Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
bakat hebat


__ADS_3

"Aku benci sama kamu, Lang". Bunda menatap sedih putrinya.


Bahkan dalam tidurnya saja masih menyebut nama Langit. Meskipun mengatakan membenci Langit, namun bunda masih melihat cinta di mata putrinya untuk laki-laki bernama Langit itu.


Bintang tertidur dalam pangkuan bunda setelah lelah menangis. Menumpahkan segala perasaan yang berkecamuk didadanya setelah kembali bertemu dengan Langit.


"Maafkan kami, nak". Lirih bunda mengelus kepala Bintang. Kemudian mengecup kening putrinya cukup lama.


Bunda menarik selimut, menutupi tubuh putrinya itu dari dinginnya angin malam ini. Dan kemudian keluar dari kamar tanpa mematikan lampu kamar putrinya. Karena Bintang termasuk orang yang tidak bisa tidur jika lampu dimatikan.


---


Pagi menyambut begitu cepat. Bahkan Bintang merasa baru saja ia memejamkan matanya. Dan kini sudah pagi lagi.


Bintang menatap jendela kamarnya, masih gelap. Saat melirik jam diatas nakasnya, waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi.


Duduk ditepian ranjang untuk mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer. Dan bangkit kemudian masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya pada sang pencipta hidup.


Menghela nafas panjang saat melihat pantulan wajahnya dicermin yang ada dikamar mandinya. Berulang kali memaki hatinya yang begitu lemah meski sudah dikecewakan.


Tak ingin larut dalam kesedihannya, Bintang segera memulai ritual mandinya sebelum sang fajar menampakkan dirinya.


Usai menjalankan kewajibannya, Bintang menengadahkan kedua tangannya. Berdoa pada sang pemberi hidup untuk kebaikan hidupnya ke depan. Meminta keselamatan dan kesehatan untuk dirinya, tak lupa untuk keluarga dan orang-orang terkasihnya.


Usai menjalankan kewajibannya, Bintang melipat dan merapikan kembali peralatan ibadahnya dan mengembalikan ke tempat biasa ia menyimpannya.


Bintang meraih ponsel semalam ia lemparkan asal keatas kasurnya. Butuh beberapa saat untuk menemukan kembali ponselnya yang ternyata terselip ke bawah selimu tebal miliknya.


Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenalnya, nomor yang sama seperti yang kemarin menghubungi dirinya, ada juga dari Alva yang dua kali menelponnya semalam dan juga mengirimkan pesan.


"Istirahat dan jangan terlalu memikirkan yang terjadi tadi, oke😉". Bintang tersenyum membaca pesan yang Alva kirimkan.


Lelaki baik dan pengertian itu benar-benar membuatnya merasa bersalah. Karena tak bisa membalas perasaan tulus yang diberikan padanya.


Bukankah harusnya mudah bagi dirinya untuk jatuh cinta pada lelaki sebaik Alva? Lalu kenapa sulit sekali membuka hatinya padahal jelas Alva selalu menunjukkan perhatian padanya.


Bintang meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Tak melihat pesan lain karena merasa enggan.


"Heuh, memang kamu pikir siapa kamu? Pergi sesuka hatinya dan kembali lagi seenaknya". Mulai memaki seseorang yang semalam kembali membuat dirinya menangis.


"Kamu pikir aku masih mencintai kamu? Dan berpikir akan kembali ke kamu setelah apa yang kamu lakuin ke aku enam tahun lalu?". Sepenuh hati ia memaki, namun sesaat kemudian menundukkan kepalanya.


"Hah, kamu benar. Aku masih menyimpan perasaan itu. Perasaan yang sama seperti enam tahun lalu, Lang". Lirihnya dengan senyum getir.


plak..!


Menampar dirinya sendiri agar sadar dan tidak terus larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan selama enam tahun ini.

__ADS_1


"Cukup Bintang!! Jangan lemah!". Mengingatkan dirinya sendiri untuk sadar.


Mengatur nafasnya, menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan supaya hatinya tenang.


Bintang berpindah ke meja yang dulu ia gunakan sebagai meja belajarnya. Ia meraih selembar kertas dan mencari pensilnya.


Hanya satu kegiatan itu yang bisa membuatnya tenang saat kembali teringat Langit dan segala kenangan mereka.


Selain mendesign perhiasan, Bintang juga kerap mengisi waktu luangnya untuk memdesign beberapa jenis pakaian. Termasuk gaun juga jas.


Namun belum banyak yang tahu. Hanya orang-orang terdekatnya saja termasuk Alva yang selalu menjadi tempatnya meminta pendapat tentang design nya.


Saat ini, Bintang tengah mendesign sebuah gaun pernikahan. Gaun idamannya jika suatu saat nanti menikah, ia ingin mengenakan gaun hasil rancangannya sendiri.


Meskipun entah kapan waktu itu akan tiba. Bintang juga mendesign gaun pernikahan juga jas untuk Bulan dan Sam yang rencananya akan melaksanakan pernikahan mereka dua bulan lagi.


Hasil rancangan Bintang sudah ia perlihatkan pada Bulan dan Sam satu bulan lalu. Dan sudah masuk ke penjahit langganan Bintang untuk pengerjaannya setelah calon pengantin itu menyetujuinya.


Sibuk dengan kertas dan pena nya, Bintang sampai tidak menyadari jika waktu sudah beranjak siang.


Jika ibundanya tidak mengetuk pintu dan memanggilnya, mungkin sampai tengah siang dia tidak akan keluar kamar.


