
Bintang kembali menghela nafas panjang saat memasuki kelas. Sapaan teman-temannya yang terasa kaku membuatnya tak nyaman.
Jika murid itu berasal dari kelas lain, Bintang tidak ambil pusing. Tapi ini? Mereka sudah berteman dua tahun lebih, akan sangat canggung dan aneh jika sampai mereka berubah.
"Jangan pada kaya gini dong guys..gw tetep Bintang. Bintang yang pada lo kenal selama ini kok". Ucap Bintang membuat teman-temannya menoleh.
"Nggak akan ngerubah apapun meskipun gw anaknya bokap gw". Eh, gimana?? Ya iya kan memang anak ayahnya ya😂
"Lagian yang punya ni sekolah kan bokap. Bukan gw, jadi jangan pada berubah". Saling lirik satu sama lain, kemudian menatap Bintang dan akhirnya mengangguk sambil tersenyum.
Bukan maksud mereka ingin berubah. Hanya saja mereka merasa selama ini sangat lancang memperlakukan Bintang. Padahal Bintang saja tidak ambil pusing.
"Lo semua tuh selama ini udah baik banget sama gw. Nerima gw jadi teman meskipun gw masuk ni sekolah cuma lewat jalur beasiswa".
"Gw penasaran sih Bin, kan bokap lo yang punya sekolah. Terus ngapain masuk sini pake jalur beasiswa??". Nindi sudah dalam mode kepo, ia sudah bertanya tanpa canggung.
"Iya ya, padahal mau elo nggak masuk tiap hari juga nggak akan kenapa-kenapa kan Bin?". Ardi ikut bersuara.
"Untung bukan elo anaknya pak Henry". Iwan menoyor kepala Ardi yang langsung nyengir kuda.
Teman-teman yang lain juga sudah ikut mendekat. Mereka pun sama penasarannya, alasan apa yang mendasari Bintang memilih menggunakan jalur prestasi daripada masuk dengan status sebagai anak seorang pemilik sekolah.
"Kalo gw masuk kesini pake nama bokap gw, gw nggak akan dapet temen-temen kaya elo-elo semua. Temen gw modelan si kucing garong. Berteman gara-gara status sosial doang". Jelas Bintang membuat teman-temannya manggut-manggut.
Tidak salah jika mereka mengagumi sosok Bintang selama ini. Dan kekaguman itu kini semakin besar saja setelah mengetahui kenyataannya.
"Pak Baskoro gimana Bin? Sejak kejadian itu, kita nggak pernah liat pak Baskoro lagi sih". Tanya teman yang lain.
Bintang mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Karena sesungguhnya ia memang benar-benar tidak tahu bagaimana kelanjutan nasib laki-laki yang menamparnya itu.
"Seriusan lo nggak tau?". Tanya Nindi yang terlihat paling penasaran.
"Bokap nggak ada ngomongin sih. Gw juga nggak nanya, nggak pengen tau". Sahut Bintang bicara sebenarnya. Ia memang tidak ingin tahu bagaimana nasib pak Baskoro. Semua keputusan ia serahkan pada ayah dan kedua kakaknya.
"Tapi lo kemaren keren banget sih ngehajar si Catherine. Gw puas banget liatnya". Nindi dengan penuh semangat berbicara. Sudah satu minggu ia tahan untuk memuji Bintang, dan kini semua itu ia sampaikan.
"Iya, dia babak belur. Tapi Bintang juga babak belur". Bulan yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara mendengar semangat teman-temannya.
__ADS_1
"Si Catherine masuk juga hari ini. Barusan gw liat". Seorang teman Bintang yang baru datang langsung heboh membicarakan Catherine.
"Eh, Bin. Lo juga masuk ya..hehe". Tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal saat melihat Bintang yang tertawa melihat dirinya.
"Masuk lah. Masa si kucing aja udah masuk, gw enggak". Teman yang awalnya canggung itu menjadi tenang kembali melihat Bintang tidak berubah.
"Dimana si kucing?". Tanya Bintang membuat teman-teman satu kelasnya langsung panik. Apalagi wajah Bintang yang tiba-tiba terlihat serius tanpa senyum sedikitpun.
"Lo mau apa?". Tanya Bulan yang juga panik.
"Urusan gw ama dia belom kelar. Dia belom minta maaf ama elo". Semakin panik saja teman-teman Bintang, terutama Bulan. Kalau sampai Bintang mendatangi Cath dan memaksanya meminta maaf pada Bulan, maka mungkin saja kejadian satu minggu lalu kembali terulang.
"Nggak usah. Gw juga udah sehat, kaki gw baik-baik aja. Gw juga nggak butuh maaf dia". Bulan menggerakkan kakinya, meyakinkan Bintang jika dirinya benar-benar sudah baik-baik saja.
"Ya tetep aja dia harus minta maaf". Ucap Bintang yang kini sudah berdiri dan siap keluar kelas.
"Aduh gimana nih?". Nindi jadi semakin panik. Kejadian satu minggu lalu masih jelas teringat olehnya. Bagaimana brutalnya pertarungan Bintang daan Cath yang dibantu dua temannya.
