
Bintang kembali ke sekolah setelah dua hari mengistirahatkan tubuhnya. Selama meliburkan diri, Bintang benar-benar menghabiskan waktunya untuk istirahat.
Tak ada berita apapun dari sahabatnya, itu artinya perkelahiannya dengan si kucing aman dari pengetahuan guru.
"Aku pergi bun.." Teriak Bintang.
"Aw.." Ia menoleh saat dahinya disentil seseorang.
"Anak perawan pagi-pagi udah teriak-teriak kaya tarzan". Bibir Bintang mengerucut, menatap sebal ayahnya.
"Sakit ayah.." Keluh Bintang membuat ayah Henry terkekeh.
"Makanya jangan teriak-teriak". Sam menimpali membuat Bintang mencebik. Hanya Dewa yang diam saja sambil memperhatikan adik perempuannya.
"Tumben pagi-pagi banget berangkatnya". Jam masih menunjukkan pukul 6 lebih 20 menit. Masih terlalu pagi dibanding hari-hari biasa Bintang berangkat ke sekolah.
"Pengen aja, kayanya seger pergi jam segini belum banyak asap kendaraan". Ucap Bintang jujur karena memang itu yang ingin ia lakukan.
"Tumben.." Ledek ayah dan Sam kompak.
"Ish, ngeselin". Desis Bintang yang terlihat semakin kesal digoda ayah dan kakaknya.
"Nih tumben sulung ayah nggak komen". Henry keheranan melihat Dewa yang diam saja sejak tadi. Tak biasanya si sulung membiarkan dirinya dan Sam menggoda Bintang tanpa menyertakan dirinya.
Ya, hingga kini Bintang masih belum mau bicara dengan kakak sulungnya. Sejak kejadian kakaknya ketahuan selingkuh itu, Bintang masih memasang wajah galak pada kakaknya itu dan tak mau menegur atau membalas sapaan kakaknya kecuali didepan ayah dan bunda. Sudah coba Kiran bujuk, tapi jawaban adiknya justru membuatnya tertawa.
"Belom mau ngomong sama mas Dewa. Aku masih mau mode marah aja. Belom puas ngambeknya". Kala itu bukan hanya Kiran, namun Naura juga tak bisa menahan bibirnya melengkungkan senyum.
"Marah aja pake pengumuman, dek". Gurau Kiran kala itu.
Ditanya oleh sang ayah membuat Dewa tersenyum simpul. Tak mungkin ia katakan yang sebenarnya, tanpa ia tahu, sang ayah sudah tahu apa yang terjadi sebelumnya.
"Udah diwakilin sama ayah sama Sam. Kasian kalo bertiga godainnya, nanti nangis". Dewa mencoba biasa saja meski tiap melihat tatapan permusuhan adiknya ia selalu salah tingkah dan merasa bersalah.
"Udah-udah. Ini ayah malah ikutan anak-anak godain Bintang". Bunda datang bagaikan malaikat untuk Bintang.
"Tuh dengerin istrinya ngomong. Nggak dimasakin baru tau rasa". Seolah mendapat dukungan, Bintang balas meledek ayahnya.
"Kan ada Naura.." Sam tak mau kalah. Jika sudah berdebat, adiknya memang menggemaskan dan membuat mereka semakin senang menggoda. Mereka tak tahu saja bagaimana galaknya Bintang jika digoda oleh teman lelakinya.
"Dih, mbak Naura lagi hamil. Nggak boleh capek-capek". Si bungsu yang tak mau kalah terus membalas.
"Ada mbakmu.." Timpal ayah. Bunda sampai geleng-geleng. Jika sudah dihadapan si bungsu, para lelaki dirumah itu benar-benar kehilangan wibawanya.
"Mbak Kiran sibuk.." Ketus Bintang membuat semua yang duduk diruang makan tertawa.
"Nggak laki banget, pada main keroyokan". Cibir Bintang membuat ketiga lelaki tersayangnya tertawa gemas.
"Bintang pergi dulu, Bun.." Pertama, Bintang mencium punggung tangan Bunda, dilanjutkan ayah dan kedua kakak lalu kakak iparnya.
"Apaan nih?". Tanya Bintang yang menatap tangan Kiran yang menjulur.
"Tambahan uang jajan buat adeknya mbak yang paling cantik.." Bintang tersipu dan langsung mengambil uang dari Kiran.
