Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
rencana Catherine


__ADS_3

Semakin lama, hari yang dijalani Bintang terasa semakin berat saja. Setiap harinya selalu ada keributan antara Langit dan Arsen. Ditambah lagi Catherine yang juga selalu mencari masalah dengannya karena Langit yang selalu menempel pada dirinya.


"Gw bilang awas. Kalo elo ngga terima, bilang sama si biawak sana". Saat ini, Bintang tengah dicegat oleh Catherine dan kedua temannya.


Rasanya Bintang sudah lelah diganggu Catherine selama satu bulan ini. Langit adalah alasan utama Catherine selalu mengganggu Bintang.


Lelaki yang Catherine sukai itu terang-terangan menyatakan Bintang adalah kekasihnya. Menyulut amarah dan rasa tidak terima Catherine.


Gadis itu bahkan memohon pada ayahnya untuk bisa menyingkirkan Bintang dari sekolah. Namun sayang, untuk kalo ini sang ayah tak bisa mengabulkan permintaan putri tersayangnya.


"Awas..awas ah. Laper gw". Bintang menerobos Catherine dan kedua temannya karena sudah kesal.


"Tunggu!! Gw belom kelar ngomong!". Catherine mencekal pergelangan tangan Bintang. Membuat Bintang bertambah kesal.


"Gw masih baik ya Cath, jangan ampe gw bikin lo babak belur". Ancam Bintang dengan tatapan serius membuat Catherine langsung melepaskan cekalannya.


"Serem banget sih". Batin Catherine yang sejujurnya memang takut. Perkelahian terkahirnya dengan Bintang cukup membuatnya tahu seberapa kuat gadis didepannya ini.


"Kalo elo nggak terima, bilang sama si biawak suruh jauhin gw. Jangan ganggu gw!". Bintang berlalu setelah memperingati Catherine untuk berhenti mengganggunya.


"Lo bakal diem aja Cath?". Tanya temannya mulai mengompori.


"Gw nggak akan diem sebelum gw dapetin Langit". Ucap Catherine penuh tekad.


"Gw bakal cari kelemahannya dia. Yang jelas nggak pake kekerasan, karna gw pasti kalah". Catherine benar-benar menyadari jika kekuatan tubuhnya tidak sebanding dengan Bintang. Entah rencana apa yang ada didalam pikiran Catherine saat ini.


Sesampainya Bintang di kantin, ia sudah disambut oleh Langit dan juga Arsen yang terlihat saling dorong agar bisa duduk disamping Bintang.


Kedua pemuda itu bahkan membelikan makanan dan juga jus jambu kesukaan Bintang.


Bulan hanya terkikik melihat wajah masam Bintang ketika melihat kelakuan Langit dan Arsen.


"Lo apaan sih, awas sana jangan deket-deket pacar gw!". Langit mendorong bahu Arsen


Kini posisi duduk ketiganya, Bintang berada ditengah-tengah antara Arsen dan Langit. Sedangkan Bulan duduk didepan Bintang bersama Roman dan Samudra.


"Lo yang awas! Gw mau nyuapin Bintang". Arsen balas mendorong bahu Langit.


Wajah Bintang sudah memerah karena menahan rasa kesal. Lepas dari Catherine, kini ia terjebak diantara biawak dan komodo menyebalkan seperti Arsen dan Langit.


"DIEM!!!". Bentak Bintang membuat Arsen dan Langit langsung membeku.

__ADS_1


Bintang menghela nafas panjang, mengeluarkannya perlahan dan mengulanginya beberapa kali. Kesabarannya benar-benar di uji oleh dua makhluk menyebalkan disamping kiri dan kanannya itu.


"Lo berdua bisa diem kan?". Keduanya kompak mengangguk seperti anak kecil yang tengah dimarahi ibunya.


"Gw mau makan, jadi lo berdua diem aja. Oke?". Lagi-lagi Langit dan Arsen mengangguk patuh.


Kini semua diam, mulai menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Tapi tidak dengan Langit dan Arsen, kedua pemuda itu lebih memilih menatap Bintang yang sedang makan.


"Cantik". Gumam keduanya kompak yang justu membuat Bintang tersedak.


Baik Langit maupun Arsen sama-sama menyodorkan jus jambu ke hadapan Bintang. Namun tak ada yang diterima oleh Bintang. Gadis itu lebih memilih menerima air putih yang diberikan Bulan.


"Hahaha kasian amat ni orang berdua. Ganteng sih, tapi nggak ada yang dilirik". Roman tertawa puas melihat wajah masam Langit dan Arsen.


Awalnya ia seperti Bintang, pusing melihat Langit dan Arsen yang selalu ribut dan memperebutkan Bintang. Namun semakin lama, melihat perdebatan Arsen dan Langit adalah sesuatu yang seru menurut Roman.


Seperti saat ini, melihat wajah masam keduanya adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi menggoda mereka berdua.


