Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
kembalilah Bintang


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa terasa. Bintang sudah tidak lagi menangis, toh ini sudah enam tahun lamanya sejak kepergian Langit. Tak ada lagi komunikasi diantara keduanya. Seolah benang penghubung bagi mereka sudah benar-benar terputus.


Bintang lulus dengan hasil memuaskan baik saat SMA maupun di perguruan tinggi. Dia tetap Bintang, meski sampai saat ini hatinya tak baik-baik saja, namun ia bisa meraih nilai terbaiknya.


Bahkan kini gadis itu sudah bekerja disebuah perusahaan perhiasan ternama sebagai seorang designer perhiasan.


Semua mengira Bintang sudah baik-baik saja. Tak seorang pun tahu jika gadis itu masih sering menangis dalam kesendirian. Hanya bunda yang tahu, namun berpura-pura tak tahu untuk menjaga perasaan Bintang.


"Ayah nggak setuju". Suara ayah menggema diruang tamu.


"Bunda juga". Bunda menimpali.


"Jangan harap kami ngizinin". Baik Juna maupun Dewa kompak menolak.


Bintang menghela nafas panjang. Bagaimana bisa sesulit ini untuk sekedar tinggal sendiri. Toh juga masih di kota yang sama. Ia hanya ingin menyendiri, menikmati luka yang masih terasa didalam sana. Lagipula kini usianya sudah menginjak 23tahun, dia sudah dewasa. Namun dimata keluarganya, dia masih Bintang kecil yang terluka karena kepergian cinta masa remajanya.


"Seminggu sekali aku pulang". Ucap Bintang, menatap anggota keluarga satu persatu.


"Aku capek kalo bolak balik kantor. Jaraknya lumayan jauh". Keluh Bintang. Berharap dengan memasang wajah memelas, orang tua dan kakaknya akan mengijinkan dirinya untuk tinggal sendiri.


"Ada supir. Kamu bisa diantar jemput kalau memang merasa lelah". Dewa bersuara. Membuat Bintang mencebik kesal.


Kenapa kakaknya menyebalkan. Bukankah lelaki itu tahu jika sampai saat ini Bintang masih enggan disorot media tentang siapa dirinya? Teman-teman kantornya pun tidak tahu siapa dirinya.


"Badan aku yang capek mas. Tolong dong..lagian masih di kota yang sama kok". Ingin sekali Bintang menangis sambil berguling di lantai. Sama seperti saat dirinya kecil jika meminta sesuatu.


"aku janji bakal pulang seminggu sekali". Bujuk Bintang.


"Ayah tetep nggak setuju". Ayah bangkit, meninggalkan Bintang yang terlihat lesu.


"Bunda..." Rengek Bintang menatap sang bunda penuh permohonan.


"Bunda nggak bisa bantu sayang.." Bunda mengikuti suaminya. Meninggalkan Bintang yang wajahnya sudah ditekuk.


Menghentakkan kaki beberapa kali sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya dengan perasaan kesal.


"Aku kira dia udah baik-baik aja mas.." Gumam Juna pada kakaknya.


"Ternyata Langit sudah terlalu dalam masuk dalam hati adik kita". Dewa menimpali, keduanya menatap punggung Bintang yang kian menjauh.


Tak lama bunda dan ayah kembali bergabung dengan putra-putranya. Mereka tampak menghela nafas panjang.


Ini bukan kali pertama Bintang meminta tinggal sendiri. Namun mereka masih enggan membiarkan gadis itu seorang diri. Mereka ingin ada disamping Bintang disaat apapun.


"Apa sebaiknya kita turuti maunya yah? Mungkin dia merasa tidak bisa mengeluarkan semua perasaannya karena takut kita khawatir jika melihatnya.." Bunda bersuara membuat tiga lelaki didepannya menatap padanya.

__ADS_1


"Bintang masih sering menangis yah..beberapa kali bunda mendapati Bintang menangis dikamarnya". Ucapan bunda cukup membuat semua tercengang. Rupanya memang gadis kecil mereka belum baik-baik saja.


