Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
kesalahpahaman berlanjut


__ADS_3

Bintang masih menunduk sambil bibir mungilnya terlihat komat kamit menggerutu. Terlihat lucu di pandangan mommy Sekar yang tersenyum menatapnya.


"Dia tetap cantik dan menggemaskan. Sekarang terlihat semakin menawan". Masih bergumam yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.


Namun senyum mommy memudar saat menyadari sosok pemuda yang berdiri disamping Bintang.


"Dia.." Mencoba mengingat karena wajahnya terasa tidak asing.


"Ah benar..dia yang tadi". Kini mommy ingat dimana melihat laki-laki yang berdiri disamping Bintang.


"Silahkan duduk.." Mommy tersadar dari segala pemikirannya saat mendengar suara Langit mempersilahkan Bintang dan Alva untuk duduk.


Entah karena malas atau karena hal apa, sejak tadi Bintang masih menundukkan kepalanya. Enggan sekali menatap Langit karena akan membuat kinerja jantungnya tidak benar.


"Silahkan tuan, ini design yang sudah kami kerjakan. Semoga anda menyukainya.." Alva mendorong map diatas meja yang berisi design buatannya dan Bintang.


Hasil kerja keras mereka berdua selama satu minggu terakhir. Keduanya berharap design yang mereka buat akan bisa membuat atasan mereka puas.


Langit menatap Bintang yang sejak tadi diam dan menundukkan kepalanya. Setelahnya melirik sang mommy yang ternyata sejak tadi menatap Bintang.


Alva yang menyadari tatapan atasannya juga seorang wanita paruh baya disampingnya tertuju pada Bintang segera menyenggol lengan Bintang.


Segera menegakkan kepalanya setelah lengannya disikut pelan oleh Alva. Mata Bintang melebar melihat bukan hanya Langit yang ada didepannya.


"Mommy.." Mulutnya terlalu spontan memanggil mommy Sekar.


Alva pun terlihat terkejut, mendengar panggilan Bintang untuk sosok wanita yang duduk disamping Langit.


Baik mommy maupun Langit sama-sama terlihat tersenyum mendengar Bintang memanggil mommy Sekar.


Sementara Bintang yang tersadar langsung menundukkan kepalanya dan tangannya memukul bibirnya yang terlalu spontan memanggil ibu dari ceo nya dengan panggilan yang dulu sering ia pakai.


"Aaah!! Bodoh..bodoh..bodoh!!!". Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali merutuki dirinya sendiri.


"M-maaf.." Meminta maaf saja, ya..permintaan maaf lah yang terlintas saat Bintang berusaha berpikir.


"Ehm.." Alva berdehem untuk memecah suasana yang tiba-tiba hening setelah Bintang memanggil wanita yang belum ia tahu siapa itu dengan panggilan mommy.


"Ah iya, mommy lihat dulu.." Tidak ingin Bintang merasa tidak nyaman, Langit mengalihkan pandangan sang mommy pada lembaran kertas yang dibawa Alva dan Bintang.


"Apa ini Lang???". Bertanya sambil meraih design perhiasan hasil karya Alva dan Bintang.


"Hadiah untuk mommy.." Alva spontan mengangkat sebelah alisnya saat melihat bagaimana beda nya seorang Langit ketika berbicara dengan bawahannya dan ketika berbicara dengan ibunya.


Jika dirinya tidak melihat sendiri, ia tak akan percaya manusia dingin dan kaku itu bisa berbicara sehangat seperti saat ini.


"Cantik sekali.." Dalam satu kali lihat mommy sudah jatuh hati pada design yang disodorkan putranya.


Satu set perhiasan dengan design sederhana namun tidak meninggalkan kesan elegan. Benar-benar seperti selera mommya.


"Kalau mommy sudah suka..aku akan meminta bagian produksi untuk membuatnya.." Langit tersenyum senang, bahagia melihat binar kebahagiaan di wajah sang ibu.

__ADS_1


"Jadi design itu? Seseorang itu??". Bintang justru sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini.


