
Bulan melirik sosok yang sedang memgemudi disampingnya. Sosok yang tak lain adalah Samudra itu terlihat tenang seperti biasanya.
"Gw kan udah bilang, gw mau naik angkot aja. Kenapa sih musti dianter". Bulan ngedumel, namun Sam tak menanggapinya.
"Ish, dasar kulkas". Cibir Bulan yang akhirnya memilih diam dan menatap keluar jendela. Memperhatikan gedung tinggi yang mereka lewati siang sore itu.
Bulan menghela nafas panjang, karena Sam mengakui dirinya sebagai pacar didepan mamanya, Bulan harus terjebak dengan Sam seperti saat ini.
Padahal hatinya belum sepenuhnya berpaling dari sosok laki-laki yang bahkan tidak pantas untuk dicintai olehnya.
Rehan? Nama itu masih memiliki tempat terluas di hatinya. Meski sudah berulang kali kecewa, meski sudah berulang kali dihina oleh ibu dari lelaki yang menghuni hatinya. Tetap saja Bulan sulit menghapus nama dari sosok cinta pertamanya itu.
Sam melirik Bulan, sedikit banyak ia tahu perasaan gadis itu. Meski sudah berusaha menghapus sosok Rehan dari kehidupan Bulan, namun sepertinya belum sepenuhnya bisa ia lakukan.
"Stop!!!". Sam langsung menginjak rem saat tiba-tiba Bulan berteriak. Mereka baru saja memasuki gerbang komplek perumahan Bulan.
"Kenapa?". Tanya Sam bingung.
"Gw turun disini. Bisa panjang urusannya kalo ibu liat elo". Bulan sudah membuka sabuk pengamannya.
Ia tak mau kesalahpahaman semakin berlarut. Kepulangannya saat diantar Sam dan mama Mira saja sudah cukup membuat kesalahpahaman. Kini jangan lagi.
Ibu dan bapak menyukai Sam. Sangat berbeda dengan Rehan dulu. Apalagi kini mama Mira yang menerima Bulan dengan tangan terbuka. Sangat berbeda dengan ibunda Rehan yang membenci Bulan.
Bulan tidak ingin mengecewakan Ibu maupun mama Mira dengan hubungan palsu yang mereka mulai ini. Bulan tidak ingin menyakiti dua wanita baik hati itu.
"Gw anter nyampe rumah". Bulan langsung menoleh, menatap tajam Sam yang sudah lebih dulu mengunci pintu mobilnya hingga Bulan tak bisa keluar.
"Sam!". Yang dipanggil tak bergeming. Tetap terlihat tenang.
"Sam stop!!! Jangan nyampe kesalahpahaman ini berlarut. Gw nggak mau ya ibu nyampe bener-bener ngira kita ini pacaran. Apalagi nyampe bikin ibu gw ama nyokap lo kecewa. Lagian kan balas budi gw udah lunas". Bulan nyerocos panjang lebar, namun Sam tetap diam.
"Sam.." Suara Bulan melunak. Ia akan meminta dengan baik-baik, pikirnya.
"Gw turun sini aja ya. Bapak sama ibu bakal makin salah paham, gw--"
"Emang kenapa kalo mereka ngira kita beneran pacaran?". Bulan melongo dengan mulut sedikit terbuka. Apa memang maksud lelaki itu. Jelas tidak akan baik untuk mereka, jika bapak dan ibu juga mama Mira masih mengira mereka pacaran, otomatis mereka harus memperpanjang drama yang mereka mulai itu.
"Ya nggak bisa lah Sam! Lo kan tau--"
"Gw nggak keberatan kalo kita emang pacaran beneran". Potong Sam cepat, karena sejujurnya Sam memang menyimpan rasa pada Bulan.
Sementara Bulan terlihat kaget dengan pernyataan Sam yang secara tidak langsung ingin melanjutkan pacaran palsu mereka.
