Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
aunty tunggu kamu


__ADS_3

"Pelan-pelan! Lo bisa jatuh Bin". Langit menghentikan langkah Bintang yang bisa dibilang seperti berlari.


"Ayo cepetan. Keburu ponakan gw lahir". Bintang dengan tak sabar menarik tangan Langit yang hanya bisa menggeleng melihat bagaimana tidak sabarnya Bintang.


"Iya, tapi pelan-pelan jalannya. Lo bisa jatuh kalo lari-larian begini". Langit ganti menggenggam tangan Bintang dengan erat. Ia tak mau sampai Bintang terjatuh dan terluka.


"Ayo.." Langit menarik Bintang yang rupanya sejak tadi menatap tangannya yang digenggam erat oleh Langit. Dadanya bergemuruh merasakan eratnya genggaman tangan Langit. Mengalirkan perasaan hangat didalam hatinya. Namun cepat-cepat ia membuang pikiran itu.


"Ayo naik. Kenapa malah bengong?". Ucapan Langit menyadarkan Bintang dari lamunannya.


Saat ini keduanya sudah berdiri disamping motor sport hitam milik Langit. Bintang mengerjap, bukankah tadi Langit bilang jika ia disini karena menamani mommy Sekar belanja? Lalu apakah mommy dibonceng oleh Langit dengan motor itu??


"Pake dulu biar aman". Langit memasangkan helm ke kepala Bintang dan mengaitkan pengaman helmnya.


"Ayo naik". Langit kembali bersuara setelah memasang helm miliknya.


"Mau naik sendiri apa perlu gw gendong?", Bintang langsung menatap galak Langit yang justru tergelak pelan. Wajah galak Bintang semakin menambah nilai kecantikan gadis itu.


Dengan berpegang pada pundak Langit, Bintang naik ke atas jok motor. Saat tiba-tiba Langit memutar kepalanya menghadap Bintang.


"Pegangan!". Ucap Langit dengan senyum lebarnya.


"Modus". Cibir Bintang


"Yaudah.." Langit kembali menghadap depan dan menyalakan motornya. Sementara Bintang hanya berpegang pada pundak lebar Langit.


Dibalik helm fullface yang ia kenakan, Langit tersenyum samar. Sebelum akhirnya ia memutar gas motornya semakin dalam hingga kini kendaraannya itu melaju dengan kencang.


Dengan lihai Langit meliukkan kendaraannya, menyalip beberapa kendaraan yang ada didepannya.


"Biawak sinting!", Umpat Bintang yang kini melingkarkan tangannya diperut berotot Langit. Ia masih sayang nyawanya, oleh karena itulah ia memeluk tubuh Langit.


Langit tersenyum puas saat Bintang melingkarkan tangannya diperut rata miliknya. Apalagi kini pelukan Bintang terasa semakin erat saat ia menambah kecepatan motornya. Membuat ia bisa merasakan sesuatu yang kenyal menempel sempurna di punggungnya.


Langit memarkirkan motornya diparkiran rumah sakit. Membuat Bintang segera turun dari motor.


"Apa lagi?". Tanya Bintang saat Langit kembali mencekal pergelangan tangannya.


Tanpa berkata apapun, Langit menarik Bintang agar mendekat pada dirinya yang masih duduk diatas motornya. Kemudian melepaskan helm yang masih terpasang sempurna di kepala Bintang.


Wajah Bintang merona saat menyadari dirinya masih mengenakan helm. Untung saja Langit cepat mencegahnya masuk ke area rumah sakit. Jika tidak, maka jelas dirinya akan malu.


Untuk sesaat Bintang terdiam. Bahkan ia tidak menyadari jika Langit sudah melepaskan helm miliknya dan turun dari kendaraannya.


"Ayo..katanya udah nggak sabar". Suara Langit menyadarkan Bintang yang termangu.


"Hah? Ah..iya, ayo". Bintang berjalan lebih dulu, meninggalkan Langit yang tersenyum dibelakangnya sambil menggeleng pelan. Bintang benar-benar menggemaskan dimata Langit.


Bintang kembali menghentikan langkahnya saat lagi-lagi Langit menggenggam tangannya. Kenapa rasanya begitu damai saat Langit menggenggam tangannya. Bintang menghela nafas panjang. Menetralkan detakan jantungnya yang mulai menggila karena sentuhan tangan mereka.

