Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Alex


__ADS_3

Akhirnya Bintang mengalah saat melihat wajah memohon ayah. Apalagi ucapan bunda yang semakin membuatnya merasa bersalah membuat semua orang selalu khawatir.


"Tolong jaga putri bunda ya, nak". Bunda menepuk pundak Langit yang langsung mengangguk mantap.


"Jangan biarkan siapapun menyakiti kamu lagi. Tidak ada Alex yang akan menjaga mu kini. Dia sudah ayah kirim ke cabang di kota XX". Ucapan ayah membuat fokus Bintang beralih.


"Bang Alex? Pergi?! Kenapa nggak pamit sama Bintang sih". Bagaimanapun menyebalkannya Alex, lelaki itu lah yang selama ini melindungi Bintang meski tak pernah terlihat.


"Siapa yang bilang nona". Bintang langsung menoleh, mendapati lelaki yang baru ia sebut namanya sudah berdiri didepannya. Membungkuk sopan pada ayah dan bunda serta Juna.


"Bang Alex mau pergi?". Tanya Bintang dijawab senyum tipis pemuda gagah itu.


"Tugas saya sudah selesai nona, harusnya anda senang nona. Tidak ada yang akan mengikuti anda lagi seperti keinginan anda". Antara memberi selamat dan menyindir sepertinya perbedaannya tipis sekali jika Alex yang mengucapkannya.


"Ck.." Bintang hanya berdecak sambil melirik Langit yang tengah menatap dirinya dan Alex dengan raut wajah yang sedikit..ah entahlah, Bintang tak tahu apa arti tatapan mata Langit itu.


"Lebih baik bang Alex yang ngawasin daripada dia". Meski hanya sebuah gumaman, namun Alex mendengarnya dengan jelas.


Ia menatap Bintang, kasih sayangnya pada gadis itu sudah selayaknya seorang kakak pada adiknya. Keselamatan Bintang sudah seperti nyawanya sendiri. Bahkan beberapa kali ia meminta hukuman berat dari tuan Henry karena lalai dan mengakibatkan nona muda nya terluka.


"Cih, kenapa gw nggak kepikiran buat jadiin bang Alex sopir gw aja sih dari kemaren-kemaren". Kembali Bintang bergumam menyadari kebodohannya.


Kini sudah terlambat, keputusan sang ayah sudah final. Sidang tadi sudah ketuk palu dengan hasil Bintang akan dijemput Langit setiap pagi dan akan diantarkan pulang juga oleh Langit. Tidak mungkin bisa Bintang ganggu gugat lagi.


Apalagi ayah sudah bilang jika kini Alex sudah dipindahkan ke kantor cabang ayahnya di kota XX. Tempat yang memang seharusnya Alex berada. Ada perasaan tak rela saat harus merelakan orang yang sudah biasa ada dijangkauan mata kita pergi, seperti itu pula perasaan Bintang saat ini.


Alex menatap ayah yang tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Tangan Alex terulur menyentuh kepala gadis yang selama ini ia jaga, gadis yang sudah sangat ia sayangi bahkan mungkin melebihi nyawanya sendiri.


"Jaga dirimu baik-baik.." Ucapan Alex sangat lembut, selayaknya seorang kakak yang akan melepas adik perempuannya pergi menghadapi dunia seorang diri.


Bintang menatap Alex, meskipun sering berdebat, tidak..bukan berdebat, namun lebih pada Bintang yang sering merengek agar Alex tidak melaporkan kejadian yang menimpa dirinya pada ayah Henry. Kini tatapan yang biasanya datar itu berubah hangat penuh kasih sayang, membuat Bintang merasa matanya mulai memanas.


"Jangan biarkan siapapun menindas apalagi melukaimu..aku tau kau gadis tangguh". Bintang menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan desakan air mata yang tiba-tiba memnuhi matanya. Alex yang biasanya selalu bicara formal dan memanggilnya nona, kini terlihat selayaknya seorang kakak sungguhan.


"Jangan terlalu lama diam. Karena tidak semua orang tahu diri dengan diamnya orang lain. Tunjukkan siapa dirimu dan jangan buat semua orang khawatir, aku tidak akan bisa lagi lari dan menolongmu seperti biasa yang aku lakukan.."


"Bang Alex.." Mata Bintang sudah berembun, membuat Langit mengernyitkan dahi melihat interaksi keduanya. Ia masih mencoba mencari benang merah dari apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"berjanjilah padaku kalau kau akan baik-baik saja walaupun aku tinggalkan jauh, Bintang".


"Huuuaaa.." Tangis yang sejak tadi coba Bintang tahan akhirnya pecah juga.


Ia menghambur memeluk Alex yang langsung mengelus kepala gadis yang sedang dusel-dusel didadanya.


"Bang Alex jangan pergiii". Masih dengan isakannya, Bintang berbicara.


Alex diam, namun matanya melirik keberadaan Langit. Sudut bibirnya terangkat melihat wajah pemuda yang kini menatap tak suka padanya dan Bintang.


"Sepertinya kekhawatiranku terlalu berlebihan. Aku yakin bocah itu bisa menjaga Bintang kami". Batin Alex setelah melihat bagaimana Langit menatap Bintang.


"Kau bisa berjanji?". Alex melepaskan pelukan Bintang, jika diteruskan bisa jadi gadis itu tidak jadi pergi sekolah.


"Bang Alex.." Masih tak mau menjawab ucapan Alex.


"Berjanjilah agar aku bisa tenang dan bekerja dengan baik disana". Ucapan Alex terdengar sangat serius, ayah sendiri bahkan tidak ada niatan untuk menyela percakapan keduanya.


