
"No! Mommy nggak setuju!". Tegas mommy yang langsung menolak ide suaminya.
"Aku tidak sedang meminta pendapat kalian. Ini keputusan yang harus kalian taati dan jalankan". Daddy Prabu tak kalah tegas menatap istri dan anaknya bergantian.
Langit? Pemuda itu seolah kehilangan daya bicaranya setelah mendengar apa yang daddy Prabu ucapkan.
Menjauh dari Bintang? Bagaimana ia akan bisa menjalani harinya dengan berada jauh dari Bintang?
Perdebatan kedua orang tuanya tidak mampu menarik dirinya dari lamunan. Ucapan tentang jauh dari Bintang terngiang jelas di telinganya.
"Persiapkan dirimu. Setelah pulih, kamu harus segera pergi. Jangan pernah kembali sebelum kamu menjadi orang sukses dan bisa berdiri dengan kedua kakimu sendiri".
"Kembalilah saat kamu sudah merasa layak dan mampu bersanding dan melindungi Bintang. Jika belum, maka sadarkan dirimu jika itu artinya kamu tidak pantas untuk gadis bernama Bintang itu. Dia terlalu berharga untuk ada disampingmu jika keamanannya selalu terancam. Mengerti?",
"Dad!". Daddy tidak menggubris protes yang dilayangkan istrinya. Ia berjalan keluar kamar rawat putranya untuk mengurus sesuatu sebelum putranya ia kirim pergi jauh.
Mommy melirik Langit sekilas yang terlihat melamun, ia tepuk pundak putranya.
"Mommy akan bujuk daddy, tenanglah". Ucap mommy sebelum keluar untuk mengejar suaminya.
Langit masih terdiam. Bahkan saat Bintang masuk kedalam ruang rawatnya.
Sudah dua hari berlalu, hari ini Bintang sudah diperbolehkan pulang setelah pagi tadi melakukan pengecekan menyeluruh pada tubuhnya. Sedangkan Langit masih harus berdiam dirumah sakit karena luka tubuhnya yang belum pulih.
"Lang.." Suara Bintang tidak mampu menyadarkan Langit dari keterkejutannya. Bahkan berulang kali Bintang memanggil, namun Langit masih asyik dengan lamunannya.
Baru setelah Bintang memanggil sambil sedikit menggoyangkan lengan Langit, pemuda itu tersadar dengan keberadaan Bintang.
"Lo kenapa? Ada yang sakit?". Tanya Bintang khawatir karena sejak tadi Langit terlihat melamun.
"Lo udah mau pulang?". Sepertinya kebiasaan Bintang yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sudah menular pada Langit.
"Lo kenapa?". Bintang tidak menggubris ucapan Langit. Ia kembali menanyakan keadaan Langit.
"Gw nggak apa-apa". Langit memaksakan senyum untuk menutupi keresahan hatinya setelah mendengar perintah sang ayah.
"Jangan boong Lang.." Bintang menatap intens Langit yang terlihat berbeda dari hari kemarin.
"Gw belum bayangin kaya gimana kalo harus jauh dari elo. Nggak bisa liat elo". Langit dan batinnya yang bergejolak.
Apakah ia akan mampu? Menjauh dari Bintang? Bahkan dalam pikirannya saja Langit tidak pernah melintas pertanyaan itu.
__ADS_1
Ia tidak menyangka jika sang ayah akan membuat keputusan besar seperti saat ini. Ia marah, juga kecewa dengan keputusan sepihak ayahnya, tapi tak memiliki daya apapun untuk menolak perintah sang ayah.
"Lang!". Kini Bintang benar-benar yakin jika ada yang tidak beres dengan Langitnya. Wajahnya terlihat murung dan lebih banyak melamun. Itu benar-benar bukan Langit yang ia kenal.
"Lo kenapa sih? Ada yang lo pikirin?". Tanya Bintang mendesak. Namun Langit tetap menggeleng dan menampakkan senyum palsunya, membuat Bintang resah dan memikirkan hal-hal yang ia takuti.
