Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Langit dan Arsen


__ADS_3

Selama upacara berlangsung, mata Catherine tidak pernah lepas dari Langit. Tatapan matanya penuh puja.


Entah hanya sekedar tertarik dan itu cinta monyet belaka, atau memang gadis itu benar-benar menyukai Langit selayaknya orang dewasa jatuh cinta.


"Cari yang lain aja sih, Cath. Anak baru yang namanya Arsen juga ganteng banget kok. Nggak kalah pamor sama Langit". Bisik teman Catherine yang berdiri disampingnya.


"Nggak ada yang lebih ganteng dari Langit". Teman Catherine mendengus kesal. Memang sih, Langit tampan, tinggi, yang lebih penting Langit kaya.


Tapi untuk apa mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah kita miliki. Mungkin begitu pemikiran teman Catherine.


Sudah sejak Langit pindah ke sekolah ini Catherine mengejarnya. Namun jangan kan diterima perasaannya, dilirik saja tidak.


Langit memang ramah pada semua gadis, tapi itu dulu. Sekarang sudah berbeda. Sepertinya yang ada di mata Langit sekarang hanyalah Bintang. Dan teman Catherine menyadari itu. Karena itulah ia selalu mencoba membujuk Catherine untuk berpaling kepada yang lain.


Meskipun sering menyebalkan, namun Catherine tetaplah teman baiknya. Atau mungkin lebih tepatnya teman yang selalu bisa ia manfaatkan untuk keuntungannya sendiri.


Catherine berlari mengejar Langit saat upacara usai. Gadis itu tanpa ragu langsung merangkul lengan Langit yang terlihat terkejut, apalagi Bintang melihat semua yang Catherine lakukan.


"Lo apaan sih, lepas". Langit memaksa melepas tangan Catherine.


"Kenapa sih Lang, dulu kamu suka kalo aku rangkul gini". Bintang hanya menggeleng kemudian berlalu pergi. Enggan mengomentari atau menatap keduanya.


"Nggak cemburu kan Bin?". Bulan seperti mendapat mainan baru dengan terus menggoda Bintang tentang Langit.


Apalagi sejak mengetahui jika Langit adalah lelaki yang dijodohkan ayah Henry. Lelaki yang sepertinya sudah disiapkan untuk mendampingi dan menjaga Bintang.


"Nggak usah ngadi-ngadi ya lo Bul". Bulan tergelak, entah kenapa melihat wajah kesal Bintang membuatnya senang.


Entah kesal karena ia terus menggoda, atau kesal karena melihat Langit yang terus ditempeli oleh Catherine.


"Jangan kelewat kesel deh, Bin. Ntar beneran cinta". Seolah tak ada habisnya menggoda Bintang, meski wajah sahabatnya itu sudah terlihat galak, namun Bulan terus menggoda.


"Gw sumpahin deh elo yang beneran berjodoh ama tu kulkas dua pintu, aamiin". Bintang balas meledek Bulan, bahkan menengadahkan tangannya seolah tengah berdoa pada sang pencipta.


"Heh!! Amit-amit! Ngaco kalo ngomong!", Kini gantian Bulan yang bersungut-sungut, apalagi Bintang tertawa puas melihat wajahnya.


"Ntar gw bantuin ngomong sama bapak sama ibu, kalo anak gadisnya udah minta dikawinin". Tambah keras saja suara tawa Bintang karena Bulan terus memukul bahunya berulang kali.


Kini gantian wajah Bulan yang terlihat masam. Apa jadinya ia jika menceritakan kejadian pagi tadi pada Bintang. Baru menggodanya seperti itu saja Bintang sudah tertawa puas.


"Gara-gara si kulkas dua pintu nih". Kesal Bulan yang tambah merengut karena Bintang tak kunjung berhenti tertawa.


Tawa Bintang langsung menghilang saat seorang pria menghadang langkah mereka. Lelaki yang sama yang menghadang ia dan Langit tadi saat baru sampai ke sekolah.

__ADS_1


"Hai Bintang cantik, kita ketemu lagi.." Senyuman dari lelaki itu tak mengubah tatapan mata Bintang. Bintang masih menatapnya datar tanpa berniat menimpali setiap ucapannya.


"Ayo Bul.." Malas meladeni lelaki aneh itu, Bintang memilih menarik tangan Bulan dan berjalan lewat sisi kosong disamping pemuda itu.


"Ayo lah, jangan cuek gini. Kalo lo kaya gini gw jadi makin penasaran". Bintang langsung menghempaskan tangan lelaki itu.


Bukannya tersinggung, lelaki yang didepan Bintang itu justru terkekeh pelan. Semakin menarik saja Bintang di matanya.


"Arsen". Gumam Bulan menatap nama yang menempel di seragam pemuda itu.


"Lo mau apa sih, gangguin gw mulu deh perasaan". Sengit Bintang menatap galak lelaki yang tak lain adalah Arsen itu.


"Gw? Gw mau lo jadi pacar gw.." Bulan menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan lelaki yang sama sekali tak ia kenal itu.


"Wah, sakit jiwa ni orang". Ucap Bintang sambil geleng-geleng. Bagaimana bisa orang yang baru beberapa kali bertemu tanpa saling menyapa itu meminta dirinya menjadi pacar.


"Gw udah pernah bilang, kalo kita ketemu lagi buat ketiga kalinya, itu artinya kita berjodoh". Semakin menganga saja mulut Bulan. Ia menoleh pada Bintang, sahabatnya memang cantik, tapi sepertinya pemuda didepannya ini memang sedikit gila.


