewa yang berjalan cepat membawanya keluar dari rumah itu.


Bagaimana bisa Dewa tahu?? Maka jawabannya adalah Rembulan.


Ya, Bulan lah yang sudah memberitahu Dewa tentang penculikan Bintang. Setelah berperang sendiri dengan hati dan logikanya, Bulan memutuskan menghubungi Dewa. Karena berpikir jika semua masalah ini tidak biar dibiarkan begitu saja. Bulan menganggap ini sudah sebuah tindakan kriminal yang harus ditangani orang dewasa dan pihak berwajib.


Mengapa Dewa? Tidak ada alasan khusus. Bulan hanya menghubungi orang pertama yang terlintas di pikirannya, dan itu adalah Dewa.


Dan sepertinya, keputusan Bulan menghubungi Dewa adalah keputusan terbaik. Dion bisa segera diamankan beserta orang-orang yang terlibat didalamnya.


Setelah mendapat kabar mengejutkan dari Bulan, Dewa bergerak cepat menghubungi orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan adiknya melalui ponsel sang adik yang hingga saat itu masih aktif saat ia coba menghubungi.


Dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini, Dewa bisa cepat mengetahui keberadaan adiknya.


Menghubungi pihak kepolisian serta rumah sakit untuk menyiapkan ambulance. Semua itu tidaklah sulit bagi seorang Dewa.


Ambulance sudah siap di halaman rumah saat Dewa membawa tubuh Bintang. Bukan hanya satu, ada empat ambulance yang sudah siaga yang sengaja Dewa siapkan untuk segala kemungkinan.


"Kalian temani Langit". Roman dan Arsen menganggukkan kepalanya dengan patuh saat Dewa memberi perintah.


Sementara Dewa sendiri menemani adik bungsunya itu. Belum ada yang tahu selain dirinya, bahkan ia belum terpikir bagaimana cara menyampaikan keadaan Bintang pada kedua orang tua dan saudara lelakinya. Yang ia pikirkan adalah menemukan dan menyelamatkan adiknya secepat mungkin.


"Gw bawa mobil, lo berdua yang temenin Langit". Roman dan Arsen mengangguk kemudian masuk kedalam ambulance yang membawa Langit, sementara Sam berlari menuju mobil yang tadi mereka gunakan untuk sampai dirumah ini.


"Kamu harus baik-baik aja, dek. Atau ayah bakal bener-bener murka". Antara khawatir juga ketakutan yang sama besarnya membayangkan akan seperti apa murka nya sang ayah jika sampai mengetahui kondisi adiknya itu.


"Bintang.." Arsen dan Roman saling menatap saat Langit mengingau dan menyebut lirih nama Bintang.


"Bintang baik-baik aja bro, lo harus baik-baik aja". Roman memegangi pundak Langit.

__ADS_1


Ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada teman baiknya itu. Ini benar-benar diluar pemikirannya.


Sementara Arsen tampak diam termenung. Memikirkan apa yang terjadi pada Langit. Masa lalu kelam mereka yang terbawa hingga kini saat mereka sudah tidak ingin terlibat lagi dalam masa lalu itu.


Tim dokter sudah bersiap saat ambulance memasuki lobby igd. Penanganan cepat dan akurat langsung didapatkan oleh Bintang dan Langit yang datang di waktu yang hampir bersamaan.


Baik Bintang maupun Langit menjalani pemeriksaan menyeluruh. Bahkan Dewa meminta dokter melakukan ct scan pada keduanya untuk memastikan tidak ada hal serius pada keduanya.


Dewa memesankan kamar yang bersebelahan untuk Langit dan Bintang. Dan kini Dewa tengah duduk disamping brangkar adiknya yang masih belum sadarkan diri.


Dewa menghela nafas panjang. Tak menyangka semua ini akan menimpa adik bungsunya. Kini dirinya memiliki tugas lain, bagaimana cara menyampaikan berita ini pda kedua orang tuanya.


Saat tengah melamun memikirkan kalimat yang tepat untuk mengabari ayah dan bundanya. Pintu ruang rawat adiknya terbuka, membuat Dewa tersentak. Apalagi saat melihat siapa yang berdiri dipintu.


"Langit?". Dewa tak percaya melihat Langit yang sudah berdiri didepan pintu ruang rawat adiknya dengan mengenakan pakaian rumah sakit.


"Maaf, kami sudah coba mencegah. Tapi Langit---"


"Biarkan saja". Potong Dewa cepat sebelum Arsen selesai berbicara. Dewa memahami perasaan Langit.


Dengan berjalan tertatih, bahkan Langit harus dipapah oleh Arsen untuk bisa sampai diruangan Bintang.


"Duduk Lang.." Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Langit. Tatapan matanya hanya lurus menatap Bintang yang masih tergolek tidak sadarkan diri.


"Harusnya jangan memaksakan diri Lang.." Dewa menepuk pundak Langit pelan.


"Maafin aku mas.." Lirih Langit, bahkan suaranya hampir tidak terdengar.


"Bukan salahmu. Jangan terlalu menyalahkan diri". Dewa sudah mendengar semua ceritanya dari Arsen. Karena diantara tiga teman Langit, hanya Arsen yang paling mengetahui latar belakang dibalik semua kekacauan ini.


"Bintang baik-baik saja, Lang. Kembalilah ke kamar mu. Kamu juga harus beristirahat". Langit menggeleng.


Dewa menghela nafas panjang, padahal wajah Langit terlihat sangat parah dengan beberapa luka serta perban di wajahnya. Tapi pemuda itu tetap bersikukuh menunggui Bintang.


"Aku mau nunggu sampe Bintang sadar, mas". Meskipun berbicara dengan Dewa. Namun tatapan Langit tak sedikitpun beralih dari wajah Bintang yang terlihat tenang.


Betapa besar penyesalan yang menggerogoti hati Langit saat ini. Apalagi melihat ada sedikit luka di sudut bibir Bintang dan memar di pipi gadis itu. Semaki menambah besar rasa bersalah dan penyesalannya.


Setelah gagal membujuk Langit, akhirnya Dewa mengalah dan membiarkan Langit duduk disamping adiknya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Kasian banget Langit sama Bintang☹️...


...Kejadian ini bakal jadi awal kisah cinta mereka menuju dewasa ya readers..perjuangan mereka baru akan dimulai🤩🤩😊...


...Tunggu kelanjutannya ya semuaa☺️ sarangheo😘😘🥰💐♥️💋...

__ADS_1


__ADS_2