Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Wawancara


__ADS_3

Happy reading...


Kemaren telah berlalu, begitu juga dengan baik buruknya hari itu. Jadi tidak perlu disesali agar hidup boleh terus berlanjut.


Pagi ini keluarga Ayunda memulai hari dengan sebuah harapan baru, karena hari ini adalah hari pertama restoran sang bunda resmi di buka untuk umum.


"Ayah, tolong bawakan itu", tunjuk sang bunda pada sebuah box container plastik yang ada di atas meja makan. Sang bunda terlihat sedang sibuk mengerjakan yang lain bersama Ayunda.


"Biar Adrian saja, yah", ucapnya saat sang ayah akan menghampirinya.


Setelah memastikan semua benda penting yang akan dibutuhkan nantinya tidak ada yang tertinggal. Mereka pun berjalan ke luar bersama-sama dengan mengucap bismillah.


"Assalamualaikum...", ucap Conny memberi salam saat dia bertemu keluarga Adrian di halaman rumah.


"Waalaikumsalam", balas mereka hampir bersamaan.


"Sudah mau berangkat, ya?" tanya Conny sopan.


"Iya", balas Adrian.


"Apa aku boleh ikut?" Conny menyunggingkan senyumannya sambil berharap Adrian akan menyetujuinya.


"Ehm, nanti merepotkanmu", balas Adrian yang tidak ingin Conny bertemu dengan Winda nantinya.


Tit... Tit...


Suara klakson mobil mengalihkan pandangan mereka yang sedang berdiri di halaman rumah.


Winda turun dari mobil itu, mobil yang sudah dia pinjam dari Alfian. Lalu berjalan menghampiri mereka.


"Assamualaikum...", ucapnya saat sudah berada di antara mereka sambil mengulurkan tangannya memberi salam pada ke dua orang tua Adrian.


"Waalaikumsalam..." jawab mereka bersamaan.


Baru juga diomongin. Eh, orangnya sudah nongol aja, batin Adrian.


"Wah, aku beruntung. Hampir saja aku ketinggalan, jika harus sarapan dulu", ujar Winda dengan tersenyum.


Adrian tertegun saat melihat Winda dengan santainya mengucapkan kalau dia belum sarapan. Apa dia tidak malu akan dikatakan wanita pemalas, batin Adrian meringis.


"Apa? Winda belum sarapan?" tanya sang bunda.


Winda mengangguk. "Hem, iya tante. Eh, bunda."


"Jika saja barang bawaan bunda tidak banyak, bunda sudah menjewer telingamu", ujar sang bunda sambil menatap Winda dengan nada emosi.


"Maaf bunda." Winda tertunduk malu, dia mengira bahwa sang bunda akan menawarkannya sarapan spesial buatan sang bunda.


Conny menyeringai, dia bersiap memberikan jawaban terbaiknya saat sang bunda menatap ke arahnya.


"Ya, sudah. Ayo, kita ke restoran. Nanti bunda ajarkan cara membuat sarapan yang enak", ujar sang bunda.


"Ta..." ucapan Conny terputus saat seluruh keluarga Adrian dan juga Winda berjalan bersama meninggalkannya yang masih berdiri dan ingin mengatakan sesuatu.


"Ayo, ikutlah", ajak Adrian pada Conny yang masih tetap berdiri dengan lidah tercekal.


Dengan rasa kesal Conny melangkah mengikuti mereka yang sudah lebih dulu berjalan menuju kendaraan masing-masing.

__ADS_1


***


Pagi ini di kantor Santoso Station sedang dipadati para wanita cantik dengan berbagai latar belakang. Dari sekian banyaknya pelamar, hanya akan dipilih 1 orang saja sebagai pengganti Tya. Namun hal itu tidak menjadi suatu masalah bagi setiap pelamar yang sudah antusias sebelum kantor di buka.


Saat ini sudah ada 5 pelamar yang diwawancarai, namun tidak ada satu pun yang memenuhi kualifikasi sang kakek. Sang kakek yang telah menggantikan Alfian memilih calon sekretaris pengganti Tya melalui teleconference hanya bertanya 1 pertanyaan kepada setiap pelamar, namun tidak ada satupun di antara pelamar yang menyanggupinya.


Setiap pelamar yang ke luar dari ruang wawancara selalu berdecak kesal sambil menggerutu.


"Perusahaan apa yang meminta karyawannya untuk tidak menikah selama 5 tahun", gerutunya.


"Bisa-bisa aku jadi perawan tua", ucap seseorang yang baru saja keluar dengan rasa kecewa. Hal itu pun di dengar oleh pelamar lainnya yang masih menunggu di luar ruang wawancara.


Satu persatu pelamar beringsut mundur sebelum wawancara di mulai, hingga menyisakan 2 pelamar.


"Apa kau bersedia tidak menikah hingga 5 tahun ke depan?" salah seorang pelamar bertanya tidak dengan niat tulus.


Belum sempat dia menjawab, namanya sudah di panggil untuk masuk ke dalam.


"Uhm, aku duluan", ucapnya meninggalkan pesaingnya itu.


Setelah semua proses wawancara selesai hanya ada 2 orang yang menyanggupi keinginan sang kakek. Selanjutnya kakek meminta Tya dan Winda yang memilih sesuai untuk kualifikasi seorang sekretaris.


***


Hari pertama restoran bundo di buka sudah disesaki oleh para pengunjung. Karyawan sang bunda hampir saja kewalahan saat melayani pengunjung yang terus berdatangan, jika tidak dibantu oleh Ayunda yang sudah berpengalaman sebelumnya.


"Hai, Ay", sapa Reina yang mengenakan pakaian rapi layaknya pekerja kantoran.


