
Langit dan Bintang turun bersama, diruang makan, semua orang sudah berkumpul menunggu kedatangan kedua anak muda itu.
"Ck, kamu ngapain aja sih Lang? Kebiasaan kalo mandi suka lama". Mommy Sekar sudah melotot galak. Membuat Langit mengelus tengkuknya karena merasa malu sekaligus tak enak membuat semua orang menunggu.
"Maaf semuanya.." Ucap Langit. Ini memang kebiasaannya, jika sudah di kamar mandi, Langit bisa menghabiskan banyak waktu.
"Tidak usah sungkan Lang.." Bunda tersenyum lembut membuat Langit ikut tersenyum.
"Ayo di makan semua.." Ayah mempersilahkan semua menikmati makan malam yang sudah disiapkan bunda dan mommy Sekar.
"Kamu ngapain aja dek di kamar? Mbak kirain kamu..." Bintang langsung melirik kakak iparnya yang sedang menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Jangan mengotori pikiranku yang masih sesuci embun pagi ini mbak, apalagi dengan pikiran mbak Kiran yang sudah istimewa itu". Kiran tergelak pelan, ia selalu suka menggoda adiknya.
"Bunda mau ayam.." Bintang menyodorkan piringnya pada bunda. Meminta ibundanya mengisi piringnya dengan lauk kesukaannya itu.
Langit melihat Bintang, menatap wajah dan tubuh gadis itu kemudian melihat isi piringnya.
"Dia kalau makan memang banyak". Mas Dewa yang tahu arti tatapan Langit langsung bersuara.
"Nggak usah ngomongin badan aku ya mas. Udah bawaan dari sono nya". Bintang langsung menatap galak kakaknya. Seolah mengatakan untuk diam.
"Sudah Lang, makan saja. Dia memang galak". Juna ikut menimpali. Langit tersenyum senang, tak menyangka bisa semudah itu diterima di keluarga besar Bintang.
"Bundaaa.." Bintang merengek layaknya anak kecil yang tengah mengadu karena diganggu temannya.
"Sudah-sudah, ayo makan". Lerai ayah yang sudah melihat wajah putrinya yang ditekuk.
"Kamu nggak malu sama calon suami kamu sama calon mertua kamu. Merengek seperti anak sd". Bintang kembali merengut mendengar ucapan ayah.
Dan Langit benar-benar melihat sisi lain dari seorang gadis galak yang selama ini selalu ia goda. Sudut bibirnya terangkat melihat bagaimana acuhnya Bintang makan.
"Kamu gemesin banget sih. Mommy jadi nggak sabar punya menantu kamu". Mommy Sekar mengusap pucuk kepala Bintang yang langsung tersedak mendengar ucapan mommy Sekar.
"Pelan-pelan sayang.." Bintang meraih minuman yang disodorkan bunda untuknya. Wajahnya merah padam antara malu dan batuk.
Malam itu, suasana diruang makan keluarga Laksmana semakin terdengar ramai karena kehadiran Langit dan mommy Sekar.
---**
Waktu tak terasa berlalu, hari ini adalah hari pertama Bintang bersekolah setelah libur panjangnya. Ia mematut pemampilannya didepan cermin. Merapikan rambutnya yang ia ikat tinggi hingga memperlihatkan leher jenjangnya.
Helaan nafas panjang terdengar dari mulutnya. Entah apa yang tengah dipikirkan gadis cantik itu.
Sejak pagi, Bulan sudah menghubunginya. Tidak sabar untuk segera bertemu di sekolah karena hari ini Bulan akan diantarkan bapak. Meskipun pada akhirnya bukan bapak yang mengantar Bulan.
"Bintang.." Bunda muncul dari balik pintu. Tampilannya seperti biasa, anggun dan elegan dengan balutan pakaian sederhananya.
__ADS_1
Aah, bunda memang selalu cantik di mata Bintang. Bahkan gadis itu sangat mengidolakan ibu sambungnya itu.
"Sudah siap sayang?". Suara lembut itu, bagaimana mungkin Bintang tidak menyayanginya. Sejak dulu, Bunda tidak pernah meninggikan suaranya pada siapapun. Tutut katanya yang lembut benar-benar mampu membuat Bintang merasa tenang dan dicintai.