Sementara diruang rawat Langit, Bintang tengah membujuk Langit untuk bercerita. Diluar kamar terlihat daddy dan mommy yang masih memperdebatkan keputusan sepihak yang daddy Prabu ambil.
"Memang daddy tega memisahkan mereka? Mereka itu baru mengalami hal mengerikan, dad. Setidaknya biarkan mereka tenang dulu". Ucap mommy Sekar menggebu.
"Ini yang terbaik. Biarkan putramu itu belajar bertanggung jawab. Setidaknya pada dirinya dulu. Aku melakukan ini untuk kebaikan mereka ke depannya". Jelas daddy Prabu, namun sepertinya mommy tak mau mengerti.
"Kebaikan yang bagaimana memangnya? Memisahkan Langit dari gadis yang dia sukai? Atau bahkan mungkin Langit sudah jatuh cinta pada Bintang, dad". Ayah dan bunda yang melihat kedua orang tua Langit berdebat saling melirik sebelum mendekati mereka.
"Kejadian ini mungkin saja bisa terulang kembali. Aku hanya tidak mau sampai ada korban lagi. Jadi biarkan Langit pergi dulu sampai keadaan benar-benar aman". Mencoba bersabar menghadapi istrinya dengan merendahkan suaranya.
"Yang dikatakan Sekar benar, Prabu". Tiba-tiba ayah masuk dalam obrolan mereka.
"Tidak perlu sampai membuat mereka menjauh. Kita hanya perlu lebih waspada". Imbuh ayah lagi didukung anggukan kepala oleh bunda.
"Iya mas Prabu..sepertinya bukan hanya Langit yang akan tersiksa jika mereka dipisahkan. Bintang pun pasti akan sama tersiksanya". Bunda ikut meyakinkan daddy Prabu.
"Lihat. Mas Henry dan jeng Ratih juga tidak setuju dengan ide gila kamu, dad". Daddy Prabu menghela nafas berat. Mengapa mereka tidak mengerti dengan maksud dan tujuan baiknya melakukan semua ini. Daddy melakukan semua ini karena memiliki alasan.
"Aku melakukan ini bukan hanya untuk Langit. Tapi demi keselamatan Bintang juga. Aku sudah menganggap Bintang seperti putriku sendiri. Aku juga tidak mau sampai putriku itu terluka karena kesalahan masa lalu Langit". Semua masih diam tak berani bersuara.
"Aku hanya takut jika kenakalan masa remaja Langit akan berpengaruh pada masa depan mereka nantinya". Suara daddy Prabu terdengar berat. Memang ayah mana yang rela jauh dari putranya, namun daddy melakukan semua ini juga untuk kebaikan anak lelakinya dan Bintang yang sudah ia anggap sebagai putri.
"Setidaknya Langit harus bisa berdiri diatas kakinya saat nanti datang pada Bintang. Setidaknya dia sudah bisa melindungi Bintang dengan kedua tangannya sendiri saat nanti kembali". Mommy diam, karena apa yang dibicarakan suaminya itu mulai mengganggu pikirannya.
"Mungkin sekarang anak itu sudah dihukum. Bahkan ayahnya tidak bisa menolongnya keluar". Daddy menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapi dia hanya dihukum sepuluh tahun. Itupun karena kita menggunakan semua koneksi kita agar hukuman yang didapatkannya yang terberat". Helaan nafas kembali terdengar dari mulut daddy.
"Sepuluh tahun bukan waktu yang lama. Jika tiba waktunya anak itu keluar dari penjara, mungkin dia akan membalas Langit lagi. Dan tidak menutup kemungkinan jika dia juga akan kembali mengincar Bintang seperti kemarin". Tidak ada yang menyela ucapan daddy. Semua diam mendengarkan.
"Dan jika saat itu tiba, belum tentu kita berdua masih bisa melindungi mereka, Hen". Daddy menatap ayah yang kini terlihat berpikir.
