Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Hari Pernikahan Adrian


__ADS_3

Alfian berjalan menuju parkiran mobil yang diikuti oleh Ayunda dan Dafa dibelakangnya. Dia sangat membenci situasi saat ini. Seharusnya dia berjalan berdampingan bersama Ayunda, namun yang terjadi saat ini dia berjalan seorang diri menyaksikan Ayunda berjalan dengan pria lain.


Mereka menghentikan langkah masing-masing saat berada di sisi mobil. Alfian langsung membuka pintu di sisi kiri bangku kemudi.


"Ayo, naiklah", pinta Alfian pada Ayunda dengan membukakan pintu untuknya. Namun Ayunda ragu untuk melangkahkan kakinya. "Apa kau ingin aku terlihat seperti seorang supir?" ujarnya dengan sedikit kesal.


Ayunda pun menoleh ke arah Dafa. "Aku duduk di depan ya", ucapnya dengan tersenyum canggung.


Dafa menganggukkan kepalanya. "Ya, gak apa-apa", sahutnya.


Setelah mereka sudah duduk di tempat masing-masing. Alfian melajukan kendaraannya. Ayunda menoleh ke sisi kirinya sambil membuang jauh pandangannya melalui kaca jendela mobil. Sedangkan Alfian sesekali melirik Ayunda yang tidak menatapnya sama sekali.


Alfian mulai berdehem. "Ehem, gimana rasanya tinggal di London?" tanya Alfian memecah keheningan diantara mereka.


Ayunda menoleh ke arah Alfian. "Dingin", jawab Ayunda singkat.


"Maksudnya kehidupan disana. Apa lebih asyik di sana?" ucap Alfian menjelaskan.


"Sama saja", sahut Ayunda dengan santai. "Yang membedakan hanya budaya dan makanannya", ucapnya kemudian.


"Nah itu. Kau lebih suka yang mana?"


"Jelas Indonesia lah. Aku cinta negaraku", sahut Ayunda dengan tegas.


"Bagus! Kau tidak melupakan negaramu", ujar Alfian sambil memegang kemudi. "Apakah di sana ada masakan Indonesia?" tanya Alfian kembali.


"Ya, ada. Hanya saja restoran masakan Indonesia jauh dari tempat tinggalku", sahut Olivia yang mulai santai saat berbicara dengan Alfian.


Mereka terus melanjutkan perbincangan yang masih menyambung itu, hingga mengabaikan Dafa yang duduk dibelakang sambil menekuk wajahnya.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di halaman rumah Ayunda. "Jangan turun dulu", ucap Alfian pada Ayunda sambil keluar dari dalam mobil dengan berlari.


"Ayo turunlah", ucapnya sambil membuka pintu untuk Ayinda. Namun tiba-tiba Alfian melirik ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh Dafa.


"Kenapa kau turun?" tanyanya sambil menautkan kedua alisnya.


"Bukan urusanmu", sahut Dafa dengan nada tidak ramah. Dia kesal karena keberadaannya tak dianggap oleh Alfian.


"Terimakasih, kak", ucap Ayunda dengan sopan. Namun Alfian tidak senang melihat sikap Ayunda yang seolah menganggap Alfian sebagai orang asing.


"Sama-sama", sahut Alfian sambil melangkah meninggalkan Ayunda. Lalu dia masuk ke dalam mobil. Tanpa berpamitan dia melajukan kendaraannya.


"Yunda..." seru sang bunda sambil berlari menghampiri putrinya itu. "Bunda kangen, nak", ucap sang bunda sambil memeluk Ayunda.

__ADS_1


"Yunda juga kangen, bun", sahut Ayunda sambil membalas pelukan sang bunda.


"Ayo kita masuk", ajak sang bunda sambil berjalan dengan melingkarkan tangannya di pinggang Ayunda. Dafa pun mengikuti langkah mereka dari belakang.


***


Terdengar gelak tawa memenuhi ruang tamu keluarga Adrian. Saat sang ayah masih saja menceritakan tingkah lucu Adrian di kala dia masih kecil.


"Ayah cukup", pinta Adrian yang tak ingin Dafa mengetahui lebih banyak lagi kejahilannya di masa kecil.


"Iya... Iya", sahut sang ayah masih dengan sisa tawanya.


"Bersiaplah, nak. Ini sudah jam 6 pagi", ujar sang bunda mengingatkan Adrian.


"Ya bun", sahut Adrian sambil berlalu meninggalkan keluarganya yang masih berkumpul di ruang tamu.