"Bunda cantik.." Puji Bintang yang sudah memeluk lengan sang bunda sambil menghadiahkan sebuah kecupan lembut di pipi wanita itu.
Wajah bunda merona mendengar pujian Bintang. Bahkan lebih merona dibanding ketika ayah yang memuji kecantikannya.
Entahlah, memang sedekat itulah hubungan bunda dan Bintang. Selayaknya anak dan ibu kandungnya sendiri. Mungkin karena kurangnya ia mendapat kasih sayang ibu kandungnya, atau mungkin karena memang ketulusan bunda mampu menembus hati terdalamnya.
"Anak bunda juga cantik sekali". Bunda mencium kening putri kecilnya. Ya, sampai kapanpun Bintang akan menjadi putri kecilnya.
"Sudah, ayo kita turun sayang". Bunda segera menarik tangan Bintang. Tidak akan cukup waktu satu jam jika mereka sudah saling memuji begini.
Ayah selalu tersenyum jika melihat kedekatan istri dan putri bungsunya.
"Lihat mereka, bu..Bintang kita sudah kembali menemukan sinarnya". Batin ayah bahagia sekaligus terharu.
Seperti biasa, sarapan kali ini pun selalu terasa hangat seperti sebelum-sebelumnya. Bibir mungil Bintang tak henti mengoceh, membicarakan tentang keponakan lucunya yang berhari-hari ini mengisi seluruh hatinya.
Bayi mungil berjenis laki-laki yang diberi nama Revan itu benar-benar menyita seluruh perhatian Bintang selama beberapa hari ini.
Setiap saat hanya Revan yang ditanyakan oleh Bintang. Revan sedang apa, Revan dimana, Revan sudah tidur atau belum. Semuanya hanya seputar keponakannya saja. Membuat Naura dan Juna selalu tersenyum melihat antusiasnya Bintang pada putra mereka itu.
"Ayo masuk, nak.." Bintang yang sedang mengoceh segera menoleh ketika mendengar bunda mempersilahkan seseorang masuk.
"Adek!! Jorok!". Sembur Juna yang terkena sedikit cipratan air minum Bintang.
"Maaf kak...nggak sengaja". Memakai jurus terampuh miliknya, memasang wajah seimut mungkin dan mata yang berkedip lucu. Itu sudah mampu meluluhkan hati Juna dan membuatnya tidak jdi marah.
"Ngapain sih ni orang pagi-pagi udah disini". Gumam Bintang yang lebih mirip gerutuan.
"Pagi yah, kak.." Tamu yang tak lain adalah Langit sudah duduk didepan Bintang yang terlihat menatapnya penuh tanya.
'Ngapain lo pagi-pagi disini?!!' Mungkin itulah arti tatapan mata Bintang pada Langit saat ini.
"Ayah minta tolong Langit, menjemput kamu". Bintang langsung menatap ayah, hendak protes pastinya.
"Pilih diantar dan dijemput Langit, atau pilih salah satu sopir ayah yang melakukannya". Bintang sudah memasang wajah memelasnya. Memang ada kejadian apa sampai dirinya harus diantar jemput??
"Ayah.." Rengek Bintang yang sudah merapatkan duduk pada ayah dan menggoyang lengan sang ayah.
"Ayah masih berbaik hati memberimu pilihan. Atau ayah saja yang tentukan?". Bintang melepaskan tangannya. Ia tahu jika ayahnya sudah dalam mode serius begini, akan sulit merayunya.
"Bang Alex laporan apa sih sama ayah?", Masih tak terima. Ia merasa hidup bebasnya akan melayang sebentar lagi.
"Memang kenapa dengan Alex?". Ayah malah balik bertanya membuat Bintang mencebik. Selama ini dirinya bukan tudak tahu kalau ayahnya mengirim Alex untuk mengawasinya. Tapi selama ini Alex sudah mau bekerja sama dengannya. Apa sekarang lelaki itu menghianatinya??
__ADS_1
"Lagipula Langit pasti punya kegiatan sendiri yah. Bintang nggak mau merepotkan Langit setiap hari", Masih mode membujuk, berharap ayah luluh dan membiarkan dirinya mengendarai sendiri motor untuk pergi ke sekolah.
