Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Isi Flashdisk


__ADS_3

Setelah sekian musim berlalu, author pun kembali melanjutkan cerita yang belum berujung ini. Semoga para readers masih setia membaca kelanjutan ceritanya.


***


Satu minggu kemudian.


Suasana hening dalam sebuah ruangan bahkan jarum jatuh pun akan terdengar saat ini. Terlihat wajah-wajah lesu yang penuh dengan guratan di dahi, seakan tak ingin memalingkan pandangannya pada sosok dihadapan mereka. Sesekali terdengar helaan nafas bersamaan dengan suara berbisik.


"Baiklah..." ucap sosok yang sedari tadi menjadi perhatian mereka. Seorang yang bertubuh besar dengan pakaian kebesarannya. "Kami telah membuka dan melihat isi dari flashdisk yang diberikan pada kami... " ucapnya melanjutkan. "Tapi... " ucapannya terputus dengan raut wajah yang tidak dapat dilukiskan. "Apakah kalian ingin mempermainkan persidangan? Video apa yang kalian berikan ini!" ujar sang hakim dengan suara tegasnya.


Ayunda beserta keluarganya yang hadir di persidangan saat itu pun tersentak kaget. Mereka saling bertatapan dengan kerutan di keningnya. Lidah pun seakan kelu, sehingga tak mampu berucap.


"Apa maksud pak Hakim, Kak?" tanya Ayunda yang mulai mencerna akan pernyataan sang hakim. Adrian yang sama bingungnya hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya. "Entahlah, kakak juga tidak tahu." ucapnya dengan sedikit berbisik. Dengan hampir bersamaan mereka langsung mengalihkan pandangan pada Winda.


"Aku juga tidak tahu", balasnya dengan ragu, seakan mengerti arti tatapan kedua kakak adik itu. "Saudara sepupuku yang memberikannya", lanjutnya dengan suara berbisik.


"Siska?" tanya mereka sambil mengkerutkan kening yang di balas dengan anggukan oleh Winda.


"Apa dia sengaja melakukan ini?" batin Ayunda. "Dan video apa yang sudah dia berikan?"


ucapnya dengan tatapan tajam dan kepalan tangannya memikirkan apa yang sudah dilakukan oleh Siska, mereka harus menanggung rasa malu , karena telah mendapat teguran dari sang hakim. Ayunda tersentak kaget saat ketukan palu sang hakim yang menyatakan bahwa persidangan di tutup menunggu putusan hakim minggu depan. Ayunda bersama keluarganya hanya bisa termangu. Secerca harapan seakan sirna bak mimpi di siang bolong.

__ADS_1


Sang bunda yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suaranya. "Ayo, kita pulang!" serunya dengan ekspresi datar.


Adrian dan Ayunda paham akan perubahan sikap sang bunda. Tanpa bantahan mereka langsung memeluk pinggang sang bunda. Mereka bertiga berjalan sambil menatap sang ayah yang telah di bawa oleh petugas meskipun yang tampak hanya punggungnya saja.


Winda hanya bisa menatap dengan mata nanar, saat mereka meninggalkan ruang persidangan. "Kenapa jadi seperti ini?" kesalnya. Kemudian dia teringat pada sepupunya yang telah mempermainkannya. "Bisa-bisanya dia menyerahkan video mesum seperti itu!" Winda bergidik membayangkannya. Kemudian ekspresinya berubah, ada rasa benci dan amarah yang ingin dia lampiaskan saat ini juga. "Awas kamu Siska!" batinnya. Dia merasa ditipu, karena telah mengatakan bahwa itu adalah pemberian sang paman. Hal itu membuatnya percaya karena adanya catatan kecil dari sang paman yang menempel pada flashdisk tersebut. "Ah, sudahlah" gumamnya lalu dia berlari kecil mengejar Adrian yang telah pergi meninggalkannya tanpa sepata kata.


Seseorang datang menghampiri Ayunda.


"Maaf... maaf... " ucapnya dengan nafas terengah-engah. "Bagaimana hasilnya, Yunda?" tanyanya sambil mengatur nafasnya yang masih memburu, namun Ayunda tidak merespon sama sekali. Alfian masih setia menunggu jawaban dari Ayunda, meskipun Ayunda tidak meresponnya.