"Berisik!". Ketus keduanya kompak membuat tawa Roman semakin pecah.


"Cie, kompak banget deh ah. Katanya rival, tapi kompak banget". Roman semakin keras tertawa karena kedua pemuda yang duduk disamping Bintang memberengut.


"Awas ih lo berdua. Sumpek gw tiap hari liatin muka lo". Bintang mendorong Langit dan Arsen dengan kedua tangannya. Berharap kedua pemuda itu bergerak menjauh.


"Kak Arsen, ini hadiah buat kak Arsen.." Ditengah keributan itu, muncul sosok gadis cantik yang malu-malu menyodorkan sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan rapi pada Arsen.


"Tuh urusin fans elo. Jangan ganggu Bintang gw". Langit mendorong pundak Arsen saat pemuda itu menatap gadis yang memberinya hadiah.


"Paan sih lo, berisik". Ketus Arsen melirik galak pada Langit yang justru tergelak.


"Lagian dia bukan Bintang elo. Dia punya gw". Arsen yang tadinya menatap adik kelasnya, kini beralih menatap Langit, mengabaikan gadis yang masih berdiri disamping meja mereka.


Bintang membenturkan kepalanya ke atas meja. Melihat dan mendengar kembali perdebatan Langit dan Arsen yang selalu merasa jika dirinya adalah milik salah satu dari mereka.


"Maafin ya, mereka lagi kesurupan". Roman berdiri dan menerima hadiah yang sebenarnya milik Arsen.


"Lo jauh-jauh dulu deh, takutnya ntar ketularan kesurupan". Bulan menimpali dengan senyum canggungnya.


Gadis yang memberi Arsen hadiah akhirnya mengangguk. Meski sepertinya tidak rela meninggalkan Arsen, namun akhirnya ia berjalan menjauhi meja dimana Arsen dan yang lainnya duduk.


Sementara Bintang tergelak kecil mendengar ucapan Bulan dan Roman. Ya, memang sepertinya kedua pemuda tampan disampingnya ini memang sedang kesurupan.

__ADS_1


Bintang berdiri, membuat Langit dan Arsen ikut berdiri.


"Apa lo!". Sengit Arsen menatap galak Langit.


"Lo yang apa! Duduk lo!". Balas Langit tak mau kalah.


"Duduk lo berdua!!!". Perintah Bintang pada dua pemuda yang masih saling melempar pandangan penuh permusuhan itu.


"Diem disini! Jangan ada yang ngikutin gw". Ucap Bintang penuh penekanan.


"Ayo Bul.." Bulan mengangguk dan beranjak dari duduknya kemudian mengikuti Bintang. Ia sempatkan menatap Langit dan Arsen dengan tatapan penuh belas kasihan.


Roman kembali tertawa melihat Arsen dan Langit diejek oleh Bulan.


"Kalian tuh nggak akan bisa ngegeser posisinya si Bulan. Ngimpi aja udah lo berdua". Roman masih menertawakan Langit dan Arsen yang menatap punggung Bintang yang kian menjauh.


"Gw juga nggak pernah mau gantiin posisi Bulan. Karna gw mau punya tempat sendiri dihati elo Bin.." Batin Langit yang tiba-tiba tersenyum tipis.


"Bin.." Bintang hanya berdehem menanggapi panggilan Bulan.


"Lo nggak mau umumin aja kalo elo sama Langit emang udah dijodohin?". Pertanyaan konyol Bulan membuat Bintang menoleh dengan tatapan heran.


"Hehehe, iya iya, kan nanya doang". Tahu jika Bintang tak suka, ia hanya nyengir menampakkan deretan giginya pada Bintang.


"Catherine Bin.." Bisik Bulan yang melihat Catherine dan dua temannya sedang berjalan menuju ke arahnya.


Bintang menghela nafas panjang. Haruskah ia kembali berurusan dengan Catherine? Pikir Bintang.


Namun ketakutannya sepetinya terlalu berlebihan, Catherine hanya melewatinya tanpa menyenggol atau membuat masalah dengan Bintang.


"Dunia udah mau kiamat gitu ya?". Bintang menatap Bulan saat pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Bulan.


"Kayanya sih emang udah mau kiamat. Bayangin aja, si kucing ngelewatin elo tanpa drama". Bintang terkekeh sambil menggeleng pelan. Memang sesuatu yang aneh, Catherine yang hanya melewatinya tanpa membuat masalah.


Bintang mengangkat kedua bahunya acuh. Ia akan sangat bersyukur jika Catherine memang sudah insyaf dan tidak lagi mengganggu dirinya. Hidupnya akan jauh lebih tenang.


Bintang tidak menyadari jika ada bahaya lain yang tengah mengintai dirinya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Segini dulu ya, maafin othor kalau ceritanya nggak jelas. Tiba-tiba buntu nggak punya jalan cerita😂😂...

__ADS_1


...Semoga suka, happy reading🥰🥰...


__ADS_2