
Abian merenggangkan otot-ototnya untuk menghilangkan rasa bosannya, karena sudah setengah hari dia berkeliaran di kantor Ayunda.
"Akhirnya jam yang ditunggu datang juga." Abian berjalan menuju ruangan Ayunda.
Belum sempat dia mengetuk pintu, Ayunda sudah membuka pintu terlebih dahulu. "Ayo, kita pergi", ajaknya pada Abian.
Abian berjalan sejajar dengan Ayunda, sehingga setiap mata yang menatap mereka berdecak kagum atas kecocokan keduanya. "Cantik dan ganteng", ucap seseorang dengan berbisik pada rekan kerjanya yang lain.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berada di lantai bawah kantor Ayunda. Lalu mereka berjalan menuju mobil yang akan di pakai oleh Ayunda.
"Bapak yang nyetir?" tanya Ayunda sembari memberikan kunci.
"Oke", sahut Abian. Lalu mereka bertukar posisi.
"Kenapa kita harus pergi ke cafe dekat kampus itu?" tanya Abian saat baru saja melajukan kendaraannya.
"Saya pernah kerja di sana sebelumnya, pak."
"Oh, begitu. Ternyata selain cantik kamu juga pekerja keras", puji Abian.
Ayunda hanya tersenyum saat mendengar ucapan Abian. Lalu dia menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Di cafe itu juga pertama sekali saya bertemu seseorang setelah berpisah selama 12 tahun." Ayunda menyunggingkan senyumannya kala mengingat kejadian itu.
"Wah, ternyata banyak kisah manis yang bisa ibu Yunda kenang, di cafe itu ya."
"Tidak banyak kok pak. Hanya kebetulan ada kisah yang bisa dikenang di tempat itu."
Tanpa terasa mereka sudah berada di parkiran cafe. Abian memarkirkan kendaraannya. Lalu mereka sama-sama keluar dari dalam mobil.
"Sepertinya bapak tidak asing lagi dengan tempat ini."
"Aku sudah pernah kesini sebelumnya. Rekan bisnisku yang meminta kami bertemu di sini."
"Owh, ternyata selain aku, masih ada orang lain yang membahas bisnis dengan pak Abian di cafe ini."
Abian menganggukkan kepalanya. "Iya... Dan dia itu seorang bos perusahaan besar juaga."
"Mungkin dia juga punya kenangan di sini", tebak Ayunda.
"Ibu Yunda benar. Dia memang punya banyak kenangan di sini."
"Em, aku jadi penasaran dengan orang yang bapak maksud. Barangkali kami saling kenal."
"Wah, pucuk di cinta, orang.yang di nanti pun tiba." Abian menatap dengan tersenyum seseorang yang baru saja masuk ke dalam cafe. "Hai, bro!" panggil Abian pada orang yang baru saja dia ceritakan.
Ayunda menoleh untuk melihat orang yang dimaksud oleh Abian. "Alfian!" ucapnya bergumam.
"Ibu Yunda mengenal Alfian?"
Ayunda terdiam sesaat. Apa ini kebetulan atau suatu pertanda, batin Ayunda.
"Em, iya", sahut Ayunda.
__ADS_1
"Wah, bagus kalau begitu. Bagaimana kalau kita satu meja dengannya?"
"Maaf, pak. Sepertinya moment ini tidak pas. Kita kesini untuk membahas bisnis", elak Ayunda yang belum siap melihat Alfian bersama dengan wanita lain.
"Bu Yunda ada benarnya juga."
Baru saja Abian memyelesaikan ucapannya, Alfian datang menghampiri meja Ayunda dan Abian. Netranya bertemu dengan netra Ayunda.
"Ini keluargamu?" tanya Abian saat melihat Siera dan Zahra datang bersama Alfian.
Alfian melepas pandangannya dari Ayunda dan menatap ke arah Abian. "Iya, ini keluargaku. Kalian ini..." Alfian menunjuk Ayunda dan Abian.
"Oh, kami ini..."
"Kami pacaran!" ucap Ayunda menyela ucapan Abian, hingga membuat Abian termangu.
Alfian terkesiap saat mendengar ucapan Ayunda. Pupus sudah semua harapannya, yang selama ini masih setia menanti Ayunda kembali padanya.
"Wah, selamat ya bro!" ucap suara getir Alfian. Lalu dia menjulurkan tangannya hingga mereka bersalaman.
