Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ayunda sedang bersedih


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Baru kemaren acara pertunangan dilakukan, namun Ferdo merasa seperti tidak terjadi apa-apa. Dia menganggap hal itu, sebagai formalitas agar tidak mendapat amukan sang kakek. Saat ini dia sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak, namun dia mengerjakannya untuk menghindari pertemuan dengan Siska.


Sang kakek yang tak berhenti menghubunginya, membuat kepalanya seakan mau pecah. Sehingga dia terpaksa menonaktifkan ponselnya.


"Apa dia tidak punya kerjaan selain mengadu pada kakek!" ucapnya dengan menggores tinta pada kertas di hadapannya. "Aku pasti akan mati muda, jika harus berhadapan dengan wanita seperti dia setiap hari", ucapnya kembali sambil meremukkan kertas yang baru saja di coretnya, lalu Ferdo menggigitnya dengan kesal.


Ceklek.


"Apa ini benar ruangan CEO Santoso Station?" tanya Adrian dengan menaikkan salah satu alisnya, yang masuk dengan tiba-tiba dan telah menyaksikan apa yang baru saja dilakukan oleh Ferdo.


"Keluarlah! Aku tidak butuh ejekanmu!" sergahnya sambil melempar kertas yang baru saja di remasnya itu ke arah Adrian.


Adrian mengabaikan ucapan Ferdo, dia duduk dengan santai di kursi yang ada di hadapan Ferdo. "Aku tahu Kau sedang berbahagia", ucapnya yang membuat Ferdo mendelik dan ingin segera menenggelamkan Adrian ke dalam sungai amazon.


"Apa Kau sudah bosan hidup?" Ferdo kembali menajamkan tatapannya.


"Maaf... Aku tidak akan meledekmu lagi. Aku datang ke sini mau memberitahumu sesuatu", ucap Adrian dengan serius. Ferdo memandang ke arah Adrian sambil menunggu ucapannya selanjutnya.


"Aku tahu alasan kakek menjodohkanmu dengan Siska", ucap Adrian yang membuat Ferdo semakin tertarik untuk mendengarkannya. "Kakek mencurigai pelaku utama penabrak ke dua orang tuamu adalah Om Benny dan Tante Mery."


Ferdo tersentak kaget mendengar penuturan Adrian. Sebuah fakta yang menyakitkan untuk di dengar. "Kau jangan sembarang menuduh!" sahut Ferdo yang tidak percaya jika tante Mery terlibat.


"Aku tidak sengaja mendengar kakek berbicara dengan seseorang di telpon. Dia meminta orang itu terus mengikuti Om Benny dan tante Mery."


"Jadi hubungannya dengan pertunanganku?" tanya Ferdo.


"Kakek menceritakan padaku, kalau Kau hanya sebagai pengalih perhatian mereka."


Ferdo kesal, karena sang kakek memberitahu hal sepenting itu pada Adrian, tapi tidak dengannya. Dia meraih ponsel di atas meja, lalu menghubungi sang kakek dengan tidak sabar.


Tut... tut.


"Hallo, Kek", sapa Ferdo setelah sang kakek mengatakan hallo dari seberang telpon.

__ADS_1


"Aku mau bertanya sesuatu, Kek."


"Cepat katakan!" jawab sang kakek dengan nada datar.


"Kenapa Kakek tidak memberitahuku, alasan Kakek menjodohkanku dengan Siska?" tanya Ferdo yang kembali kesal.


"Sudah aku duga, Adrian pasti memberitahumu." Suara sang kakek dari ujung telpon.


"Itu tidak penting, Kek. Aku hanya ingin tahu, kenapa Kakek lebih memilih memberitahu Adrian ketimbang cucu Kakek sendiri?" tanya Ferdo yang semakin menyudutkan sang kakek.


"Tidak perlu di bahas lagi. Katakan pada anak nakal itu, aku tidak percaya lagi padanya."


"Tapi... hallo, Kek... Kek..." panggil Ferdo berkali-kali saat sang kakek sudah memutus sambungan telponnya. Lalu Ferdo meletakkan kembali ponsel di tanggannya dengan kasar ke atas meja.


"Sebenarnya aku sudah berjanji pada kakek, untuk tidak memberitahukan hal ini padamu. Dia pasti sangat marah tadi", ujar Adrian yang ikut gusar saat Ferdo mengusap kasar wajahnya.


"Kita harus merencanakan sesuatu untuk membantu kakek", ucap Ferdo. Tiba-tiba sebuah ide melintas dalam benaknya. Lalu Ferdo menjelaskan rencananya itu dengan detail pada Adrian.


