Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
pacar


__ADS_3

Bintang menajamkan penglihatannya. Sekilas ia melihat sosok yang selama enam tahun ini menghantui dirinya.


"Bintang". Bintang menoleh saat Alva memanggilnya sambil menepuk pelan pundak gadis itu.


Keduanya tengah berada di lobby, bersiap untuk pergi makan siang bersama.


"Mau makan dimana?". Tanya Alva namun Bintang yang tidak fokus tak mendengar pertanyaan Alva.


"Kebiasaan deh". Gumam Alva saat Bintang justru terfokus pada satu titik.


"Nggak mungkin. Apa yang kamu harapkan emangnya, Bintang". Gumam Bintang saat sosok yang ia lihat ternyata bukan Langit.


"Kamu lihat apaan sih?". Tanya Alva yang kini mengikuti arah pandang Bintang.


"Hah? Apa?". Tanya Bintang yang terlihat bingung.


"Kamu dari tadi ngelamun, liatin apa?", Tanya Alva mengulang pertanyaannya.


"Eng-enggak liat apa-apa kak. Ayo". Bintang berjalan meninggalkan Alva yang terlihat sedikit kebingungan.


----


Bintang meregangkan ototnya sebelum turun dari mobil barunya. Satu hari lagi sudah terlewati dengan baik.


Ia akan kembali kedalam unit apartemennya, tempat tinggal barunya. Tempatnya menumpahkan segala kesedihan dan kegundahannya tanpa akan ada yang tahu bahkan jika dirinya menangis sekalipun. Tempatnya menikmati kesepian dalam kesendirian.


Ponselnya bergetar saat ia membuka pintu mobil. Nama bunda terpampang jelas dilayar ponsel, membuat Bintang menyunggingkan seulas senyum.


Segera ia usap layar ponselnya dan menempelkan benda pipih itu ditelinganya.


Seperti yang sudah-sudah, bunda akan menanyakan keadaan Bintang dan segala kegiatannya hari ini.


Perhatian bunda memang tak pernah berkurang meskipun kini gadis kecilnya itu sudah beranjak menjadi seorang wanita dewasa.


Bintang melangkah ringan menuju lift yang akan mengantarkan dirinya ke unit apartemennya. Tak mematikan sambungan telepon bahkan hingga kini dirinya sampai didalam apartemennya.


"Iya bunda, ini Bintang baru masuk kedalam apartemen". Bintang menghempaskan tubuhnya diatas sofa ruang tamu setelah sebelumnya melepaskan sepatu yang ia kenakan yang meletakkannya dirak yang ada didekat pintu.


"Iya..Bintang pasti jaga kesehatan. Bunda juga, jaga kesehatan bunda ya.." Setelah beberapa saat saling menyapa untuk melepas rindu, sambungan telepon terputus.


"Aaah..males banget mau mandi". Gumam Bintang yang masih tiduran diatas sofa.


Tak ingin berlarut dengan rasa malas, Bintang memaksa tubuhnya bangkit. Namun baru satu langkah mendekat ke kamarnya, bel rumahnya berbunyi.


"Siapa yang dateng?". Gumam Bintang. Pasalnya belum ada yang tahu tempat tinggal barunya, kecuali Bulan.


"Bubul kali ya.." Kembali bergumam sembari berjalan mendekati pintu.


"Kejutaaan!!!". Bintang sampai mundur satu langkah saat orang-orang yang datang berteriak kompak hingga membuatnya terkejut.


"Bisa nggak sih, kalo dateng pada salam jangan teriak-teriak". Mengomel meski tak didengarkan oleh teman-temannya yang justru berjalan masuk melewati Bintang.

__ADS_1


Ya, tamu yang datang adalah Bulan serta teman-teman semasa SMA nya.


"Waaah, gini sih aku juga mau tinggal sendiri". Nindy yang terlihat paling semangat dan paling heboh.


"Sama Nin, enak ya". Ardi dan Nindy sudah duduk santai di sofa ruang tamunya.


"Kenapa nggak ngabarin dulu mau kesini?". Tanya Bintang sambil menatap Bulan.


"kan kejutan". Bulan mengedipkan sebelah matanya pada Bintang yang hanya mencebikkan bibirnya.


"Kamu jangan kedip-kedip genit gitu sama orang lain. Cuma boleh gitu ke aku". Bintang memutar bola matanya melihat laki-laki yang baru saja masuk langsung merangkul pundak Bulan dengan mesra nya.


"Woi lah, pengertian dikit sama yang masih jomblo". Roman yang baru masuk bersama Arsen langsung meledek Bintang yang terlihat kesal.


"Kalian pada ngapain kesini?", Tanya Bintang galak karena tahu jika teman-temannya hanya akan meledek dirinya dan statusnya.


"Liat aja nanti. Pas reunian aku ajakin kak Alva, pingsan kalian semua". Tertawa jahat meski hanya dalam hatinya.


"Kita tuh temen yang baik dan pengertian, Bin. Makanya mau kesini ngerayain rumah baru kamu". Nindy yang menjawab didukung teman yang lain.


"Kamu disini sendiri Bin?". Tanya Iwan. Lelaki yang selalu menempel pada Bintang semasa kuliah hingga tak ada satupun mahasiswa yang mendekati Bintang, Iwan si mantan ketua kelas saat SMA dulu, karena kedekatan Iwan dengan Bintang, bahkan banyak yang mengira keduanya sepasang kekasih karena kedekatan mereka berdua.


"Iya.." Sahut Bintang yang tengah membuka kulkasnya untuk mencarikan minuman untuk teman-temannya.


