
"Restoran macam apa sebenarnya ini. Sangat mengecewakan!". Catherine menggebrak meja, membuat beberapa pengunjung menatap meja mereka.
"Demi pelanggan miskin seperti nya kalian membuat saya yang sudah sering datang kesini kecewa!".
"Bukan urusanku kau mau kecewa atau tidak. Dasar gila". Umpat manager restoran dengan suara lirih.
"Maaf nona. Kami disini memperlakukan semua pelanggan kami sama. Siapapun yang datang kesini, kami akan melayani mereka dengan sepenuh hati. Terlepas siapa mereka dan dari mana asal mereka". Akhirnya manager hanya bisa menurut setelah berulang kali Bintang memberi kode padanya untuk mengalah.
"Maafkan saya pak..saya akan pergi saja". Sungguh, ingin rasanya manager dan beberapa karyawan Kiran menahan Bintang. Tapi mereka hanya bisa diam karena Bintang sendiri yang meminta.
"Maaf sudah membuat anda semua terganggu. Sekali lagi saya minta maaf". Bintang membungkukkan tubuhnya pada beberapa orang yang masih menikmati makan siang mereka.
"Lo nggak sadar ya? Lo tuh ngerendahin diri lo sendiri. Kaya orang nggak berpendidikan lo!!". Sengit Langit menatap Catherine penuh kekesalan.
"Lang!! Langit!!". Catherine berteriak memanggil Langit yang sudah berlari keluar mengejar Bintang.
"Dasar perempuan murahan!!!". Pekik Catherine membuat beberapa orang menatap aneh pada gadis itu. Bahkan ada beberapa yang merekam kejadian itu.
"Maaf nona. Tolong jangan buat keributan disini". Tegur manager saat melihat Bintang sudah keluar restoran.
"Dia yang memancing keributan kalian biarkan pergi begitu saja! Tapi kalian justru menegurku?!!". Catherine masih marah-marah tidak jelas. Membuat beberapa pengunjung lain mencibir kelakuannya yang seperti orang tidak tahu malu.
"Maaf nona. Silahkan keluar, anda sudah mengganggu kenyamanan tamu kami yang lain".
"Hei!! Kalian mau apa!! Dasar tidak sopan!! Lepaskan aku!! Dasar orang-orang miskin tidak tau diri!". Catherine terus berteriak seperti kesetanan saat dua orang pelayan restoran menariknya keluar.
"Memalukan sekali. Dia yang memulai tapi dia menyalahkan gadis lain".
"Anak muda jaman sekarang sudah tidak memiliki rasa malu. Bahkan membuat keributan di tempat umum".
"Kasian sekali gadis tadi. Dia tidak melakukan apapun tadi. Lalu kenapa gadis itu menyiramnya dan memakinya. Benar-benar sudah tidak waras".
Masih banyak lagi cibiran yang ditujukan pada Catherine yang terlihat memberontak saat diseret keluar restoran.
"Aku tidak tahu akan jadi apa gadis itu jika sampai orang tua dan kakak nona Bintang tahu kejadian tadi". Ucap manager restoran yang diangguki oleh karyawannya.
"Iya pak. Sepertinya gadis itu tidak tahu siapa mbak Bintang".
"Sepertinya begitu. Konyol sekali, memang sekaya apa orang tuanya sampai berani mengatai anak konglomerat sekelas pak Henry miskin". Manager tertawa geli mengingat bagaimana gadis gila itu memanggil Bintang gadis miskin. Sangat menggelikan.
"Masuk". Langit membukakan pintu mobil untuk Bintang. Pemuda itu bahkan sedikit memaksa Bintang untuk cepat masuk saat melihat Catherine diseret keluar.
Langit yakin Catherine akan kembali berulah jika melihat Bintang dan dirinya berada dalam satu mobil.
Langit segera berlari memutari mobil dan masuk kemudian menyalakan mesin mobilnya. Bintang hanya tersenyum tipis saat Langit buru-buru melajukan kendaraannya saat melihat Catherine berlari ke arah mobilnya. Pemuda itu bahkan tidak mengenakan sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Dasar sinting". Umpat Langit yang menatap spion tengahnya. Ia masih bisa melihat Catherine yang sepertinya tengah berteriak. Entah setan apa yang merasuki gadis itu hingga dengan tidak tahu malunya membuat keributan ditempat umum.
