
Ayunda menatap sendu ponsel yang sudah berulang kali berada dalam genggamannya, namun ponsel itu akan selalu kembali ke atas nakas. Hal konyol itulah yang dilakukan Ayunda selama berjam-jam di dalam kamarnya. Bahkan tubuhnya pun seakan tidak bisa diam. Sesekali dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan bak pragawati di samping tempat tidurnya. Namun pada akhirnya sorot mata Ayunda kembali tertuju pada ponsel yang terletak di atas nakas.
Tok... Tok...
"Yunda... Yunda... ", panggil sang kakak dari balik pintu.
Ayunda mengabaikan suara ketukan pintu yang saling bersahutan dengan suara teriakan sang kakak
Setelah suara ketukan semakin keras. "Ya, kak". Ayunda menyahut dengan teriakan, namun tidak membuka pintu. Tiba-tiba matanya berbinar, saat layar ponselnya menyala. Ayunda langsung bergegas meraih ponselnya, lalu dia meletakkannya kembali dengan kasar, karena nama yang tertera di layar ponselnya bukanlah seseorang yang dia harapkan.
Rasa kesal pada si penelpon membuat Ayunda beranjak melangkahkan kakinya menuju pintu, lalu membukanya.
Ceklek
Suara pintu di buka, berhasil menghentikan tangan Adrian yang sedari tadi mengetuk. "Yunda", seru sang kakak sambil buru-buru menarik tangan Ayunda.
Ayunda hanya bisa pasrah saat sang kakak membawanya ke luar dari dalam kamar. Pada hal dia baru saja akan meminta agar sang kakak tidak mengganggunya saat ini.
"Ada apa, Kak?" tanya Ayunda dengan malas. Namun Adrian tidak langsung menjawabnya, lidahnya seakan tercekal untuk memberitahukan tujuannya mencari Ayunda.
Ayunda mulai jengah menunggu sang kakak yang masih memikirkan apa yang akan dia sampaikan. "Begini..." sahut Adrian dengan ragu. "Tapi kamu harus tenang dulu ya, dek", ucapannya kemudian, namun Ayunda semakin kesal mendengar ucapan sang kakak yang seperti teka-teki.
"Dari tadi Yunda tenang kok, kak", sahut Ayunda dengan wajah kesal. "Malahan aku melihat kakak yang tidak tenang", serunya. "Katakan saja, kak. Yunda sudah siap mendengarkan apapun itu."
Adrian menatap wajah cemberut Ayunda sambil memegang kedua tangannya. Dia masih berharap bahwa berita yang akan dia sampaikan tidak akan pernah terjadi.
"Alfian akan menikah", ucapan itu berhasil ke luar dari mulut Adrian.
Deg.
Jantung Ayunda seakan mendapat kejutan dasyat saat mendengar perkataan sang kakak. Kakinya bergetar ringan, hingga akhirnya dia beringsut lunglai.
__ADS_1
"Yunda... Yunda", teriak Adrian saat Ayunda tiba-tiba terduduk lemas dengan wajah pucat. Air yang semula menggenang di pelupuk mata Ayunda akhirnya tumpah, membasahi pipi mulusnya. Hatinya seakan hancur hingga berkeping-keping.
"Kakak sudah mengingatkanmu untuk tenang", ucap Adrian lembut sambil mengusap air mata yang tidak berhenti membasahi pipi Ayunda. "Ayo, kita duduk di sofa", ajak Adrian sambil membopong Ayunda.
Sang bunda yang baru saja masuk ke dalam rumah tersentak kaget saat melihat Ayunda sedang di bopong oleh Adrian.
"Yunda kenapa, nak?" tanya sang bunda dengan wajah khawatir. Keranjang kosong ditangannya pun dia hempaskan begitu saja, lalu berlari pontang panting menghampiri Ayunda.
"Yunda hanya sedikit syok, bun", jawab Adrian sambil mendudukkan Ayunda di sofa.
Sang bunda menatap Adrian sambil mengernyitkan keningnya. "Memang apa masalahnya, kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya sang bunda yang semakin khawatir.
"Bunda tenang dulu, ya. Ini tidak seperti yang bunda bayangkan", sahut Adrian mencoba membuat sang bunda mengerti. "Jadi tadi Adrian menyampaikan kabar ke Yunda, kalau Alfian akan menikah", ucapnya yang membuat sang bunda juga ikutan syok.
"Apa?" seru sang bunda, seakan tidak percaya dengan ucapan Adrian. "Kamu bercanda kan, nak?" tanyanya kembali dengan menatap serius Alfian.
"Tidak, Bun... Besok adalah hari pernikahannya", sahut Adrian.
Sang bunda memalingkan wajahnya menatap iba putri cantiknya yang sedang terduduk lemas dengan tatapan sendu. "Yunda..." panggilan lembut sang bunda semakin membuat Yunda berlinang air mata.
