
Dan disinilah keempat remaja itu saat ini. Berada didalam gedung bioskop. Langit yang duduk disebelah Bintang, dan Sam yang duduk disebelah Bulan.
Kedua pasang remaja itu duduk terpisah. Itu karena mereka tidak datang bersamaan, sehingga tiket yang mereka beli pun tak berurutan.
Tadi setelah memaksa Bintang dan Bulan masuk kedalam bioskop bersama Sam dan Langit, mommy Sekar dan mama Mira pamit untuk melanjutkan kegiatan belanja mereka.
"Mau kemana?". Tanya Langit yang melihat Bintang hendak bangkit. Ia menahan tangan Bintang hingga gadis itu tetap duduk disampingnya.
"Gue mau keluar". Ucap Bintang kesal. Hari ini sudah cukup baginya bermain sandiwara. Kepalanya sudah terasa pening dan ingin pulang saja.
Tak berbeda jauh dari Bintang. Bulan pun ingin melakukan hal serupa. Namun Sam juga tak mengijinkannya.
"Jangan". Cegah Langit dan Sam pada kedua gadis itu.
"Tante Sekar udah nggak ada. Gw nggak harus main drama lagi Lang". Sengit Bintang
Namun Langit justru menarik tubuhnya hingga kini merapat pada Langit.
"Lo kira, mommy bener-bener ninggalin kita berdua disini?". Alis Bintang berkerut, ia mengangguk yakin.
"Lo tuh terlalu polos Bin". Langit terkekeh menyadari betapa polosnya Bintang.
"Terus yang dipojokan itu siapa menurut lo?". Tanya Langit melirik bangku belakang yang berada diujung. Tempat yang gelap hingga tidak akan nampak jika kita tidak melihatnya dengan seksama.
Bintang hendak menoleh, namun Langit kembali menahannya.
"Jangan langsung nengok dong". Bintang mendengus kesal.
"Kalo gw nggak nengok, gimana caranya gw liat siapa yang disana". Geram Bintang, ingin sekali ia memaki Langit saat ini.
"Pelan-pelan aja. Jangan terlalu nunjukin kalo elo pengen liat ke arah sana". Bintang menghela nafas panjang. Meski kesal, ia mengikuti apa yang Langit katakan.
Kini ia kembali menghadap layar besar didepan sana dengan tatapan kosong. Membuat Langit mengulum bibirnya menahan tawa melihat reaksi Bintang.
Disudut ruangan yang gelap itu, Bintang melihat dua wanita paruh baya yang tengah menatap dirinya dan juga Bulan serta Sam dan Langit.
Mereka yang tak lain adalah mommy Sekar dan mama Mira yang penasaran dengan apa yang para anak muda itu lakukan jika didalam gedung bioskop. Atau hanya sekedar memastikan jika keempat anak muda itu tidak kabur setelah mereka berpamitan.
"Terus sekarang gimana Sam?". Bulan tampak panik. Ia terus bergerak dan tak mau diam dalam duduknya.
"Duduk yang tenang. Nonton filmnya". Bulan melirik tajam saat Sam menjawab dengan santai.
"Emang mau gimana? Lo mau kabur? Atau mau nyuruh nyokap gw sama nyokapnya Langit pulang?". Bulan kembali mendengus, merasa tak punya pilihan bagus dari semua yang Sam utarakan.
"Tenang, mereka cuma pastiin kita nggak kabur setelah mereka pamit pergi". Seolah sangat tahu apa yang dipikirkan kedua mama itu, baik Sam dan Langit mencoba memberi pengertian dan menenangkan Bulan serta Bintang.
Film horor yang biasanya menjadi kegemaran Bintang dan Bulan itu kini sudah tak lagi menarik bagi kedua gadis itu.
__ADS_1
Ada yang lebih menyeramkan dibandingkan hantu yang terus bermunculan di layar besar didepan mereka.
Keberadaan mommy Sekar dan mama Mira jauh lebih menakutkan bagi Bulan dan Bintang. Kini mereka terjebak dengan permainan yang entah siapa yang memulainya.
Bintang memberanikan diri menoleh ke belakang. Ingin mencari tahu apakah kedua mama cantik itu masih mengawasi mereka atau tidak.
Mata Bintang berbinar saat tak mendapati siapapun disana. Sepertinya apa yang Langit katakan memang benar. Mommy Sekar hanya memastikan ia dan Langit tetap berada didalam gedung bioskop sampai film dimulai.
Langit tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah Bintang.
Rupanya Bulan pun melakukan hal serupa. Ia begitu senang mendapati bangku yang tadinya ditempati oleh mama Mira kini sudah tak berpenghuni.
Hampir ia memekik kegirangan, untung akal sehatnya masih bekerja dengan baik hingga Bulan tak melakukannya.
Dari tempatnya duduk, Bulan bisa melihat Bintang yang duduk dengan Langit. Tak terlalu jelas karena hanya cahaya dari layar besar didepannya yang membuatnya bisa melihat sekilas wajah Bintang.
Kini kedua gadis itu sudah bisa menikmati film kesukaan mereka tanpa merasa terintimidasi lagi. Tadi mereka merasa seperti penjahat yang sedang diawasi gerak-geriknya.
Lampu ruangan menyala, menandakan film yang diputar sudah usai. Bintang cepat mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Bulan.
Ia ingin segera bebas dari Langit dan melanjutkan rencana awalnya untuk mengajak Bulan berbelanja.
Bintang dan Bulan sama-sama melambaikan tangan mereka saat netranya saling bertemu. Seolah sudah puluhan purnama mereka tak berjumpa.
