
Pagi ini adalah pagi yang spesial bagi Ayunda. Seorang pria tampan lengkap dengan setelan jasnya sedang berdiri dihadapan Ayunda.
"Asslamualaikum...", Alfian mengucapkan salam dengan tersenyum manis, menatap wajah Ayunda tanpa make up yang memancarkan kecantikan alaminya.
"Waalaikumsalam..." balas Ayunda, namun seketika matanya melotot. "Apa aku sedang bermimpi?" ucapnya sembari mencubit tangannya. Aww... ringisnya. "Berarti ini bukan mimpi", ujarnya kemudian yang membuat Alfian tersenyum melihat tingkah lucu Ayunda.
"Ada apa kakak pagi-pagi sekali kemari?" tanya Ayunda dengan menatap Alfian sekilas, karena masih malu dengan tingkah konyolnya barusan.
"Aku ingin menjemputmu. Kita ke kantor bareng."
"Dalam rangka apa? Kita kan bukan rekan bisnis", sahut Ayunda dengan menautkan kedua alisnya.
"Memang bukan rekan bisnis, tapi aku adalah calon tunanganmu", ucap Alfian dengan tegas penuh percaya diri.
"Dari mana kepercayaan diri kakak itu muncul?"
"Kalau mengenai kepercayaan diri, Yunda gak perlu tanya, karena itu sudah bawaan lahir", ujar Alfian memuji dirinya sendiri. Sesaat kemudian raut wajahnya serius. "Apa kakak gak dipersilakan masuk nih?" tanya Alfian yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ayo, masuklah kak", ajak Ayunda dengan tersipu malu.
"Maafkan adikku ini, bro. Dia grogi kalau jumpa mantan", ucap Adrian saat datang dari arah meja makan.
"Emangnya mantannya banyak?"
"Justru itu, karena mantannya cuma 1, makanya... Aww..." pekik Adrian saat kakinya diinjak Ayunda.
"Kakak jangan dengerin kata kak Adrian. Dia itu suka bercanda", ujar Ayunda masih dengan rasa gugup.
"Tapi kakak suka dengan candaan Adrian."
"Kamu gak bisa mengelak lagi dek", ucap Adrian yang merasa menang.
"Kalau gitu Yunda mau siap-siap dulu, kak", ujar Ayunda yang tak ingin lebih lagi dipermalukan oleh sang kakak.
"Iya silakan", sahut Alfian dengan tersenyum.
Adrian pun berpamitan hingga menyisakan Alfian seorang diri di ruang tamu.
Ayah Ayunda hanya mendengar perbincangan mereka dari ruang makan. Dia belum bisa menerima Alfian, karena rasa kecewa akibat perbuatan Alfian yang telah meninggalkan Ayunda begitu saja. Meskipun Adrian berulangkali menjelaskan keadaan yang sebenarnya, namun karena sang ayah sangat benci pada seseorang yang mengkhianati cintanya, maka dia pun sulit untuk memaafkan Alfian.
Tak berselang lama Ayunda datang menghampiri Alfian. "Yunda sudah siap kak", ujarnya dengan tersenyum.
Alfian menatap kagum wanita anggun yang berdiri dihadapannya saat ini. "Cantik", puji Alfian yang membuat Ayunda tersipu malu.
"Jangan ditatap terus kak. Yunda jadi grogi."
Alfian senang Ayunda sudah tidak menjaga jarak lagi dengannya, yang membuatnya percaya diri untuk mendekati Ayunda ke tahap selanjutnya. "Apa kita sudah bisa berangkat?" tanya Alfian dengan tidak melepas pandangannya dari Ayunda.
__ADS_1
"Sebentar Yunda panggil ayah dan bunda, dulu." Ayunda langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju meja makan.
Sesaat kemudian Ayunda datang menghampiri Alfian dengan wajah murung. "Yunda sudah pamit sams ayah dan bunda, jadi kita sudah bisa pergi kak", ucap Ayunda dengan senyum terpaksa.
"Sudah jangan sedih", ujar Alfian yang membuat Ayunda mendongak. "Tadi kakak gak sengaja dengar ucapan ayah Yunda", lanjutnya.
"Maafkan ayah ya, kak."
"Ayah Yunda gak salah. Apa yang dilakukan ayah Yunda hanya untuk melindungi putri yang sangat disayanginya. Kakaklah yang salah karena telah mengkhianati cinta Yunda."
"Tapi itu..."
"Sudah... Jangan diperpanjang lagi. Entar kita telat ke kantor."
Ayunda menatap Alfian dengan tersenyum. "Ayo, kak", ajaknya dengan mempersilakan Alfian berjalan lebih dulu.
"Permisi..." ucap seorang pria dari arah luar.