Abian yang tidak pandai berakting hanya bisa mengikuti alurnya dengan raut wajah bingung.
"Kita cuma pacaran, bukan suami istri. Jadi tidak perlu di beri selamat!" Ayunda menegaskan kata suami istri disitu.
"Papa!" panggil Zahra sembari menarik-narik tangan Alfian, karena sudah merasa bosan.
"Zahra apa kabar?"
"Zahra lupa dengan tante?" Ayunda menunjuk dirinya.
Zahra menatap Ayunda dengan sangat serius. "Zahra gak kenal sama tante!"
Perkataan Zahra membuat Ayunda terdiam seketika. "Oh, kalau begitu ayo kita kenalan. Nama tante Ayunda, biasa di panggil Yunda."
"Hai, tante Yunda." sapa Zahra dengan tersenyum.
"Hai, juga Zahra cantik." Ayunda yang memang penyayang anak-anak kecil itu langsung mencubit gemas pipi Zahra.
"Ayo, kita cari meja kosong! Aku sudah lapar sekali", ucap Siera yang tidak suka berlama-lama berada di dekat meja Ayunda.
"Ayo", balas Alfian singkat. "Bro, Yunda, kami ke meja sana, ya", tunjuk Alfian pada satu meja kosong yang ada di sudut ruangan.
"Oke, bro. Lanjut!"
"Silakan, kak", balas Ayunda.
Alfian menggandeng tangan Zahra mengikuti langkah Siera yang sudah berjalan lebih dulu.
Setelah Alfian menjauh dari meja mereka, Ayunda buru-buru menjelaskan. "Maaf, pak. Tadi saya sudah lancang mengakui bapak sebagai pacar saya."
"Oh, itu bukan masalah bagi saya." Aku malah berharap itu adalah kenyataan, batin Abian.
__ADS_1
"Silakan di pesan menunya pak."
"Baiklah", balas Abian sembari memungut buku menu yang ada di atas meja.
Setelah hampir 1 jam lamanya mereka berada di sana, bahkan semua makanan yang di pesan sudah habis tak bersisa. Namun topik bahasan bisnis mereka satupun belum ada yang jelas. Mereka seolah mengulang setiap poin yang ada dalam surat perjanjian kerjasama.
"Apa ada lagi yang mau dibahas, pak?" tanya Ayunda yang sudah mulai jengah. Dia ingin segera mengakhiri pertemuan yang sedikit membosankan baginya.
"Sepertinya sudah cukup bu Yunda. Semoga kedepannya kerjasama ini berjalan dengan lancar ya, bu."
"Amin."
"Amin."
"Setelah ini bu Yunda apa masih pergi ke kantor?"
"Iya, pak. Apa bapak masih ikut bareng saya?"
Abian tampak berfikir sejenak. "Saya gak mau ngerepotin ibu lagi. Nanti saya naik taxi online saja, bu."
"Tapi saya gak merasa direpotin kok pak. Kalau bapak tetap mau ikut silakan."
"Gak deh, bu."
"Owh, oke kalau begitu. Saya pamit ya, pak."
"Oke, bu. Hati-hati di jalan."
Ayunda membalas dengan tersenyum, lalu dia meninggalkan Abian duduk seorang diri.
Dari kejauhan Alfian menatap kepergian Ayunda dengan wajah sendu. Apa mereka benar-benar pacaran, ya? Tapi kenapa sikap mereka terlihat seperti tidak berpacaran, batin Alfian.
"Papa... Ara mau makan ice cream."
"Oh, iya papa lupa tadi udah janji sama Ara. Karena Ara pintar, nasinya dihabisin, papa beliin ice cream", puji Alfian pada putri kecilnya itu, lalu dia pun memesan ice cream rasa strawberry kesukaan Zahra.
"Hai, bro", sapa Abian saat menghampiri meja Alfian.
"Oh, hai. Pacarmu sudah pulang?" Alfian bertanya hanya sekedar basa basi.
Abian terdiam kaku, seakan mendapat peluru nyasar, hingga tak mampu lagi untuk berucap.
"Besok siang kita bisa ketemu di sini lagi, bro? Sekalian kita bahas masalah itu."
"Entar aku pastikan dulu jadwalnya dengan sekretarisku. Kalau oke nanti aku kabari ya, bro"
"Oh, oke bro. Aku tunggu kabar baiknya, ya."
"Oke bro."
__ADS_1
Abian pun berpamitan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Alfian dan keluarganya.