Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
bertemu musuh lama


__ADS_3

Masih ada waktu satu jam menunggu film yang akan mereka tonton di mulai. Membuat Langit berinisiatif mengajak Bintang untuk berjalan-jalan dulu sembari menunggu film mereka diputar.


"Ada yang mau lo beli nggak?". Tanya Langit menatap Bintang yang berjalan disampingnya.


Gadis itu menggeleng, hanya matanya yang menatap sekeliling.


Keduanya terus berjalan tanpa tujuan, hanya sekedar mengikis waktu agar tidak terasa.


Tiba-tiba Langit menarik tangan Bintang untuk ikut masuk kedalam toko assesoris. Membuat alis Bintang berkerut.


"Selamat datang..ada yang bisa saya bantu kak?". Kedatangan keduanya disambut ramah oleh seorang pelayan.


"Saya mau itu.." Telunjuk Langit mengarah pada dua buah topi berwarna hitam yang dipajang di etalase toko.


Pelayan toko tersenyum dan mengangguk kemudian bergerak mendekati barang yang diinginkan calon pembelinya itu.


"Yang ini kak?". Tanya pelayan toko dengan senyum ramahnya.


"Iya.." Sahut Langit cepat tanpa melepaskan tautan tangannya dan Bintang.


Sementara Bintang hanya mengamati saja apa yang dilakukan Langit tanpa niatan bertanya.


Perhatian Bintang justu teralihkan dengan sebuah kalung lucu. Dan rupanya Langit menyadarinya.


"Tunggu bentar ya..gw bayar dulu". Ucap Langit yang melepaskan tautan tangan keduanya.


Bintang menoleh kemudian mengangguk. Memperhatikan Langit sesaat kemudian kembali fokus pada kalung yang sejak pertama ia lihat sudah mencuri perhatiannya.


Bintang tersenyum, berjalan perlahan hendak mendekati etalase dimana kalung itu dipajang.


Namun senyumnya sirna saat seorang pelayan lain lebih dulu mengambil kalung yang sebenarnya ingin ia beli itu.


Kini, senyum yang tadi terpatri di wajah cantiknya sirna, berubah menjadi bibir yang mengerucut karena kalah cepat dari pembeli lain.


Merasa tidak ada benda lain yang menarik, Bintang memilih duduk di kursi yang ada didalam toko sambil menunggu Langit yang sedang menyelesaikan pembayaran.


"Lo mau beli sesuatu?". Bintang mendongak saat Langit sudah berdiri didepannya.


"Nggak ada..udah nggak ada yang menarik". Ucap Bintang melirik etalase toko yang tadi memajang kalung yang sebenarnya ia inginkan.


Bintang hendak bangun, namun Langit malah menahannya dan membuat nya kembali duduk.


"Eh, kenapa di lepas". Ucap Bintang kaget saat Langit melepaskan ikatan rambutnya. Membiarkan rambut Bintang tergerai indah.


Lebih kaget lagi saat kemudian Langit memakaikan topi yang baru saja ia beli ke kepalanya.


"Cantik.." Puji Langit sambil tersenyum.

__ADS_1


Ia kemudian mengeluarkan topi lain dari dalam paperbag yang ada ditangannya, lalu memakainya sendiri.


Jadilah kini keduanya memakai topi couple dengan warna yang sama, hitam.


Bintang mengerjap melihat Langit. Benar-benar seperti bayangannya. Langit semakin terlihat menawan dengan topi yang kini ia pakai.


Bahkan beberapa pengunjung yang mayoritas anak muda tampak melirik ke arah Langit yang kini masih berjongkok didepan Bintang.


"Ini apaan sih.." Langit menahan tangan Bintang yang hendak melepaskan topinya.


"Jangan dilepas, lo cantik banget pake topi.." Puji Langit membuat Bintang sedikit tersipu.


"Lagian ini bikin gw lebih tenang. Wajah cantik elo jadi sedikit ketutup, jadi nggak akan pada ngeliatin elo.." Bintang melongo dengan alis terangkat sempurna.


"Cih, bisa-bisanya! Nggak liat apa, tuh mata cewek-cewek udah kaya mau loncat keluar ngeliatin elo". Hanya batinnya yang mencibir tak suka. Bibirnya tetap terkatup rapat dengan wajah masam.


"Jangan cemberut, jadi tambah gemesin". Bintang mendengus mendengar Langit terus menggombal.


"Gw ganteng nggak??", Tanya Langit penuh semangat.


"Nggak!". Ketus Bintang membuat senyum dibibir Langit memudar. Berganti wajah murung dan kecewa.


"Jelek ya? Ya udah deh..gw lepas aja topinya". Kini giliran Bintang yang menahan tangan Langit saat hendak melepaskan topi yang dipakainya.


"Nggak usah di lepas!". Ketus Bintang. Gadis itu bahkan menurunkan topi Langit hingga membuat sebagian wajahnya tertutup.


"Siap tuan putri.." Ucap Langit yang sudah kembali tersenyum.


"Eh mau kemana?". Tanya Langit saat tiba-tiba Bintang menarik tangannya.


"Udah ayo, jangan kelamaan! Film nya keburu mulai". Langit keluar dari toko diiringi tatapan tak rela beberapa gadis yang juga sedang berbelanja disana.


