Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
Dion dan kegilaannya


__ADS_3

"Bawa dia!". Setelah mencoba membujuk Bintang agar ikut dengannya secara sukarela dan Bintang menolak. Akhirnya Dion menggunakan cara lain untuk memaksa Bintang ikut dengannya.


"Jangan sampai dia terluka!". Teriak Dion pada beberapa orang suruhannya.


"Cih.." Bintang berdecih, menatap kesal pada Dion yang tersenyum padanya.


Bintang sudah mundur beberapa langkah dan memasang kuda-kuda, dan bersiap menghadapi serangan lawan.


Tiga orang laki-laki maju bersamaan menyerangnya. Namun dengan sigap Bintang bisa menangkis serangan dan bahkan membalas serangan mereka.


"Menarik, lo emang cewek menarik..Bintang". Gumam Dion yang terus mengawasi setiap gerakan Bintang yang terlihat gesit dan terlatih. Sepertinya gadis itu rajin berlatih dan mengasah kemampuan beladirinya. Batin Dion.


Dion merogoh ponselnya, merekam pertempuran yang sangat tidak layak itu. Bagaimana bisa tiga orang laki-laki bertarung melawan satu wanita. Namun itulah yang menarik di mata Dion.


"Oke Bintang..cukup bermain-mainnya". Gumam Dion yang sudah berdiri tegak dan memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.


Dua orang dari dalam mobil yang sejak tadi mengikuti Bintang akhirnya keluar setelah melihat Dion memberi perintah lewat gerakan tangannya.


"Lumpuhkan dia sekarang". Perintah yang diberikan Dion segera dilaksanakan oleh dua orang lelaki bertubuh besar itu.


Mendekat pada Bintang yang sedang sibuk meladeni serangan tiga orang lawannya. Bintang mulai kewalahan. Tenaganya jelas tidak sebanding dengan tiga orang laki-laki.


"S*al! Gw keabisan tenaga". Batin Bintang mengumpat.


Hingga tiba-tiba sebuah kain menutup mulut dan hidungnya dan membuat kepalanya pusing serta pandangan matanya mulai mengabur.


"Dasar licik!". Sebelum matanya benar-benar terpejam, Bintang sempat melirik sinis Dion yang tersenyum penuh kemenangan.


"Bawa dia". Ucap Dion membuat orang-orang bayarannya mengangguk dan kemudian mengangkat tubuh Bintang yang sudah tidak berdaya masuk kedalam mobil.


Sebelum Bintang dibawa pergi, Dion sempat mengambil ponsel Bintang. Kemudian menyimpannya, dan memerintahkan salah satu orang suruhannya untuk membawa motor Bintang agar tidak ada yang curiga.


Entah takdir macam apa yang menimpa Bintang ini. Bahkan tak ada satupun orang yang melewati kawasan itu pagi ini. Karena memang jalan ini jarang di lewati orang. Itulah alasan mengapa Bintang senang lewat jalan ini, ia bisa terhindar dari kemacetan dan cepat sampai ke sekolah.


Namun siapa sangka jika keputusannya pagi ini lewat jalan ini justru menjadi malapetaka bagi dirinya.


Dion menaiki motornya, kemudian melajukannya mengikuti mobil yang membawa Bintang.


Sampai di sebuah rumah besar, Dion memarkirkan motornya.


Dion menghampiri mobil, mencegah orang bayarannya yang hendak menggendong Bintang.


Lelaki itu memilih menggendong Bintang yang pingsan daripada membiarkan orang-orang nya menyentuh Bintang.


"Berapa lama efek obatnya?". Tanya Dion sambil berjalan memasuki rumah besar miliknya.


"Paling lama satu jam tuan, saya menggunakan dosis paling rendah". Sahut seseorang yang bertugas menyiapkan obat bius untuk melumpuhkan Bintang.

__ADS_1


Dion mengangguk, membawa Bintang masuk kedalam salah satu kamar di lantai bawah.


"Kalian keluar. Mungkin sebentar lagi akan ada tamu". Dion tersenyum membayangkan sosok yang akan melesat ke tempatnya ini saat ia mengirim foto Bintang.


"Perlu kami bantu tuan?". Tanya seseorang.


"Aku akan mengikatnya sendiri". Ucap Dion mengibaskan tangannya pada orang-orang suruhannya.


Dion membaringkan Bintang di sebuah sofa. Mengamati wajah cantik Bintang yang rupanya menarik perhatiannya sejak pertama kali melihat.


"Lo cantik..sayang banget, lo harus kaya gini karena deket sama baj*ngan-baj*ngan itu". Gumam Dion menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Bintang.


Cukup lama Dion mengamati wajah Bintang sebelum akhirnya mendudukkan tubuh Bintang yang masih tak sadarkan diri diatas kursi.


Dion mengikat tangan Bintang sebelum mengikat tubuhnya. Tak lupa Dion juga mengikat kaki Bintang.


Awalnya ia hanya akan mengikat tubuh Bintang saja. Tapi melihat bagaimana lihainya Bintang bertarung, membuatnya mengantisipasi hal-hal yang mungkin saja bisa dilakukan gadis itu.


Dion merogoh ponselnya, tentu tujuannya untuk mengirimkan foto dan mengancam Langit, musuh bebuyutannya. Namun ia teringat dengan ponsel Bintang yang juga sedang ia kantongi.


Dion mengambilnya, berpikir sejenak. Akan lebih seru mengirimkan foto Bintang dalam kondisi terikat begini dengan ponsel Bintang sendiri.


"Ceroboh". Gumam Dion saat mengusap layar ponsel Bintang dan ternyata tidak terkunci dengan kode. Dion seperti mendapat jackpot, semua rencananya di mudahkan.