"Tapi bukannya membiarkan Bintang sendiri juga tidak akan baik bun?". Juna seolah tak rela jika adiknya tinggal seorang diri.


"Tapi mungkin itu yang dibutuhkan Bintang saat ini kak.." Semua kembali terdiam. Memikirkan apa yang terbaik untuk Bintang.


"Dewa.." Yang dipanggil langsung mendongak.


"Siapkan tempat tinggal untuk adikmu. Pastikan lingkungannya aman dan terpantau cctv". Dewa seolah tak percaya dengan perintah ayahnya.


"Dan kamu, Juna. Siapkan kendaraan untuk adikmu". Semua diam mencerna perintah ayah.


"Kita lihat, dia lebih memilih tinggal sendiri dan menerima semua fasilitas yang kita berikan, atau tetap memilih motor bututnya itu tapi harus tinggal disini". Dewa dan Juna saling menatap, kemudian tersenyum ketika memahami maksud sang ayah.


"Ayah.." Bunda tampak khawatir, ia memegang tangan suaminya.


"Setidaknya kita bisa tetap mengawasi dan memastikan segala kebutuhannya tercukupi meskipun dia tidak tinggal bersama kita, sayang". Ayah elus lembut punggung tangan istrinya guna menenangkannya.


Sudah ditentukan, ayah akan menuruti keinginan Bintang untuk tinggal sendiri, asalkan menerima semua fasilitas yang ayah berikan. Apartemen, mobil, dan barang-barang yang ayah siapkan lainnya.


Sementara kita tahu jika Bintang tidak menyukai kemewahan. Bahkan rencananya gadis itu akan tinggal disebuah kamar kost sederhana jika sang ayah mengizinkan.


Setelah makan malam, ayah mengumpulkan seluruh anggota keluarga di ruang keluarga.


Sore tadi, baik Dewa maupun Juna sudah menyelesaikan tugas mereka dengan sempurna. Bahkan apartemen yang Dewa pilih sudah sangat siap dihuni.


"Bintang.." Yang dipanggil segera menatap asal suara.


"Kamu ingin tinggal sendiri?". Wajah yang sejak tadi terlihat masam itu langsung berubah drastis. Senyum merekah sempurna di bibir Bintang.


"Ayah ngizinin Bintang??". Tanya Bintang senang. Bahkan saking senangnya, gadis itu sampai pindah tempat duduk disamping ayahnya.


"Ya. Ayah mengizinkanmu.." Ayah usap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Yes!!". Seru Bintang kegirangan. Gadis itu bahkan memeluk erat cinta pertamanya didunia ini.


"Tapi..." Senyum Bintang langsung meredup. Dirinya merasakan firasat kurang baik. Entah syarat apa yang akan diberikan sang ayah padanya.


"Tapi?? Kok ada tapinya sih yah.." Kini suara Bintang sudah berganti menjadi rengekan.


"Loh, ya harus dong.." Ayah tersenyum senang melihat wajah putrinya.


"Apa? Syaratnya apa?". Bintang menatap ayah dan kedua kakaknya. Ia yakin kedua kakaknya pun pasti terlibat.


"Sebenernya bukan syarat sih dek..toh juga kamu yang enak". Melihat senyum kakak tertuanya, perasaan Bintang semakin tak menentu. Sebenarnya apa keinginan tiga lelaki itu??

__ADS_1


"Bunda..." Tak kunjung mendapat jawaban dari ayah dan kakaknya, Bintang beralih pada bunda.


"Kamu boleh tinggal sendiri. Tapi, harus di tempat tinggal yang sudah dipilihkan ayah. Dan juga kendaraan yang sudah disiapkan ayah". Bintang menjatuhkan rahangnya.


Menatap ayah dan kedua kakaknya dengan tatapan kesal. Mereka tahu Bintang tidak suka pilihan mereka, tapi apa ini?


"Mereka pasti sengaja biar aku nggak jadi minta tinggal sendiri. Licik banget sih". Batin Bintang menggerutu kesal.


