
Alva merendahkan sedikit tubuhnya, meletakkan tangan kanannya dibelakang lutut Bintang, sedangkan tangan kirinya berada dipinggang Bintang.
Dan dalam sekali gerakan, Bintang sudah ada didalam gendongan Alva. Ya, Alva menggendong Bintang ala bridal style. Karena hanya cara itu yang terlintas dikepala Alva saat ini.
"Kapan lagi bisa gendong ni cewek" Batin Alva terkikik sendiri.
Sorakan bergema memenuhi seluruh lantai empat gedung megah itu. Apa yang Alva lakukan benar-benar mampu membuat semua berteriak heboh.
Kini teriakan itu semakin terdengar menggila saat Bintang mengalungkan tangannya dileher Alva.
"Jangan sampai aku jatuh ya, kak". Peringat Bintang yang sebenarnya takut.
"Woooow, pasangan kita yang satu ini sudah menemukan caranya untuk bertahan. Bagaimana pasangan lain? Mau mengikuti cara mereka berdua?? Atau punya cara sendiri?". MC benar-benar pandai menghidupkan acara.
"Nggak bisa dibiarin!". Geram Langit yang hendak menerobos kerumunan untuk menghentikan aksi Bintang dan Alva.
Namun dua temannya masih sangat waras untuk mencegah hal gila yang akan Langit lakukan nantinya.
"Tahan Lang! Jangan buat keributan!", Tegas Roman yang menahan Langit.
"Bintang pasti bakal malu banget kalo sampe lo kesana dan bikin keributan Lang". Arsen ikut bersuara. Berharap bisa mengembalikan kewarasan Langit.
"Tapi ini nggak bisa dibiarin!". Tangan Langit benar-benar sudah gatal ingin memisahkan Bintang dari laki-laki bernama Alva itu.
"Lo bisa temuin dia besok, Lang". Mengusulkan hal yang paling masuk akal agar Langit menurutinya.
"Lo masih punya banyak waktu Lang. Lagian lo udah tahu dimana dia tinggal sekarang kan?". Terus memberikan ucapan positif, itu yang dilakukan Roman dan Arsen.
Tatapan mata Langit tidak sedikitpun berubah. Mata itu masih menatap tajam lurus kedepan tepat dimana Bintang dan Alva berada.
Tangannya terkepal hingga otot-otot ditangannya menyembul dan rahangnya mengeras dengan sorot mata yang begitu tajam dan menusuk.
Sementara yang sedang asyik bermain game terlihat kegirangan.
"Kamu berat banget deh, Bin". Bintang langsung menatap galak pada Alva yang menggodanya.
"Kakak aja yang lemah kalo bilang aku berat. Orang langsing gini". Menyempatkan diri untuk berdebat dan semakin membuat orang menatap iri.
Apapun yang Bintang dan Alva lakukan malam ini terlihat romantis di mata semua orang yang melihatnya.
Entah kapan tumbangnya para lawan, tapi kini hanya menyisakan Bintang dan Alva saja sebagai pemenangnya. Bahkan Sam dan Bulan juga sudah menepi.
Terlalu asyik berdebat manja membuat mereka tidak menyadari jika keduanya keluar sebagai pemenang dari game kali ini.
"Duh, pasangan kita yang ini sibuk debat-debat manja ya sampai nggak sadar kalo udah menang". Mendengar suara MC yang disusul sorakan teman-temannya membuat Bintang dan Alva tersadar.
"Turunin kak.." Bintang menepuk pundak Alva beberapa kali agar menurunkannya.
__ADS_1
Alva melirik dengan ujung matanya. Ia dapat melihat Langit yang tak sedikitpun melepaskan tatapan tajamnya dari dirinya dan Bintang. Membuatnya menyunggingkan seulas senyum tipis.
"Kita sambit..salah. Maksud aku, kita sambut pemenang kita malam ini..pasangan fenomenal kita, Bintang dan Alvaro. Tepuk tangan semuanya". Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan diadakannya acara.
Wajah Bintang tampak berbinar dengan senyum seribu watt yang ia miliki. Alva bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah ayu itu.
Tidak sanggup lagi melihat kedekatan Bintang dengan laki-laki lain. Langit memutuskan keluar dari tempat diadakannya acara malam itu.
Tidak ada yang mencoba mencegahnya atau sekedar menyusulnya. Karena baik Roman maupun Arsen tahu jika saat ini Langit pasti membutuhkan ketenangan untuk menjernihkan pikirannya.
Sementara Langit pergi dengan perasaan sakit yang menghujam jantung dan hatinya, Bintang tengah merayakan kemenangannya bersama Alva.
Keduanya duduk setelah menerima hadiah dari pembawa acara. Jam yang cukup mewah untuk ukuran sebuah hadiah dari acara reunian.
"Kayanya kalau dijual lumayan ya, Bin. Bisa jajan ampe puas.." Berbicara sambil menatap jam couple berwarna hitam diatas meja.
Bintang tertawa menanggapi ucapan Alva yang terdengar konyol sekaligus matrealistis. Tapi ia juga membenarkan ucapan Alva. Toh jam tangan miliknya juga banyak.
Tapi ia tidak akan menjualnya. Meski tidak memakainya, ia akan tetap menyimpannya sebagai kenangan malam ini. Sebagai bentuk perjuangan Alva yang menahan beban tubuhnya selama lebih dari tiga menit.
"Kita simpen satu-satu ya kak.." Ucap Bintang mendorong pelan jam tangan milik Alva.