"Ini malah udah pertemuan kita yang ke empat, jadi lo harus jadi pacar gw". Arsen memainkan alisnya, sembari menebar senyuman mautnya.


"Lo kalo mau gila sendiri aja, jangan ngajak orang lain". Bintang masih tak percaya mendengar ucapan Arsen yang terdengar menggelikan.


"Awas! Gw mau ke kelas". Bintang hendak lewat, namun Arsen kembali menghadang jalannya, hingga membuat Bintang kesal.


"Ini sekolah kenapa jadi penuh ama cowok-cowok ganteng gini sih.." Batin Bulan yang sedikit terpesona oleh ketampanan Arsen.


"Ganteng sih, tapi masih gantengan si kulkas. Cool gimana gitu.." Eh, Bulan tersadar dan menampar pelan pipinya saat tiba-tiba membandingkan ketampanan pemuda didepannya ini dengan seorang yang sebenarnya sering membuatnya kesal.


"Gw bener-bener tertarik sama lo, Bintang". Arsen berkata jujur, karena sejak melihat Bintang pertama kali, ia sudah merasa tertarik pada gadis itu.


"Minggir ya.." Bintang mencoba bersikap lembut, berkata dengan lembut meminta Arsen menyingkir dari jalannya.


"Aw..." Arsen tiba-tiba memegang dadanya, membuat Bulan dan Bintang panik.


Tapi kepanikan Bintang berubah menjadi kekesalan saat tangan yang digunakan Arsen untuk memegang dadanya ia gunakan untuk membentuk finger heart.


Bulan tertawa melihat kelakuan Arsen, sementara Bintang mendengus kesal. Sebenarnya ada apa dengan semua orang hari ini.


"Minggir nggak lo!". Kini suara Bintang sudah terdengar galak, namun Arsen justru semakin senang.


"Apaan lagi?!!", Tanya Bintang dengan suara semakin keras karena Arsen justru menyodorkan ponselnya kedepan Bintang.


"Masukin nomor lo". Bulan masih terkikik, apa pemuda didepannya ini tidak melihat perubahan Bintang yang sudah menjadi singa betina.

__ADS_1


"Gw nggak ada urusan sama lo!! Awas!!", Bintang mendorong tubuh Arsen keras hingga akhirnya pemuda itu mundur selangkah.


Namun dengan cepat Arsen mencekal tangan Bintang dan menggenggam pergelangan tangannya erat, namun tidak menyakiti Bintang.


"ARSENIO PRADIPTAAAA!!!!!!". Sebuah teriakan keras membuat semua mencari sumber suara. Bintang bahkan sampai berjingkat karena terkejut. Lebih terkejut melihat siapa yang kini berjalan cepat menghampirinya.


"LEPAS!!". Dengan kasar seseorang yang tak lain adalah Langit itu menghempas tangan Arsen yang mencekal tangan Bintang.


"Udah gw bilang jangan ganggu pacar gw!! Budeg lo!!", Bentak Langit sambil menarik Bintang untuk berdiri dibelakangnya.


Kini Langit dan Arsen saling berhadapan dengan sorot mata yang sama-sama tajamnya. Tak ada yang mau mengalah dari salah satunya, sementara Bintang?


Gadis itu lebih fokus pada siswa yang berbisik membicarakan hubungannya dengan Langit. Apalagi Langit mengakuinya sebagai pacar.


"Biawaaak!! Lo bener-bener ya jadi orang". Geram namun tak bisa bersuara, hanya batinnya yang menjerit kesal.


Sedangkan yang lain ribut, Sam lebih memilih menarik Bulan menjauh dari kerumunan. Meskipun dengan cara sedikit memaksa karena Bulan ingin berada didekat Bintang.


"Jauhin pacar gw! Jangan ganggu dia atau lo bakal nyesel". Ancam Langit yang sudah jengah melihat kelakuan Arsen yang terus mengganggu Bintang.


"Uuuuhh, gw takut banget". Bibirnya saja yang berkata takut, tapi wajahnya justru terlihat mengejek Langit.


Sekali lagi Bintang menghela nafas panjang, menghadapi satu Langit saja Bintang sering menghela nafas, apalagi kini ditambah pemuda aneh bernama Arsen itu. Mungkin Bintang harus lebih rajin menghela nafasnya panjang, untuk menyuplai oksigen ke paru-parunya.


"Bintang bakal jadi pacar gw, dan lo nggak punya hak ngatur-ngatur gw mau deket ke siapa". Arsen kembali bersuara.


Langit tersenyum miring, menatap jengah Arsen yang sepertinya sangat percaya diri ingin menjadikan Bintang kekasihnya.


"Gw nggak ngatur elo, terserah elo mau apa. Yang harus lo garis bawahi, jangan ganggu pacar gw! Bintang punya gw!". Tegas Langit yang kini hanya berjarak satu langkah saja dengan Arsen.


Keduanya masih saling menatap tajam tak ada tanda-tanda jika salah satunya mau mengalah.


Bintang melenggang pergi, meninggalkan kedua pemuda yang masih bersitegang hingga tak menyadari dirinya sudah berlalu.


Sementara hampir seisi sekolah membicarakan Bintang. Bagaimana beruntungnya Bintang yang diperebutkan dua pemuda tampan idola sekolah.


"Iya kan, Bin?". Langit menoleh ke belakang, pun dengan Arsen yang melongok ke belakang tubuh Langit. Keduanya terlihat celingukan mencari keberadaan Bintang.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Segini dulu deh ya..besok lagi, othornya abis ide cerita🤫😂😂😂...


...Selamat menikmati readers☺️☺️ sayang kalian banyakbanyak😘😘🥰💋💐♥️...

__ADS_1


__ADS_2