"Kamu sibuk Lang? Apa permintaan ayah memberatkan?". Ayah langsung bertanya pada Langit. Sementara Bintang menatap Langit dan memberi kode agar mengiyakan semua yang dikatakannya.
Bunda serta Juna dan Naura hanya tersenyum melihat bagaimana Bintang melotot pada Langit sambil bibirnya terus komat-kamit. Entah apa yang gadis itu ucapkan melalui bahasa isyarat mulutnya.
"Sama sekali enggak yah. Langit seneng bisa antar jemput Bintang". Mata Bintang melebar, ia meremas kedua tangannya didepan wajahnya sendiri seolah tengah meremas eajah Langit yang dipasang sesantai itu.
"Kamu dengar sendiri kan? Langit tidak keberatan. Jadi kamu tidak punya alasan menolak perintah ayah kali ini". Bahu Bintang merosot, tapi sesaat kemudian kembali berkobar semangat untuk membujuk sang ayah.
Terlalu banyak masalah yang akan ia hadapi jika harus berada dalam satu mobil dengan Langit setiap harinya. Ia malas harus berurusan dengan fans garis keras Langit. Atau lebih tepatnya penggemas yang gila.
"Ayaaah...Bintang kan udah bisa jaga diri. Jadi biar Bintang bawa motor seperti biasa ya...ya..ya...yaaaa..." Mode membujuknya kembali on, lengan sang ayah sudah ia goyangkan.
"Bintang.." Suara rendah ayah terdengar ditelinga Bintang. Jika sudah memanggilnya begini, itu artinya ayah sedang serius dan tidak ingin dibantah lagi.
"Ayah sudah menuruti semua kemauanmu. Kamu berjanji bisa menjaga dirimu, tapi sudah berapa kali kamu terluka?".
deg..
Wajah Bintang pias. Ternyata ayah tau segalanya? Benarkah?? Bintang menatap bunda yang juga terlihat terkejut. Itu artinya bukan bunda yang menceritakan segalanya pada ayah. Lalu siapa???
Mata Bintang beralih menatap Langit, matanya memicing menatap curiga pada pemuda itu. Tapi Langit terlihat tenang dan biasa saja, hingga Bintang bingung sendiri. Kalau bukan Langit, lalu siapa??
Ahhh, Alex. Memang siapa lagi yang akan melaporkan pada ayah? Bodohnya Bintang yang selama ini sudah merasa tenang.
"Atau ayah harus mengumumkan kalau kamu ini putri kesayangan ayah?". Bintang cepat menggeleng. Tidak!! Jangan sekarang! Batin Bintang berteriak keras menolak ucapan ayah.
"Kalau begitu turuti perintah ayah kali ini. Selama ini ayah sudah menuruti semua yang kamu mau. Tapi sekarang tolong, sekali ini saja turuti ayah". Bintang menunduk merasa bersalah, ayah bahkan sampai memohon padanya.
"Ayah melakukannya karena sangat menyayangimu, nak". Bintang mengangguk, ia tahu sebesar apa artinya didalam kehidupan ayah.
"Kamu tidak ingin cepat melihat ayah menyusul ibumu kan?".
"Ayah!!!". Bukan hanya Bintang, semua orang berseru tidak senang mendengar ucapan ayah.
"Ayah percayakan Langit menjagamu. Jadi jangan coba melawan padanya, mengerti?". Akhirnya Bintang mengangguk pasrah.
"Anggap saja sopir pribadi dek". Naura tersenyum menggoda membuat Bintang merengut kesal.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Hollaaaa, apakabar kalian?? Semoga sehat semua ya🤲🏻🤲🏻☺️...
...Aaaaa..maafin othor yang nggak up berhari-hari🙏🏻🙏🏻 RL lagi nggak bisa diajak kompromi, maafkan🙏🏻🙏🏻...
...Sekarang satu dulu ya, obat buat yang kangen Langit sama Bintang🤭 Doakan semoga besok othor bisa kasih kreji up buat kalian semua.....
__ADS_1
...Makasih buat yang masih setia nunggu kelanjutan cerita mereka, masih setia dukung karya othor yang hanya apalah diriku🤭😄😅semoga reader semua selalu bahagia🤲🏻🤲🏻 lopelope sekebon readers🥰🥰😘😘😘💋💐...