Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Akhirnya Ayunda Tahu


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Tony ke luar dari dalam kamar Adrian, saat Tony sudah selesai melaporkan sesuatu pada Adrian.


"Mas Tony", sapa Ayunda seolah ingin menyampaikan sesuatu padanya.


Adrian yang melihat gelagat sang adik menduga-duga, mungkin Ayunda ingin bertanya tentang sahabatnya yang bernama Reina itu.


"Hem, begini Ton", ujar Adrian yang mengalihkan perhatian Tony padanya. "Apa Kau kenal dekat dengan Reina?" tanya Adrian dengan wajah serius.


"Oh, Reina. Saya hanya mengenalnya sekedar saja, Pak. Kami tidak terlalu dekat", sahut Tony.


"Mas Tony... bukankah kalian pernah jalan bareng?" tanya Ayunda yang tidak suka dengan penuturan Tony.


Tony menarik nafas berat. "Iya, aku menerima ajakannya hanya untuk menghargai dia saja. Agar dia tidak kecewa."


"Ya, pastinya ada obrolan dong Mas. Apa Mas Tony tidak pernah bertanya tentang pribadi Reina?" Ayunda terus bertanya mengabaikan Adrian yang terus menyimak obrolan mereka.


Tony menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sekedar menemani sesuai permintaannya saja."


"Mas Tony jahat! Itu sama saja Mas Tony memberi harapan palsu sama Reina", ketus Ayunda.


"Bu- bukan gitu, Non. Aku melakukannya karena Non Reina itu temannya Non Ayunda, jadi aku tidak akan pernah menyakiti hatinya." Tony memelas, lalu menyodorkan ponselnya pada Ayunda. "Non, lihatlah aku tak pernah menelpon atau mengirimkan pesan padanya terlebih dahulu. Dialah yang melakukannya lebih dulu", tuturnya melanjutkan.


"Maaf Mas, kalau aku terburu-buru menuduh Mas Tony. Aku hanya bingung kenapa dia tiba-tiba berubah padaku." Ayunda menarik nafas berat, lalu menatap serius ke arah Tony. "Dia bahkan tidak mau mengangkat telpon dariku."


Adrian yang masih menyimak perbincangan Ayunda dan Tony pun akhirnya angkat bicara. "Ehem... Tony!" Adrian berdehem sambil memandang ke arah Tony, yang membuat Tony membalas tatapannya. "Begini saja... tolong Kau cari tahu sendiri, alasan kenapa Reina menjauhi Ayunda. Lakukanlah dengan baik!"


Tony membalas dengan mengangguk, lalu berpamitan pada Adrian dan Ayunda.


"Kau tak perlu cemas. Tony ahli di bidangnya, dia akan segera mengetahui alasannya", tutur Adrian dengan lembut pada sang adik, yang di balas dengan anggukan oleh Ayunda. Kemudian mereka saling melempar senyum.


"Sepertinya anak-anak bunda lagi bahagia. Bunda boleh ikutan, gak?" ucap sang bunda yang baru datang dari arah dapur.


"Bunda... " panggil Ayunda sambil merentangkan ke dua tangannya.

__ADS_1


"Kamu itu, ya", ucap sang bunda sambil mencubit gemas hidung Ayunda, lalu memeluk erat Ayunda. "Kalau begini terus, kita gak jadi sarapan, nih. Ayo, kita sarapan dulu", ajak sang bunda saat melepas pelukannya.


Ayunda tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu menggandeng sang bunda menuju meja makan. Adrian juga beranjak dari sofa mengikuti sang bunda dan Ayunda.


"Wah, aromanya membuat penghuni perut Yunda bersorak, Bun!" teriaknya dengan tersenyum bahagia.


Adrian juga bersemangat untuk segera menyantap sarapan pagi buatan sang bunda. "Bunda... terbaik!" seru Adrian dengan menunjukkan kedua jempolnya.


Sang bunda bahagia saat melihat ke dua anaknya, selalu menyukai masakan buatannya. Dia pun duduk dengan tersenyum bahagia, sambil memandang bergantian ke dua anaknya yang sangat bersemangat mengambil beberapa sendok makanan dan menaruhnya di piring.


"Bunda", panggil Adrian saat sepiring nasi goreng di hadapannya siap untuk di santap.


"Ya, Nak", balas sang bunda.


"Dua hari lagi kita akan pulang kampung", ucap Adrian yang membuat sang bunda terbeliak. Ayunda yang mendengarkan penuturan sang kakak sama kagetnya dengan sang bunda, dia meletakkan kembali sendok di tangannya, lalu mengalihkan perhatiannya pada sang kakak.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya sang bunda.