"Paling tidak jika aku mengirim Langit pergi untuk menempa dirinya, jika saat itu tiba nantinya, akan ada Langit yang menjadi perisai sekaligus pelindung untuk Bintang". Mommy menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Karena apa yang diucapkan suaminya sepenuhnya benar. Ia tidak berpikir sejauh itu.
Bunda pun sama. Wanita lembut itu tampak berpikir keras dengan segala penjelasan daddy Prabu yang memang benar.
__ADS_1
"Jadi aku mohon mengertilah. Aku melakukan semua ini untuk kebaikan mereka ke depannya. Biarkan Langit tumbuh menjadi lelaki yang benar-benar bisa kita andalkan untuk menjaga Bintang kita. Biarkan mereka berjauhan sementara ini..semua untuk kebaikan mereka berdua". Daddy Prabu menatap orang tua Bintang dan mommy dengan sorot mata memohon.
"Dad.." Lirih mommy yang sudah menangis.
"Mungkin kita akan melihat kesedihan mereka saat ini, atau bahkan lebih buruknya mereka akan tersiksa karena terpisah. Tapi aku percaya, jika memang takdir berpihak pada mereka, sejauh dan selama apapun mereka berpisah, mereka akan kembali bersama lagi". Daddy yakin dengan apa yang ia pikirkan. Ia yakin Langit akan tetap menjaga hatinya untuk Bintang, pun dengan Bintang.
"Baiklah.." Ayah menepuk pundak daddy Prabu. Ia memahami alasan daddy Prabu yang jika dipikirkan memang benar adanya.
"Tapi..." Semua kembali menatap ayah.
"Tapi apa lagi?". Tanya daddy Prabu dengan alis berkerut.
"Jangan paksa Langit jika dia memang tidak ingin pergi". Daddy Prabu melebarkan matanya.
"Hen.." Protes daddy Prabu
"Kita masih bisa mendidik Langit disini, bersama kita". Imbuh ayah yang memang tidak ingin memaksa Langit jika memang Langit tidak mau.
"Kamu belum mengerti maksudku?". Tanya daddy sambil menghela nafas lelah.
"Bukan tidak mengerti, aku hanya memberi opsi lain. Jika memang Langit tidak mau, dan tidak ingin pergi. Maka jangan dipaksa".
"Langit akan pergi, dad, yah". Semua orang menoleh, mendapati Langit yang sudah berdiri dengan tongkat yang membantunya menyangga tubuh.
"Langit.." Gumam semua orang.
"Langit akan pergi, tapi Langit mohon. Biarkan Langit yang bicara pada Bintang". Pinta Langit pada kedua orang tuanya juga orang tua Bintang.
"Kamu yakin, nak?". Tanya mommy dan bunda bersamaan. Dijawab anggukan kepala Langit dengan mantap tanpa ragu.
"Daddy benar..Langit hanya akan membahayakan Bintang. Langit harus menjadi kuat untuk bisa melindungi Bintang". Ucap Langit tegas. Membuat daddy dan Ayah tersenyum meski terselip sedikit keraguan dalam senyum mereka.
Lalu dimana Bintang? Gadis itu sengaja Langit minta untuk mencarikan ponselnya didalam kamar rawatnya. Padahal jelas ponselnya sudah ia kantongi.
Langit sengaja melakukannya saat melihat orang tuanya dan orang tua Bintang yang tengah berbicara serius, dan Langit tahu jika pembahasannya sudah pasti tentang keputusan daddy nya tadi.
"Bintang mungkin akan marah, atau mungkin kecewa". Ayah coba menggoyahkan Langit.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Holla readers, apa kabarnya?? Semoga sehat semua ya🤲🏻🤲🏻 Langit sama Bintang nya sebentar lagi dijauhin dulu ya, tapi jangan sedih..nggak akan lama kok😊🥰...
__ADS_1
...Happy reading semua♥️💐😊sarangheo banyakbanyak💋🥰🥰😘😘💐♥️...