Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Masih Acara Pertunangan Ferdo


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Sang kakek yang sedari tadi melihat kegelisahan Ferdo, berjalan hendak menghampirinya. Mery yang melihat sang kakek berjalan sendiri, berusaha membantunya, namun langsung di tepis oleh sang kakek. "Aku bisa sendiri!" ujar sang kakek yang membuat Mery terdiam.


"Kakek", sapa Siska dengan sikap manja, saat sang kakek sudah berdiri di samping Ferdo. Kakek Ferdo pun membalas dengan tersenyum sekilas padanya.


"Ferdo, apa Kau merencanakan sesuatu?" bisik sang kakek yang curiga dengan sikap Ferdo.


"Maksud Kakek, apa?" tanya Ferdo dengan sikap santai.


"Jangan berpura-pura, kakek tahu semuanya", balas sang kakek dengan setengah berbisik.


Ferdo tersentak kaget saat mendengar penuturan sang kakek. Apa iya kakek tahu semuanya? batinnya bertanya-tanya. Sang kakek terus menatap tajam ke arah Ferdo membuat Ferdo mulai khawatir, karena dia belum melihat Adrian kembali, bahkan orang suruhannya pun belum muncul.


"Jangan mencoba berbuat yang aneh", bisik sang kakek dengan menepuk pundaknya.


Siska mengkerutkan keningnya, saat melihat sang kakek terus membisikkan sesuatu pada Ferdo. Dia curiga mereka merencanakan sesuatu untuk menggagalkan acara pertunangannya dengan Ferdo. Setelah sang kakek beranjak dari sisi Ferdo, Siska buru-buru bertanya pada Ferdo. "Kakek ngomong apa barusan?" tanya Siska yang sudah di buat penasaran oleh mereka.


"Bukan urusanmu!" ucap Ferdo dengan setengah berbisik, namun penuh penekanan.


Siska kesal mendengar ucapan Ferdo, namun dia tidak bisa menunjukkan wajah kesalnya di depan banyak orang. Semua orang sedang menyoroti mereka saat ini, Siska terpaksa menunggu rencana apa yang sedang dimainkan oleh Ferdo dan sang kakek.

__ADS_1


Acara pun kembali di mulai, setelah jeda yang dilakukan oleh MC. Semua kamera mengarah dengan jelas pada Ferdo dan Siska yang akan segera bertunangan. Siaran live di stasiun televisi yang dimilikinya pun menayangkan dari awal acara pertunangan seorang CEO dari perusahaan pertelevisian yang terkenal itu. Bahkan di tempat yang berbeda, ada yang sedang menyaksikan acara pertunangan itu dengan berlinang air mata.


MC telah selesai membuka acara, dia kembali pada acara inti yakni penyematan cincin sebagai simbol. Dia meminta Ferdo dan Siska saling berhadapan, kemudian meminta Ferdo menyematkan cincin di jari manis Siska. Ferdo saat ini sedang memegang cincin di tangannya, Siska pun tersenyum lebar menunggu Ferdo menyematkan cincin itu di jarinya.


Suasana menegangkan, karena Ferdo hanya diam tanpa ekspresi membiarkan Siska menunggu. MC kembali mengingatkannya, dan akhirnya dengan tangan yang gemetar Ferdo menyematkan cincin itu. Hatinya hancur saat semua orang bertepuk tangan, dan melihat cincin itu benar-benar berada di jari wanita yang tidak dia cintai.


Siska tersenyum bahagia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, dengan buru-buru dia meraih cincin yang akan dia sematkan di jari Ferdo. MC terbelalak saat Siska sudah meraih cincin, sebelum dia memintanya. Dalam hitungan detik Siska sudah melakukannya, membuat MC terkekeh meledek Siska yang tidak sabar, serta meminta Ferdo agar segera menikahinya. Semua yang hadir pun ikut tertawa, membuat Siska tersipu malu.


"Baiklah acara inti sudah selesai", ucap MC mengakhiri acara penyematan cincin. MC pun meminta para tamu undangan menikmati hidangan yang telah disajikan. Para tamu undangan memberi selamat pada mereka, sebelum menikmati hidangan mewah yang sudah tersaji.


Ferdo terdiam tanpa ekspresi, karena semua rencananya telah gagal. Dia ingin segera meninggalkan acara itu, untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan orang suruhannya dan Adrian. Sedangkan Siska terlihat terlalu bersemangat, saat membalas uluran tangan para tamu yang mengucapkan selamat padanya.