__ADS_1


"Di ruangan apa?". Tanya Langit saat Bintang diam sambil terus menatap tangan mereka yang bertaut.


"Hah?". Langit terkekeh pelan, entah apa yang dipikirkan gadis cantik itu hingga tak mendengar pertanyaannya.


Langit menarik Bintang mendekat pada bagian informasi. Kemudian Langit menanyakan dimana ruangan Naura saat ini.


"Terimakasih". Ucap Langit disertai senyum memawan yang mampu membuat seorang karyawan yang tadi ia tanyai meleleh.


Bintang mendengus melihat bagaimana pesona Langit yang tak memandang umur dan pekerjaan. Bahkan wanita yang jelas lebih tua dari mereka pun terpesona hanya karena Langit tersenyum.m


Langit terus berjalan sambil menggenggam tangan Bintang. Ia sudah diberi tahu dimana keberadaan Naura saat ini.


"Bunda!!". Seru Bintang yang melihat bunda berdiri didepan sebuah ruangan dan kini sedang berbincang dengan seseorang yang Bintang yakini itu adalah seorang dokter.


Bunda yang dipanggil segera menoleh. Senyumnya mengembang saat melihat Bintang datang bersama Langit. Senyum nya semakin terlihat saat melihat bagaimana Langit menggenggam tangan putrinya itu. Terlihat jelas jika pemuda itu sangat melindungi Bintang.


Melihat keberadaan bunda, Langit melepaskan genggaman tangannya secara perlahan agar Bintang bisa menghampiri bunda.


"Jalan pelan-pelan. Lantainya licin". Ucapnya sambil melepaskan tangan Bintang. Seperti seorang anak, Bintang mengangguk patuh mendengar perintah Langit.


Sementara dirinya terus berjalan dibelakang Bintang untuk memastikan gadis itu tidak berlari.


"Terimakasih dok.." Bintang tak tahu apa isi percakapan bunda dengan dokter. Karena saat dirinya sudah sampai didekat bunda, percakapan keduanya sudah usai.


"Kamu sudah datang? Kenapa bisa cepat sekali?". Tanya bunda menatap Bintang dan Langit bergantian.


"Langit, maaf ya. Bunda jadi ganggu acara main kalian". Langit menggeleng cepat.


Tadi setelah mommy Sekar menelponnya, bunda jadi tahu jika saat ini putrinya tengah pergi bersama Langit juga, bukan hanya dengan Bulan seperti saat tadi berpamitan.


"Hah? Enggak tante..sama sekali nggak ganggu". Langit terus menunjukkan senyumnya didepan bunda.


"Panggil bunda saja.." Bintang langsung melotot menatap bunda, meskipun hanya sekilas karena kemudian ia menundukkan kepalanya.


Langit? Jangan tanya bagaimana senangnya dia saat bunda meminta dirinya memanggil bunda. Ia merasa mendapat lampu hijau dari bunda. Sesuatu yang sangat menguntungkan baginya.


"Ah, baik bun.." Langit mengangguk kemudian menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum lebar yang tak dapat ia tahan lagi. Ingin sekali ia berteriak untuk menyalurkan perasaan senangnya. Namun harus ia tahan karena mereka ada dirumah sakit.


"Kak Naura gimana bun? Udah lahiran?". Tanya Bintang mengalihkan percakapan sang bunda dan Langit.


"Belum sayang. Tapi sudah pembukaan 8 kata dokter tadi". Alis Bintang berkerut.


"Apanya yang buka bun?". Tanya Bintang membuat Langit menepuk keningnya. Pengalamannya menemani kakak perempuannya melahirkan membuatnya paham apa itu pembukaan dalam persalinan.


Bunda tertawa ringan sambil menggeleng mendengar pertanyaan Bintang.


"Artinya jalan lahirnya baru terbuka 8cm. Harus tunggu sampai pembukaan sempurna supaya bisa melahirkan". Bunda tercengang mendengar Langit bisa menjelaskan pada Bintang.


"Emang buka sempurna nya ampe berapa?". Bintang mulai tertarik dan kini menatap Langit dengan intens. Ia juga terkejut saat ternyata Langit mengetahui tentang persalinan lebih baik dari dirinya.