"Hai..." balas Ayunda sambil menyipitkan matanya. Dia berdecak kagum saat melihat penampilan Reina dari atas sampai ke bawah. "Kamu kerja di kantor?" tanyanya.


Khuk... Khuk... Reina tersedak saat meneguk air dari botol minumannya.


Sang ayah yang berdiri di balik meja kasir memandang dengan sendu, karena putrinya Ayunda belum juga mendapat panggilan kerja. Sedangkan sahabatnya Ayunda sudah mengenakan pakaian kerja. Sang ayah menduga bahwa Reina sudah bekerja di salah satu perusahaan besar di kota itu.


"Ay, sebenarnya aku belum kerja", ucap Reina setelah tenang.


Ayunda menarik kursi, lalu duduk di samping Reina. "Jadi kamu pakai seperti ini untuk apa?" tanyanya.


"Coba tebak", Reina tersenyum sambil menunggu jawaban Ayunda.


"Baru selesai wawancara ya?" tebak Ayunda asal.


"Yap, kau benar. Dan satu hal lagi yang harus kau tahu."


"Apa?" tanya Ayunda.


"Aku baru saja wawancara di perusahaan Santoso Station miliknya kak Alfian", ujar Reina dengan girang.


Namun Ayunda tertegun saat mendengarnya, sudah lama dia ingin move on dari Alfian. Tapi ada saja yang mengingatkannya.


"Eh, maaf Ay. Aku lupa kalau hubungan kalian sudah berakhir", sesalnya.


"Gak apa-apa, kok. Santai aja", sahut Ayunda dengan tersenyum getir.


"Kau memang sahabat terbaikku", ujar Reina.


"O, iya. Ada satu hal lagi." Reina meletakkan kembali buku menu yang sempat dipegangnya.

__ADS_1


"Apa?" Ayunda kembali menautkan alisnya dengan rasa penasaran.


"Kau harus tahu aku bertemu siapa di sana!" seru Reina yang membuat Ayunda semakin penasaran.


"Siapa?" desak Ayunda.


"Pelayan..." panggil seorang pengunjung yang membuat Ayunda menoleh ke arah sumber suara.


"Sherly", ucap Ayunda dan Reina bersamaan.


"Ehm, aku ke sana dulu." Ayunda bangkit dari duduknya. Lalu menghampiri Sherly yang kelihatan sudah tidak sabar.


"Lama amat!" sergahnya memarahi Ayunda yang sudah berdiri di sisi meja. "Cih, ternyata nilai bagusmu itu tidaklah berguna, ya. Pelayan tetap saja pelayan." Sherly terus menyerang Ayunda.


"Aww..." pekik Sherly saat Dafa menendang kakinya di bawah meja. "Sakit sayang", rengeknya manja.


"Maaf, ada yang bisa dibantu?" tanya Ayunda dengan tersenyum, mengabaikan sikap menyebalkan Sherly.


"Sebenarnya aku malas makan di sini. Tapi karna calon suamiku yang memintanya... ya, terpaksa deh", ucapnya angkuh dengan menekan kata calon suami.


"Maaf, mau pesan apa?" Ayunda kembali bertanya mengabaikan ocehan tak berguna Sherly.


"Heh, jangan tidak sopan! Aku bicara denganmu", bentak Sherly.


"Cukup!" Dafa yang sedari tadi diam, akhirnya terusik dengan tingkah menjengkelkan Sherly. Jika saja tidak ada perjodohan bisnis keluarga mereka, dia tidak akan sudi mengenal wanita didepannya saat ini.


"Ayo, kita pulang!" Dafa yang sudah di buat malu oleh Sherly, harus menarik paksa tangan Sherly untuk segera meninggalkan restoran. Tatapan penuh arti dari para pengunjung lainnya saja sudah membuat Dafa kehilangan muka, apalagi harus berlama-lama meniikmati makanan di sana.


Ayunda merasa iba atas apa yang baru saja dialami oleh Dafa. Seandainya Dafa menjalin hubungan dengan Reina, mungkin ini tidak akan terjadi. Batin Ayunda. Lalu Ayunda melangkahkan kakinya kembali menghampiri Reina sahabatnya.


"Bukankah itu Dafa temanmu, nak?" tanya sang ayah yang sempat mendengar teriakan Dafa.


Ayunda menghentikan langkahnya saat sang ayah berbicara padanya. "Iya, yah", sahut Ayunda dengan mengangguk.


"Oo..." ucap sang ayah singkat.


"Yunda ke meja sana dulu ya, yah", tunjuk Ayunda pada meja di mana Reina berada.


"Oke", sahut sang ayah.


Ayunda melanjutkan langkahnya menghampiri Reina yang sudah memesan beberapa menu makanan dimejanya.


"Kau suka bebek panggang?" tanya Ayunda.


Reina membalas dengan anggukan, karena mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Ini menu favorit kak Adrian dan Conny", ucapnya yang membuat salah seorang pengunjung yang duduk di sudut ruangan tersedak saat mendengarnya.


"Kayak ada yang lagi tersedak." Ayunda mencari-cari disekitarnya, tapi dia tidak menemukannya.


"Bagaimana rasanya?" Ayunda mengalihkan perhatiannya pada Reina.


"Umm... perfecto", Reina berbicara seperti berkumur karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Kemudian dia memberikan jempol, agar Ayunda memahami maksud dari ucapannya.


"Wah, syukurlah kau sangat menyukai makanan itu. Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku tinggal sendiri, ya", ucap Ayunda sambil berdiri, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Reina.


Tadi aku mau ngomong apa ya sama Ay, kok jadi lupa. Batin Reina.

__ADS_1


Reina berfikir sejenak, lalu mengunyah kembali potongan bebek panggang ditangannya.


__ADS_2