Hening, suasana kembali hening setelah ucapan Sam. Bulan berpikir maksud Sam, sedangkan Sam merutuki bibirnya yang keceplosan itu.
Sampai dihalaman rumah, alis Bulan berkertu melihat mobil asing sudah terparkir di halaman rumahnya.
__ADS_1
"Ada tamu? Tapi siapa?". Gumam Bulan yang masih didengar oleh Sam.
Sedangkan Sam hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat mobil yang terparkir dihalaman rumah Bulan.
"Buka pintu nya Sam. Lo mau ngurung gw disini". Sam yang tersadar segera membuka kunci mobilnya.
"Hah..mama". Gumam Sam setelah Bulan turun dari mobil. Ya, mobil yang terparkir didepan rumah Bulan adalah mobil ibunya.
"Assalamualai----kum". Bulan hampir tidak bisa menyelesaikan ucapan salamnya saat melihat siapa yang duduk bersama ibu diruang tamu.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut ibu dan mama Mira kompak.
Mama Mira bahkan terlihat sangat senang ketika melihat Bulan sudah pulang. Lebih senang lagi saat melihat siapa yang kini masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum bu.." Sam masuk dan disambut ibu. Pemuda itu mencium punggung tangan ibu dan mama Mira secara bergantian.
"Kok malah bengong sih. Salam dulu ke mama nya Sam". Suara ibu menarik kesadaran Bulan ke permukaan.
Dalam hati ia menjerit. Ada apa lagi ini? Kenapa mama Mira ada dirumahnya sekarang??? Banyak pertanyaan yang ada didalam kepala Bulan.
"M-mama k-kok disini?". Bulan memejamkan matanya saat apa yang ada didalam pikirannya terucapkan lisannya.
"Maaf ma, maksud Bulan.." Bulan jadi kikuk sendiri karena lisannya secra spontan menanyakan apa yang dipikirkan otaknya.
"Haha, nggak apa-apa sayang..kamu pasti kaget ya?". Bulan mengangguk, menurut saja saat mama Mira menariknya untuk duduk disebelahnya.
"Mama habis jalan-jalan sama ibu kamu". Terjawab sudah apa yang sejak tadi mengganjal dipikiran Bulan.
Belanja..ooh belanja. Tunggu!! Sejak kapan ibu dan mama Mira jadi sedekat saat ini??? Bulan jadi panik sendiri menyadari kedekatan mama Mira dan ibunya. Akan semakin sulit nantinya mengakhiri drama ciptaan Sam ini.
Bulan menatap Sam, mencoba mencari bantuan untuk menjelaskan situasi macam apa ini. Namun sepertinya Sam juga sama bingungnya seperti Bulan.
"Mama udah dari tadi?". Tanya Bulan pelan.
"Ehm..sebelum makan siang tadi mama sudah disini. Lalu pergi dengan ibumu belanja". Wajah berbinar mama Mira semakin menambah rasa bersalah Bulan.
Cukup lama mama Mira dan Sam dirumah Bulan. Hingga sebelum petang, akhirnya keduanya berpamitan. Dan kembali membuat janji untuk pergi bersama nantinya.
Bulan semakin dibuat panik dengan ucapan Ibu paska kepulangan mama Mira dan Samudra.
"Sam anak baik, sayang. Ibunya juga menerima mu dengan baik, dia tidak keberatan dengan keadaan keluarga kita yang biasa-biasa ini". Perasaan Bulan sudah tidak nyaman saja, ia seperti tahu kemana arah pembicaraan ibunya.
"Ibu tahu kamu masih memikirkan Rehan..." Bulan menunduk karena ibu tahu.
"Tapi kalau ibu boleh meminta, lepaskan saja perasaan itu, nak. Mungkin Rehan juga menyayangimu, tapi bagaimana ibunya?". Bulan semakin menunduk saja. Dan sore petang itu diisi dengan semua nasehat ibu untuk melepaskan Rehan dan hubungan mereka yang tak akan mendapat titik terang.