__ADS_1


"10.." Bunda tersenyum. Sepertinya menjodohkan Langit dengan Bintang adalah keputusan tepat, batinnya.


"Emang---"


"Ssst, tunggu aja bentar lagi". Langit meletakkan telunjuknya dibibir Bintang saat melihat mulut gadis itu terbuka dan ingin menanyakan lebih lanjut tentang persalinan.


"Ish! Ngeselin". Gerutu Bintang namun ia tetap menurut.


"Kak Juna?". Bunda mengelus pucuk kepala putrinya yang tampak menggemaskan jika sedang kesal seperti sekarang ini.


"Didalam, menemani kak Naura". Wajah Bintang berbinar, melihat betapa cekatannya sang kakak yang segera datang untuk menemani istrinya.


"Bintang mau masuk". Bunda mengangguk.


"Ayo, Langit ikut masuk". Bintang langsung menatap bunda saat bunda mengajak Langit ikut serta. Namun ia hanya bisa melayangkan tatapan protes tanpa bisa mengatakannya.


Pintu yang berderit membuat penghuni didalam ruangan menatap pintu yang mulai bergerak terbuka. Bintang menghela nafas panjang. Mempersiapkan dirinya untuk melihat berbagai peralatan yang berbau rumah sakit yang sebenarnya sangat ia benci.


Senyum dibibir pucat Naura tersungging melihat adik ipar tersayangnya sudah datang. Sudah sejak tadi ia menunggu kedatangan gadis yang mengaku sebagai calon aunty tercantik itu.


"Kak Naura.." Bintang berjalan cepat menghampiri ranjang kakak iparnya itu. Matanya sudah berkaca-kaca melihat kakak iparnya tampak pucat duduk diatas pembaringan.


"Kamu sudah datang?". Pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban itu terlontar dari bibir wanita yang sebentar lagi akan berjuang antara hidup dan matinya untuk melahirkan anak pertamanya.


"Ehm.." Bintang hanya berdehem sambil mengangguk tanpa menjawab. Ia takut suaranya akan terdengar bergetar jika sampai bersuara.


Ia dudukkan tubuhnya disamping kiri Naura, sedangkan Juna ada disamping kanan Naura.


"Kayanya anak kakak nunggu kamu dateng deh..dari tadi sibuk cari jalan tapi nggak ketemu-ketemu". Disaat menahan rasa sakitnya, Naura sedikit bergurau untuk mencairkan suasana.


Naura tahu Bintang tidak suka berada dirumah sakit. Tapi gadis itu tetap memaksakan dirinya untuk bisa datang dan melihat keadaannya saat ini.


"Kamu cepet keluar dong. Jangan bikin kakak aku sakit. Aunty tunggu kamu.." Bintang mengelus perut Naura sambil menahan air mata yang sejak tadi mendesak untuk keluar. Suaranya pun terdengar serak karena menahan tangis.


Mendengar ucapan Bintang, semua tertawa pelan. Tak terkecuali Naura yan kembali merasakan kontraksi di perutnya hingga ia mencengkeram tangan Bintang dan Juna scara tidak sadar.


"Sakit lagi?". Tanya Juna lembut dijawab anggukan kepala oleh Naura. Sakitnya kali ini puluhan kali lipat dari sakit yang ia rasakan sebelumnya.


"Kaya-nya an-ak kam-u beneran nungg-uin aunty can-tik nya deh m-as". Suara Naura tersengal karena menahan sakit.


"D-ia, uda-h ngg-ak s-ab-ar ke-luar se-ka-rang". Dalam sakitnya Naura tersenyum. Rupanya calon anaknya itu benar-benar menunggu kedatangan Bintang.


"Bunda..kak Naura kenapa". Bintang panik sekaligus takut melihat wajah Naura kesakitan. Trauma saat kehilangan sang ibu didepan matanya membuat ia takut akan mengalami hal sama lagi.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Lanjut abis ini ya, mak othor kasih double up dulu. Nanti insyaallah dikasih kreji up biar pada ikutan kreji😂😂😂...


...Sayang readers banyak-banyak🥰🥰😘😘😘💋💐💐...

__ADS_1


__ADS_2