
Di atas pohon burung bersarang
Pergi sejenak mencari makan
Sudah lama abang sayang
Apalah daya baru bisa lamaran
Alfian mencoba merangkai pantun untuk memberi semangat pada Ayunda yang sedari tadi tampak murung.
"Dari mana my honey belajar?"
"Baru saja. Saat di jalan menuju kemari, teringat pesta pernikahan Adrian dipenuhi banyak pantun. Makanya tadi mencoba merangkai beberapa kata, semoga itu tidak buruk."
"Jelas itu tidak buruk bagi seorang pemula", jawab Ayunda dengan tersenyum.
"Akhirnya my honey tersenyum juga", ucap Alfian yang merasa bahagia saat melihat senyuman di wajah Ayunda.
"Tidak baik berduaan terlalu lama jika bukan muhrim. Nanti setelah kalian menikah boleh melakukan apapun yang kalian inginkan", ujar sang Ayah mengingatkan Alfian dan Ayunda.
"Baik, Ayah", jawab Alfian dan Ayunda hampir bersamaan.
Lalu Alfian berpamitan pulang pada seluruh keluarga Ayunda.
"Nak Alfian masih di sini?" tanya sang Bunda saat baru saja masuk ke dalam rumah.
Alfian merasa canggung mendengar penuturan calon ibu mertuanya itu. "Maaf, Bu. Ini saya mau pulang", jawabnya dengan sedikit gugup.
"Sudah nanggung kalau pulang. Lebih baik makan malam di sini saja", ajak sang Bunda.
"Sebenarnya saya ingin menikmati masakan Ibu yang terkenal enak itu. Tapi saya tidak bisa memenuhi ajakan Ibu untuk hari ini Karena sudah seharian saya meninggalkan Zahra di rumah bersama pengasuhnya."
"Owh, begitu ya. Lain waktu kita bisa makan bersama", ujar sang Bunda dengan ramah.
"Kalau begitu saya pamit Pak, Bu dan semuanya", tutur Alfian dengan sopan,. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar.
Ayunda hanya bisa menatap kepergian Alfian dengan rasa rindu yang amat dalam. Setelah menunggu sangat lama, akhirnya dia kembali padaku. Ucap Ayunda di dalam batinnya.
Setelah mobil milik Alfian meninggalkan halaman rumah mereka, sang Bunda bergegas meminta Adrian mengunci rapat pintu pagar rumah mereka.
"Bunda jangan terlalu ketakutan seperti itu. Orang yang sedang mengincar kita akan mengira bahwa kita itu lemah. Jadi kita harus terlihat santai di luar, namun waspada di dalam."
"Oke, Ayah", sahut sang Bunda dengan tertunduk lesu.
"Bunda... Ayah pengen makan cumi saos tiram. Bunda bisa membuatkannya?" tanya sang Ayah untuk mengalihkan perhatian sang bunda.
__ADS_1
"Iya, Bunda buatkan sekarang ya, Ayah."
"Terimakasih, Bunda", ucap sang Ayah dengan tersenyum ramah.
"Sama-sama Ayah", balas sang Bunda dengan beranjak dari posisinya berdiri dan berjalan menuju dapur.
...---...
Di apartemen Alfian, terdapat kerumunan yang tidak seperti biasanya. Dengan perasaan khawatir Alfian mempercepat langkahnya.
"Ada apa?" tanya Alfian pada salah seorang pria yang berdiri di dekat pintu.
"Pak Alfian pemilik apartemen ini, kan?" tanya pria itu balik yang di balas dengan anggukan oleh Alfian. "Syukurlah Bapak datang tepat waktu. Itu coba lihat", tunjuknya pada seseorang yang ada di dalam.
"Ara... Kamu kenapa sayang?"
Zahra berlari sembari menangis menghampiri Alfian. "Papa... Kakak!" ucapnya dengan isak tangis.
"Kenapa dengan Kakak?"
Zahra tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia hanya bisa menunjuk sembari menangis. Alfian bergegas menuju arah jari Zahra. Dia pun terkejut kala melihat kondisi sang pengasuh. Lalu dia bergegas membawanya ke luar dan meminta pria yang diajaknya bicara itu untuk membantunya.
"Maaf, kami tidak berani masuk dan menyentuh apapun. Bapak beruntung punya putri pintar seperti dia", tunjuknya pada Zahra.
"Baiklah. Ayo, kita berangkat", sahut pria itu. Lalu mereka berjalan bersama menuju pintu lift.