Langit melirik Bintang yang tengah membersihkan sisa jus diwajah dan bajunya dengan tisu.
Langit merasa bersalah. Seandainya ia tidak mengajak Bintang ke restoran itu, pasti Bintang tidak akan dipermalukan seperti tadi oleh Catherine.
"Sorry.." Bintang menoleh, mendapati Langit yang menatapnya sekilas kemudian kembali fokus pada jalanan yang mereka lalui.
"Buat?". Tanya Bintang bingung mengapa Langit meminta maaf.
"Semua gara-gara gw. Kalo gw nggak bawa elo kesana, pasti lo nggak akan dipermaluin kaya tadi". Bintang tersenyum miring, baginya dipermalukan dan dihina Catherine sudah bukan hal baru.
Ia bahkan sudah tidak menganggap semua cemoohan Catherine ataupun hinaan Catherine padanya. Selagi Catherine tidak melukai orang-orang terkasihnya, Bintang tidak peduli.
Toh dirinya tidak terluka. Tentang malu? Dirinya tidak merasa bersalah, lalu apa yang harus dirinya pikirkan?
"Santai aja. Gw udah kebal ama kelakuannya itu kucing satu". Sahut Bintang santai.
Langit kembali menoleh menatap Bintang sekilas. Gadis itu masih terlihat sangat tenang bahkan setelah apa yang ia lalui.
Sangat berbeda dengan gadis yang menangis histeris hanya karena melihat orang lain kehilangan ibunya. Sungguh trauma yang sangat mendalam hingga membuat Bintang ketakutan bahkan saat orang lain yang kehilangan.
"Turun bentar.." Ucap Langit saat Bintang menatapnya dengan kedua alis terangkat.
Saat ini Langit membawa Bintang ke sebuah taman yang memiliki danau buatan. Meski begitu, danau itu terlihat sangat indah.
"Gw udah izin sama mas Dewa sama kak Juna. Hpnya kak Juna juga nggak buru-buru dipake". Sedikit memaksa, Langit menarik lembut tangan Bintang yang tetap diam ditempatnya.
"Gw pengen cepet pulang". Ucap Bintang setelah menghela nafas.
"Nggak lama..gw janji". Bujuk Langit masih menarik tangan Bintang yang akhirnya menurut setelah berulang kali menghela nafas.
Dengan sedikit menyeret langkahnya, Bintang mengikuti Langit yang kini kembali menggenggam tangannya. Sepertinya pemuda itu memiliki kebiasaan baru, menggenggam tangan Bintang dimanapun dan kapanpun mereka berdua.
Bintang yang awalnya terlihat malas dan enggan mengikuti Langit dibuat terpana dengan pemandangan yang menyegarkan matanya.
Air danau yang jernih serta taman-taman kecil disekitaran danau berhasil membuat mata gadis itu berbinar. Bibirnya tak henti berdecak kagum.
Bagaimana bisa dirinya tidak tahu jika ada tempat sebagus ini dikota tempat nya tinggal. Sungguh Bintang merasa kagum dengan yang matanya lihat saat ini.
"Indah banget.." Gumam Bintang menatap lurus air danau yang terlihat tenang. Membuat siapapun yang menatapnya merasa tenang.
"Iya, indah..dan cantik". Ucap Langit menimpali, namun bukan danau yang menjadi fokus matanya. Melainkan wajah Bintang yang terlihat lebih bersinar diterpa cahaya mentari sore itu. Apalagi gadis itu memejamkan matanya, kecantikannya seolah menyatu dengan danau dan taman indah yang mengelilinginya.
Keduanya sama-sama diam. Terhanyut dengan segala hal yang mereka nikmati. Bintang yang begitu menikmati udara sore ditepi danau, dan Langit yang begitu menikmati wajah cantik yang terlihat sangat tenang itu.
__ADS_1
"Cantik.." Ucap Langit yang dapat didengar oleh Bintang.