*


Akhirnya Ferdo berhasil keluar dari kerumunan orang-orang yang tidak diharapkannya. Dia berlari sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman bahkan ke tempat parkir. Ferdo mengusap kasar rambutnya, saat tidak menemukan petunjuk keberadaan Adrian maupun orang suruhannya itu.


"Ada apa di sini? Kenapa kalian harus menjaganya?" tanya Ferdo yang mencoba menerobos masuk.


"Tunggu! Kau tidak boleh kemari!" seru sang pengawal yang langsung menghadang Ferdo.


"Cih, apa aku harus menelpon polisi?" tanya Ferdo yang mencoba membuat nyali mereka ciut. Sang pengawal saling menatap, lalu memandang Ferdo dengan tersenyum mengejek.


"Silahkan, Tuan!" sahutnya dengan santai.

__ADS_1


Ferdo tak dapat mengatakan apa pun untuk membalas sang pengawal. Dia terpaksa berjalan menjauhi sang pengawal, namun sorot matanya terus mengawasi gedung itu. Barangkali ada jalan lain, agar dia masuk dan melihat ke dalam.


"Ferdo!" teriak Siska sambil berlari mengampiri Ferdo. "Kau dari mana saja? Kenapa tiba-tiba menghilang?" tanya Siska tanpa jeda, membuat Ferdo harus menjauhi Siska. "Kau mau ke mana lagi?" tanya Siska yang mengikuti Ferdo dari belakang.


Tiba-tiba terlintas ide di benak Ferdo. Dia meminta Siska melakukan sesuatu untuknya. Siska pun menyetujuinya dengan bersyarat. Ferdo pun sepakat, asal Siska berhasil melakukan tugasnya.


Saat ini Siska berjalan dengan langkah gontai menghampiri sang pengawal yang masih setia berdiri di depan gedung. "Hai", sapa Siska sambil mengedipkan matanya. "Ada yang bisa membantuku?" tanya Siska dengan suara manja.


Sang pengawal saling memandang, lalu mereka menoleh ke arah Siska, dan menawarkan diri bersamaan, dan saling berebut agar Siska memilih salah satu dari mereka. Siska merasa senang, karena umpannya mengenai sasaran.


"Kebetulan aku butuh dua orang", ucapnya sambil mengedipkan mata. "Ayo!" ajaknya dengan menggandeng tangan ke dua sang pengawal itu. Siska menggerutu di dalam batinnya, *k*alau bukan Ferdo yang minta, aku tak akan menggandeng dua pria ini, bahkan melihat wajahnya saja aku mau muntah, batin Siska. "Aku kesulitan berjalan. Tolong bawakan sepatuku!" pintanya sambil mengerjapkan matanya. Sang pengawal pun mengikuti keinginannya.


Ferdo langsung beraksi, saat dirasanya keadaan sudah aman. Sang pengawal sudah tidak berada di tempatnya lagi, karena Siska berhasil melakukan tugasnya. Ferdo membuka paksa pintu ruangan yang terkunci itu. Dan betapa kagetnya dia, saat pintu terbuka lebar. Adrian dan orang suruhannya sedang di ikat dalam keadaan tidak sadar. Ferdo membuka tali pengikat mereka, lalu dia membangunkan Adrian dan orang suruhannya dengan menyiram air ke wajah mereka.


Adrian pun tersentak kaget, saat dia merasakan dinginnya air di wajahnya. "Apa yang Kau lakukan?" sergah Adrian sambil mengusap kasar wajahnya. "Kalau Kau punya dendam katakan!" seru Adrian yang mulai bangkit berdiri. Adrian pun basah kuyup, setelah guyuran air mengenai pakaiannya.


"Maaf, tadi itu hanya spontan. Kalau aku membangunkan dengan cara menepuk pipimu, itu akan jauh lebih sakit", balas Ferdo santai.


Lalu mereka berjalan bersama meninggalkan gedung itu. "Sepertinya kakek mengetahui rencana kita", ucap Adrian sambil menoleh ke arah Ferdo.


Ferdo mengernyitkan keningnya. Dia pun teringat saat sang kakek menghampirinya. "Hmm, ternyata itu maksud kakek mengatakan agar aku tidak berbuat aneh", sahut Ferdo yang mulai kesal dengan sikap sang kakek.


"Sabar, bro. Semoga saja pernikahan masih bisa dibatalkan", ucap Adrian menghibur sahabatnya itu.

__ADS_1


Ferdo menganggukkan kepalanya dengan ragu sambil memikirkan cara, agar sang kakek mau membatalkan pernikahannya.


To be continue...


__ADS_2