...---...
Di dalam sebuah kamar tampak Ayunda yang sedang resah berjalan mondar mandir sembari memainkan ponsel ditangannya.
"Kenapa masih belum angkat telepon?" tanyanya berdecak kesal seraya melemparkan asal ponselnya di atas tempat tidur. Lalu dia kembali berjalan mondar mandir sambil berfikir kemungkinan yang terjadi pada Alfian.
Tok. Tok.
"Yunda..." panggil sang Bunda dari balik pintu kamar Ayunda.
"Ya, Bun", sahut Ayunda sembari membuka pintu.
"Kenapa belum makan?" tanya sang Bunda yang tidak melihat Ayunda berkumpul di meja makan.
"Sebentar lagi, Bun. Lagi pula Yunda masih sering merasa sakit saat menelan makanan."
"Bunda sudah siapkan bubur buat kamu. Ayo, kita makan dulu. Kesehatan lebih penting dari pada pekerjaanmu itu", desak sang Bunda.
"Baiklah, Bunda", jawab Ayunda dengan lesu. Lalu dia mengikuti langkah sang Bunda menuju meja makan.
__ADS_1
...---...
Di balik jeruji seseorang menanti berita dengan gelisah. Tiba-tiba seseorang berpakaian gelap datang menghampirinya dan memberikan secarik kertas ditangannya.
Pria itu langsung membuka secarik kertas ditangannya, lalu membacanya. Cucu anda sudah selamat dari bahaya, tapi pengasuhnya mendapat celaka. Pria itu langsung merobek kertas itu menjadi potongan yang sangat kecil.
Setelah mendapat kabar yang jelas dari orang suruhannya, akhirnya dia merasa tenang. Dengan santai dia berjalan menuju kasur sempit tanpa alas itu, lalu membaringkan tubuhnya di sana.
"Setelah keluar dari tempat suram ini, aku akan merebutnya dari tanganmu", ucapnya bergumam. Tanpa aba-aba matanya pun terpejam melupakan sejenak rasa benci yang sudah membuatnya ingin segera keluar.
...---...
Malam seakan tidak ingin berlalu, tubuh penat setelah aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran itu membuat Ayunda tidak mau bangkit dari posisi tidurnya.
Namun sesaat kemudian dia teringat akan seseorang. "My honey", katanya dengan mata melotot. Dengan buru-buru dia mencari ponsel yang telah dia lempar di atas tempat tidur. Matanya semakin terbuka lebar, kala melihat ada belasan panggilan tidak terjawab dari Alfian.
"Kenapa aku tidak mendengarnya?" tanyanya dengan mengecek suara ponselnya. "Di silent", rutuknya. Jarinya bergerak membuka sebuah pesan dari Alfian. "Owh, ternyata dia di rumah sakit "
Ayunda langsung menghubungi Alfian. Panggilan telepon terhubung, namun Ayunda harus sedikit sabar menunggu Alfian mengangkatnya.
"Assalamualaikum..." ucap suara Alfian dari ujung telepon.
"Waalaikumsalam honey. Apa pengasuh Zahra baik-baik saja?"
"Saat ini kondisinya sudah stabil. Dia hanya pingsan saat melihat beberapa orang menerobos masuk dengan membawa senjata tajam. Tapi ada yang aneh."
"Apanya yang aneh?" tanya Ayunda dengan tidak sabar.
"Orang-orang yang menerobos masuk seolah terbagi dalam 2 kelompok. Mereka saling serang, namun 1 kelompok melindungi Zahra."
"Apa jangan-jangan itu orang suruhan Pak Benny, Papanya Siska."
"Nanti aku selidiki siapa pelakunya. Sekarang kita ganti topik pembicaraan", ujar Alfian dengan nada lesu.
"Oke honey. Apa honey sudah sarapan?"
"Belum honey. Tidak ada yang membawakan aku makanan, bagaimana aku bisa sarapan", sahutnya dengan nada lirih.
"Baiklah aku akan membungkus sarapan buatan Bunda dan membawanya ke sana."
"Tidak perlu honey. Aku hanya menggodamu saja. Sebentar lagi aku turun ke bawah untuk membeli sarapan. Lebih baik honey istirahat yang cukup, karena 2 minggu lagi adalah acara pernikahan kita."
"Oke honey", balas Ayunda dengan tersenyum, meskipun Alfian tidak melihat senyumannya itu.
Lalu mereka saling mengakhiri sambungan telepon.
__ADS_1