Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Keputusan Sidang


__ADS_3

Happy reading...


Mentari pagi memancarkan sinarnya, memberi semangat baru bagi para pejuang nafkah dan para pengejar mimpi.


Namun cerahnya pagi ini tidak dapat membangkitkan semangat Ayunda. Dia masih duduk di tempat tidurnya sambil menatap sendu ke luar jendela. Telapak tangannya dia letakkan di wajahnya saat bias sinar mentari menyeruak masuk melalui kaca jendela. Mata sembabnya menunjukkan berapa banyak air mata yang sudah tertumpah saat malam tadi.


"Yunda..." suara sang bunda memanggilnya hanya terdengar sayup di telinga Ayunda.


"Yunda..." sang bunda terus memanggil sambil mengetuk pintu, namun Ayunda bergeming.


Kluntang...


Ayunda berjingkat, lalu beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan ke luar mencari sumber suara. "Ada apa?" gumamnya sambil terus berjalan.


"Habislah!" seru Adrian pada sang bunda, namun ucapan itu berhasil di dengar oleh Ayunda.


"Ada apa, bun?" tanya Ayunda sambil melangkah menghampiri sang bunda.


Sang bunda tersenyum kaku, lalu memegang ke dua lengan Ayunda dan memintanya segera duduk. "Bukan apa-apa, nak", sahutnya yang membuat Ayunda curiga.


Ayunda menyerongkan tubuhnya untuk melihat ke lantai. "Oo..." ucapnya singkat.


Sang bunda dan Adrian saling berpandangan seakan tidak percaya melihat reaksi Ayunda.


"Kamu gak marah, dek?" tanya Adrian dengan rasa bersalah, karena dialah pelaku yang tidak sengaja menjatuhkan tumbler kesayangan milik Ayunda dan kini tumbler itu pun pecah terletak di lantai


"Tidak", jawab Ayunda singkat.


"Kenapa?" tanya Adrian kembali.


Ayunda menatap heran sang kakak sambil mengernyitkan keningnya. "Emm, jadi kakak maunya Yunda marah?" balas Ayunda. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya. "Oke... Kal..."


"Eh, jangan... jangan", seru Adrian memotong ucapan Ayunda.


"Jangan apa kak?" tanya Ayunda dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Sudah lupakan saja", sahut Adrian dengan tersenyum canggung.


"Puft..." Ayunda menahan tawanya. Lalu kembali memandang Adrian dengan tatapan serius. "Yunda cuma mau bilang, kalau Yunda mau siap-siap. Hari ini kan sidang akhir ayah", ujarnya.

__ADS_1


"Oh, iya... " sahut Adrian. "Syukurlah dia tidak marah", gumam Adrian.


"Kalau gitu, Yunda ke kamar dulu ya, bun... Kak..." ucap Ayunda dengan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, meninggalkan sang bunda dan Adrian yang masih berdiri di pinggir meja makan.


Tiba-tiba saja Ayunda membalikkan badannya, menatap kembali Adrian dan sang bunda. "Yunda ingin membuang semua kenangan bersama mantan", seru Ayunda dengan menarik paksa lengkungan di kedua sudut bibirnya.


"Ya, sayang. Bunda mengerti, kok", sahut sang bunda dengan suara yang sedikit bergetar. Tangannya refleks mengusap cepat air mata yang berhasil jatuh dari pelupuk mata.


***


Setelah menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit selama di perjalanan. Ayunda bersama Adrian dan sang bunda akhirnya tiba di pintu masuk ruang persidangan.


Baru saja mereka akan melangkah masuk, terdengar derap langkah beberapa petugas dari pihak yang berwajib. Derap langkah itu seakan memacu degup jantung Ayunda yang mulai tidak beraturan. Dengan cepat dia menoleh ke belakang.


"Ayah", gumamnya saat netranya menatap guratan wajah lesu sang ayah. Mata nanarnya mengikuti setiap gerakan sang ayah, hingga sang ayah di bawa masuk ke dalam ruang persidangan.


"Sudah, nak", ucap sang bunda sambil menepuk lembut pundak Ayunda. "Jangan sampai ayah melihat wajah sedih kita. Nanti ayah akan semakin bersedih", ucap sang bunda dengan berbisik. Lalu sang bunda berjalan menggandeng Ayunda hingga sampai di kursi barisan depan. Adrian juga mengikuti langkah mereka dari belakang.


Baru saja Ayunda bersiap untuk duduk. Tiba-tiba seorang pria menyapa Ayunda dari belakang.


"Hai, Ay." serunya dengan suara nyaring. Spontan Ayunda memalingkan wajahnya.


Baru saja Dafa akan membuka mulutnya, seseorang yang lain datang dengan tergesa-gesa mendahului Dafa.