"Gimana? Terima penawaran ayah atau tetap disini sama ayah dan bunda". Ayah menaikkan alisnya dengan senyum yang terlihat menyebalkan dimata Bintang.


"Ayah sih lebih seneng kamu disini. Jadi ayah lebih tenang". Senyum ayah belum pudar.


Ayah yakin dengan keputusannya, karena jikapun Bintang tetap memilih untuk menyendiri sementara waktu, setidaknya anak gadisnya itu ada ditempat yang aman dan terjamin. Pun kendaraan gadis itu yang memadai.


"Kalau kamu terima tawaran ayah, artinya kamu nggak boleh nolak apapun yang akan ayah dan kami berikan ya, dek. Dengan alasan apapun". Dewa menambah kegamangan Bintang.


Sepertinya ayah dan kedua kakaknya benar-benar berniat membuatnya untuk tetap bertahan didalam rumah.


"Oke, deal!!". Seru Bintang yakin membuat semua tercengang sesaat. Mereka tidak menduga jika Bintang akan mengambil keputusan saat itu juga.


"Kaget kan? Aku aja kaget..hihi. Biarin deh, toh aku nggak dirugiin. Apartemen disediain, mobil juga..ya makasih aja deh kalo gitu". Batin Bintang tertawa penuh kemenangan saat melihat wajah ayah dan kedua kakaknya berubah tegang.


"Jadi kapan Bintang bisa nempatin apartemennya??". Kini gantian Bintang yang menantang.


"Dasar anak bandel, pengen banget cepet-cepet jauh dari orang tuanya". Ayah menjewer pelan telinga putrinya yang langsung tertawa dan menghambur kedalam pelukan ayah.


"Bintang baik-baik aja yah. Jangan terus mengkhawatirkan Bintang.." Bukan tidak sadar, Bintang tahu betapa khawatirnya kedua orang tua dan para kakaknya pda dirinya. Ini juga salah satu alasannya ingin menyendiri.


"Bintang udah dewasa sekarang yah..tolong percaya sama Bintang". Bintang tatap wajah ayah yang mulai menua itu. Kemudian menatap bunda dan kedua kakaknya bergantian. Meyakinkan mereka jika dirinya benar-benar baik-baik saja.


"Bintang hanya butuh sedikit waktu lagi..jadi tolong biarkan Bintang sendiri untuk beberapa saat". Bintang memeluk tubuh ayah, gadis berusia 23tahun itu berusaha keras menahan air matanya. Tak ingin lagi menambah kekhawatiran ayah dan bundanya.


"Kembalilah menjadi Bintang kami, nak. Jangan berubah". Lirih ayah membalas pelukan putrinya yang tak terasa sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat cantik.


"Maafkan Bintang jika selama ini membuat kalian khawatir. Tapi Bintang benar-benar baik-baik saja". Bintang memberikan senyum terbaiknya. Berusaha meyakinkan keluarganya jika membiarkannya sendiri untuk sementara waktu.


"No aunty!!! Jangan peluk kakek aku!!!". Teriakan yang mampu membuat semua orang menoleh ke asal suara.


Bintang tersenyum jahil melihat seorang bocah berusia 6tahun berjalan dengan wajah dibuat segarang mungkin itu.


"Ini kan ayahnya aunty.." Dengan sengaja, Bintang semakin mengeratkan pelukan pada ayah.


"Ck, ayah kira kamu sudah dewasa. Sama keponakan saja tidak mau mengalah". Gumam ayah yang hanya bisa menggeleng melihat cucunya sudah menangis karena ulah aunty nya.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Oke, nggak usah lama-lama ya..kita langsung masuk ke fase usia dewasa nya mereka, semoga othor bisa bikin cerita yang jauh lebih menarik daripada saat mereka remaja ya😊😊...


...Buat yang setia dukung, terimakasih banyak🙏🏻🙏🏻 sayang readers banyakbanyak♥️♥️ sarangheo🥰🥰😘😘♥️💋💐💐😊...


__ADS_2