Langit Untuk Bintang

Langit Untuk Bintang
makan malam


__ADS_3

Kedatangan Langit dan Bintang disambut hangat oleh Bunda dan juga mommy. Bahkan sejak tadi mommy tersenyum menatap Bintang dan Langit.


"Ah, senangnya. Mommy punya menantu secantik Bintang". Bintang tersenyum kaku, sejak tadi mommy terus memuji dirinya hingga membuatnya malu.


Sore itu dihabiskan Langit dan mommy berdiam dirumah Bintang. Langit dan Bintang bahkan bermain basket bersama dihalaman yang memang biasa Bintang gunakan untuk bermain basket.


Keduanya menjatuhkan tubuhnya dengan peluh membasahi tubuh mereka. Nafas keduanya saling bersahutan, mencoba mengatur nafas mereka yang terengah.


Bunda yang hendak menghampiri kedua anak muda itu menghentikan sejenak langkah kakinya. Menatap keduanya dengan senyum merekah.


Perlahan kaki bunda bergerak mendekat pada Bintang dan Langit.


"Sudah selesai bermain nya?". Tanya bunda pada keduanya yang langsung mendongak, kemudian mengangguk kompak.


"Bersihkan diri kalian, jangan sampai terlambat makan malam nanti". Titah bunda pada keduanya.


"Langit pulang saja bun..sudah dari tadi juga disini". Langit merasa sungkan, ia sudah sejak tadi berada di kediaman Bintang.


"Makan malam saja disini. Bunda dan mommy sudah masak banyak tadi". Langit menatap Bintang. Takut jika gadis itu tidak mengijinkan dirinya. Namun Bintang tampak acuh saja, tidak bereaksi pada apa yang bunda perintahkan.


"Ayo cepat bersihkan tubuh kalian". Bunda kembali bersuara membuat keduanya bergegas bangkit.


"Sayang, minta tolong tunjukkan kamar tamu ya.." Bintang mengangguk tanpa sedikitpun berniat membantah perintah bunda.


"Ayo.." Ajak Bintang karena melihat Langit hanya diam saja.


"Hah, ah iya..ayo". Langit tergagap, kemudian berjalan cepat menyusul Bintang yang sudah lebih dulu melangkah.


Bunda kembali tersenyum sambil menggeleng pelan. Melihat Bintang dan Langit selalu berhasil membuat senyumnya mengembang.


"Disini". Bintang menghentikan langkahnya didepan sebuah pintu berwarna coklat.


"Gih sana masuk". Ucap Bintang saat Langit mematung didepan pintu.


"Ish, malah costplay jadi patung si biawak". Gerutu Bintang yang akhirnya membuka pintu kamar tamu.


"San masuk! Keburu bunda nyariin lagi ntar". Langit akhirnya menoleh, menatap Bintang.


"Apa?". Tanya Bintang saat Langit justru menatap dirinya.


"Gw nggak bawa baju ganti woi. Gw pulang aja deh, kaga enak abis mandi kaga ganti". Rupanya itulah yang sejak tadi Langit pikirkan.


Bintang ikut terdiam. Benar juga apa yang Langit ucapkan. Ia berpikir sejenak sebelum sebuah ide muncul di kepalanya.


"Pake kaos gw mau?". Tanya Bintang membuat Langit melotot.


"Kaos gw gede semua Lang. Cukup lah buat elo". Dan memang benar, semua kaos yang Bintang punya ukurannya ovesize. Karena memang itulah selera Bintang.


"Tapi nggak ada yang baru sih. Gw belom ada beli lagi soalnya". Sudut bibir Langit terangkat menyadari Bintang lebih banyak bicara dengannya daripada biasanya.


"Tunggu bentar, gw ambilin". Bintang berlari ke sisi yang lain, dimana kamarnya berada.


Tak butuh waktu lama, Bintang sudah kembali dengan beberapa kaos dan sepertinya juga membawakan celana untuk Langit.


"Pilih sendiri aja deh. Gw bingung mau pilihin yang mana". Langit menatap tak percaya pada tumpukan baju dan celana yang Bintang sodorkan.