Ia tahu bagaimana berartinya Bintang untuk Alex. Sama seperti dirinya yang menyayangi dan mengkhawatirkan Bintang, bahkan mungkin kasih sayang dan kekhawatiran Alex jauh lebih besar dibanding dirinya.


"Huaaaa..." Alex terkekeh, mengacak pelan pucuk kepala Bintang.


"Aku anggap itu sebuah kesanggupan ya. Jangan sampai aku terbang kesini dan mematahkan tangan gadis itu didepanmu". Bintang menyeka air matanya sambil melotot pada Alex.


"Aku berdiri bukan sebagai pengawal Bintang. Aku berdiri disini sebagai kakak yang menyayanginya". Ayah dan Juna tersenyum, pun bunda. Alex seperti orang yang akan pergi dan tak kembali lagi saja, mungkin itu batin ketiganya. Tapi ketiganya memilih diam karena tahu jika apa yang Alex lakukan karena kepeduliannya pada Bintang.


"Tolong jaga dia. Dari apapun dan dari siapapun.." Alex menghentikan ucapannya untuk melihat reaksi Langit. Dan pemuda itu mendengarkan dengan seksama. Setelah melihat wajah Langit yang juga serius, Alex melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.


"Jangan biarkan siapapun melukai adikku. Bahkan seujung kuku nya sekalipun".


"Gw janji bang. Bakal jagain Bintang". Alex tersenyum lega mendengar jawaban Langit. Bahkan terdengar jelas kalau pemuda itu sangat yakin dengan jawabannya.


Drama pagi itu berakhir dengan perginya Langit dan Bintang untuk sekolah. Bintang yang awalnya ingin membolos dan seharian bersama Alex tak bisa merealisasikan keinginannya karena Alex juga harus segera pergi.


Dan disinilah Bintang saat ini, duduk termenung menatap luar jendela mobil yang tengah dilajukan Langit.


Langit melirik gadis yang sedari tadi duduk diam disampingnya. Terlihat jelas sorot mata sedih Bintang karena kepergian Alex.


"Sekarang ada gw..bang Alex udah percayain elo ke gw". Bintang langsung menoleh saat merasakan telapak tangan Langit menepuk pelan pucuk kepalanya.

__ADS_1


Bintang terbawa suasana, apalagi tepukan tangan Langit di kepalanya terasa lembut dan menenangkan.


"Jadi mulai sekarang jangan coba-coba ngeyel! Semua orang udah titipin elo ke gw". Bintang langsung berdecak sebal mendengar ucapan Langit.


Serasa dirinya anak SD yang harus selalu dijaga dan dilindungi. Sangat menyebalkan bukan jika selalu dianggap sebagai anak kecil oleh orang-orang disekitar kalian.


"Nurut ya, sama calon suami". Langit semakin senang menggoda Bintang yang terlihat semakin kesal.


Sadar jika akan semakin di goda jika manyahut, Bintang memilih diam. Merasakan kegundahan hatinya karena kepergian Alex. Bagaimanapun, Alex sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Kehadiran lelaki itu selalu ia rasakan meski tak terlihat dimana keberadaan pastinya.


Tiba-tiba Bintang teringat, jika kini dirinya tengah dalam masalah. Akan segempar apa gedung sekolah itu jika ia datang bersama dengan Langit, bahkan satu mobil dengan lelaki itu.


Kini dirinya dilanda panik karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dan jelas, kemungkinan terburuknya adalah kembali berurusan dengan Catherine, si biang kucing paling rusuh.


"Lang stop!!!". Spontan Langit menginjak remnya karena teriakan Bintang. Untung saja dia sudah sempat menepikan mobilnya hingga tak terjadi kecelakaan karena dirinya berhenti mendadak.


"Kenapa? Ada apa??". Tanya Langit panik sambil menatap Bintang dengan raut wajah khawatir.


"Bintang!! Kenapa???". Langit semakin terlihat panik karena Bintang hanya diam saja.


"Gw turun sini aja". Langit menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Bintang. Ia sudah khawatir setengah mati saat Bintang beteriak memintanya menghentikan laju mobil, dan apa katanya tadi? Ingin turun disini? Hah, Langit benar-benar dibuat tak percaya.


"Mau kemana lo?!", Langit langsung mencekal lengan Bintang yang sudah hendak membuka pintu mobilnya.


"Mau turun gw". Langit tak melepaskan tangan Bintang. Bahkan kini menarik tangan Bintang hingga tubuh keduanya berjarak cukup dekat.


"Nggak ada turun ditengah jalan gini". Tegas Langit


"Nggak ada ngeyel-ngeyel, Bintang!". Tatapan Langit tajam menusuk.


"Semua udah titipin lo ke gw, bahkan bang Alex juga. Dan lo pengen gw nurutin elo terus kecewain mereka?!",


"Jangan ngeyel. Sekali aja dengerin orang lain sama jangan keras kepala". Langit sudah kembali bersuara saat melihat Bintang membuka mulutnya.


Langit kembali memasang sabuk pengaman Bintang dan kembali melajukan mobilnya. Bintang tak berkutik dan akhirnya pasrah saja.


"Pasrah aja deh. Gimana nanti aja". Batinnya meyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Selamat pagi readers, buat obat kangen karena udah berhari-hari nggak up dikasih satu dulu pagi ini, semoga siang ke sore bisa kasih banyak ya☺️☺️☺️...


...Semoga suka ya, selamat membaca readers, sayang kalian banyakbanyak🥰🥰😘😘💋💐💐💐♥️♥️...


__ADS_2