"Duh, ganteng banget sih itu cowoknya". Bintang bahkan masih mendengar beberapa gadis memuji ketampanan Langit


"Iya! Emang ganteng, pake banget! Kenapa emang? Calon suami gw nih!". Ingin sekali Bintang berteriak demikian. Namun akal sehatnya masih berjalan normal.


Plak!! Bintang menampar hatinya untuk kesadarannya.


"Lo udah gila ya Bin? Ya!! Lo pasti udah gila ngakuin si biawak calon laki lo!". Marah-marah sendiri didalam hatinya sambil terus berjalan menyeret Langit yang terus tersenyum senang.


Rasanya ingin ia abadikan momen langka hari ini. Kapan lagi bisa melihat Bintang seperti saat ini?? Belum tentu ke depannya akan terulang lagi bukan?


"Filmnya belum mulai, gw beli minum dulu buat didalem". Bintang mengangguk kemudian duduk sambil menunggu Langit.


"Cih, liat. Dimana-mana selalu jadi pusat perhatian". Cibir Bintang yang kembali melihat beberapa gadis tampak menatap kagum pada Langit, bahkan tersenyum malu-malu.


"Masih senyum-senyum, padahal nggak diliatin". Terus mengoceh saja Bintang, padahal tidak ada yang mendengarkan juga.

__ADS_1


Masih terus menggerutu dan mencibir para gadis itu, hingga seorang lelaki menghampiri dirinya dan menyapanya.


"Hai.." Bintang mendongak, seorang pemuda yang mungkin seusianya berdiri didepannya dengan seulas senyum.


"Boleh duduk?". Tanya si pemuda lagi sambil melirik kursi sebelah Bintang yang kosong tak berpenghuni.


Dari kejauhan Langit melihat sosok pemuda yang berdiri didepan Bintang. Ia mempercepat langkahnya untuk segera sampai dimana Bintang berada.


"Mau apa lo!!", Sentak Langit yang langsung berdiri didepan Bintang setelah meletakkan dua gelas minuman disamping Bintang.


Sosok yang tadi berdiri didepan Bintang itu tampak mundur beberapa langkah melihat keberadaan Langit. Lalu sesungging senyum penuh misteri muncul dibibirnya.


"Gw? Gw cuma mau duduk..iya kan cantik?". Tanya nya pada Bintang yang kini sudah berdiri meski masih terhalang tubuh tinggi Langit.


"Jangan ganggu dia! Dan jangan macem-macem!". Peringat Langit penuh penekanan.


"Dia pacar lo?". Tanya si pemuda yang belum Bintang ketahui namanya.


"Bukan urusan lo!!". Desis Langit dengan sorot mata penuh permusuhan.


"keep Calm bro..gw cuma mau kenalan aja kok". Entah situasi macam apa ini. Tapi Bintang merasa jika situasinya mulai tidak kondusif.


"Gw peringatin ke elo, Dion. Jangan pernah ganggu orang dideket gw, kalo elo nggak mau lagi berurusan sama gw!".


"Dion? Siapa Dion ini?? Temennya Langit dulu? Tapi kayanya bukan sih. Musuhnya?? Bisa jadi sih..nggak tau deh ah". Pusing sendiri Bintang jadinya memikirkan siapa Dion ini dan apa hubungannya dengan Langit.


"Lang udah..ayo kita masuk. Pintunya udah dibuka". Bintang menarik sebelah tangan Langit.


Karena jika diteruskan, maka pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dan Bintang tidak mau lagi terlibat dalam hal-hal memusingkan seperti itu.


"Inget kata-kata gw!". Langit masih memberikan peringatan terakhirnya yang hanya dijawab gelak tawa penuh misteri oleh seseorang bernama Dion itu.


"Udah ayo.." Bintang menarik Langit, dan menyambar segelas minuman yang dibeli Langit sebelumnya.


Sebenarnya Langit membeli dua gelas minuman, namun karena Langit tidak hati-hati meletakkannya, satu gelas minuman jatuh dan tumpah. Hanya satu yang terselamatkan.


"Kita bakal sering ketemu, cewek cantik". Langit menoleh, menatap tajam Dion yang tertawa puas kemudian melenggang pergi setelah melihat kemarahan disorot mata Langit.


"Lang.." Panggil Bintang penuh penekanan, membuat Langit menghela nafas panjang guna menetralkan amarahnya yang tiba-tiba memuncak setelah bertemu musuh lamanya, Dion.


"Sorry.." Ucap Langit yang kemudian tersenyum. Melepaskan tangan Bintang yang mencekal pergelangan tangannya namun kemudian ia tautkan tangannya dan Bintang, ia genggam dengan lembut sambil memberikan senyum menawannya.


Dari kejauhan, Dion menatap interaksi Langit dan Bintang. Senyum smirk tercipta di bibirnya.


"Tuhan emang baik ke gw, Lang. Bahkan gw nggak perlu cari tahu apapun". Dan entah apa yang tengah dipikirkan pemuda itu ketika mengatakan hal tersebut. Hanya dirinya dan tuhan saja yang tahu apa yang ia pikirkan saat ini.


...¥¥¥•••¥¥¥...

__ADS_1


...Double up nya ya manteman semua, semoga suka yaaa🥰🥰🥰😊...


__ADS_2