"Jika nyonya menginginkan perubahan, kami akan mengubahnya sesuai selera anda.." Alva buka suara setelah diam cukup lama.


Jangan harapkan Bintang. Gadis itu terlalu asyik dengan segala pikirannya tentang 'seseorang' yang rupanya adalah mommy. Wanita yang dulu sangat dekat dengannya.


"Tidak..tidak perlu. Aku sudah sangat menyukainya.."


"Apa ini kalian yang menggambar nya?", Tanya mommy menatap Alva dan Bintang bergantian.


"Benar nyonya. Kami berdua yang mendesign nya.." Bintang mendengar, namun tidak berniat menimpali. Bertemu dengan mommy masih cukup mengejutkan untuknya.


Mengapa kini dirinya bertemu dengan orang-orang di masa lalu nya satu persatu. Haha, sepertinya sebentar lagi dirinya juga akan bertemu dengan daddy Prabu. Batin Bintang tertawa hambar.


"Siapa nama mu?". Tanya mommy pada Alva, karena jika Bintang. Mommy sudah sangat mengenalnya.


"Alva..nama saya Alvaro nyonya. Anda bisa memanggil saya Alva.." Sebuah kebanggaan tersendiri jika hasil kerja nya disukai oleh orang lain.


Apalagi ibu dari ceo nya terlihat sangat menyukai hasil kerja nya dan Bintang. Hati Alva menghangat karena senang sekaligus bangga.


"Dan ini, rekan kerja saya. Namanya Bintang.." Menyadari tatapan mommy, Alva berinisiatif memperkenalkan Bintang. Meski sejujurnya hatinya sedikit ragu jika wanita didepannya ini tidak mengenal Bintang.


"Nyokap gw udah kenal. Ya kali ama calon mantu nya kaga kenal". Mencibir Alva yang memperkenalkan Bintang pada ibunya. Namun tentu hanya dihati ia bisa mencibir Alva.


"Perkenalkan, nama saya Bintang. Senang bertemu dengan anda, nyonya". Mommy sedikit terhenyak. Ia merasa kini seolah ada jarak yang membentang jauh antara dirinya dan Bintang. Bahkan untuk sekedar memelukpun rasanya mommy tidak berani karena rasa bersalahnya.


"Kamu cantik sekali. Kamu juga pintar sekali menggambar Bintang.." Tersenyum meski terlihat sedikit dipaksakan.


"Mommy sangat merindukanmu, nak". Bintang mengangkat wajahnya. Meskipun mommy hanya bergumam, namun Bintang mendengarnya dengan jelas.


Tatapan keduanya bertemu. Sorot mata yang sama, sama-sama menyimpan kerinduan yang ingin segera dituntaskan.


Namun disini Bintang berusaha bersikap profesional. Dirinya yang saat ini duduk didepan Langit dan mommy hanyalah seorang karyawan biasa.


"Sebelumnya maaf tuan. Saya permisi sebentr, ada berkas yang masih tertinggal dimeja kerja saya". Alva benar-benar laki-laki peka. Mungkin Bintang sungkan karena ada dirinya, karena itulah ia memilih pamit undur diri sejenak.


Sekedar memberikan waktu pada Bintang juga Langit dan ibunya jika memang ada yang perlu mereka bicarakan secara pribadi.


"Kak, biar aku aja. Map warna apa?", Bintang memegang lengan Alva sambil menggeleng kecil. Ia tahu Alva ingin meninggalkan dirinya seorang diri.


"Kamu disini dulu aja. Kemu jelasin soal detail design sama bahan dan perkiraan anggarannya. Aku ambil catatannya dulu". Bintang tetap menggeleng meski sangat pelan. Namun Alva tetap meninggalkannya.


Bintang menatap Alva hingga tubuh lelaki itu hilang ditelan pintu. Dalam hati ia memaki Alva yang meninggalkan dirinya seorang diri dalam situasi tidak nyaman ini.


Menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya, Bintang menatap mommy dan Langit kemudian ia tersenyum bisnis. Sekedar senyum kesopanan.