"Alfian ingin ziarah ke makam ke dua orang tuanya, Bun", sahut Adrian. "Jadi kita bareng aja, karena kami memang sudah merencanakannya sebelumnya."


Sang bunda mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?" tanya sang bunda.


"Oo... ya bagus kalau begitu", sahut sang bunda yang baru saja mengambil beberapa sendok mie goreng buatannya.


"Kalau gitu, Ayunda cuti kuliah dong, Kak."


"Tolong Kamu usahakan ya, dek."


"Baik, Kak", balas Ayunda sambil tersenyum, lalu melanjutkan memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.


***


Di apartemen Ferdo. Dia baru saja memutus sambungan telepon setelah Adrian memberikan kabar, bahwa mereka akan berangkat bersama keluarganya saat ziarah nanti. Ferdo pun tidak keberatan, dia senang karena nantinya akan ramai yang berangkat.


Ferdo meletakkan kembali gelas kosong yang baru saja menyesapnya. Olah raga pagi yang di lakukannya dengan berlari mengelilingi taman, membuatnya sangat kehausan.


Hari ini seharusnya dia beristirahat dari segala aktifitas kantor. Namun kabar pagi ini, membuatnya bersemangat untuk melakukan pekerjaan kantor yang tertunda. Dia langsung bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan keringat yang masih menempel.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan ritual mandinya. Ferdo pun masuk ke dalam ruang kerjanya. Lalu membuka laptopnya dan mengambil beberapa data yang sudah di email Tya sang sekretaris. Ferdo menatap layar laptop di hadapannya, namun pikirannya belum sepenuhnya pada pekerjaan yang akan diselesaikannya. Dia pun mengulas senyum membayangkan sesuatu yang belum terjadi.


***


Malam belum larut, namun sudah memaksa setiap orang untuk kembali ke kediaman masing-masing, setelah menikmati akhir pekan yang bagi sebagian orang sangat menyenangkan. Begitu pula dengan Tony dan Reina, saat ini mereka telah ke luar dari cafe favorit Reina, tempat pertemuan yang mereka janjikan pagi tadi.


Sebagai pria yang bertanggung jawab, Tony pun mengantar Reina kembali ke rumahnya. Lalu Tony melajukan kendaraannya menuju apartement Adrian.


Kurang dari dua puluh menit Tony sudah berada di basement apartement. Dengan buru-buru dia ke luar dari dalam mobil menuju lift.


"Mas Tony!" sapa Conny yang sedang menunggu lift terbuka.


"Iya, Mbak. Maaf saya lupa nama Mbak", ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Conny tersenyum simpul mendengar penuturan Tony. "Conny, Mas", ucapnya. "Jangan lupa lagi, ya", tuturnya dengan ramah.


"Siap, Mbak", sahut Tony sambil mempersilahkan Conny masuk ke dalam lift.


Conny masuk ke dalam lift di ikuti Tony dari belakang. Ada perbincangan hangat saat mereka di dalam lift, sampai pintu lift terbuka lebar di lantai 3.


"Saya duluan, Mbak", ucap Tony yang di balas dengan anggukan oleh Conny, lalu dia melangkahkan kakinya ke luar dari dalam lift.


*


Tong... tong.


"Iya sebentar!" seru Ayunda dari dalam. "Siapa sih, malam-malam gini bertamu", ucapnya sambil melihat siapa yang datang melalui intercom. "Mas Tony", gumamnya. Lalu Ayunda membukakan pintu.


"Malam, Non", sapa Tony yang langsung di balas oleh Ayunda. "Maaf mengganggu waktu istirahatnya Non."


"Ya, gak apa-apa. Masuk dulu, Mas", tutur Ayunda dengan ramah.


"Siapa, dek?" tanya Adrian yang baru saja ke luar dari dalam kamarnya. "Tony", ucapnya sebelum Ayunda menjawab sang kakak. "Ada apa, Ton?" tanyanya.


"Duduk dulu, Mas", pinta Ayunda. "Sekarang ceritakan, ada apa Mas?"


Tony menceritakan pertemuannya dengan Reina. Dan dia berhasil mencari informasi seperti permintaan Ayunda. Saat Ayunda mengetahui alasan Reina menjauhinya, dia pun syok, karena tidak tahu sahabatnya itu punya masalah sebesar itu.

__ADS_1


"Terima kasih, informasinya Mas", ucap Ayunda dengan wajah sendu. Akhirnya dia tahu bahwa sahabatnya itu tidaklah benar-benar membencinya.


__ADS_2