"Nanti saja kita bicarakan", ucap Adrian lesu sambil menepuk pelan lengan Alfian. Lalu Alfian mengalihkan pandangannya pada Adrian dan menangguk cepat.


***


Gubrak...


Suara keras hentakan pintu telah menyentakan seorang wanita yang sedang menikmati secangkir kopi. Hampir saja kopi panas itu membuat kulit indahnya melepuh.


"Kau kenapa, ha?" sergah wanita itu. "Apa Kau ingin membuatku cacat?" bentaknya lagi dengan tatapan tajam, kemudian dia mencoba merapikan tumpahan kopi di roknya. "Shiit...", umpatnya.


"Heh, itu belum seberapa Siska!" teriaknya dengan tatapan sinis. "Harusnya itu benar-benar mengenai kulitmu!" lanjutnya dengan nafas memburu dan emosi yang meluap.

__ADS_1


"Hey, come on Winda... Kamu punya masalah apa, sampai marah seperti ini?" balasnya dengan sedikit melunak, lalu dia berdiri dan tangannya kembali sibuk membersihkan roknya.


Winda geram karena Siska hanya peduli dengan pakaiannya. Winda pun maju melangkahkan kakinya kehadapan Siska, sehingga saat ini jarak wajah mereka sangatah dekat. "Kau tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, hah?" tunjuk Winda ke wajah Siska dengan semakin merapatkan dirinya pada Siska. "Kau pikir itu sebuah lelucon, ha!" geramnya dengan melayangkan tangannya. Siska pun langsung memejamkan matanya. Hampir saja telapak tangan Winda menempel di wajah mulus Siska. " Heh, apa Kau pikir aku sejahat itu", ucap Winda sambil menarik kembali tangannya.


Siska terduduk lemas sambil menghela nafas lega. Winda membawa tubuhnya menjauh dari hadapan Siska, meskipun dadanya masih sesak dan debaran jantungnya tak hentinya memburu, namun dia berusaha tenang.


Baru saja Winda melangkahkan kakinya menjauhi Siska. Siska mencoba berbicara kembali. "Apakah ini mengenai flashdisk yang aku berikan padamu seminggu yang lalu?" tanyanya dengan suara datar tanpa mendongakkan kepalanya.


Winda menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Siska. Dia hanya diam sejenak di tempatnya berdiri, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berpaling ke arah Siska.


"Ha... ha... ", suara tawa Siska menggelegar sehingga menyulut kembali amarah Winda. Hampir saja Winda berbalik dan menerkam wanita yang tidak punya hati itu, namun diurungkannya niat itu.


"Ha. ha. ha." suara tawa mengejek Winda terdengar sebagai balasan tawa Siska. "Aku yang salah,,," ucapannya terjeda lalu dia menghela nafas dengan kasar. "Seharusnya aku tidak pernah percaya pada wanita busuk sepertimu." ucapnya tanpa memandang Siska, lalu pergi meninggalkan Siska tanpa berpamitan.


"Cih, dasar gila", gerutu Siska setelah Winda tidak terlihat lagi oleh pandangan matanya. "Hei,,,, setidaknya tutup kembali pintunya!" teriaknya tanpa malu seolah ingin Winda mendengarkan itu.


Siaka mendengus kasar, tak terima akan ucapan Winda. "Dasar sinting!" teriaknya kembali dan refleks tangan kanannya meraih gelas yang ada di atas meja, kemudian melemparkannya ke arah pintu masuk apartemennya. "Arrgghh... " teriaknya dengan semakin keras sambil mengacak-acak rambut indahnya.


"Kau mengatakan aku sinting?" ucap seorang yang baru saja masuk dan berdiri kaku di ambang pintu apartemennya, karena hampir saja dia menjadi sasaran gelas mahal itu.


Suara berat pria itu langsung mengusik perhatian Siska. Sorot mata tajamnya seketika berubah sendu, seakan ingin mendapatkan belaian dan pelukan manja. "hiks. hiks", rengeknya sambil berjalan lesu dan menyedihkan, lalu menghampiri pria yang sedari tadi belum beranjak dari tempatnya berdiri. "Akhirnya Kau datang sayang", ucapnya dengan memelas yang membuat bulu kuduk pria itu seketika berdiri. "Aku tahu bahwa kita memang sehati, karena kau tahu aku sedang bersedih saat ini. Jadi kau datang untuk menghiburku", ucapnya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


__ADS_2