"Hm..cantik banget". Timpal Bintang menoleh dan mendapati Langit tengah menatap dirinya dengan seulas senyum tipis yang membuat wajah tampan itu semakin terlihat tampan.
Bintang memalingkan wajahnya. Ia merasa wajahnya panas, sudah bisa ia pastikan jika kini wajahnya sudah memerah karena malu ditatap Langit begitu intens. Ia kira Langit juga sama sepertinya yang tengah menatap hamparan air tenang itu. Rupanya ia salah, Langit sedang memandang wajahnya.
Bintang tak berani menoleh, bahkan saat tangan Langit menyelipkan helaian rambutnya yang terbang diterpa angin sore ke belakang telinganya pun Bintang tetap mematung tak berani menoleh.
"Ini kenapa jadi gini sih!!", Teriak Bintang dalam hati. Ia merutuki dirinya sendiri yang seolah tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya.
Tubuh Bintang menegang saat Langit berdiri dibelakangnya dan mendekap tubuhnya. Matanya melebar merasakan pelukan hangat Langit.
"Nggak boleh gini. Lepasin tangan dia, Bintang! Lepas!". Otaknya terus menginstruksikan untuk melepas pelukan Langit. Namun tubuhnya berkhianat dan justru menikmati pelukan hangat lelaki yang katanya dijodohkan dengannya sejak kecil.
"Gw sayang sama elo, Bin". Langit menjatuhkan kepalanya diatas kepala Bintang. Tangan yang memeluk perut Bintang pun terasa semakin erat.
"Terserah lo mau percaya atau bilang gw gombal". Bintang bisa merasakan helaan nafas Langit.
"Gw nggak tau sejak kapan..tapi gw jatuh cinta sama lo". Kini Langit terkekeh pelan, tanpa mengendurkan pelukannya pada Bintang.
"Mulai sekarang..gw akan selalu ada buat elo. Dimanapun dan apapun keadaannya.."
"Jangan pernah takut sama apapun. Karna ada gw yang akan selalu jagain elo mulai sekarang". Bintang terdiam mendengar ucapan panjang Langit.
"Gw bukan cewek lemah". Ucap Bintang. Ia tak mau dianggap lemah dan butuh perlindungan seorang pria.
"Gw tau..tau banget malah. Lo cewek paling kuat yang pernah gw temuin". Puji Langit tulus, karena memang begitu adanya.
"Gw nggak bilang elo lemah, cuma..setiap orang pasti punya ketakutannya sendiri, Bintang", Bintang mengerjap, sepertinya pembicaraan ini mengarah pada kejadian dirumah sakit beberapa jam lalu.
"Gw.."
Sebelum Bintang mengatakan lebih, Langit membalikkan tubuh Bintang hingga kini keduanya saling berhadapan. Dielus lembut kedua pipi Bintang yang terasa halus itu. Mata Langit menatap intens netra Bintang yang kini juga menatap dirinya.
"Mulai sekarang, lo nggak perlu takut apapun..gw akan selalu jagain elo. Dan gw nggak akan pernah ninggalin elo". Bintang mencoba memalingkan wajah karena matanya terasa panas. Ia takut menangis didepan Langit dan menunjukkan jika dirinya tengah lemah.
Namun Langit menahan wajahnya hingga akhirnya Bintang tak bisa memalingkan wajah.
"Jangan pernah lagi ngehindarin gw, Bin. Karna gw nggak akan pernah lepasin lo, sampai kapanpun". Langit kembali menarik Bintang masuk kedalam pelukannya. Pelukan yang terasa menenangkan untuk Bintang.
Biarlah untuk sesaat seperti ini, menikmati pelukan Langit yang terasa hangat dan nyaman. Bintang memejamkan matanya, menikmati pelukan Langit yang terasa tulus.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Peluk terosss Lang, mumpung lagi mode nurut, sebelum berubah jadi singa yang ngamok kalo dipegang-pegang😂😂...
__ADS_1
...Langit menang banyak lah pokoknya ya😅😅😂 Biarin deh kali-kali, kasian digalakin mulu ama Bintang....
...Happy reading readers🥰🥰 sarangheo banyakbanyak kalian semua😘😘💋🥰💐♥️💋...