Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
uncle yang datang kemarin


__ADS_3

"Aunty..." Teriak Revan sambil berlari menyongsong tante kesayangannya.


"Jangan lari-lari, nak". Naura dengan perut besarnya menatap khawatir putra nya yang berlari menghampiri adik iparnya.


"Hap.." Bintang menangkap tubuh mungil Revan dan mengangkatnya. Memeluk tubuh kecil itu dan menciumi wajah keponakan yang sangat ia rindukan.


"Aunty kangen banget sama kamu.." Masih dengan menciumi pipi gembul keponakannya.


"Revan juga kangen aunty". Yang lain hanya tersenyum melihat interaksi Bintang dan Revan.


"Kalian tuh udah kaya bertahun-tahun nggak ketemu". Cibir Dewa saat menatap adik dan keponakannya.


"Dih, mas Dewa sirik aja. Bilang aja kangen sama aku, pengen peluk aku". Balas Bintang menggoda kakaknya yang hanya bisa menggeleng pelan.


Bintang menurunkan Revan dari gendongannya, menautkan jemarinya dan jemari mungil Revan.


"Bun.." Bintang memeluk sang bunda dan ayah bergantian.


Kemudian mendekati dua kakak iparnya yang sama-sama hamil besar. Mengelus perut bincit kedua kakak iparnya sambil mengoceh tentang betapa tidak sabarnya ia menunggu kehadiran keponakan-keponakan barunya.


"Kita udah jadi makhluk tak kasat mata sekarang ini mas.." Ucap Juna menyindir Bintang yang belum menyapa mereka berdua.


"Aku sudah mulai biasa dengan kelakuannya yang seperti itu, Jun. Apalagi setelah Kiran hamil". Yang disindir hanya tertawa kemudian bangkit dan memeluk kedua kakaknya secara bergantian.


"Kaya anak kecil deh, sirik mulu sama anak istri sendiri juga". Goda Bintang yang masih ada didalam pelukan Dewa.


"Sayang.." Panggilan bunda membuat Bintang melepaskan pelukannya pada sang kakak dan menghampiri ibundanya.


"Bersih-bersih dulu ya, setelah itu kita makan sama-sama". Bunda mengelus lembut kepala putri kesayangannya.


"Siap komandan". Melakukan gerakan hormat kemudian berlalu meninggalkan anggota keluarga yang lain.


Tak butuh waktu lama untuk Bintang kembali bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya.


Kedua kakak lelakinya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tampilan adiknya.


"Mbak kirain kamu udah beneran jadi cewek tulen, dek. Taunya itu kolor masih dipake aja". Kiran yang pertama berkomentar.


"Tau nih anak.." Timpal Juna.


"Kenapa sih, ini tuh nyaman banget tau kak, mbak.." Didudukkannya tubuhnya dikursi tepat disamping Revan.


"Aunty cantik kok.." Puji Revan yang membuat Bintang tersenyum senang.


"Keponakan aunty memang yang paling baik". Mencium kembali pipi Revan yang ikut tersenyum melihat auntynya senang.


Makan malam dimulai, seperti biasa bunda selalu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suami dan putri bungsunya.


"Kenapa nenek yang ambilin makan buat aunty?". Tanya Revan tiba-tiba membuat semua menatapnya.


"Kan nenek bunda nya aunty.." Jawab Bintang enteng.


"Mama ambil untuk papa, aunty Kiran ambil untuk uncle Dewa. Kenapa aunty diambilin nenek?". Tanya nya lagi.


"Ish, mulai deh nyebelinnya". Gerutu Bintang pelan.


"Soalnya aunty belum punya yang mau diambilin". Ledek Juna yang disusul tawa Dewa.


"Bapaknya lebih nyebelin". Masih menggerutu karena kekompakan anak dan ayah itu.

__ADS_1


"Sudah-sudah, ayo makan". Lerai ayah yang melihat putri kecilnya sudah kesal.


Kini semua kembali fokus pada makanan mereka. Tak ada lagi godaan yang meluncur dari bibir kedua kakak lelaki Bintang.


"Bagaimana pekerjaanmu nak?". Tanya ayah pada Bintang di sela makan malam mereka.


"Baik yah..alhamdulillah pekerjaan semua lancar". Sahut Bintang dengan senyum cerah.


Kebahagiaan, hal itulah yang bisa ayah dan bunda tangkap dari seraut wajah putrinya setiap kali membicarakan pekerjaan yang memang disenangi putrinya itu.


"Syukurlah.."


"Tapi ingat, kalau sudah lelah, perusahaan ayah maupun kedua kakakmu itu siap menerima kehadiranmu sayang.." Bintang tersenyum menanggapi ayah.


"Bintang masih betah disana kok yah.." Bintang tersenyum kemudian memasukkan satu sendok penuh nasi beserta lauknya.


"Belum ada yang cocok juga dek?". Tanya Kiran tiba-tiba. Sejujurnya ia kasihan pada adik iparnya itu selama enam tahun belakangan.


Bintang menggeleng pelan. Namun wajah Alva tiba-tiba melintas dipikirannya. Mungkin jika dirinya mengatakan sudah ada lelaki yang dekat dengannya, keluarganya tak akan sekhawatir ini.


Bintang memasang senyumnya, menatap satu persatu anggota keluarganya.


"Sebenernya ada sih yang deket sama Bintang.." Memasang senyum malu-malu untuk meyakinkan keluarganya.


Namun Bintang bisa menangkap seraut wajah penuh keterkejutan dari semua orang.


"Besok dia mau kesini". Masih memasang senyum palsunya. Membuat semua anggota keluarga saling melirik satu sama lain.