"Baik, karena senior saya sedang mengambil laporan yang lain. Saya akan menjelaskan detail design juga bahan yang akan digunakan, dan jug---"


"Kak Langit..." Bersamaan dengan teriakan itu, pintu terbuka dan nampaklah gadis yang pernah Bintang lihat sebelumnya.


"Sofia?". Kompak Langit dan mommy memanggil namanya.

__ADS_1


"Jadi mommy juga mengenalnya?", Batin Bintang menatap gadis bernama Sofia yang kini berjalan cepat mendekat pada Langit dan mommy. Bahkan tanpa sungkan duduk diantara mommy dan Langit.


"Mommy disini juga.."


"Mommy?". Gumam Bintang lirih sambil terus menatap interaksi Sofia dan mommy serta Langit.


"Kamu ngapain kesini?". Tanya Langit sedikit ketus membuat Sofia merengut.


"Mommy, lihat kak Langit. Dia jahat banget sih..aku kan calon istrinya. Masa kesini ditanya mau apa?!". Pulpen ditangan Bintang jatuh tanpa bisa ia cegah.


Ini terlalu mengejutkan. Meski sudah pernah memikirkan hal ini, ia tak menyangka jika akan sesakit ini saat mendengarnya secara langsung.


"Sofia!". Seru mommy dan Langit bersamaan. Keduanya lantas menatap Bintang yang wajahnya terlihat pias.


"Eh, ini apa?". Sofia meraih map diatas meja. Matanya berbinar melihat design perhiasan yang menurutnya sangat cantik.


"Wow..amazing". Masih fokus pada design yang ada ditangannya.


Kemudian matanya menatap Bintang. Ia baru menyadari jika ada orang lain diruangan Langit selain mereka bertiga.


"Apa kakak yang membuatnya?". Tanya Sofia menatap Bintang yang tengah menciba membangun kembali kesadarannya.


"Hah? Ah, iya nona.." Memaksakan senyumnya pada Sofia yang terlihat semakin semangat.


"Aku juga mau dong dibikinin..."


"Kamu keluar dulu sana! Aku mau bahas kerjaan". Usir Langit yang menyadari wajah Bintang berubah dingin.


"Kakak ngusir aku?? Mommy..lihat deh kakak jahat sama aku, kan aku tuh---"


"SOFIA!!!". Bentak Langit membuat bukan hanya Sofia, namun Bintang dan mommy juga terkejut.


"Kakak.." Lirih Sofia dengan mata memerah siap menumpahkan air matanya.


"Sofi, keluar dulu ya..Langit sedang membicarakan pekerjaan". Mommy coba membujuk gadis yang ia kenal sangat keras kepala itu.


"M-maaf tuan, nyonya. Sebaiknya saya permisi dulu..saya akan kembali nanti. Silahkan selesaikan dulu saja pembicaraan anda". Bintang sudah bangun dari duduknya setelah merapikan isi map yang tercecer diatas meja.


"Saya permisi, tuan, nyonya.." Menundukkan kepalanya dan segera keluar dari ruangan Langit tanpa mempedulikan teriakan Langit yang memanggil namanya.


Kesalahpahaman yang sempat menipis itu kini berlanjut. Bintang kembali berpikir jika Sofia adalah benar calon istri Langit.


"Kenapa harus sesakit ini saat aku sendiri yang memutuskan untuk tidak mendengar penjelasannya. Lalu untuk apa dia menggangguku lagi jika sudah punya calon istri?".


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Holla readers👋🏻👋🏻 apakabarnya readers?? Semoga dalam keadaan sehat semua ya, aamiin🤲🏻🤲🏻...


...Maafin othor yang menghilang dari peredaran beberapa waktu ke belakang, othornya lagi kurang fit, dan benar-benar nggak bisa mau maksain nulis🙏🏻🙏🏻...


...Semoga ceritanya nggak hambar ya, karena memang belum terlalu fit🙏🏻😌...

__ADS_1


...Happy reading semua😊😊🥰 sarangheo😘😘♥️💋💋🥰💐🥰💐🥰...


__ADS_2