Dion mengambil beberapa foto Bintang, kemudian mengirimkannya pada Langit. Ia juga mencari nomor ponsel Arsen di hp Bintang, namun tidak menemukannya. Akhirnya ia mengirimkan pesan pada Arsen dengan menggunakan ponselnya sendiri.


Apa tujuannya?? Jelas saja untuk meyakinkan Langit jika Bintang memang benar-benar ada bersama dengannya.


"Hahhaha..." Suara tawa Dion masih menggelegar bahkan setelah mematikan sambungan telepon.


"Ayo kita tunggu, seberapa cepat mereka sampai disini. Bintang.." Dipandanginya wajah Bintang yang masih tak sadarkan diri.


"Cantik.." Puji Dion.


Kembali ke waktu saat ini, Langit sudah melajukan motornya seperti orang kesurupan. Hatinya sudah tidak tenang membayangkan bagaimana kondisi Bintang.


"S*al!! S*al!! S*al!!!". Sepanjang jalan hanya bisa mengumpat dan terus menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Bintang.


"Maafin gw Bin..maafin gw". Lirih Langit dibalik helm nya.


"Gw nggak akan bisa maafin diri gw kalo sampe elo kenapa-kenapa Bin". Langit terus bergumam sepanjang jalan. Bahkan beberapa kali ia melanggar lampu lalu lintas.


Langit benar-benar tidak mengindahkan keselamatannya. Karena fokusnya hanya ada pada Bintang. Entah apa yang akan ia katakan pada semua keluarga Bintang dan juga orang tuanya jika sampai Bintang terluka.


"Aaaah!!!". Akhirnya keluar juga teriakan itu dari mulut Langit.


Jika saja dulu ia tidak pernah bermasalah dengan Dion. Jika saja dulu ia tidak salah pergaulan dengan anak-anak berandal itu, jika saja ia tidak pernah melawan Dion. Pasti Bintang tidak akan pernah ada dalam posisinya saat ini. Langit terus berandai yang tak mungkin mengubah apapun diwaktu ini.

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan Langit, Arsen pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Roman yang duduk di kursi belakang bahkan sampai memegang erat sabuk penganmannya.


Sementara Sam, lelaki itu seperti biasanya. Diam tak banyak bicara dan hanya fokus menatap jalanan yang mereka lalui.


Bintang mulai mengerjapkan matanya, merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya.


"Apaan ini? Kenapa nggak bisa gerak". Bintang coba menggerakkan tangan dan kakinya, namun tidak bisa.


"Lo udah bangun?". Bintang memaksa membuka matanya dengan sempurna saat mendengar suara seorang laki-laki.


"Lo..." Mata Bintang melebar. Kilasan kejadian beberapa saat lalu berputar dikepalanya.


"Dimana gw? Lepasin gw!". Sentak Bintang yang coba melepaskan tangannya.


"Wo wo wo..keep calm cantik. Tangan lo bisa luka". Bintang menatap Dion penuh kebencian.


"Apa mau lo?". Tanya Bintang sengit membuat Dion menyunggingkan senyum miringnya.


"Gw nggak punya masalah sama lo. Ngapain lo ngelakuin ini ke gw? Ini udah tindakan kriminal dan lo bisa dihukum atas apa yang lo lakuin sekarang ini!". Bukannya takut, Dion justru tertawa keras.


"Dia gila! Dia sakit jiwa Bin!". Bintang bergidik, sudut hati terdalamnya sedang ketakutan saat ini.


Ia belum pernah bertemu apalagi menghadapi manusia seperti Dion ini. Jujur ia sangat takut saat ini.


"Bunda..ayah, Bintang takut". Ingin menangis saja rasanya Bintang saat ini. Jika saja tadi ia menuruti perintah sang bunda dan berangkat sekolah dengan supir, dirinya tidak akan terjebak dengan manusia gila semacam Dion ini.


"Lang..tolongin gw". Entah mengapa, disaat seperti ini Bintang mengingat Langit.


"Jangan takut..gw nggak akan nyakitin elo kok". Bintang langsung memalingkan wajah saat Dion mengelus pipinya.


Ia merasa jijik disentuh oleh Dion. Apalagi tatapan Dion yang seolah ingin melahapnya utuh. Benar-benar membuat nyali Bintang ciut.


"Lo emang nggak pernah salah, apalagi punya urusan sama gw.." Dion mengamati wajah Bintang dengn intens.


"Tapi sayang..kenapa lo harus deket sama baj*ngan bernama Langit". Bintang langsung menoleh saat nama Langit disebutkan.


Ah s*al, harusnya ia tahu jika ini pasti ada kaitannya dengan Langit.


"Si brengs*k itu selalu ngehindar tiap kali gw ajak ketemu. Cuma dengan cara ini dia bakal sukarela dateng buat nyerahin nyawanya ke gw". Ucapan Dion diakhiri dengan tawa yang mampu membuat bulu kuduk Bintang berdiri.


"Laki-laki ini bener-bener gila. Dia sakit jiwa! Lo nggak boleh kesini Lang, gw mohon jangan kesini". Hanya batinnya yang mampu berteriak. Kini ia semakin takut, meskipun mengharap Langit datang menolongnya, namun dilain sisi ia juga mengharap Langit tidak akan pernah datang.


Bintang takut jika Dion benar-benar akan melukai Langit.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Hayoloh gimana ini? Mudah-mudahan Bintang sama Langit nya baik-baik aja ya🤲🏻😊☺️...

__ADS_1


...Segini dulu ya, dilanjut lagi nanti ya manteman semua☺️😊 Salam sehat semua nya, jangan lupa bahagia😘🥰 sayang readers banyakbanyak😘😘💐...


__ADS_2