Alfian dan Ayunda terperangah saat melihat petugas berseragam polisi itu berdiri dengan memegang sesuatu ditangannya.
"Ya, ada perlu apa pak", sahut Ayunda dengan ramah.
"Kami datang kemari membawa surat penangkapan atas nama Ayunda Milly Rendra."
Sontak Alfian dan Ayunda terlonjak kaget.
"Bisa saya lihat suratnya pak?" pinta Alfian yang tak percaya Ayunda akan di tangkap. Pak polisi pun menunjukkan surat penangkapan, lalu menutupnya dengan cepat.
"Ada apa?" tanya mereka dengan panik hampir bersamaan. Sesaat kemudian kepanikan mereka seolah bertambah kala melihat sosok berseragam yang datang dengan memegang borgol.
"Ternyata hari ini datang juga", ucap Ayunda lirih.
"Yunda..." panggil sang bunda sembari memeluk putrinya itu.
"Ada apa ini pak polisi?" tanya ayah Ayunda dengan perasaan cemas.
"Kami datang membawa surat penangkapan Ayunda Milly Rendra, pak."
Sang ayah terkesiap mendengar penuturan pak polisi. "Jadi Yunda akan di bawa sekarang juga?"
"Iya, pak", jawab pak polisi dengan tegas.
"Kamu harus tetap.tenang. Aku sudah meminta pengacaraku datang", ucap Alfian mencoba menenangkan Ayunda yang tampak panik.
"Pak polisi, atas dasar apa adik saya ditangkap?" tanya Adrian dengan nada tak ramah.
"Korban sudah mengatakan siapa pelaku yang telah menyebabkan dirinya celaka. Jadi kami datang menangkap saudari Ayunda berdasarkan kesaksian korban."
__ADS_1
"Bukankah Dafa hilang ingatan?" selidik Adrian.
"Ingatan korban sudah pulih!" sahut pak polisi. "Kalau begitu saudari Ayunda silakan ikut kami ke kantor.", titah pak polisi yang membuat Ayunda ketakutan.
Seluruh keluarga menatap dengan gelisah saat tangan Ayunda hendak di borgol.
"Tidak", ucap sang bunda yang tak rela anaknya di borgol atas tuduhan yang tak pernah dia lakukan.
"Bunda tenanglah. Biar Adrian pergi menemui Dafa", ujar Adrian dengan emosi yang meluap.
"Kau pergilah dengan pengacara. Biar aku yang ikut mengantar Yunda ke kantor polisi", ucap Alfian yang khawatir Adrian tidak akan diizinkan untuk menemui Dafa.
"Maaf bu. Ayunda akan segera kami bawa", ujar pak polisi saat sang bunda masih memeluk erat putrinya itu seolah tak ingin melepaskannya.
"Bunda... Jangan kuatir, Yunda akan baik-baik saja."
"Bagaimana mungkin orang di dalam penjara akan baik-baik saja", teriak sang bunda hingga mengundang perhatian tetangga yang lewat.
"Sudah bun. Lihat kita jadi tontonan orang", ucap sang ayah yang sedari tadi diam.
"Nak Alfian, bunda juga ikut mengantar Yunda", pintanya pada Alfian dengan wajah sendu.
"Baik bunda", sahut Alfian.
"Kalau begitu kami permisi pak, bu", ujar pak polisi sembari membawa Ayunda yang sudah diborgol.
Di rumah sakit.
Adrian bersama seorang pengacara terkenal kenalan Alfian sedang berjalan di lorong rumah sakit, mencari kamar Dafa dirawat.
"Sepertinya ini", ucap Adrian pada sang pengacara. "Ayo, kita masuk." sambungnya.
Adrian dan sang pengacara berjalan masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya ada Sherly.
"Eh, kenapa kalian masuk tanpa izin!" sergah Sherly sembari mendorong Adrian dan pengacara bergantian.
Namun karena tenaga Adrian lebih kuat dari Sherly, maka tak sedikit pun kaki Adrian bergeser dibuatnya. "Dafa... Apa kau mengingat aku siapa?" tanya Adrian to the point.
Dafa menggelenggkan kepalanya. "Kau siapa?" tanya Dafa balik.
"Jadi Ayunda itu siapa?" tanya Adrian dengan mengintimidasi.
"Dia yang sudah mendorongku!"
"Kenapa kau yakin Ayunda yang mendorongmu?"
__ADS_1
"Stop! Siapa kalian yang berani masuk membuat keributan di kamar anakku dirawat? Keluar sekarang!" titah papa Dafa dengan rahang yang mengeras.
Lalu Adrian dan sang pengacara keluar dari ruangan itu tanpa bantahan.