
Sudah tiga hari lamanya Naura di rawat dirumah sakit. Sebenarnya Naura sudah diijinkan pulang oleh dokter sejak kemarin, namun Juna masih menahannya dan mengatakan jika ingin Naura benar-benar pulih dulu. Rencananya, Naura akan pulang hari ini bersama putra mereka.
Jangan tanyakan dimana Bintang. Meskipun sangat ingin menemani kakak ipar dan keponakannya, namun Bintang memilih dirumah. Rasa tidak nyamannya dirumah sakit lebih besar daripada keinginannya untuk mendampingi kakak ipar dan keponakannya.
Namun meski begitu, Bintang tak pernah melewatkan hari tanpa melakukan panggilan pada kakak iparnya.
Hampir setiap jam Bintang menelpon dan menanyakan kapan mereka akan pulang. Dan betapa bahagianya Bintang saat tahu jika hari ini kakak iparnya akan pulang.
Sejak pagi Bintang sudah sibuk membantu bunda dan para asisten rumah tangga untuk menyambut kedatangan Naura dan putranya.
Bintang menatap puas kamar kakaknya yang sudah ia hias sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan keponakan tampannya.
"Istirahat dulu nak.." Bunda masuk dan menepuk pundak Bintang yang seketika menoleh. Kedua wanita beda usia itu berjalan keluar kamar Arjuna dan Naura.
"Hallo, assalamualaikum kak.."
"Pulangnya masih lama nggak?". Bunda tersenyum gemas melihat bagaimana tidak sabarnya Bintang menanti kepulangan Naura.
"Nanti aku mau ikut jemput deh".
"Iya, wa'alaikumsalam". Bintang menutup panggilan teleponnya dan meletakkan ponselnya diatas meja.
"Bintang mau mandi. Nanti mau ikut mbak Kiran sama mas Dewa jemput dede bayi". Bintang mengecup singkat pipi bunda kemudian berlari ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Bunda menatap Bintang yang semakin menjauh. Merasa bahagia melihat pertumbuhan Bintang.
"Bunda lihat apa?". Tiba-tiba Kiran sudah duduk didepan bunda. Terlalu fokus menatap Bintang, membuat bunda tidak sadar dengan kedatangan Kiran.
"Tidak ada. Hanya gemas melihat adikmu". Kiran ikut tersenyum saat bunda tersenyum. Apa yang bunda katakan memang benar, meski umur Bintang sudah 17tahun, tapi bagi mereka, Bintang tetap seorang anak kecil yang menggemaskan.
"Memang dimana dia?", Tanya Kiran yang tidak melihat keberadaan Bintang.
"Ke kamarnya. Dia mau membersihkan diri dan bersiap-siap". Alis Kiran sedikit berkerut.
"Dia mau kemana bun? Mau jalan-jalan sama Bulan? Atau sama Langit?". Bunda menggelengkan kepalanya saat tak ada tebakan Kiran yang benar.
"Lalu?", Tanya Kiran
"Tentu saja ikut denganmu dan Dewa untuk menjemput Naura dan anaknya".
"Astaga, aku kira dia mau kemana sampai mandi lagi". Kiran dan Bunda tertawa pelan.
"Ayo sayang.." Dewa sudah rapi dengan setelan casualnya, kaos yang mencetak jelas bentuk tubuhnya, serta celana panjang berwarna cokelat.
"Tunggu sebentar lagi mas.."
"Memang menunggu apa? Kamu udah siap kan?", Kiran menganggukkan kepalanya.
"Ada yang belum siap". Alis Dewa berkerut. Ia menatap bunda yang memakai pakaian rumahan.
__ADS_1
"Bunda mau ikut?". Tanya Dewa menatap bunda. Namun bunda menggeleng.
"Ayo mbak.." Dewa menatap tangga. Terlihat adik bungsunya sudah rapi dan segar tengah menuruni tangga.
"Nah, itu dia yang mau ikut mas.." Dewa menggeleng pelan melihat adiknya yang langsung merangkul istrinya setelah berpamitan pada bunda.
Dewa seperti bodyguard yang tengah menjaga dua putri kerajaan.
Wajah yang sejak tadi menyunggingkan senyum kebahagiaan itu mulai meredup. Wajah Bintang berubah suram saat mobil semakin mendekati rumah sakit.
Berulang kali ia menghela nafas panjang untuk menguatkan diri. Terus merapalkan mantra jika tidak akan terjadi apapun dirumah sakit.
"Nggak apa-apa dek. Kan cuma jemput Naura.." Kiran yang tahu Bintang mulaintak tenang menatap ke bangku belakang.
"Kalau kamu takut, tunggu saja di mobil.." Dewa ikut bersuara. Namun Bintang menggeleng dan kembali tersenyum.
"Lo bisa Bin. Tenang aja..jangan bikin orang lain khawatir". Batin Bintang terus mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Dewa baru saja memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin kendaraannya. Ia kembali tolehkan kepalanya ke bangku belakang dimana sang adik duduk.
"Mau ikut masuk?". Entah pertanyaan itu sudah berapa kali Dewa lontarkan. Ia takut adiknya terlalu memaksakan diri padahal takut.
"Ikut mas. Kan mau jemput ponakan ganteng aku". Bintang memaksakan senyumnya membuat Kiran dan Dewa saling menatap kemudian mengangguk pelan.
Bintang berjalan dibelakang Dewa dan Kiran. Kasian juga lama-lama melihat kakak lelakinya jika dirinya terus memonopoli kakak iparnya itu.
Sampai diruangan Naura, Bintang dikejutkan dengan keberadaan mommy Sekar dan Langit yang tengah duduk di sofa. Bahkan mommy Sekar tengah menggendong anak Naura.