"Cabut sekarang yuk". Ajak Bintang dijawab anggukan kepala oleh Bulan yang terlihat bersemangat.
"Kalian sudah selesai menonton?". Senyum yang tadi sempat mengembang di wajah kedua gadis itu seketika sirna.
Kini didepan mereka sudah berdiri mommy Sekar dan mama Mira yang menenteng beberapa tas belanja mereka.
"Wah, pas sekali ya". Mama Mira menatap Bulan dengan senyum lebar.
"Ternyata belom kelar", Batin Bintang meringis
Ia dan Bulan terlalu percaya diri menganggap mereka sudah lepas dan tak perlu berperan lagi. Namun semua salah, kedua ibu yang awet muda itu tak semudah itu melepaskan mereka.
Bukan tidak suka, hanya saja baik Bintang maupun Bulan tidak ingin terlalu memberi harapan berlebih pada dua wanita paruh baya itu. Mereka takut jika nantinya akan mengecewakan dan membuat hati kedua ibu itu terluka.
"T-tante, maksud Bulan..mama. Mama masih disini?". Tanya Bulan tergagap.
Mendengar Bulan memanggilnya mama, Mira sangat senang bahkan sampai memeluk Bulan meski hanya sekilas.
"Mama mau ajak kamu belanja dulu.." Bulan dan Bintang saling menatap bingung.
"Iya. Ayo kita belanja bersama". Seru mommy Sekar tak kalah semangat.
"M-maaf tante. Maksud Bintang, mom. Tapi udah sore..Bintang takut bunda nyari", Bintang mencari alasan yang sekiranya bisa menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
"Ah iya, bener tan--ah mama. Bulan juga takut ibu mencari". Kedua gadis itu kompak menganggukkan kepalanya.
Dalam hati terus merapalkan doa agar mereka bisa melarikan diri dari situasi yang menyulitkan ini.
"Mama minta nomor ponsel ibumu. Mama yang akan meminta izin padanya..nanti mama juga yang akan mengantarkan kamu pulang". Bulan menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan mama Mira. Bahunya merosot saat mama Mira tak mudah menyerah.
Semua diluar prediksinya. Mengapa jadi begini?? Teriak Bulan dalam hati.
Bulan dan Bintang saling menatap bingung. Mengapa mereka jadi terjebak dalam situasi seperti ini??
"Ah ide bagus. Mommy akan menelpon bunda mu. Dia pasti mengijinkan jika kamu pergi dengan mommy dan Langit". Wajah Bintang langsung berubah lesu.
Sekarang dirinya harus memberi alasan apalagi untuk bisa melarikan diri??
"Ayo mana nomor ibumu, Bulan. Mama akan telepon ibumu sekarang". Sementara mama Mira sibuk meminta nomor ponsel ibu, mommy Sekar sudah satu langkah lebih maju dengan meminta izin langsung dari bunda Ratih.
"Sudah. Mommy sudah bilang pada bunda mu, dan dia mengijinkan dengan syarat Langit harus mengantarkan kamu pulang nanti". Wajah mommy Sekar berseri.
"Kamu mau kan Lang? Harus mau! Masa nganter calon istri pulang nggak mau". Entahlah, itu harus Langit anggap sebagai sebuah pertanyaan atau perintah. Atau malah sebuah ancaman.
"Mom, mungkin Bintang lelah. Biar Langit antar Bintang pulang sekarang saja". Bintang langsung menoleh pada Langit. Untuk pertama kalinya, si titisan biawak itu membuat Bintang ingin mengucapkan banyak terimakasih padanya.
"Iya ma. Bulan juga mungkin sudah lelah, kita bisa pergi bersama lagi lain waktu". Bulan dan Bintang menatap Sam dengan tatapan galak.
"Jangan menjanjikan apapun pada mereka!!". Mata kedua gadis itu seolah berbicara sekaligus mengirimkan ancaman.
"Hanya sebentar..lagipula ibunya Bulan sudah mengijinkan". Mama Mira dan mommy Sekar memasang wajah sendu.
Bulan dan Bintang saling menatap. Keduanya menghela nafas panjang, merasa tak enak membuat dua wanita baik hati itu menjadi sedih.
"Yasudah, kalian antarkan saja mereka pulang". Titah mommy Sekar yang wajahnya masih terlihat murung.
"Iya Sam. Antarkan saja Bulan pulang kalau begitu". Baik Sam maupun Langit hanya bisa menghela nafas melihat tingkah ibu mereka.
"Sepertinya tidak masalah kalau hanya berjalan-jalan sebentar lagi..iya kan Bin?". Bintang mengangguk. Membuat wajah mama Mira dan mommy Sekar seketika berbinar.
"Benarkah? Kalian mau ikut kami?". Tanya mommy Sekar bersemangat.
Bulan dan Bintang hanya mengangguk dan tersenyum samar pada mommy dan mama Mira.
"Hanya satu kali ini saja". Batin kedua gadis itu meyakinkan diri. Keduanya tidak menyadari jika inilah awal mereka terikat hubungan yang semakin rumit dengan Sam dan Langit.
...Double up manteman😊😊 Sama kaya mak othor yang semangat, kalian juga yang semangat ya kasih like sama komennya😁😁😊...
...Sekian dulu mak othor ngoceh-ngocehnya, happy reading semuaaa, selamat menikmati🥰🥰😊🙏🏻...
...sarangheo banyakbanyak buat reader semua🥰🥰😘😘😘💋💐♥️...
__ADS_1