__ADS_1


Semua baju dan celana itu lebih cocok dimiliki oleh seorang anak laki-laki daripada gadis cantik seperti Bintang.


"Ini punya lo?". Tanya Langit membuat Bintang langsung mengangguk.


"Ya lo kira punya siapa lagi". Ketus Bintang yang menyerahkan beberapa helai kaosnya dan celananya agar Langit bisa memilihnya sendiri.


"Kok belum pada mandi sih?". Mendengar suara bunda, Langit dan Bintang kompak menolehkan kepala.


"Ini bun, lagi cariin baju ganti buat Langit. Dia kan nggak bawa baju ganti bun". Bintang menjelaskan pada bunda.


"Bunda pinjamkan punya kak Juna dulu ya, maaf tadi bunda lupa". Langit segera mengibaskan tangannya.


"Nggak usah bun..pake ini aja. Muat kok". Bagaimana mungkin Langit melewatkan kesempatan untuk bisa memakai pakaian yang biasa Bintang kenakan. Ini kesempatan bagus untuknya.


"Tapi itu..." Bunda seolah ragu untuk mengatakannya didepan Bintang.


"Ah yasudah, kalian tunggu dulu disini ya. Sebentar lagi bunda kembali". Kedua anak muda itu saling menatap bingung. Tapi tetap menuruti perintah bunda.


Tidak lama, bunda kembali bersama mommy Sekar dengan membawa sesuatu yang Bintang tidak tahu.


"Bintang ke kamar dulu saja, mandi sama siap-siap buat makan malam ya". Bintang mengangguk dan pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap untuk makan malam.


"Saya tinggal dulu ya jeng.." Pamit bunda yang langsung dijawab anggukan kepala oleh mommy.


"Mommy kenapa ikut kesini?". Tanya Langit heran.


"Nih mau ngasih wadah optimus prime kamu". Langit melotot dan melihat ke sekelilingnya saat sang ibu menyodorkan ****** ***** padanya.


"Ngomongnya pelan dikit kenapa sih mom". Sungut Langit yang takut jika Bintang mendengar suara mommy.


"Ya nggak disini juga mom bahas optimus". Sengit Langit yang membuat mommy Sekar tergelak melihat wajah panik anaknya.


"Ini punya siapa mom?".


"Tadi mommy pinjem ke satpam depan". Mata Langit semakin melotot mendengar ucapan ibunya.


Tawa mommy meledak melihat wajah Langit. Memang sangat lucu menggoda anak lelakinya itu.


"Yang bener dikit dong mom". Langit mendengus karena sejak tadi mommy Sekar justru tertawa.


"Dikasih bundanya Bintang. Masih baru itu, punya Arjuna belum pernah dipake".


"Ngomong dari tadi kek. Pake bilang punya satpam depan segala". Gerutu Langit yang membuat mommy tergelak pelan.


"Udah sana cepet mandi. Bentar lagi ayahnya Bintang pulang". Langit mengangguk dan seera masuk ke dalam kamar tamu. Sementara mommy Sekar kembali bergabung dengan bunda yang tengah menata makanan ke atas meja makan.


"Sudah jeng?". Tanya bunda saat mommy kembali.


"Sudah.." Sahut mommy yang langsung membantu bunda menata makanan.


Bintang sudah lebih dulu selesai dan pergi keruang makan. Sudah ada ayah yang duduk di kursinya, kakak tertuanya dan sang istripun sudah ada dimeja makan. Hanya Arjuna dan Naura saja yang tidak ada.


"Langit mana, nak?". Tanya Bunda saat Bintang hendak duduk.


"Nggak tau bun..masih mandi mungkin". Jawab Bintang santai.

__ADS_1


"Biar aku panggil dulu jeng. Dia kalo mandi emang suka lama". Mommy Sekar hendak bangkit, namun ayah mencegahnya.


"Tidak usah. Biar Bintang saja yang menyusulnya". Bintang melayangkan tatapan protesnya pada sang ayah.


"Tolong ya sayang.." Bintang memaksakan senyumnya saat mommy yang bersuara.


"hish, ayah kenapa sih. Padahal kan biarin aja mommy yang nyusulin si biawak". Sambil melangkah, bibir mungilnya itu tak henti menggerutu.


