
Bulan dipaksa duduk tepat disamping Sam. Tatapan mata mama Sam terlihat berbinar saat melihat Bulan dan Sam yang terlihat mesra. Atau lebih tepatnya hanya Sam yang memperlihatkan kemesraan dengan terus menempel pada Bulan.
"Ni bocah kenapa sih? Kepalanya kepentok kali ya". Batin Bulan yang masih kebingungan melihat kelakuan Sam.
"Hai Bulan, kenalkan..nama saya Mira. Mamanya Samudra.." Bintang yang tengah asyik dengan pemikirannya sendiri terkejut saat tiba-tiba mama Sam mengulurkan tangan padanya.
"Hah, Ah..i-iya tante.." Dengan kikuk Bulan menerima uluran tangan wanita bernama Mira itu dan mencium punggung tangannya.
"Kalian menggemaskan sekali sih.." Mama Mira terlihat gemas melihat putranya yang terus menempeli Bulan.
"Jeng Mira..lalu bagaimana dengan Agnes?". Wanita disebelah mama Sam menatap Bulan dengan tatapan sengit. Pun dengan gadis yang Bulan tahu bernama Agnes itu. Keduanya menatap Bulan dengan tatapan tajam penuh permusuhan.
"Kita kan sepakat untuk memperkenalkan mereka dulu jeng. Saya tidak bisa memaksa kalau ternyata Sam memang sudah punya pacar". Mama Mira tampak tenang menjawab pertanyaan wanita yang tak Bulan ketahui namanya.
"Lo bikin gue dalam masalah, Samudra!!". Batin Bulan berteriak.
"Bagaimana anda ini! Mambuang waktu saya saja!". Ketus wanita yang berpenampilan menor itu sambil melotot.
"Ayo Agnes!! Kita hanya buang-buang waktu disini!". Gadis bernama Agnes itu tampak enggan beranjak walaupun ibunya sudah menarik tangannya.
"Tapi ma..aku mau sama kak Sam". Bulan melirik Sam, wajahnya terlihat santai dengan tangan yang masih merangkul pundak Bulan.
"Tangan lo Sam!! Tangaaan!!!". Ingin sekali Bulan menyingkirkan tangan Sam. Ia gerakkan bahunya agar Sam paham, namun bukannya menyingkirkan tangannya, Sam justru semakin menarik Bulan agar semakin merapat padanya. Itu membuat mata Bulan melotot.
"Ayo pergi!!". Meskipun terlihat enggan, akhirnya Agnes mengikuti ibunya karena terus ditarik oleh ibunya itu.
"Sekarang mama percaya kan kalau Sam sudah punya pacar". Mama Mira mengangguk dengan senyum lebar.
"Mama nggak perlu lagi menjodohkan Sam". Kembali Sam bersuara membuat mama Mira kembali mengangguk.
"Itu salah kamu sendiri. Coba kalau dari dulu kamu kenalkan Bulan pada mama. Kan mama nggak usah bingung jodohin kamu sama anak temen-temen mama". Sam memutar bola matanya saat mendengar ucapan mamanya.
"Kamu cantik sekali sayang.." Bulan tersenyum kaku saat mama Mira menggenggam tangannya.
"Apa Sam juga dingin seperti kulkas jika sedang denganmu?". Pertanyaan mama Mira membuat Bulan menoleh menatap Sam. Kini wajah pria itu sudah kembali ke setelan pabriknya. Datar tak berekspresi, membuat siapa saja kesulitan mengetahui apa yang tengah dipikirkan lelaki itu.
"Ah sepertinya tidak. Tadi saja dia memanggilmu seperti itu.." Mama Mira menjawab sendiri pertanyaannya.
Mama Mira terus mengajak Bulan berbincang. Sedangkan Bulan sudah tidak tenang dalam duduknya. Apalagi sejak tadi ponselnya bergetar.