"Bagaimana?" tanya Ferdo meminta pendapat Adrian.


Adrian menganggukkan kepalanya. "Ide yang bagus", sahut Adrian yang setuju dengan Ferdo.


***


Di kantin kampus Tri Karya yang sangat ramai, Ayunda duduk seorang diri di kursi pojok dengan wajah sendu.


"Hei!" teriak Reina mengagetkannya. Ayunda hanya mendongak sekilas, lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Ada apa, hah? Kenapa wajahmu terlihat menyedihkan, gitu? Apa Kau punya masalah? Ayo, ceritakan pada sahabatmu ini." Reina terus mencecar banyak pertanyaan pada Ayunda, namun Ayunda diam tanpa sepatah kata.


"Ehm, apa sahabatku ini sedang jatuh cinta", Reina terus berucap menggoda Ayunda. Namun Ayunda tetap diam, dan sesekali melirik.


"Apa ada hubungannya dengan Pak Ferdo?" tanya Reina yang membuat Ayunda langsung menatap Reina saat mendengar nama Ferdo di sebut. "O, jadi memang karna dia", ucap Reina mengartikan tatapan Ayunda.


"Bukan!" sahut Ayunda dengan tegas. "Maaf Rein, aku masuk kelas duluan, ya", ucap Ayunda dengan wajah sendu, lalu beranjak meninggalkan Reina yang termangu.


"Ay... Ay... " Reina terus memanggil, namun Ayunda mengabaikannya. Reina pun menghela nafas berat. "Huft... Ada apa dengan Ayunda?" batinnya terus bertanya-tanya, namun dia tak lupa menyeruput segelas juice jeruk di atas meja.

__ADS_1


***


Di kantor Santoso Station semua karyawan masih sibuk meskipun jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sama halnya dengan Ferdo, dia masih setia di dalam ruangannya, bahkan makan siang pun di lakukannya di dalam ruangan.


Tok... tok.


Pintu ruangannya di ketuk, mengalihkan perhatiannya yang sedari tadi fokus dengan layar laptop di hadapannya. "Masuk!" teriaknya memberi izin seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.


Ceklek.


"Hai, sayang!" sapa Siska saat wajahnya muncul dari balik pintu. Ferdo pun mengusap kasar wajahnya, karena dia lupa memberitahu sang sekretaris, bahwa walaupun mereka sudah bertunangan tapi itu tidak mengubah apa pun.


"Ada apa?" tanya Ferdo santai.


"Aku hanya ingin menunggumu pulang", sahut Siska dengan tersenyum lebar. Lalu dia duduk di sofa sambil memandang ke arah Ferdo. "Aku bosan di rumah, jadi aku datang ke sini sekalian memberimu semangat", tuturnya dengan sangat bahagia.


Yang ada kerjaanku makin berantakan, batin Ferdo dengan kesal.


"Kau tidak perlu melakukan itu, karena aku selalu bersemangat saat bekerja", ujar Ferdo sambil menahan kekesalannya.


"Jadi, Kau mengusirku?" tanya Siska dengan nada tidak ramah.


Kalau bukan karena rencana itu, aku sudah mengusirmu dari tadi non, batin Ferdo.


"O, bukan gitu. Aku hanya tidak biasa kerja seperti di awasi. Aku jadi tidak fokus", jawab Ferdo.


"Aku tahu, pasti fokusmu nanti jadi terpecah, antata pekerjaan dan aku. Iya, kan?" Siska bertanya dengan mengedipkan matanya.


"Eh, iya. Jadi tolong jangan sering-sering datang ke mari", tuturnya mencoba meyakinkan Siska.


"Baiklah, sayang. Tapi nanti malam Kau harus datang ke apartemenku, ya. Aku mau mengenalkanmu pada teman-temanku, waktu itu Kau belum sempat aku kenalkan, karena Kau tiba-tiba saja menghilang.


"Akan aku usahakan", sahut Ferdo datar.


"Aku akan menunggumu, sayang", ujarnya sambil beranjak dari sofa, lalu berjalan menghampiri Ferdo. Siska mencondongkan tubuhnya seolah akan mencium Ferdo. Dengan cepat Ferdo berdiri dari tempat duduknya, kemudian berpura-pura batuk.


Siska tahu, Ferdo mengelak saat akan di cium. Lalu dia berpamitan padanya, tanpa meminta penjelasan akan penolakan Ferdo.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2