"Makasih mbak..sayang mbak Kiran banyak-banyak". Bintang langsung mencium pipi kakak iparnya dan memeluknya sekilas penuh ketulusan.
__ADS_1
"Ayah tiap hari ngasih uang, nggak pernah tuh dibilang sayang ayah banyak-banyak kalo kayak ke Kiran". Mode cemburu ayah langsung on.
"Dih, udah tua masa masih sirik ama yang muda. Nggak boleh kaya gitu tauuuu..." Bunda kembali tersenyum, si bungsu memang paling bisa menghidupkan suasana.
"Bekelnya dek.." Naura datang dengan lunch bag ditangannya.
Ah, betapa bahagia dan bersyukurnya Bintang. Memiliki ayah dan ibu serta kakak dan kakak ipar yang pengertian dan sangat menyayanginya.
"Makasih kak Naura.." Naura tersenyum dan mengangguk.
Bintang berjalan hendak keluar rumah, namun ia berbalik dan berlari menghampiri ayahnya.
"Bintang sayang bangeet sama ayah..banyak banyak banget". Bintang memeluk leher sang ayah dan mencium kedua pipi ayah nya yang langsung tersenyum senang.
"Bintang pergi dulu, semuanya. Daaaa..Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Semua orang kompak menjawab salam dari Bintang.
"Masih belum berhasil bun?". Bunda menoleh, menatap si sulung yang mengajukan pertanyaan.
Bunda menggeleng pelan dengan seulas senyum lembut. Membuat para lelaki kembali menghela nafas panjang.
"Nggak mudah mas..dia nggak gampang dibujuk". Kiran bersuara membuat semua mengangguk setuju.
Rupanya keributan disekolah sampai ke telinga ayah melalui seseorang yang ayah tugaskan untuk selalu mengawasi Bintang. Bahkan sebelum Bunda tahu, ayah sudah lebih dulu tahu. Pun dengan kedua kakak Bintang.
Karena itulah, mereka meminta para wanita untuk membujuk Bintang menunjukkan siapa dirinya yang sebenar-benarnya. Namun jelas semua itu bukanlah perkara mudah mengingat bagaimana keras kepalanya Bintang.
"Pelan-pelan yah..nanti kita bujuk perlahan. Lama-lama pasti anaknya mau". Bunda dapat melihat sorot penuh kekhawatiran dimata ayah. Karena bunda sangat tahu bagaimana berartinya sosok Bintang untuk ayah.
Bintang baru saja memarkirkan motornya. Ia melepaskan helmnya dan melihat ke sekelilingnya. Masih cukup sepi karena memang masih lama menuju bel masuk sekolah.
Dengan tenang, dirinya melangkah menyusuri lorong yang akan membawa dirinya ke kelas. Tersenyum membalas sapaan beberapa junior nya juga teman yang bertemu dengannya tanpa sengaja.
Hingga akhirnya ia tersenyum saat masuk kedalam kelasnya. Masih sepi, baru ada beberapa siswa, termasuk Iwan si ketua kelas.
"Gimana kondisi elo Bin?". Bintang menoleh dan tersenyum.
"Gue baik-baik aja, Wan". Jawab Bintang
"Syukurlah. Sorry kita nggak nengokin. Kata Bulan elo mau istirahat aja". Iwan menjelaskan alasan dirinya dan teman sekelas mereka tak datang menjenguk Bintang.
Bukan karena tak ingin. Namun Bintang sudah berpesan pada Bulan agar menyampaikan keinginannya untuk tidak dijenguk saja.
"Nyantai aja Wan. Gue yang minta kok..lagian gue baik-baik aja". Bintang tahu Iwan merasa tak enak karena tak menjenguk dirinya.
Obrolan keduanya berlanjut hingga Iwan pamit kembali ke meja nya. Sudah banyak yang datang namun Bulan masih belum menampakkan batang hidungnya. Sejak pagi pun sahabatnya itu tak bisa dihubungi membuat Bintang khawatir.
Bintang mengeluarkan ponselnya, mencari nomor Ibu dan kemudian menghubunginya. Tersambung, namun tak kunjung diangkat.
"Lo kemana sih Bul.." Gumam Bintang yang semakin khawatir.
Bintang segera menoleh saat ada seseorang duduk disampingnya. Namun senyum yang sempat mengembang langsung pudar saat bukan sahabatnya yang duduk disana. Melainkan lelaki yang masih ingin Bintang hindari sampai detik ini.
