Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
rencana reuni


__ADS_3

Pagi datang dengan cepat. Gadis cantik itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah bangun tidur.


Bintang menyibak selimut yang menutup tubuhnya, duduk diatas ranjang dengan kaki menjuntai ke lantai sambil beberapa kali menghela nafas.


"Aaaah..udah senin lagi". Gumamnya malas.


"Apa aku resign aja ya? Kerja di kantor ayah apa mas Dewa, atau enggak kantor kak Juna. Jadi bisa bebas izin nggak masuk kerja". Masih bergumam, menggelung asal rambutnya yang kini sudah memanjang, meninggalkan beberapa helaian yang jatuh dilehernya yang putih.


Entah apa tujuan gadis itu sebenarnya, gadis yang memang sudah terlahir dari keluarga kaya raya, ayah dan dua kakaknya jelas pebisnis handal. Namun mengapa ia justru lebih memilih mengabdikan diri di perusahaan orang lain? Hanya gadis itu yang tahu jawabannya.


Sudah menjadi rutinitas setiap senin pagi, Bintang akan selalu bergumam hal yang sama tentang resign dari tempat dirinya bekerja selama hampir dua tahun ke belakang.


Namun hanya sekedar ucapan lalu saja. Karena nyatanya, Bintang masih bertahan ditempatnya bekerja saat ini.


Setelah merasa cukup untuk mengumpulkan kesadarannya, Bintang bergerak. Tujuannya adalah kamar mandi.


"Waaah, liat hasil karya semalam". Gadis itu menggeleng ketika melihat pantulan wajahnya dicermin kamar mandi.


"Ck..ck..ck, jangan bodoh! Kamu nangisin apa sebenarnya?? Hah??". Menuding dirinya di cermin tepat dikeningnya, seolah tengah memaki dirinya yang didalam cermin.


"Hah, dasar konyol! Kamu habisin bertahun-tahun buat nangisin orang yang mungkin udah nggak inget sama kamu". Lagi, gadis itu memaki dirinya sendiri.


Puas mencibir dirinya sendiri, Bintang mulai Menanggalkan baju yang ia kenakan satu persatu hingga kini tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


Menyelesaikan mandi dengan cepat, karena memang sejak dulu Bintang tidak suka berlama-lama didalam kamar mandi.


"Hari ini costplay jadi zombie lagi ya.." Gumamnya sambil menatap wajahnya dicermin.


Kini ia tengah duduk didepan cermin riasnya. Memperhatikan wajahnya yang pucat dengan lingkaran hitam dibawah mata yang sangat kentara.


Gadis tomboy itu kini sudah berubah, menjadi seorang wanita dewasa yang sudah mengerti tentang make up. Tampilannya pun sudah banyak berubah, jika dulu gadis itu lebih senang memakai celana robek dan kaos, kini gadis itu sudah lebih sering memakai blouse yang ia padukan dengan rok atau celana, bahkan terkadang gadis itu sudah mau memakai dress sederhana yang membuatnya kian terlihat cantik.


"Lumayan.." gumamnya lagi saat melihat hasil make up nya. Terlihat cukup untuk menutupi mata bengkaknya meski tak sepenuhnya tertutup.


Bintang menyambar kunci mobil dan tas miliknya. Memastikan semuanya aman sebelum benar-benar keluar dari apartemennya.


Bibir mungilnya bersenandung, mengikuti alunan lagu yang tengah diputar radio didalam mobilnya.


Berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah, Bintang menatap langit diatas sana. Hari ini cuaca sangat cerah, ia berharap hari ini akan lebih baik dari hari-harinya sebelumnya.


"Ck, sabar! Ini juga mau jalan". Gerutu Bintang saat klakson terdengar saling bersahutan ketika lampu berubah warna hijau.


Entah apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang tidak sabaran itu, sehingga langsung membunyikan klakson saat lampu berubah hijau.


Tak terasa Bintang sudah sampai di kantor tempat dirinya bekerja selama beberapa tahun ke belakang.


Kembali menghela nafas sebelum dirinya memasuki gedung tempatnya bekerja itu. Entahlah, belakangan Bintang lebih sering menghela nafas.


Merapikan sedikit rambutnya yang hari ini ia gerai, serta memastikan riasan matanya benar-benar sudah sempurna untuk menutupi mata pandanya.

__ADS_1


"Semangat Bintang!!", Menatap dirinya di kaca mobil sambil mengepalkan tangannya memberi semangat pada diri sendiri.


"Sudah datang?". Bintang terlonjak saat tiba-tiba seseorang berbicara dibelakang tubuhnya.


Bintang mengelus dadanya karena benar-benar terkejut. Sementara orang yang membuatnya terkejut justru terkekeh melihat wajah kaget Bintang.


"Kakak kebiasaan deh". Gerutu Bintang pada seorang pria yang ia panggil kakak.


"Iya maaf..tadi cuma mau nyapa kamu. Nggak ada niatan mau ngagetin kok, tapi muka kamu lucu kalo kaget". Bintang mencebikkan bibirnya.


"Sudah sarapan?". Bintang menggeleng sebagai jawaban, karena memang Bintang belum sarapan.


"Tumben". Bintang tersenyum saja menanggapinya.


"Mau sarapan bareng?". Keduanya terus berbincang sambil berjalan.


"Kak Alva belum makan?", Kini Bintang balik bertanya pada lelaki bernama Alva itu.


"Udah sih, tapi cuma sedikit. Masih muat nampung lah kalo sarapan sama kamu". Mengedipkan sebelah matanya pada Bintang yang langsung terkekeh.


Alva, laki-laki yang sejak melihat Bintang sudah sangat tertarik pada gadis itu. Lagipula siapa yang tidak akan tertarik pada gadis cantik dengan banyak kelebihannya itu.