Ayunda dan sang bunda pun mempersiapkan diri dengan membersihkan tubuhnya, setelah itu merias diri mereka yang akan dilakukan oleh perias profesional.


Tanpa terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Keluarga besar Ayunda sudah berkumpul di rumah kediaman mereka. Dengan segala perlatan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, mereka melangkah menuju gedung yang sudah dipersiapkan dengan dekorasi bernuansa merah gold pilihan Adrian.


Adrian di tandu oleh 4 orang pria yang diiringi suara gendang bertalu talu saat memasuki gedung. Sedangkan Winda berada di dalam satu bilik dengan dayang yang mengawal di luar bilik.


Tandu Adrian pun diturunkan, lalu salah seorang pengawal pengantin pria datang menghampiri dayang pengantin wanita.


Mentari terbit tidak terlalu tinggi


Assalamualaikum selamat pagi


Kami datang hendak membawa hajat


Sang dayang pun menyambut pantun dari pengawal iring-iringan pengantin pria.


Pergi ke pasar membeli alpukat


Singgah sebentar ke rumah pak Hadi


Kalau hendak membawa hajat


Sudi kiranya memberi sedikit rezeki


Para pengawal Adrian mulai berdiskusi pada iringan pengantin pria. Lalu salah seorang memberikan amplop padanya.


Pergi ke lembah membawa sekat

__ADS_1


Sekat di pakai untuk mandi sendiri


Kami memang sudah sepakat


Membawa amplop untuk diberi


Sang pengawal pun memberikan amplop ditangannya pada salah seorang dayang.


Makan ikan durinya tertelan


Aduh sakit dan menderita


Terimakasih kami ucapkan


Pengantin wanita siap dibawa


Semua hadirin bertepuk tangan. Lalu acara diambil alih oleh 2 orang pembawa acara yang sudah dipersiapkan oleh Adrian dengan menyewanya.


Winda pun keluar dari dalam bilik kecilnya. Adrian turun dari tandu dan menjemput Winda. Mereka berjalan bersama menuju sebuah meja yang sudah dipersiapkan. Lalu mereka duduk saling berdampingan. Ijab qabul pun dimulai. Setelah semua selesai dan dinyatakan sah. Adrian pun mendoakan sang istri.


Pembawa acara kembali mengambil alih dengan meminta kedua mempelai duduk disinggasana yang sudah dipersiapkan. Ada raut wajah bahagia saat pernikahan itu berlangsung. Alfian yang mengikuti prosesi pernikahan itu dari awal tertunduk sedih. Dia mengingat bagaimana acara pernikahanya dengan Siska berlangsung dengan sangat kacau.


"Selamat ya", ucap sang kakek pada Adrian dan Winda. Dia pun meminta maaf karena telah membuat Adrian dipecat dari perusahaan Santoso Station.


Adrian menanggapinya dengan santai, justru dia berterimakasih pada sang kakek karena telah membuatnya keluar dari zona nyaman, hingga bisa berkarir di luar dari bidang yang dia ketahui sebelumnya.


"Sukses selalu", ujar sang kakek sambil menepuk pundak Adrian. "Dan satu lagi, buatkan kakek cicit yang tampan dan cantik", ucapnya kemudian yang membuat Winda terkesiap.


"Siap kek", sahut Adrian sambil menatap Winda yang mulai menegang. Lalu sang kakek melangkahkan kakinya menuju kedua orang tua Adrian


"Santai saja, nanti aku buat pelan-pelan, kok", bisik Adrian yang semakin membuat Winda gugup.


Acara terus berjalan dengan meriah saat beberapa artis kenalan Winda juga turut mengisi acara dengan menyumbangkan lagu.


Alfian menghampiri Ayunda, saat Dafa baru saja meninggalkannya kursinya yang berada tepat di samping Ayunda.


"Hai, Yunda", sapa Alfian sambil duduk di kursi yang ditinggalkan Dafa.


"Hai, kak", sahut Ayunda ramah.


"Kau cantik", ujar Alfian yang membuat Ayunda terdiam sesaat.


"Bagaimana kabar Siska kak?" tanya Ayunda mengalihkan pembicaraannya.

__ADS_1


Raut wajah Alfian berubah seketika. Dia merasa seolah Ayunda sedang mengingatkan statusnya. "Apa kau sama sekali tidak tahu hubunganku sebenarnya dengan Siska?" tanyanya dengan sedikit rasa kesal.


Ayunda menatap Alfian hingga netra mereka bertemu. "Maaf kak, itu bukan urusan Yunda", sahut Ayunda yang membuat Alfian tersentak.


__ADS_2