"Sabar ya, nak. Kita harus pastikan dulu kebenarannya", sahut Bunda yang tidak ingin gegabah menerima informasi.
"Tidak, bun. Berita itu pasti benar..." ujar Ayunda sambil cegukan. "Sudah berhari-hari kak Alfian tidak menghubungi Yunda, bahkan pesan yang Yunda kirim pun tidak dia balas." Yunda kembali menangis saat mengingat kejadian yang saling berhubungan itu.
"Sudah... sudah... " seru sang bunda yang tidak ingin menambah kesedihan Ayunda. "Kalau memang hal itu benar terjadi, Yunda harus bisa ikhlas, nak." Sang bunda terus berusaha membuat Ayunda mengerti.
Ayunda mendelik saat mendengar ucapan sang bunda, seakan tidak setuju dengan perkataan bundanya itu. Kejadian yang dia alami saat ini kembali mengingatkannya pada peristiwa 12 tahun yang lalu. Kejadian yang hampir sama dimana dia harus kehilangan orang yang sangat di cintai.
Ayunda beranjak dari sofa. Dia berlari menuju pintu kamarnya yang masih terbuka, dengan cepat dia meraih ponsel di atas nakas. Nafasnya yang memburu bersamaan dengan jari yang menscroll layar ponselnya untuk menghubungi seseorang.
***
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, di sebuah gedung yang sedang dihiasi dekorasi yang sangat indah. Tampak para pekerja yang sedang mondar-mandir sambil membawa beberapa perlengkapan untuk menata gedung tersebut, agar terlihat mewah sesuai dengan permintaan orang yang sudah membayar jasa mereka.
"Ya, letak di situ", ujar seorang wanita yang terlihat lebih sibuk dari si pemberi jasa.
"Sempurna!" ucapnya dengan menghela nafas lega.
Para pekerja juga ikut menghela nafas lega. "Akhirnya", ucap mereka hampir bersamaan, seakan terbebas dari banyak perintah yang merumitkan kerja mereka.
Wanita itu melangkahkan kakinya menghampiri para pekerja yang sedang duduk beristirahat. Mereka menatap wanita itu dengan penuh kewaspadaan. "Ada apa lagi ini?" celetuk salah seorang.
"Hai semua", sapa wanita itu dengan ramah. Namun mereka hanya menatapnya dalam diam. "Emm, saya ucapkan terima kasih karena kalian sudah bekerja keras...", ucapnya sambil menatap mereka satu persatu.
"Oh, iya", jawab salah seorang yang membuat wanita tersebut bingung.
"Umm, Intinya saya suka dengan hasil kerja kalian... sempurna", ucapnya dengan mengacungkan kedua jempolnya, namun para pekerja hanya menatap dengan dingin.
"Oh, iya. Baguslah kalau ibu suka", sahut seseorang yang menjadi pemimpin pekerjaan itu. Dia tidak ingin reputasi mereka jelek, hanya karena rasa kesal mereka pada satu orang pelanggan.
"Kalau begitu saya permisi dulu", ucap wanita itu berpamitan, lalu berjalan menuju sebuah meja tempat beberapa barang bawaannya dia letakkan.
"Dasar pekerja murahan", gumamnya sambil terus melangkah. "Sudah bagus di kasi pekerjaan." Dia masih bergumam saat sudah berada di sisi meja. Sorot matanya terusik oleh sebuah ponsel yang menunjukkan cahayanya. "Ponsel siapa ini?" gumamnya sambil celingak celinguk melihat sekitar. Namun matanya terkesiap saat membaca nama yang tertera pada layar ponsel itu. "Beb Yunda", serunya.
Darah yang mengaliri nadi seakan mendidih. Hampir saja dia menghempaskan ponsel.yang bukan miliknya itu. Sadar bahwa sang pemilik adalah calon suaminya. Akhirnya dia berubah pikiran. Dengan nafas yang memburu, dia menggeser tombol hijau di pinsel itu.
"Hallo", jawabnya ketus.
Ayunda dari seberang telepon pun bertanya pada wanita yang telah menjawab panggilan telepon dengan sembarangan itu.
"Saya Siska, tunangan Alfian dan besok akan berubah status menjadi istri!" sahutmya dengan menekan kata istri.
Sambungan telepon langsung terputus begitu saja, tanpa ada sepata kata dari Ayunda.
__ADS_1
"Cih, dasar pelakor", ucap Siska sinis pada ponsel di tangannya.
"Ponselku!" sergah Alfian yang langsung meraih ponselnya dari tangan Siska. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Siska yang masih berdiri dengan muka tersipu. Sentuhan tangan Alfian membuatnya tak sabar untuk menunggu hari esok.