
Sepanjang perjalanannya menuju uang kerja nya. Ucapan Langit masih terngiang ditelinganya.
'my future wife' Hanya tiga kata. Namun berulang kali Bintang mengulangnya dengan jantung berdebar.
Apa-apaan maksud lelaki itu. Mengapa memanggilnya seperti itu? Jika dirinya adalah calon istri bagi Langit, lalu siapa gadis yang datang tempo hari mencari Langit??
"Aaah!! Pusing!". Mengacak rambutnya ketika merasa kepalanya berdenyut memikirkan dan coba menerka maksud dari semua kejadian yang ia lalui.
"Apa dia kumat?", Gumam Bintang yang mengingat bagaimana kelakuan Langit ketika mereka masih remaja dulu.
"Ya. Bisa jadi kan". Bergumam dan terus bergumam. Berperang dengan logika dan nuraninya.
"Tapi nggak mungkin. Dia udah berubah". Sibuk dengan pikirannya sendiri, ia tidak menyadari sosok wanita yang menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan.
Sosok yang tidak melepaskan pandangannya sejak Bintang memasuki lift sambil bibirnya terus bergumam.
"Eh, kan tapi dia di LN lama. Bisa aja kan kambuh penyakitnya". Menelengkan sedikit kepalanya dengan dahi berkerut dalam.
Ah, sungguh sangat memusingkan memikirkan satu laki-laki itu saja. Sejak dulu hingga kini, tidak ada yang berubah.
Langit selalu bisa mengusik hati terdalamnya meski ia ingin mengacuhkan laki-laki itu.
Bintang langsung menoleh cepat saat kepalanya di toyor pelan oleh seseorang. Matanya mengerjap lucu saat melihat sosok yang berdiri menatap aneh padanya. Dia adalah Alva, senior sekaligus laki-laki yang tengah dikabarkan memiliki hubungan khusus dengan Bintang.
"Kakak?". Kini mata yang sebelumnya tampak mengerjap lucu tadi berubah melebar sempurna.
"Kakak.." Menirukan cara Bintang memanggilnya barusan. Terlihat sangat kaget dengan keberadaannya.
"D-dari kapan disini??". Tanya Bintang panik, Ia masih belum menyadari jika ada dua orang lainnya didalam lift yang sama dengannya dan Alva.
"Dari tahun kemarin aku mah diem disini. Nggak pulang-pulang kok. Mandi juga enggak". Meledek Bintang melalui kata-katanya. Membuat Alva mendapat pukulan dilengannya.
"Udah kaya orang gila tau nggak ngomong sendiri sambil jalan. Udah gitu dijawab sendiri pula". Menatap Bintang sambil menggeleng, seolah apa yang Bintang lakukan benar-benar hal aneh.
"Kakak.." Merengek agar Alva berhenti meledek dirinya. Baik dari kata-kata maupun dari caranya menatap Bintang.
"Kakak.." Bukannya berhenti, Alva malah semakin senang meledek gadis cantik yang kini terlihat memberengut karena ia tak berhenti meledek.
"Apa dia kumat?? Ah, tapi nggak mungkin. Dia kan udah berubah". Kembali menirukan ucapan Bintang dengan suara yang dibuat-buat.
Membuat wajah Bintang memerah, antara malu dan juga kesal karena bukannya berhenti, Alva malah semakin semangat menggoda nya.
"Eh tapi ka---ehmm--ehmm.." Alva belum selesai menirukan apa yang Bintang ucapkan, sudah dibekap mulutnya oleh Bintang. Membuatnya berusaha melepaskan tangan mungil yang menutupi bibirnya.
Ia sudah tidak tahan ingin tertawa. Menyenangkan sekali menggoda gadis cantik itu. Apalagi wajahnya yang terlihat galak dan melotot justru membuatnya semakin menggemaskan.
Sementara sosok wanita yang juga ada didalam lift, menatap Bintang dan Alva dengan alis berkerut. Apakah pemuda itu kekasih Bintang saat ini? Keduanya terlihat akrab dan juga...dekat. Siapa laki-laki itu sebenarnya?
Banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak wanita itu. Namun ia memilih diam dan terus menyaksikan sesuatu yang membuatnya merasakan ketakutan.
Sampai lift berhenti di lantai tempat ruangan mereka berada. Baik Alva maupun Bintang masih terlihat berdebat.
Alva meraih leher Bintang dan menguncinya dilengannya. Bintang menepuk lengan Alva yang mengunci lehernya.
__ADS_1
"Makanya apa-apa tuh fokus. Kerjaan dibawa enggak?". Tanya Alva masih memiting leher Bintang.
Keduanya berjalan keluar lift masih dengan posisi yang sama.
"Dibawa. Lepasin dulu kak". Menepuk lagi lengan Alva agar melepaskan dirinya.
"Nanti rambut aku berantakan.." Masih mencoba melepaskan lengan Alva.
Sementara sosok yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa menatap pintu lift yang perlahan tertutup hingga membuatnya tak bisa lagi melihat sosok Bintang.
"Siapa pemuda itu?". Bergumam, entah bertanya pada siapa.
"Sudah sampai, nyonya. Mari.." Seorang staff sekretaris yang melihat bagian resepsionis masuk dengan seorang wanita segera bangkit dari duduknya.
"Beliau nyonya Sekar. Ibunda tuan Anggara". Ya, wanita yang sejak tadi berada satu lift dengan Bintang adalah mommy Sekar, ibunda Langit.
Wanita yang juga sama merindukan Bintang meski tak sebesar putranya merindukan gadis itu.
"Maaf saya tidak mengenali anda, nyonya". Menundukkan kepala sebagai permohonan maaf atas ketidaktahuannya.
"Tidak perlu sampai seperti itu.." Mommy merasa kurang nyaman diperlakukan terlalu berbeda.
"Apa putraku sedang sibuk?". Bertanya pada staff sekretaris
"Mohon tunggu sebentar nyonya.." Dengan gerakan cepat, staff sekretaris bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan ceo.
Sementara staff sekretaris tengah mengetuk pintu, petugas bagian respsionis tampak pamit undur diri pada mommy Sekar.
"Silahkan nyonya, tuan Anggara sudah menunggu anda.." Mommy Sekar masuk ke dalam ruangan putranya setelah berterimakasih pada staff sekretaris putranya itu.
"Mommy takut mengganggu, siapa tahu kamu sedang ada tamu atau sedang banyak pekerjaan". Ucap mommy yang kini sudah duduk disofa yang ada diruangan Langit.
"Bicara ama sih mom.." Langit ikut duduk disamping ibunya.
"Lang.." Yang dipanggil segera menolehkan kepalanya.
"Tunggu sebentar mom..aku ada kejutan untuk mommy.." Langit bangkit dan meraih gagang telepon diruangannya.
"Suruh mereka ke ruangan ku sekarang". Satu kalimat perintah yang entah ditujukan pada siapa. Kemudian menutup teleponnya setelah mendengar jawaban 'baik tuan' dari seberang sana.
"Mommy mau minum apa?", Tanya Langit pada sang ibu.
"Apa saja". Kembali meraih gagang telepon dan meminta staff sekretaris untuk menyiapkan empat gelas minuman.
Meskipun bingung, mengapa meminta banyak minuman, padahal yang datang hanya ibunya seorang. Namun staff sekretaris yang di perintah oleh Langit tetap melaksanakan tugasnya.
"Kapan kamu akan pulang?". Kembali pertanyaan yang sama diluncurkan mommy pada putranya.
"Ayolah mom..kita sudah pernah membahas ini". Ucap Langit menatap mommy dengan wajah memelas.
"Kamu baru kembali, tapi memilih tinggal sendiri di apartemen. Bukankah seharusnya kamu tinggal bersama mommy dan daddy". Langit menghela nafas, hal ini sudah berulang dibahas sang ibu. Padahal ia baru kembali setelah sekian lama pergi.
tok..tok..tok..
__ADS_1
Langit bernafas lega saat ada yang mengetuk pintu. Pembahasan tentang tempat tinggal yang ia pilih tidak perlu berlanjut.