Bulan hanya bisa mengangguk saja, tidak mungkin ia menolak permintaan ibu. Karena pada kenyataannya, hubungannya dan Rehan memang tak memiliki kemajuan apapun.
__ADS_1
---***
Pagi ini sekolah terasa lebih heboh dari hari biasanya. Penyebabnya adalah beberapa lembar foto yang terpampang jelas di mading sekolah.
Hampir seisi sekolah bisa melihat foto yang ditempelkan di mading sekolah itu. Membuat semua orang menghujat sosok yang berada dalam foto tersebut. Bahkan tak sedikit yang mencaci dan mendoakan hal buruk pada sosok didalam foto.
"Nggak nyangka ya, ternyata dia kaya gitu".
"Iya, kayanya baik-baik ya. Ternyata sugar baby".
"Jijik banget ya, sok suci banget padahal".
Masih banyak cacian serta hujatan yang dilayangkan pada sosok didalam foto.
"Ini pengusaha muda terkenal loh".
"Hebat dia, bisa jadi sugar baby nya pengusaha muda terkenal gini".
"Padahal istrinya cantik banget".
Mungkin saja yang jadi bahan pembicaraan sudah panas telinganya sejak tadi.
Bulan datang, melihat kerumunan didepan mading sekolah membuatnya penasaran. Tidak biasanya mading sekolah diminati seperti saat ini. Ia jadi penasaran ada berita apa sampai banyak yang berebut ingin melihat.
Bulan berdiri didepan mading, matanya melebar mulutnya ia tutup dengan sebelah tangannya lantaran tak percaya dengan foto yang ia lihat. Terlebih tulisan yang memprovokasi setiap foto-foto yang ditempel di mading itu.
"Apa-apaan ini?". Gumam Bulan
Bulan berusaha melepas foto-foto yang ditempelkan di mading itu. Namun dihalangi oleh banyak siswa lainnya.
"Ck..ck.. ternyata temen lo murahan ya". Bulan segera menoleh mendengar ucapan seorang yang sangat ia kenal.
Ia mendengus, harusnya ia tahu dari mana berita itu berasal. Sudah pasti dari seseorang yang sangat membenci Bintang bukan?!
Sebenarnya foto-foto itu bukanlah masalah, karena didalam foto itu hanya ada Bintang dan kakak lelakinya, Dewa. Tapi permasalahannya, tidak ada seorang pun tahu jika mereka kakak beradik.
"Cih, lo ngerasa kalah saing banget sama Bintang? Sampe harus berbuat kaya begini?!". Bulan berdecih, menatap remeh Catherine si biang masalah.
"Gw cuma nggak sengaja liat kebusukan temen lo yang sok suci itu kok. Ternyata, dibalik wajah sok malaikatnya itu, dia simpenan laki-laki beristri ya". Ucapan Catherine semakin memprovokasi yang lain untuk menghujat Bintang.
Bulan meradang mendengar sahabat baiknya dibicarakan seperti itu. Mereka tidak ada yang tahu kebenarannya, tapi mereka menjelekkan nama Bintang seenaknya.
"Bintang nggak kaya gitu, mungkin mereka bersaudara". Teman satu kelas Bintang membantu Bulan membela Bintang. Karena memang Bintang yang mereka kenal adalah gadis baik-baik.
"Lo nggak salah ngomong gitu? Liat baik-baik! Dia ini pak Sadewa, anak dari konglomerat Henry Laksmana. Terus sodaraan dari mana?! Si Bintang aja sekolah disini karna dapet beasiswa". Ucap Catherine penuh percaya diri. Ia benar-benar tidak tahu jika semua kelakuannya saat ini akan membuatnya berada didalam situasi sulit nantinya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
__ADS_1
...Kreji up ya readers,,happy reading semua☺️☺️ Sayang kalian banyakbanyak🥰🥰😘😘😘💋...