"Gimana kondisi lo?". Tanya Langit menatap Bintang. Sudah tak terlalu nampak luka cakar yang diberikan Cath dua hari lalu, hanya samar terlihat jika diperhatikan dengan jeli.
__ADS_1
"Baik". Sahut Bintang tak mau menatap Langit. Ia memilih kembali fokus pada ponselnya dan kembali mencoba menelpon Bulan.
"Bekas luka nya masih sakit?". Bintang melirik Langit dengan ekor matanya. Mengapa lelaki itu belum juga pergi, tak tahukah ia jika Bintang tak nyaman.
"Kaga. Udah sana balik ke bangku lo". Usir Bintang membuat Langit tersenyum tipis. Matanya masih terus menatap Bintang. Dilihat dari sisi manapun, Bintang terlihat cantik dan menarik.
Bel berbunyi dan Bulan tetap belum terlihat, membuat Bintang panik hingga tak mempedulikan Langit yang masih setia duduk disampingnya.
Meski khawatir, Bintang menyimpan ponsel kedalam saku nya. Ia tak mau kalau sampai ponselnya di sita oleh guru.
"Lo ngapain masih disini?".
Belum Langit menjawab, dua orang masuk kedalam kelas dengan nafas tersengal. Mereka adalah Sam dan Bulan. Kedatangan keduanya disambut tatapan bingung teman-teman sekelasnya. Terutama Bintang yang menatap kedua orang itu dengan mata memicing curiga.
"Pindah sono lo. Bulan udah dateng". Usir Bintang lagi. Namun lelaki itu tak bergerak sedikitpun.
"Awas Lang. Gue mau duduk". Kini Bulan yang mengusir. Namun Sam justru menarik Bulan dan mendudukkan Bulan di bangku milik Langit yang tepat ada disebelahnya.
Sontak yang dilakukan Sam membuat seisi kelas berseru untuk menggoda keduanya yang terlihat serasi.
"Pelajaran bu Wita, inget kan?". Saat Bintang hendak berdiri, Langit menahan tangan Bintang hingga seisi kelas kembali bersorak.
Bintang memukul pelan dahinya. Ia lupa dengan perintah bu Wita tentang Langit. Benar-benar s*al! Batin Bintang. Sementara Langit yang duduk disamping Bintang tersneyum penuh kemenangan karena Bintang tak bisa mengusirnya.
Suara dikelas padam seketika saat bu Wita masuk kedalam kelas dengan membawa tumpukan kertas. Dan mereka tahu apa artinya itu.
"Ulangan dadakan". Batin semua murid menjerit.
"Selamat pagi.."
"Pagi bu..." Sahut semua lemas.
"Iwan, Sam..bagikan pada semuanya". Yang dipanggil segera merapat dan menerima tumpukan kertas horor itu.
Semua siwa menatap kosong kertas diatas meja mereka. Inilah yang mereka tak suka dari guru matematika sekaligus wali kelas mereka. Selalu memberikan ulangan mendadak hingga membuat otak mereka berasap.
"Ibu harap kalian semalam belajar". Semua tampak lesu. Bahkan Bintang yang terkenal pandai saja terlihat lesu.
"Waktu kalian 60 menit. Mulai kerjakan dan jangan ada yang mencoba berbuat curang!", Semua murid menghela nafas panjang sebelum harus berjuang memeras otak mereka.
"Kerjain yang bener! Awas kalo nilai lo jelek lagi". Ancam Bintang menatap tajam Langit yang justru terkekeh pelan.
"Jangan cengengesan aja lo". Kembali Bintang bersuara.
"Bintang..cepat kerjakan". Tegur bu Wita yang melihat Bintang berbicara pada Langit.
"I-iya bu.." Bintang menutup rapat mulutnya dan mulai mengerjakan soal yang ada didepannya. Langit mengulum bibirnya menahan tawa. Bintang terlihat lucu jika ditegur guru seperti barusan.
"Lucu.." Batin Langit gemas.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
...Hai hai haiii...apa kabar semuaaa??? Insyaallah baik ya. Aamiin🤲🏻🤲🏻...
...Jangan lupa dukungannya ya semuaa, tampol like yang banyakbanyak..komennya jangan ketingagalan bestiee🥰😊😊🤭...
__ADS_1
...Sarangheo sekebon readers🥰🥰😘😘😘💐💐💋♥️...