"Masuk.." Seorang staff sekretaris masuk dengan nampan berisi empat gelas minuman berwarna orange.
"Silahkan tuan.." Meletakkan nampan dan menata minuman di depan Langit dan sang ibu.
"Letakkan saja di sebelah sana". Menunjuk sisi meja yang lain agar staff sekretaris meletakkan dua gelas lain disana.
"Saya permisi tuan.." Langit hanya mengangguk tanpa berkata sepatah katapun.
"Terimakasih ya.." Akhirnya mommy yang mengatakan terimakasih.
"Berterimakasih lah jika sudah dibantu. Setidaknya tersenyum sedikit. Apa susahnya sih". Menabok lengan putranya hingga Langit meringis karena ternyata mommy nya memukul cukup kencang.
"Aku hanya tidak mau mereka mengira aku perhatian pada mereka mom. Aku tidak mau mereka salah paham". Menjawab dengan enteng hingga membuatnya kembali menerima pukulan dilengannya.
"Dasar anak nakal". Langit hanya tersenyum menanggapi omelan sang ibu.
"Jadi untuk apa mommy disuruh kesini pagi-pagi begini? Hah?". Tahu jika putranya tak akan menurutinya untuk ramah pada wanita manapun, akhirnya mommy memilih mengganti topik pembicaraan mereka.
"Aku ada kejutan untuk mommy..tapi tunggu sebentar lagi ya. Kejutannya sedang dalam perjalanan". Tersenyum manis sekali hingga justru membuat mommy curiga dengan rencana putranya.
"Kejutan apa? Jangan aneh-aneh ya, Lang". Hanya menjawab dengan senyuman hingga semakin menambah kecurigaan mommy.
Ketukan pintu kembali terdengar, membuat senyum Langit semakin lebar dan membuat mommy semakin bertambah curiga.
"Masuk.." Hanya berteriak dan pintu sudah dibuka dari luar.
"Maaf tuan, diluar ada utusan dari bagian design, mer---"
"Suruh mereka masuk". Kembali mengangguk patuh meski dalam hati menggerutu karena belum selesai bicara sudah dipotong.
"Apalah daya rakyat jelata sepertiku". Batinnya menggerutu.
Tak lama setelah staff sekretaris keluar, masuk dua orang yang salah satunya mampu membuat mata mommy Sekar melebar sempurna. Tampak sekali keterkejutan dari sorot matanya.
"Selamat pagi tuan.." Kedua orang yang baru saja masuk itu tampak menundukkan kepalanya pada Langit yang tengah berdiri tak jauh dari sofa.
"Kalian membawa yang aku minta?". Tanpa menjawab sapaan keduanya, Langit bertanya hal lain.
"Dasar manusia menyebalkan. Tidak bisa apa menjawab dulu sapaan kami. Menyesal sekali menyapa dia". Salah satu dari designer yang menghadapnya menggerutu dalam hati. Siapa lagi jika bukan Bintang.
Bintang yang sejak awal memang enggan masuk kedalam ruangan Langit tak menyadari keberadaan sosok mommy.
"Akhirnya..." Bergumam sendiri dengan mata tak lepas menatap Bintang.
"Akhirnya, setelah sekian lama..mommy bisa lihat kamu sedekat ini lagi sayang.." Mata wanita tua itu berkaca-kaca. Ia benar-benar bahagia melihat Bintang dari dekat seperti ini. Ia tak sabar ingin menyapa Bintang yang sepertinya masih belum menyadari keberadaannya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Holla readers✋🏻✋🏻 apakabar reader semua?? Semoga semuanya sehat ya..aamiin🤲🏻🤲🏻...
...Maafin othor yang nggak up berhari-hari🙏🏻 badan lagi nggak fit, takut makin ngaco ceritanya kalau maksain nulis😌...
__ADS_1
...Semoga readers suka dan ceritanya nggak terasa hambar ya🙏🏻🙏🏻...
...Happy reading🥰🥰 sarangheo readers🥰😘😘😘✋🏻💋♥️🥰💐💐...