Bunda sengaja tidak membangunkan Bintang saat sarapan. Karna berpikir pasti Bintang sedang ingin menyendiri atau bahkan mungkin belum bangun.


Bunda tidak tahu jika putrinya sudah terbangun sejak subuh tadi. Kini jam sudah menunjukkan pukul 10, oleh karena itulah bunda menyusul ke kamar Bintang. Bermaksud ingin membangunkan putrinya dan menyuruhnya makan.


"Sudah, bun. Sejak subuh tadi.." Terang Bintang sambil tersenyum.


"Lalu kenapa tidak turun untuk sarapan, sayang?". Menatap Bintang dengan tatapan bersalah karena tidak berpikir jika mungkin Bintang sudah terbangun.


"Sarapan? Memang ini jam berapa bun?". Tanya Bintang yang kemudian melirik jam diatas nakasnya.


Wajahnya menyiratkan keterkejutan saat melihat jarum jam menunjuk angka sepuluh. Terlalu asyik dengan design yang ada diatas mejanya membuat dirinya tidak menyadari waktu sudah bergulir cepat.


"Bintang kira masih pagi, bun". Bunda menggeleng, jika saja ia tak menyusul Bintang, mungkin sampai sore putrinya itu akan diam didalam kamar dan tidak akan makan seharian.


"Tinggalkan dulu itu semua, ayo turun dan makan". Bintang mengangguk dan menuruti perintah sang bunda.


Ia meninggalkan pensil dan kertas yang sudah terlihat design gaun cantik disana. Bunda melirik dan tersenyum bangga melihat hasil karya anaknya.


Bunda dan kedua menantunya sudah pernah dibuatkan design khusus oleh Bintang hingga saat menghadiri sebuah acara bersama para suaminya, mereka mendapat banyak pujian karena gaun dan juga perhiasan yang mereka pakai.


Gaun dan juga perhiasan yang tidak dijual dimanapun karena itu adalah hasil kerja keras Bintang.


"Aunty..." Baru saja sampai diruang makan, keponakannya sudah berteriak memanggilnya.


Sebenarnya Bintang cukup heran dengan Revan, mengapa pagi tadi bocah itu tidak menerornya dan mengajaknya bermain basket? Padahal biasanya jika weekend seperti ini, maka dirinya akan diteror oleh keponakannya itu.

__ADS_1


"Ayo kita main". Bintang tersenyum, baru juga memikirkan mengapa bocah kecil itu tidak mengganggu, kini malah sudah diajak bermain.


"Main apa?". Sahut Bintang menarik kursi dimeja makan dan kemudian duduk.


"Sini.." Revan melambaikan tangannya supaya auntynya merendahkan posisi kepalanya untuk memudahkan bocah itu berbisik.


Sudut bibir Bintang terangkat saat mulut mungil itu berbisik tentang jajanan baru yang dibicarakan oleh teman-teman sekolahnya.


"Oke bos, nanti kita pergi kesana". Mengedipkan sebelah matanya pada sang keponakan yang menanggapinya dengan teriakan penuh semangat.


"Sekarang aunty makan dulu, okay??", Revan mengacungkan jempolnya pada tante kesayangannya.


"Tapi aunty harus janji, pergi bersama Revan". Bintang mengangguk cepat


"Memang kalian mau kemana?". Bunda yang baru selesai menghangatkan sayur untuk Bintang bertanya.


"Mau jalan-jalan, nenek. Iya kan aunty?". Mencari dukungan dari si sesama penyuka jajan.


"Iya, bun. Habis makan, kita mau jalan-jalan". Keduanya memang sangat kompak soal jajan dan saling menutupi.


"Makan dulu, setelahnya baru kalian bisa pergi". Bunda mengelus kepala Revan dan Bintang bergantian.


"Pamit dulu sana sama mama papa kamu". Ucap Bintang yang dijawab gerakan hormat oleh Revan.


Dan apa yang Revan lakukan membuat Bintang tergelak keras. Menggemaskan sekali keponakannya itu.


"Lucu banget sih.." Gemas sendiri bahkan setelah Revan berlalu.


"Ayah dimana bun?". Tanya Bintang yang tidak melihat ayahnya. Padahal jika hari libur begini, sang ayah akan selalu menempel pada istrinya dimanapun dan kapanpun.


"Ada didepan..sama tanaman barunya". Bintang membulatkan mulutnya, dan melanjutkan sarapannya yang kesiangan.


"Kayanya sekarang tanaman yang paling disayang ya bun". Kelakar Bintang membuat bunda menggeleng pelan dengan seulas senyum.


"Ya, begitulah". Sahut bunda, kemudian kembali hening karena Bintang sibuk dengan makanannya.


"Bunda bangga dengan semua bakat yang kamu miliki sayang. Semua rancangan yang kamu buat begitu indah". Puji bunda tulus dari dalam hatinya setelah sesaat hening.


Bukan karena Bintang putrinya. Namun karna memang semua gaun dan perhiasan yang Bintang buat begitu menakjubkan.


"Makasih bunda sayang.." Memeluk sang bunda dan menghadiahkan kecupan lembut dipipi sang ibu.


¥¥¥•••¥¥¥


Kuat ya Bintang..nggak apa-apa kok nangis🥺 Othor juga kalo capek suka tiba-tiba nangis nggak jelas😅😅😂


Readers juga sabar ya..nanti pasti balik kok, judulnya aja udah 'Langit untuk Bintang' bukan 'Alva untuk Bintang'🤭😅

__ADS_1


Tapi harap sabar ya readers😘


__ADS_2