
"Lang..hp lo nggak ada". Bintang keluar dari ruang rawat Langit dengan wajah bingung.
Lebih bingung karena melihat kedua orang tuanya dan orang tua Langit ada disana tengah berkumpul dengan wajah tegang.
"Ah, iya..gw lupa. Ini hp gw". Langit merogoh sakunya dan menunjukkan ponsel pada Bintang yang mencebikkan bibirnya.
"Ish, pantesan gw cariin dikamar lo nggak ada". Ucap Bintang yang berjalan mendekati Langit.
"Ayah sama bunda ngapain disini?". Tanya Bintang dengan alis berkerut.
"Bintang kirain udah pulang". Ucapnya lagi sambil berdiri disamping sang bunda kemudian menatap Langit.
"Kalian mau kemana?". Tanya daddy mengalihkan pembicaraan sebelum Bintang semakin banyak bertanya tentang mengapa mereka berkumpul disana.
"Bintang mau ajakin Langit ke taman dad..pasti bosen di kamar terus". Ucap Bintang tersenyum menatap Langit. Senyum yang mampu membuat hati Langit berdenyut.
"Sebentar lagi..sebentar lagi gw nggak akan bisa liat senyum lo itu. Bin.." Batin Langit ingin menangis. Bohong, bohong jika Langit bilang baik-baik saja. Karena pada kenyataannya, hatinya belum siap, bahkan mungkin tidak akan pernah siap meninggalkan Bintang.
"Pakai kursi roda aja sayang. Kasian Langit.." Usul Bunda yang merasa kasian melihat Langit masih kesulitan berjalan.
"Nggak mau. Tadi juga Bintang udah tawarin kok". Ucap Bintang yang sebenarnya juga ingin Langit duduk dikursi roda saja.
"Langit udah nggak apa-apa kok bun. Pengen sambil latihan jalan aja". Bunda mengangguk. Ia bisa melihat sorot kesedihan dimata Langit. Meskipun coba ditutupi, namun masih jelas terlihat.
"Ayo.." Ajak Langit pada Bintang yang langsung mengangguk semangat.
"Kita ke taman dulu ya.." Pamit Bintang dijawab anggukan kepala semua orang.
Dua pasang orang tua itu menatap punggung Bintang dan Langit yang semakin menjauh. Terlihat keduanya berjalan diiringi canda dan tawa. Sesuatu yang baru Bintang tunjukkan saat bersama Langit.
"Apa ini keputusan yang benar yah?". Tanya bunda menatap putrinya yang terlihat bahagia didekat Langit.
"Apa tidak bisa, Langit tetap disamping Bintang saja?". Tanya nya lagi, padahal pertanyaan pertamanya saja belum ayah jawab.
"Langit takut yah..takut sekali. Bintang pasti marah dan kecewa yah. Tapi nanti Langit akan datang lagi dan memperjuangkan Bintang lagi seperti sebelumnya". Ayah mengingat jawaban Langit saat ia bertanya apakah Langit tidak takut jika Bintang marah atau kecewa.
"Berikan Langit waktu satu minggu ini untuk bersama Bintang. Langit akan mengatakan semuanya pada Bintang nanti, Langit ingin membuat kenangan indah bersama Bintang meski hanya satu minggu". Langit mengungkapkan keinginannya yang disetujui oleh ayah maupun daddy nya.
"Kita doakan yang terbaik saja, bun". Ayah merangkul pundak istrinya dan mengelus lengannya.
"Aku takut dad.." Lirih mommy yang masih didengar selain suaminya.
"Aku takut Bintang membenci Langit.." Mommy sudah menangis meski tanpa suara.
__ADS_1
"Percayalah pada putramu. Dia pasti bisa..tidak. Mereka pasti bisa melewati semua ini, percayalah". Daddy memeluk istrinya guna menenangkannya. Ia pun sebenarnya tidak ingin jauh dari putranya, tapi ia juga ingin Langit berkembang dan menjadi Langit yang baru.
Sedangkan para orang tua sedang galau, Langit dan Bintang kini sudah duduk di taman rumah sakit. Duduk berdua menikmati semilir angin sore yang menyegarkan wajah mereka.
Dua hari terkurung didalam ruangan kamar rumah sakit membuat mereka merasa bosan.
"Lo kapan boleh pulang?". Tanya Bintang membuka pembicaraan. Ia merasa ada yang lain dari Langit. Laki-laki yang biasanya cerewet dan banyak bicara itu kini lebih banyak diam.
Langit menoleh, menatap Bintang yang tengah menunggu jawabannya.
"Ntar malem". Sahut Langit sambil terkekeh membuat Bintang mendengus.
"Gw nanya beneran Lang". Ucap Bintang
"Gw juga ngejawab beneran kok". Melihat wajah kesal Bintang begitu menyenangkan. Mungkin suatu saat itu yang akan sangat ia rindukan.
"Lang.." Rengek Bintang membuat Langit semakin gemas. Baru kali ini sepertinya Bintang menunjukkan wajah menggemaskan seperti itu.
"Besok gw udah boleh pulang". Jelas Langit sambil mengusap pucuk kepala Bintang dengan lembut.