"Pasti Bibin nyariin gue deh". Karena memang benar. Di meja yang lain, Bintang tengah uring-uringan karena Bulan tak menjawab panggilannya. Padahal beberapa saat lalu sahabatnya itu sudah mengirim pesan jika dirinya sudah sampai. Tapi Bintang tak menemukan Bulan saat dirinya kembali dari toilet.
"Kalau orang tua Bulan, kerja apa?". Bulan menatap mama Sam. Ia tahu Sam berasal dari keluarga kaya, sama seperti Rehan mantan kekasihnya.
__ADS_1
Jika Bulan menjelaskan pekerjaan bapak dan ibu, mungkin mama Mira akan memintanya menjauh dari Sam. Bukankah itu lebih baik? Batin Bulan merasa memiliki secerca harapan untuk keluar dari persoalan yang dibuat oleh Sam.
"Bapak bekerja di perusahaan X sebagai manager, tan-te. Kalau ibu, ibu hanya dirumah saja.." Dalam hati Bulan berharap semoga mama Mira tidak suka padanya dan memintanya meninggalkan putranya.
"Oh ya?? Apa bapak mu sudah lama bekerja disana? Mama juga hanya dirumah saja seperti ibumu.." Jawaban mama Mira diluar ekspetasi Bulan. Bulan pikir mama Mira akan tidak suka dan langsung memintanya meninggalkan anaknya.
"Lalu dimana rumahmu nak?". Mama Mira masih menunjukkan sikap ramah pada Bulan hingga membuat Bulan bingung.
"D-di komplek Cahaya kenangan tan-te".
"Dimana itu? Maksud mama..daerah mana?". Alis Bulan berkerut, kenapa mama Mira justru semakin bersemangat bertanya padanya. Bahkan senyuman tak luntur di wajah yang masih terlihat awet muda itu.
"Di--di daerah xx tante". Seharusnya wanita didepan Bulan ini tahu jika itu hanya komplek perumahan biasa kan.
"Jangan panggil tante dong..panggil mama aja ya". Alis Bulan terangkat mendengar permintaan mama Mira. Apa-apaan ini? Kenapa semua jadi begini?? Teriak Bulan dalam hati.
Sementara Sam yang duduk disamping Bulan tampak tersenyum melihat reaksi Bulan yang terlihat bingung sekaligus terkejut.
"Ta-tapi tante---"
"Nggak ada tapi-tapi sayang. Ini pertama kalinya Sam mengenalkan seorang gadis pada mama. Jadi mama yakin, pasti Sam sangat mencintai kamu". Bulan dibuat tak mampu berkata-kata mendengar ucapan mama Mira.
Bulan menatap Sam, yang ditatap terlihat datar dan biasa saja tanpa ekpresi berlebih. Membuat Bulan semakin kesulitan menebak apa tujuan Sam melakukan ini.
"Belum..ah, maksud Bulan sudah". Wajah Bulan merona, gara-gara si kulkas dua pintu, dirinya jadi salah bicara.
"Bulan pasti belum makan, ma". Sam berbicara dengan yakin karena saat ia melihat Bulan, gadis itu baru saja datang.
"Kita makan bersama saja ya.." Bulan semakin dibuat bingung. Menolak ajakan mama Mira sepertinya tidak sopan, namun bagaimana dengan Bintang.
"Habislah". Gumam Bulan membayangkan amukan sahabat baiknya nanti saat kembali bertemu.
Ia melirik Sam dengan tatapan sebal. Sungguh rasanya Bulan ingin menempeleng kepala Sam yang dengan seenaknya membawa dirinya dalam keadaan sulit dan serba salah seperti ini.
"Kamu mau makan apa nak?". Bulan kembali menatap mama Mira. Kemudian ia menyebutkan makanan apa yang biasa ia makan bersama Bintang.
"Wah, selera kalian juga sama. Pantas saja Sam suka sama Bulan". Mama Mira tersenyum menggoda membuat Bulan ikut tersenyum meski terlihat kaku.
Tak butuh waktu lama, pesanan mereka datang dan ketiganya menikmati makanan mereka diselingi obrolan yang didominasi mama Mira yang terus bertanya tentang Bulan.