"Hei... Ay... " serunya menyapa Ayunda. Tanpa dia sadari telah membuat Dafa hampir terjatuh.


Ayunda terbeliak. "Reina", ucapnya sambil mengerjap tidak percaya.


Reina pun berlari menghamburkan dirinya memeluk Ayunda. "My bestie" ucapnya dengan riang, seakan sedang melepas rindu.


"Apakah ini acara reuni?" celetuk seseorang yang duduk tepat di belakang mereka. Orang tersebut mulai jengah sedari tadi mendengar suara bising mereka.


Tidak ingin membuat keributan, Ayunda spontan meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Shhtt..." memberi isyarat agar ke dua temannya itu duduk dengan tenang.


"Harap tenang...." seru pak hakim sambil mengetuk palunya. Lalu dia membuka jalannya sidang. Seorang jaksa memberikan beberapa berkas sebagai bahan pertimbangan hakim.


Sorot mata Ayunda dan keluarganya hanya tertuju pada pak hakim. Dengan mulut komat kamit, sang bunda tak berhenti memanjatkan doa menanti mukjizat terjadi.


Setelah pak hakim memeriksa berkas yang diberikan padanya. Dia langsung menarik mic tepat di depan bibirnya.

__ADS_1


"Saya kok heran..." ucapnya tiba-tiba. Ucapannya itu seakan berhasil menarik perhatian semua yang hadir di persidangan. Mereka bingung dengan ucapan menggantung sang hakim.


"Seharusnya tidak perlu ada sidang lanjutan. Pada bukti rekaman cctv ini sudah sangat jelas bahwa pak Rendra tidak melakukan kesalahan", ujar pak hakim yang membuat Ayunda bahkan sang ayah pun terbelalak.


"Untuk itu saya sampaikan bahwa pak Rendra dinyatakan bebas", ucap pak hakim memutuskan. "Sidang di tutup", ucapnya dengan mengetuk palu.


"Alhamdullilah..." ucap Ayunda riang. Sang bunda dan Adrian pun mengucap syukur atas putusan yang diberikan hakim.


Sang ayah yang merasa bahagia, langsung tersungkur melakukan sujud syukur. Lalu para petugas melepaskan rantai yang melingkar di tangannya. Setelah dia benar-benar bebas, sang ayah berlari menghampiri keluarganya. Namun Adrian tidak menyambut sang ayah. Dia masih duduk sambil memikirkan sesuatu yang di luar nalarnya.


"Dari mana bukti itu datang?", gumam Adrian.


***


Di tempat yang berbeda, di sebuah gedung yang mewah sedang terjadi kericuhan. Para tamu undangan yang semula datang dengan tampilan mewah dan wajah yang penuh keceriaan, akhirnya harus berlari pontang panting tanpa memikirkan image.


"Bagaimana ini, Pa?" rengek seorang wanita saat melihat semua tamu undangannya lari dengan buru-buru ke luar gedung tanpa menghiraukan mereka yang masih berdiri di panggung.


"Kamu tenang dulu Siska", sahut papanya yang tidak ingin termakan berita hoax. "Kita tunggu kabar dari orang suruhan papa", ucapnya dengan menepuk pelan tangan Siska yang tidak berhenti gemetar.


"Paman, saya tidak mau mati konyol di sini. Lebih baik pernikahan ini batal saja!" seru Alfian dengan mengibaskan jas mewahnya.


"Jangan... !" teriak Siska. "Please, Pa. Ayo kita keluar saja", ucap Siska dengan kaki gemetar.


Setelah berfikir sejenak, papa Siska akhirnya memutuskan untuk ke luar dari gedung itu. Siska pun bergegas turun dari panggung. Gaun indah rancangan designer terkenal itu seakan tidak ada harganya, saat ujung gaun itu tersangkut di salah satu tumit sepatunya.


Krakk


Siska hanya bisa memandang sedih ujung gaunnya yang koyak itu, lalu dia membuka sepatu heelsnya agar larinya lebih cepat.


Sang kakek yang memang datang terlambat berpapasan dengan mereka, dia pun bertanya dengan santai. "Mau kemana kalian?" tanyanya.


"Ada bom di gedung ini, Kek", sahut Siska. "Cepat keluar!" serunya dengan menenteng sepatu yang telah mengoyakkan gaunnya.


Winda yang baru saja berhasil menyusul di belakang sang kakek, langsung mendelik panik saat mendengar teriakan Siska. Spontan dia berbalik arah, mengikuti langkah Siska dengan berlari di belakangnya.


"Ayo, Kek!" ajak Winda pada sang kakek, saat menyadari sang kakek masih tertinggal di belakang. Namun sang kakek hanya merespon dengan berjalan santai di temani Alfian.


"Apa dia pikir aku masih muda", gumam sang kakek.

__ADS_1


__ADS_2