Keduanya berjalan beriringan menuju kantin perusahaan, kantin yang memang disediakan perusahaan untuk para karyawannya. Untuk memudahkan karyawannya saat mencari makanan.


"Mau apa?". Tanya Alva pada Bintang yang langsung duduk. Karena Alva akan melarang Bintang memesan sendiri.


"Belum ada jus jambu, es nya belum dianter". Belum Bintang menjawab, Alva sudah menginterupsi.


"Sandwich sama jus jambu?". Tanya Alva dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Bintang.


Ada satu hal yang tidak pernah berubah dari seorang Bintang. Kesukaannya terhadap minuman bernama jus jambu tak hilang meski waktu telah bergulir.


Bahkan orang yang belum terlalu lama mengenal Bintang pun akan mudah mengetahui apa minuman kesukaan gadis itu. Karena memang Bintang selalu memesan jus jambu setiap harinya.


"Tunggu sebentar ya..aku pesenin dulu", Alva meninggalkan Bintang.


Ponselnya berbunyi, Bintang mengambil ponselnya didalam tas. Melihat siapa yang mengirimi pesan di pagi seperti ini.


"Reuni lagi". Gumam Bintang saat melihat kiriman pesan di grup kelas nya semasa sekolah atas dahulu.


Bintang sudah bisa membayangkan seperti apa menyebalkannya reuni itu. Pasti dirinya akan jadi bahan bully an teman-temannya lagi karena hingga kini hanya dirinya yang masih bertahan dengn status jomblo.


"Kenapa?". Alva datang dengan nampan berisi makanan mereka.


Bintang menggeleng, menghela nafas panjang sebelum meraih gelas jus nya. Sekilas menatap Alva kemudian kembali fokus pada minumannya.


"Kak.." Yang dipanggil mendongakkan kepalanya.


"Nggak jadi deh". Bintang kembali muram. Tadinya ia berniat membawa Alva ke acara reuni agar tak jadi sasaran bully teman-teman menyebalkannya itu.

__ADS_1


"Ada apa sih? Kamu jangan bikin penasaran deh". Alva mendesak karena jujur ia penasaran.


"Akhir pekan ini kakak ada acara nggak?". Tanya Bintang setelah memantapkan dirinya untuk membawa Alva ke acara reuniannya nanti.


Berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepalanya. Membuat Bintang melengkungkan senyumnya.


"Temenin aku mau nggak kak?", Alva adalah senior di tempatnya bekerja kini, dan sepertinya hanya Alva teman dekat Bintang di kantor itu.


Pribadi Alva yang hangat dan ramah membuat Bintang akhirnya menerima lelaki itu menjadi temannya.


Bukan tidak tahu jika Alva tertarik padanya. Namun Bintang masih enggan membuka hati untuk cinta yang baru. Kenyataannya, hanya bibir mungilnya saja yang terus menyuarakan move on. Hatinya masih terpaut dengan lelaki di masa lalunya.


"Mau kemana? Nonton? Ayo..kapan aja kamu mau". Alva langsung bersemangat mendengar ajakan Bintang.


"Ish, bukan". Bintang sebenarnya merasa sungkan melihat antusias Alva, ia merasa jadi orang jahat karena memanfaatkan Alva.


"Terus kemana??". Tanya Alva lagi


"Reunian SMA.." Cicit Bintang.


"Hari apa? jam berapa?". Masih tak surut semangat Alva. Ia berharap ini awal Bintang mau membuka hati untuk dirinya.


"Sabtu, jam 7malem kak.." Sahut Bintang membuat Alva menganggukkan kepala beberapa kali.


"Aku temenin tapi ada syaratnya ya.." Alis Bintang berkerut. Menatap curiga pada Alva.


"Nggak akan aneh-aneh, ya ampun. Udah curiga aja sih.." Gemas sendiri, Alva mengusak rambut Bintang hingga berantakan.


"Ish, rambut aku berantakan kak". Omel Bintang membuat Alva tergelak pelan.


Sudah bukan rahasia, jika Alva mendekati bahkan menyukai Bintang. Sejak pertama gadis itu menginjakkan kaki di perusahaan sebagai anak magang pun Alva sudah terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Bintang. Namun sayang, hingga kini Bintang masih enggan membalas perasaannya.


"Sini deh dibantu rapihin.." Dengan cekatan, tangan Alva membantu merapikan rambut Bintang.


"Syaratnya apa?". Tanya Bintang setelah Alva sleesai membantu merapikan rambutnya.


"Aku jemput..jangan pergi sendiri-sendiri". Bintang berpikir sejenak sebelum mengangguk disertai helaan nafas panjang.


Entah seperti apa terkejutnya Alva saat tahu dimana dirinya tinggal. Yang pasti, kini dirinya sudah punya tameng jika nanti teman-temannya meledeknya.


"Maaf kak kalo aku kaya manfaatin kakak.." Batin Bintang menatap Alva yang terlihat tersenyum senang sambil sesekali menatap dirinya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Haiii readers👋🏻👋🏻 maafin othor yang menghilang beberapa hari ini🙏🏻🙏🏻🙏🏻 othornya healing dulu😅🤭...


...Gimana kabarnya readers?? Semoga readers sehat semua ya. Aamiin🤲🏻🤲🏻...


...Karna othornya memang nggak pinter bikin konflik, jadi bentar lagi juga Bintang bakal ketemu sama Langitnya kok😊😊...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya readers, makasih banyak semua🥰😘 Sayang readers banyakbanyak🥰🥰😘♥️💪🏻💐 sarangheo🥰🥰😘😘♥️💐💋...


__ADS_2