"Lang!! Langit!!". Bintang mengetuk pintu, atau lebih tepatnya seperti menggedor pintu.


"Biawak!! Udah belom!!?". Bintang kembali berteriak memanggil Langit. Ia tidak sadar jika yang sudah duduk di meja makan mendengar teriakannya memanggil Langit dengan sebutan biawak.


Ayah dan bunda saling menatap, kemudian menatap mommy dengan tatapan sungkan.


"Tenang saja, nggak usah sungkan mas, jeng. Kelakuannya kan memang mirip-mirip biawak". Tawa pecah di meja makan karena ucapan mommy yang justru membenarkan panggilan Bintang pada Langit.


"Ish!! Ni orang mandi ama tidur sih!?". Gerutu Bintang yang sudah cukup lama berdiri didepan pintu kamar tamu.


"Masuk jangan?". Gumam Bintang yang tengah menimbang apakah dirinya harus masuk kedalam kamar atau tetap diam menunggu didepan pintu.


"Masuk aja lah! Nungguin dia keluar bisa ampe pingsan gw kelaperan". Akhirnya Bintang memutuskan masuk kedalam kamar tamu.


Bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka dan menampakkan pemandangan yang mampu membuat Bintang membeku ditempatnya.


Bagaimana tidak, saat Langit keluar dari kamar mandi, pemuda itu hanya membelitkan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara tubuhnya dibiarkan terekspos sempurna.


Menunjukkan otot-otot perut yang mulai membentuk roti sobek yang mampu membuat Bintang menelan salivanya susah payah.


Langit berjalan cepat mendekati Bintang saat gadis itu membuka mulutnya. Ia yakin Bintang akan berteriak. Dan itu akan menimbulkan kehebohan mengingat di ruang makan sudah berkumpul anggota keluarga yang lainnya.


"Jangan teriak! Lo mau kita dikawinin sekarang juga?". Bintang menggeleng cepat. Menikah dalam waktu dekat? Tentu saja ia tak mau! Jangankan dalam waktu dekat, bahkan kata menikah belum terlintas didalam pikirannya sama sekali.


"Gw lepasin, tapi jangan teriak". Ucap Langit yang masih membekap mulut Bintang. Bintang mengangguk cepat. Terlalu dekat dengan Langit seperti ini terlalu berbahaya, apalagi melihat Langit bertelanjang dada.


"Lo kenapa nggak ganti baju di kamar mandi sekalian sih! Terus juga ngapain aja dari tadi mandi baru kelar?! Lo tidur di kamar mandi? Hah?!". Bintang langsung merepet begitu Langit melepaskan tangannya.


"Sono buruan ganti baju. Gw udah kelaperan cuma gara-gara nungguin elo". Imbuhnya lagi sewot.


"Iya, galak banget sih". Gumam Langit yang mengambil kaos dan celana serta penutup asetnya yang tadi diberikan mommy padanya.


"Bintang, Langit..kenapa lama sekali". Kedua anak muda itu panik saat mendengar suara bunda mendekat.


Buru-buru Bintang mendorong Langit masuk kedalam kamar mandi. Jangan sampai apa yang bunda lihat membuat Bintang terjebak semakin dalam dengan Langit.


Bintang buru-buru duduk diatas kasur setelah memastikan Langit menutup pintu kamar mandi. Bertepatan dengan itu bunda masuk dan mendapati Bintang duduk diatas kasur.


"Langit masih dikamar mandi bun. Makanya aku tungguin biar cepet". Bintang langsung memberi alasan yang menurutnya paling masuk akal. Bahkan sebelum bunda bertanya dimana keberadaan Langit.


"Cepat ya, yang lain sudah menunggu". Bintang mengangguk. Ia baru bisa bernafas lega saat Bunda sudah keluar dari kamar.


...¥¥¥•••¥¥¥...


...Satu dulu ya🥰🥰☺️ semoga nanti bisa double up atau malah kreji up😁...


...Happy reading, sarangheo sekebon readers😘😘😘🥰💋☺️🥰💋💐💐...

__ADS_1


__ADS_2