"Cegah lah!". Ardi menoyor kepala Nindi dan segera menyusul Bintang bersama Bulan dan Iwan yang sudah lebih dulu.
"Iya Bin..Bulan bener. Mending biarin aja". Iwan ikut membujuk.
"Tapi kan dia salah ke Bulan, Wan". Bintang menatap Iwan. Sang ketua kelas dengan segala pemikiran dewasanya.
"Iya gw tau. Tapi Bulan udah baik-baik aja Bin.." Iwan menunjukkan kaki Bulan yang sudah sembuh sepenuhnya.
"Lagian kalo sampai lo datengin Catherine terus bikin masalah lagi ama dia, orang-orang bakal mikirnya elo gunain status lo sama kekuasaan bokap lo buat bertindak semena-mena". Bintang diam sebentar, memikirkan ucapan Iwan yang memang benar adanya.
Tapi tetap saja, ia masih menyimpan dendam pada Catherine karena membuat Bulan terluka.
"Gw cuma mau nyuruh dia minta maaf doang kok. Nggak akan bikin ribut". Iwan menghela nafas, Bintang tetaplah Bintang. Gadis yang sejak dulu memang keras kepala jika menyangkut Bulan.
Iwan menatap Bulan, meminta Bulan membantunya meyakinkan Bintang. Ia tidak percaya jika tidak akan timbul keributan jika sampai Bintang menghampiri Catherine.
"Udah lah, Bin. Lagian buang-buang tenaga tau ngurusin dia". Bulan tak melepaskan tangannya. Ia masih memegangi lengan Bintang.
"Lo yang buang-buang tenaga nasehatin si Bintang. Harus kaya gini biar cepet---"
__ADS_1
"Biawak!!!". Teriak Bulan dan Bintang bersamaan saat tiba-tiba Langit datang dan mengangkat tubuh Bintang seperti membawa karung beras di pundaknya.
"Turunin gw, Lang!!". Bintang memukul punggung Langit yang memanggulnya dan membawanya kembali ke dalam kelas. Sementara Bulan mengambil sejumlah uang yang berserak karena terjatuh dari saku baju Bintang saat Langit memanggulnya.
"Lo tuh di nasehatin susah banget sih, Bin. Udah nggak usah lagi ngurusin si Catherine. Buang-buang tenaga aja". Seolah tak merasakan sakit karena Bintang memukul punggungnya, Langit tetap berjalan tenang memasuki kelasnya.
Dibelakangnya, Iwan dan Bulan berjalan mengikuti dan bernafas lega. Untung Langit datang tepat waktu sebelum Bintang benar-benar pergi mencari keberadaan Catherine.
"Lo bener-bener ya, kaga bisa ditinggalin bentar. Udah mau bikin heboh seisi sekolah lagi aja". Langit menurunkan Bintang dan mendudukkannya dikursi milik Bintang.
"Mau gw kunciin dirumah aja?". Bintang mencebik, karena Langit mengurungnya dengan bertumpu pada kedua lengan kokohnya.
"Catherine ama bokapnya tu udah jadi urusan ayah, mas Dewa sama kak Juna. Lo udah nggak usah mikirin mereka". Semua teman sekelas Bintang saling menatap satu sama lain mendengar Langit memanggil orang tua dan kakak Bintang dengan sebutan ayah dan mas, kakak?
Otak mereka yang baru berisitirahat setelah kejadian satu minggu lalu itu, kini dipaksa untuk kembali berpikir tentang hubungan Langit dan Bintang.
"Gw juga nggak mau ngurusin bapaknya si kucing, urusan gw ama si kucing. Dia harus minta maaf sama Bulan". Langit menghela nafas kasar. Memang susah jika sudah berkaitan dengn Bulan.
"Bul!". Panggil Langit yang langsung dijawab oleh Bulan.
"Lo mau Catherine minta maaf ama elo? Kaki elo gimana? masih sakit?", Bulan tahu mengapa Langit menanyakan itu.
"Enggak! Gw nggak butuh maaf tu orang, kaki gw juga udah baik-baik aja, Bin". Jelas Bulan yang juga ingin menjauhkan Bintang dari Catherine.
"Udah deh, kali ini gw setuju ama Langit". Bintang mencebik, namun akhirnya menurut apa yang Bulan dan Langit serta teman lainnya sarankan.
"Kenapa lo tadi ninggalin gw?". Tanya Langit yang baru ingat ingin mengomeli Bintang karena kembali meninggalkannya berdua dengan Arsen.
"Masih nanya?". Bintang balik bertanya.
"Udah bisa kita tinggalin, Wan. Pawangnya udah ada". Bulan menepuk bahu Iwan yang terkekeh mendengar ucapan Bulan.
Tapi kalau dipikir memang benar adanya. Kedua orang yang dulu bagaikan tikus dan kucing itu kini seperti sesuatu yang saling melengkapi. Tidak salah Bulan menganggap Langit sebagai pawangnya Bintang, maupun sebaliknya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Double up ya..semoga suka juga☺️☺️☺️...
__ADS_1