"Mau aku simpen buat kenang-kenangan". Gumam Bintang yang masih bisa didengar oleh Alva.
Acara selanjutnya sudah bebas. Panitia tidak membatasi peserta yang datang untuk melanjutkan pestanya malam ini.
"Ayo pulang". Ajak Alva membuat Bintang mendongak karena Alva sudah lebih dulu berdiri.
"Hem.." Berdehem kemudian ikut berdiri.
"Pamit sama yang lain dulu ya, kak". Gantian Alva mengangguk. Ia mengikuti Bintang yang berjalan menghampiri teman-temannya untuk berpamitan.
"Duluan ya..." Bintang berjalan sambil melambaikan tangannya pada teman-temannya.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Ia tidak menemukan yang ia cari. Ada sedikit perasaan kecewa saat dirinya tidak melihat keberadaan Langit. Padahal tadi dirinya yang sengaja menghindari Langit.
"Aku harap kita tidak akan bertemu lagi setelah ini, Lang. Aku benar-benar ingin melupakanmu". Terus coba membohongi dirinya dan mengatakan akan melupakan Langit.
Hal yang sudah Bintang lakukan selama enam tahun ke belakang namun tak pernah berhasil. Yang ada justru semakin ia berusaha melupakan, bayangan Langit semakin terpatri kuat dipikiran dan hatinya.
Entah sudah berapa kali Alva memanggil namanya. Namun tak ada respon dari Bintang karena ternyata gadis itu tengah asyik dengan lamunannya.
Ketika Alva menepuk pelan pundaknya, barulah Bintang tersadar.
Rupanya sejak tadi Alva memanggilnya karena merasa perutnya masih lapar. Mereka tidak makan dengan benar, hanya beberapa kue dan minuman saja yang masuk kedalam perut mereka. Itupun sudah mereka gunakan untuk bermain game tadi.
Dan disinilah mereka berada. Di sebuah warung tenda langganan Bintang sejak dulu.
__ADS_1
"Mang, biasa dua ya". Teriak Bintang pada si penjual yang langsung dijawab dengan acungan jempol.
Begitu datang, keduanya langsung menikmati makanan yang dihidangkan dihadapan mereka.
Alva yang baru kali pertama datang ke tempat itu berulang kali memuji rasa masakan yang begitu memanjakan lidahnya.
"Kapan-kapan kita harus kesini lagi". Ucapnya setelah menelan makanan yang ada didalam mulutnya.
"Pasti.." Sahut Bintang kembali melanjutkan makan malam mereka.
Sementara ditempat lain, seorang pria tengah mengamuk. Menghancurkan seluruh benda dikamarnya hingga tak berbentuk.
Dia adalah Langit. Rasa marah, kecewa juga sakit yang ia rasakan secara bersamaan membuatnya sulit mengontrol emosinya. Membuatnya kehilangan kendali atas dirinya dan melampiaskannya pada barang-barang tidak berdosa itu.
"Jangan tinggalin aku, Bin!!". Teriak Langit didalam kamarnya.
"Aku sudah kembali!! Aku sudah kembali sebagai laki-laki kuat. Laki-laki sukses yang akan melindungi kamu.."
"Aku mohon jangan berpaling". Suara Langit kian terdengar lirih memanggil nama Bintang.
"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama. Tapi percayalah, aku benar-benar sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa cepat kembali padamu". Kini wajah tampan itu sudah dibanjiri oleh air mata.
Bukan hal yang mudah untuk Langit. Bahkan ia sengaja tidak pernah menghubungi Bintang. Karena terlalu takut, takut jika mendengar suara Bintang memanggil namanya, ia akan berlari pulang dan memeluk kekasih hatinya itu. Sementara dirinya belum menjadi kuat seperti yang ia inginkan.
Bahkan kepulangannya kali ini pun lebih cepat dari jadwal yang ia tentukan hanya karena mendengar kabar bahwa Bintang memiliki kekasih.
Ketakutannya membuat Langit segera pulang untuk memastikan semuanya. Ia berharap Bintang hanya main-main dengan ucapannya.
Tapi sepertinya itu bukan hanya main-main atau sebuah kebohongan. Apa yang ia lihat diacara yang sengaja ia selenggarakan itu mampu membuat hatinya porak poranda.
Ya, Langit sengaja membuat acara itu. Berharap Bintang akan datang seorang diri seperti biasanya.
Ia sudah merencanakan akan memberi kejutan pada Bintang. Melamar kekasih hatinya itu dihadapan semua temannya dan hidup bahagia.
Namun sepertinya khayalannya terlalu tinggi. Bintang datang dengan seorang pria yang mengaku sebagai kekasih Bintang.
Hati Langit seperti dihancurkan berkali-kali malam ini, saat matanya harus melihat secara Langsung kedekatan Bintang dengan laki-laki bernama Alva itu.
Langit menangis, untuk kedua kalinya ia menangis karena seorang wanita. Wanita yang sama, yaitu Bintang.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Sabar ya Lang..nanti Bintangnya juga buat kamu kok Lang, beneran deh✌🏻✌🏻...
...Sekarang dipinjem dulu sebentar sama kak Alva ya. ,Lagian kamu pergi nya juga lama-lama amat sih Lang🤭...
...Pokoknya nanti Bintangnya dibalikin. Cuma dipinjem bentaran aja kok ya😁 Sabar-sabarin aja sama banyakin berjuang dan berdoa Lang. Insyaallah othor bantu👍🏻👍🏻...
__ADS_1