"Oh iya yah, besok Bintang izin ya. Mau pergi ke acara reuni SMA". Bintang jadi ingat untuk meminta izin pergi ke acara esok hari.


"Reuni?". Beo ayah dijwab anggukan kepala oleh Bintang.


"Siapa dia?". Tanya bunda lembut membuat Bintang kembali menyunggingkan senyumnya.


"Namanya kak Alva, bun. Alvaro.." Bintang benar-benar pandai bermain peran. Siapapun yang melihat tingkahnya saat ini pasti mengira jika dirinya benar-benar sudah bisa melupakan Langit dan kini tengah jatuh cinta pada laki-laki lain.


"Alva?". Beo Revan membuat Bintang menoleh pada keponakannya.


"Iya, namanya uncle Alva. Besok aunty kenalin ya.."


"Sudahlah. Tidak ada salahnya mengenalkan kak Alva pada mereka. Semoga dengan begini, mereka tidak akan mengkhawatirkan aku lagi". Batin Bintang yang masih memasang senyumnya.


"Uncle yang datang kemarin?". Tanya Revan membuat semua orang kelimpungan dan terlihat panik.


"Uncle? Uncle yang mana?", Tanya Bintang menatap keponakannya.


"Uncle tampan.." Kerutan didahi Bintang kian dalam mendengar penjelasan Revan.


"Uncle tampan siapa?". Kini tatapan Bintang beralih pada ayah dan bunda nya.


"Uncle yang mengobrol dengan kakek kemarin". Semakin terlihat panik saja wajah keluarganya, terutama ayah.


"Siapa yang dimaksud Revan, yah??". Tanya Bintang yang tak bisa menebak siapa tamu ayahnya.


"Oh--itu..itu anak rekan bisnis ayah". Jawab ayah cepat setelah sebelumnya sempat terbata.


Bintang hanya membulatkan bibirnya menjawab penjelasan ayahnya.


"Revan mau kenalan sama temen aunty kan?". Tanya Bintang pada keponakannya.

__ADS_1


Ia lebih memilih bertanya pada keponakan polosnya daripada harus melihat tatapan penuh kecurigaan dari kedua kakaknya.


"Hemm.." Revan mengangguk lucu membuat Bintang mengusak rambut keponakannya.


"Uncle yang ada dalam foto dikamar aunty kan?". Kini giliran Bintang yang gelagapan dengan pertanyaan Revan. Ditambah tatapan dari kedua kakak dan orang tuanya yang terlihat meminta penjelasan.


"B-bukan, yang dikamar aunty itu---itu--itu boyband korea kesukaan aunty". Jelas Bintang sambil memaksakan senyumnya dihadapan keluarganya.


"Aaaah Revan..kenapa sih mulut kamu tuh. Mulutnya kecil tapi kok bikin keselamatan ainty terancam sih". Batin Bintang yang rasanya ingin sekali mencubit bibir mungil keponakannya itu.


"B-Bintang udah selesai makannya..Bintang istirahat dulu". Secepat kilat Bintang melarikan diri dan segera mengunci diri didalam kamarnya.


Bintang menghela nafas panjang setelah sampai di kamarnya. Entah pertanyaan semacam apa yang akan ia terima jika dirinya masih diam dimeja makan bersama keluarganya.


Namun ternyata tidak semudah itu, setelah merasa aman beberapa saat. Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar.


Dan Bintang tahu pasti siap yang mengetuknya. Sudah pasti lah bunda yang ingin meminta penjelasan mengenai siapa Alva.


Menghela nafas panjang sebelum beranjak dan membuka kunci pintu kamarnya. Dan benar saja, bunda sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Boleh bunda masuk?". Tanya bunda.


"Boleh dong bun.." Bintang memasang senyumnya.


Dan akhirnya apa yang Bintang takutkan benar-benar terjadi. Pertanyaan yang Bintang khawatirkan ditanyakan juga oleh bunda.


"Kalau boleh tahu, siapa Alva itu nak?". Tanya bunda begitu lembut.


"Maaf bun, Bintang harus bohong". Batin Bintang.


"Kak Alva itu senior Bintang di kantor, bun". Berusaha tersenyum setiap kali menyebutkan nama Alva. Berharap bunda percaya pada apa yang akan ia ceritakan.


"Dia laki-laki baik yang pengertian bun..dia juga perhatian sama aku".


"Tolong percaya bun.." Batin Bintang berteriak saat melihat reaksi bunda terhadap ceritanya.


"Sayang.."


"Aku udah lupain Langit, bun". Jelas terlihat jika bunda terkejut dengan pernyataan Bintang.


"Aku akan bahagia dengan kak Alva, bun. Jadi bunda dan ayah sudah tidak perlu khawatir lagi". Masih tersenyum untuk meyakinkan bunda.


"Apa kamu yakin nak?". Tanya bunda lagi.


"Jangan memaksakan diri.." Imbuhnya lagi.


"Bintang yakin kok, bun. Lagian apa yang mau Bintang harapkan. Setelah enam tahun menunggu, lagipulan tidak pernah ada kabar lagi. Jadi Bintang akan buka hati untuk laki-laki lain". Ucapnya yakin.


"Astaga, kamu harus dapet award buat sandiwara kamu ini, Bin". Batin Bintang yang sebenarnya tak percaya dengan keahlian aktingnya.


"Bunda harap kamu bahagia sayang.." Bunda mengelus kepala Bintang kemudian memeluknya.


Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran mendalam. Dan itu semua bisa Bintang lihat dengn sangat jelas.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Kreji up nya buat reader semua😘🥰🥰...


...Terus dukung karya othor ya readers🙏🏻😊...

__ADS_1


...Sayang readers banyakbanyak😘😘🥰♥️ sarangheo♥️♥️💋🥰💐😘😘...


__ADS_2