"Beneran?". Tanya Bintang memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Langit.
"Besok gw ikut jemput ya?". Langit mengerjap. Ini benar-benar merupakan kejutan besar untuknya. Sikap Bintang sudah benar-benar banyak berubah sejak kejadian penculikan itu.
"Nggak boleh ya?". Tanya Bintang lesu.
"B-bukan gitu. Cuma kan lo juga butuh istirahat". Jelas Langit saat melihat pancaran wajah kecewa di mata Bintang.
"Gw udah sembuh kok.." Mata Bintang kembali berbinar. Menatap yakin pada Langit.
Langit tersenyum mengusap kepala Bintang. Kemudian tangannya turun untuk menggenggam tangan Bintang.
"Bin.." Panggil Langit membuat Bintang menatap Langit yang tengah menatap lurus ke depan.
"Maafin gw ya.." Alis Bintang berkerut sesaat kemudian tersenyum sambil menepuk punggung tangan Langit.
"Lo nggak salah, Lang. Jadi jangan minta maaf terus". Ucap Bintang membuat Langit menolehkan kepalanya menatap Bintang. Senyum manis Bintang benar-benar justru membuat hatinya takut.
Bintang memang tengah merasakan bunga bermekaran didalam hatinya. Selalu merasa bahagia setiap bertemu ataupun sekedar melihat Langit.
"Gw harus mulai dari mana?". Batin Langit menjerit setiap melihat senyuman Bintang. Membayangkan senyuman itu sirna, dan dirinya lah penyebabnya.
"Ini buat kebaikan Bintang. Ya! Ini buat kebaikan Bintang, Lang! Lo harus bisa!". Langit mengingat kembali semua ucapan sang daddy untuk menguatkan tekadnya. Jika apa yang akan ia lakukan untuk kebaikan Bintang, untuk kebaikan mereka.
__ADS_1
Akan ia hadapi meskipun nantinya Bintang akan membencinya. Dirinya akan berjuang, meski ada ketakutan jika nantinya akan ada laki-laki yang bisa membuat Bintang nyaman dan berpaling darinya. Apalagi Bintang belum pernah menyatakan perasaannya pada Langit. Membuat ketakutan Langit semakin besar.
Kembali hening, keduanya sama-sama menikmati kebersamaan mereka sore itu. Dengan jemari yang saling bertaut keduanya memejamkan mata sesaat untuk menikmati kehangatan yang merambat hingga ke hati mereka.
Hingga langit berubah jingga, menandakan sang surya yang akan kembali ke peraduan. Baru Langit dan Bintang kembali ke kamar Langit. Bintang akan mengantar Langit ke kamarnya sebelum pulang ke rumahnya nanti.
Mommy menyambut keduanya dengan senyuman hangat, pun dengan bunda. Meskipun dengan mata yang masih sedikit merah dan bengkak.
Sebenarnya itu cukup membuat Bintang berpikir. Apa gerangan yang membuat kedua ibu itu menangis.
"Sudah?". Tanya bunda dijawab anggukan kepala dua anak muda itu.
Bunda dan mommy saling menatap sesaat sebelum akhirnya tersenyum sedih saat melihat tangan kedua anak muda itu masih saling bertaut.
"Kata Langit, besok udah boleh pulang ya mom??". Tanya Bintang pada mommy Sekar yang langsung mengangguk.
"Besok Bintang ikut jemput Langit boleh nggak yah?". Tanya Bintang pada ayah Henry.
"Kamu mau ikut jemput Langit?". Tanya ayah dan Bintang langsung mengangguk.
"Boleh?". Bintang kembali bertanya.
"Tentu saja boleh". Ayah tersenyum hangat membuat Bintang tersenyum lebar kemudian menatap Langit yang juga menatapnya dengan senyum yang berbeda di mata Bintang.
Daddy memalingkan wajahnya dari Langit dan Bintang. Perasaan bersalah seolah menggerogoti hatinya. Jika senyuman kedua anak itu hilang nantinya, maka dirinya lah penyebab nya.
Mommy yang sadar mengelus lengan suaminya. Ia tahu suaminya juga tidak bahagia dengan apa yang sudah ia usulkan.
"Semua akan baik-baik saja, dad". Bisik Mommy dengan senyum teduh menenangkan membuat Daddy menganggukkan kepalanya pelan.
Akhirnya sore petang itu Bintang dan kedua orang tuanya pamit untuk membawa Bintang pulang.
"Besok gw kesini lagi ya.." Pamit Bintang disertai senyum cerah, membuat Langit ikut tersenyum.
"Nanti kabarin kalo udah nyampe rumah ya.." Bintang mengangguk. Pandangannya tentang Langit seperti dijungkir balikkan dibanding saat pertama mereka bertemu. Bagi Bintang kini, Langit adalah sosok laki-laki bertanggung jawab dan bisa dibilang type calon suami idaman.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Dikasih satu lagi pemirsah🤭☺️...
...Sementara dibikin galau dan meng sedih dulu sama kisah si nggak pernah akur ini ya, sebelum nanti kembali dipertemukan saat mereka dewasa😊...
...Happy reading semua🥰🥰🥰😘...
__ADS_1