Tak lama Bintang kembali dengan nampan berisi berbagai macam minuman kemasan yang memang selalu ada didalam kulkasnya.


"Kita boleh liat-liat rumah nggak?", Tanya Nindy bersemangat. Diantara yang lain, memang Nindy yang paling bersemangat.


"Emang ada apa?". Ardi bertanya karena penasaran.


Kedekatan mereka sebagai teman membuat mereka tak pernah memberi batasan pada satu sama lain. Meski begitu, mereka masih saling menghargai dan menjaga batasan mereka masing-masing.


"Soalnya didalem masih ada kenangan dari Langit". Bukan Bintang, namun si menyebalkan Roman.


"Aku jadi penasaran deh". Nindy tersenyum jahil membuat Bintang memelototinya.


"Kalo penasaran, mending liat aja". Dengan santai Sam mempersilahkan, seolah dirinya adalah pemilik rumah.


"Sam.." Tegur Bulan lembut, membuat Sam meletakkan kepalanya di pundak Bulan.


Arsen hanya diam menyimak sejak tadi karena sibuk dengan ponselnya. Anak-anak yang dulu hanya tahu menghabiskan uang itu, kini sudah berhasil menjadi pengusaha muda yang sukses.


"Dasar bucin". Cibir Bintang saat melihat Sam yang terus menempel pada Bulan. Bahkan Sam tidak membiarkan Bulan menjauh barang sejengkalpun.


"Jangan sirik deh yang jomblo". Arsen bersuara setelah bungkam sejak tadi. Membuat Bintang menatapnya kesal.


"Kaya yang ngomong nggak jomblo aja sih. Ngeselin". Sungut Bintang.


Perdebatan Bintang dan Arsen maupun dengan Sam atau bahkan dengan Roman bukan hal yang baru.


"Satu lagi..aku udah nggak jomblo". Selepas kalimat itu meluncur dari mulut Bintang, suasana mendadak hening.

__ADS_1


Semua menatap Bintang dengan sorot mata yang sama. Meminta penjelasan atas apa yang Bintang ucapkan. Tidak terkecuali Bulan, sahabat baik Bintang itu juga terlihat terkejut.


uhukk..uhukk..


Roman dan Arsen yang tengah minum sampai tersedak karena ucapan Bintang.


Sementara itu, tersangka yang membuat semua orang terkejut nampak santai bahkan terlihat bangga sekali bisa membuat semua temannya tak mampu berkata-kata.


"Emang segitu ngenes nya apa. Gitu banget sih reaksi kalian". Batin Bintang memelas. Jelas Bintang berbohong, karena ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi teman-temannya itu.


"Beneran Bintang udah punya pacar? Kenalin dong", Nindy yang selama ini mengira Bintang belum bisa melupakan Langit tampak antusias mendengar Bintang memiliki kekasih.


Sementara Roman dan Arsen serta Sam nampak saling menatap dengan sorot mata yang hanya dipahami oleh ketiganya.


"Ada deh.." Bintang senyum-senyum sendiri. Membuat teman yang lain percaya dengan ucapan Bintang tentang dirinya memiliki pacar.


Sam melirik Arsen yang langsung menggelengkan kepalanya. Entah apa yang mereka bicarakan lewat bahasa tubuh mereka itu.


"Boong kali. Jangan-jangan kamu belum punya pacar ya, Bin?". Ardi menatap curiga, disusul tatapan curiga Sam dan yang lain.


"Enggak dong. Emang aku segitu nggak laku nya apa". Mencebik kesal karena teman-temannya menatap curiga padanya.


"Lagian mana ada cowok mau sama kamu. Galaknya nggak ketulungan". Entah mau percaya atau tidak. Namun Arsen terlihat gelisah mendengar pengakuan Bintang.


Bukan hanya Arsen, Iwan juga terlihat gelisah sejak tadi setelah Bintang mengaku memiliki kekasih.


Bulan hanya diam menyimak, memperhatikan mimik wajah sahabat baiknya untuk menebak apa yang sebenarnya tengah dilakukan sahabat baiknya itu.


Bulan tau pasti, hati Bintang masih terpaut kuat dengan sosok laki-laki yang telah mencuri hati dan cinta nya.


Dan sekarang ini Bintang mengaku memiliki kekasih. Padahal sebelumnya Bintang tidak bercerita apapun pada Bulan tentang sosok lelaki manapun kecuali Langit.


Bintang yang merasa diperhatikan oleh Bulan segera memalingkan wajahnya. Tak ingin Bulan tahu jika semua ucapannya adalah sebuah kebohongan.


"Sam, lepas dulu dong.." Sam benar-benar menempel pada Bulan. Enggan sekali melepaskan wanita yang berhasil membuatnya bertekuk lutut itu.


"Kamu mau kemana sih?". Tanya Sam yang masih menempel pada Bulan.


"Mau ke Bintang sebentar". Sahut Bulan lembut.


"Jangan sama Bintang te--"


"Jangan mulai deh Sam.." Tegur Bulan yang kadang kesal dengan keposesifan Samudra.


"Iya-iya.." Mengalah daripada cinta nya marah, akhirnya Sam membiarkan Bulan mendekati Bintang.


Setelah kepergian Bulan. Roman dan Arsen serta Iwan mendekat padanya. Sementara Ardi dan Nindy sibuk melihat-lihat isi apartemen Bintang yang membuat mereka terus berdecak kagum.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Pagi readers😊 segini dulu ya, jangan lupa like komen nya..dikasih kembang sama kopi juga mau banget🤭😅...

__ADS_1


...Sayang readers banyak-banyak🥰 sarangheo♥️♥️💋😘😘😘🥰...


__ADS_2