Disisi lain restoran, Bintang tampak mencak-mencak karena Bulan tak kunjung menjawab panggilan teleponnya.
"Si Bubul beneran pengen dipecat jadi sahabat". Gerutu Bintang. Makanan yang ia pesan sudah datang sejak 10 menit yang lalu. Namun ia belum menyentuhnya karena menunggu Bulan.
__ADS_1
Bintang terus berusaha menghubungi Bulan. Namun kini, ponselnya temannya itu justru tidak dapat dihubungi. Membuat Bintang semakin kesal saja.
Bintang segera mengangkat wajahnya saat seseorang duduk didepannya. Ia sudah bersiap memakinya karena mengira jika itu adalah Bulan.
Namun apa yang akan ia ucapkan menguap begitu saja di udara karena bukan Bulan yang ada dihadapannya saat ini. Melainkan seorang lelaki asing yang Bintang tak kenal.
Alis Bintang berkerut, wajah pemuda didepannya tidaklah terlalu asing. Namun Bintang tidak mengingat namanya.
"Heh! Kok dimakan!", Bintang terkejut karena lelaki itu memakan makanan yang seharusnya untuk Bulan.
"Gw kira emang pesen buat gw". Dengan santai lelaki itu menjawab dan terus melanjutkan makannya.
"Cih, emang siapa elo". Bintang mendecih, menatap galak lelaki didepannya itu.
"Ini pertemuan ketiga kita. Sesuai janji gw, kalo sampai gw ketemu lo tiga kali. Itu artinya lo harus jadi pacar gw". Bintang menyemburkan minuman yang baru saja masuk kedalam mulutnya ketika mendengar ucapan lelaki asing didepannya itu.
"Orang gila!". Umpat Bintang menatap horor lelaki didepannya. Bintang bergidik ngeri saat laki-laki didepannya justru tertawa.
"Bintang..Bintang..lo tuh emang menarik". Dahi Bintang semakin berkerut saat lelaki itu menyebut namanya.
Siapa sebenarnya lelaki itu? Kenapa bisa dia mengetahui nama Bintang? Mungkin itulah yang kini tengah mengganggu pikiran Bintang.
"Arsen..nama gw Arsenio Pradipta". Lelaki bernama Arsen itu mengulurkan tangannya pada Bintang. Namun sepertinya Bintang tak berniat menerima uluran tangannya, hingga akhirnya Arsen menarik kembali tangannya yang menggantung sejak tadi.
"Arsen". Gumam Bintang yang coba mengingat sosok didepannya.
Berusaha keras mengingat, namun Bintang tak mengingatnya sama sekali. Kini kekesalannya bertambah. Bulan tak kunjung datang, dan justru kini ada lelaki aneh yang duduk bersamanya.
Bintang mengabaikan Arsen dan memilih mengambil ponselnya. Ia menulis pesan pada Bulan dan mengatakan jika dirinya akan pulang karena sudah lama menunggu Bulan. Selesai mengetik pesan dan mengirimkannya pada Bulan, Bintang bangkit dari duduknya setelah meletakkan beberapa lembar uang diatas meja untuk membayar makanannya.
"Jangan buru-buru dong.." Bintang menatap galak Arsen yang berani mencekal tangannya. Sebelum Bintang menghempas tangan Arsen, sudah ada yang lebih dulu menghempaskan tangan Arsen dengan keras.
"Jangan berani sentuh pacar gw!!!".
...¥¥¥•••¥¥¥...
...eaeaeaea...sapa tuuuh🤔🤔 ...
...Dikasih kreji up lagi sama mak othor nih..ayo kalian juga kreji like sama komennya ya☺️☺️🙏🏻🥰...
...Sebenernya udah dari dzuhur tadi mak othor up, tapi nggak tahu kenapa masih belum lolos review terus, padahal biasanya cepet banget😌...
...Happy reading semua☺️☺️ sarangheo banyakbanyak buat reader semuaa😘😘🥰💋♥️💐 makasih buat dukungannya🙏🏻🙏🏻...
__ADS_1