"Salim dulu sama calon imam". Bintang mencebik dan menepis pelan tangan Langit. Mommy yang melihatnya tertawa lucu melihat interaksi keduanya. Pun dengan kedua kakak dan kakak ipar Bintang.
"Ayo kita pulang.." Ajak Juna yang memang sudah menyelesaikan segala urusan administrasi.
"Apa baby nya boleh mommy saja yang menggendong?". Juna dan Naura saling menatap kemudian mengangguk dengan senyuman ramah. Membuat mommy sangat senang.
Juna dibantu Dewa dan Langit membawa beberapa barang milik Naura dan anaknya. Sementara Kiran mendorong kursi roda Naura.
Bintang berjalan di sebelah mommy sambil terus menatap wajah tampan keponakannya itu. Sangat menggemaskan hingga membuat Bintang ingin menciuminya.
"Dia terlihat lucu ya sayang.." Bintang mengangguk, membenarkan ucapan mommy.
"Dia juga tampan, mom". Kini giliran mommy yang mengangguk membenarkan ucapan Bintang. Karena memang bayi laki-laki yang ada didalam gendongannya itu terlihat sangat tampak dan menggemaskan.
"Ada apa kak?". Tanya Bintang saat melihat Juna terlihat bingung.
"Ponsel. Sepertinya ponsel kakak tertinggal", Ucap Juna yang meraba saku celananya namun tak menemukan ponsel miliknya.
"Tunggu sebentar ya sayang. Aku ambil ponsel dulu". Naura mengangguk saat Juna berpamitan.
"Biar aku yang ambilin aja kak. Kakak temenin kak Naura aja". Cegah Bintang.
__ADS_1
"Kakak bawa kak Naura sama dede bayi pulang dulu aja. Nanti hp kakak sama Bintang". Juna tampak ragu. Bukan tanpa alasan, membiarkan Bintang kembali masuk kerumah sakit tanpa ditemani siapapun, sepertinya bukan ide yang bagus.
"Biar Langit yang temenin Bintang, kak". Senua menatap Langit, Juna dan Dewa tersenyum lega saat Langit paham ketakutan mereka.
"Nggak usah. Bintang bisa sendiri". Tatapan tajam kedua kakak lelakinya membuat Bintang menghela nafas.
"Ditemenin Langit atau biar kakak yang ambil". Bintang menatap Naura yang masih terlihat sedikit pucat. Kemudian menatap keponakan tampannya.
Tidak baik membiarkan ibu yang baru melahirkan terlalu lelah, apalagi pasti banyak virus penyakit disekitar rumah sakit. Bintang tidak mau keponakannya kenapa-kenapa karena terlalu lama diluar ruangan. Apalagi ini masih dilingkungan rumah sakit.
Akhirnya Bintang mengangguk pasrah. Menurut semua ucapan kakaknya dan membiarkan Langit menemaninya.
"Mommy Sekar bareng sama kita aja. Nanti Bintang pulang bareng Langit". Kiran bersuara. setelah Bintang dan Langit berjalan menjauh.
"Ide yang bagus". Dengan semangat, mommy ikut pulang kerumah Bintang bersama Dewa dan Juna.
"Telpon Bintang sayang. Atau setidaknya kirimkan pesan kalau kita pulang lebih dulu..kasian kalau nanti nyariin kita". Kiran mengangguk mendengar perintah suaminya. Ia merogoh ponselnya dan mengetikkan pesan untuk adik iparnya.
Bintang berjalan bersisian dengan Langit. Menghela nafas panjanng saat dirinya harus kembali masuk kedalam rumah sakit.
Langit hanya diam saat Bintang semakin mempercepat langkahnya. Bahkan bisa dibilang Bintang seperti berlari kecil.
Masuk kembali kedalam ruangan yang tadinya digunakan untuk merawat Naura. Didalam ada dua orang yang tengah membersihkan ruangan itu.
"Maaf mbak, mau cari barang yang ketinggalan". Dua orang wanita yang tengah membersihkan ruangan tampak mengangguk.
"Mau cari ponsel ya dek?". Bintang mengangguk cepat.
Mengucapkan terimakasih berulang kali saat salah seorang nya memberikan barang yang ia cari.
Bintang bergegas keluar ruangann setelah mendapatkan apa yang ia cari. Bintang menggenggam erat ponsel Juna.
"Sini, gw bawain". Langit mengambil ponsel Juna dari tangan Bintang dan memasukkannya kedalam saku celana miliknya.
Bintang hanya diam dan membiarkan Langit melakukan apa yang diinginkannya.
"Kenapa?". Tanya Langit saat tiba-tiba Bintang menghentikan langkahnya. Tatapan mata Bintang lurus ke depan.
Langit mengikuti kemana Bintang menatap, didepan sana, tepat didepan sebuah ruangan, ada seorang gadis yang mungkin lebih muda dari Bintang tengah menangis histeris sambil terus memanggil mama.
"Nggak mau pa!!! Mama nggak boleh pergi!!". Nafas Bintang mulai tak beraturan. Bayang-bayang saat sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya berputar di kepala Bintang.
"Ibu.." Gumam Bintang dengan mata mulai berembun.
"Bin..Bintang.." Langit memegang pundak Bintang. Namun gadis itu tak merespon.
Bintang menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia bahkan memejamkan matanya. Namun bayangan itu semakin jelas menari didepan matanya.
"Ibu!!! Nggak mau! Bintang nggak mau!!!", Langit bingung melihat Bintang ikut histeris.
__ADS_1
Langit teringat cerita ayah. Mungkinkah kejadian yang baru saja dilihat Bintang membuat gadis itu kembali mengingat traumanya.
"Gw harus gimana?? Harus gimana?? Mikir Lang!! Mikir!!!". Gumam Langit yang ikut panik melihat Bintang semakin histeris.