
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ferdo duduk di belakang bangku kemudi sambil memandang nanar ke luar kaca jendela mobil. Rasa bahagia yang seharusnya dia rasakan, berubah menjadi sendu. Berawal dari bundanya Ayunda yang tidak memberikan restu akan hubungan mereka, saat mengetahui status Ferdo. Kemudian timbul masalah yang lain, yakni saat Adrian menceritakan kisah yang terjadi hampir 13 tahun berlalu.
Ferdo mendesah dengan gusar, sehingga menarik perhatian sang supir.
"Apa Bapak baik-baik saja?" tanya sang supir dengan sopan.
Ferdo pun menganggukkan kepalanya sambil berdehem. Sang supir mengetahui balasan dari sang majikan, melalui spion dalam mobil, sehingga dia tidak perlu lagi menunggu jawaban dari sang atasan.
***
Di tempat yang berbeda, Ayunda menatap sendu langit tanpa bintang dari atas balkon. Air matanya jatuh, tatkala mengingat penuturan sang bunda. Baru saja dia memulai suatu hubungan, namun sang bunda menentangnya.
Adrian pun datang menghampiri sang adik yang termenung.
"Kakak akan bantu bicara pada bunda", ucap Adrian yang membuat Ayunda berjingkat, karena kedatangan sang kakak yang tiba-tiba.
Ayunda menatap sendu sang kakak. "Kakak yakin bisa meyakinkan bunda?" tanya Ayunda sambil mengkerutkan keningnya.
"Heem, jangan sedih lagi, ya." Adrian menatap sang adik dengan tersenyum sambil mengacak lembut rambutnya.
"Kakak!" teriak Ayunda kesal.
"Ini baru Yundanya kakak!" serunya masih dengan mengacak rambut Ayunda, lalu Adrian mengajak sang adik masuk, karena udara malam yang semakin dingin hingga menusuk ke tulang.
***
Pagi yang cerah, namun tidak secerah wajah Ayunda. Wajahnya yang di tekuk mengusik perhatian sang bunda.
"Yunda, bunda ingatkan... jangan pernah menjadi wanita perebut!" seru sang bunda. Ayunda hanya membalas dengan menatap sendu sang bunda. Ini pertama kali baginya mengalami yang namanya demam cinta.
__ADS_1
"Yunda, dengarkan bunda." Sang bunda kembali berucap saat tak ada balasan dari Ayunda.
"Bunda", panggil Adrian yang membuat sang bunda menoleh padanya. "Bisa kita bicara sebentar, Bun?" pinta Adrian yang merasa bertanggung jawab, karena telah menyebabkan kekacauan pada hati Ayunda.
"Bun, Yunda berangkat ke kampus, ya", pamitnya pada sang bunda sambil mengucapkan salam, yang langsung di balas oleh sang bunda. "Kak Adrian, Yunda duluan." Ayunda berucap dengan nada lesu.
"Ya, dek. Hati-hati di jalan!" seru Adrian.
*
Ayunda duduk di dalam mobil masih dengan wajah di tekuk. Tony menghela nafas berat, karena sedari tadi menahan niatnya untuk bertanya pada Ayunda.
"Sudah sampai, Non", ucap Tony memecah keheningan, sebab sejak keberangkatan mereka dari apartement sampai di depan gerbang kampus tak ada obrolan di antara mereka, selain dari pada sapaan saat Ayunda masuk ke dalam mobil.
"Oh, sudah sampai ya, Mas", ucap Ayunda sambil mendongak melihat ke luar kaca jendela mobil. "Terima kasih, Mas", ucapnya sebelum ke luar dari dalam mobil. Tony pun langsung menyahut dengan tersenyum, mekipun Ayunda tidak melihat ekspresi wajahnya, dia selalu tersenyum padanya.
Ayunda ke luar dari dalam mobil. Sorot matanya melihat kepada seorang yang tidak asing baginya. "Reina!" teriak Ayunda. Reina pun membalikkan badannya, menoleh pada sumber suara.
Ayunda langsung berlari menghampiri sahabatnya itu. Namun Reina menghindar dari kejaran Ayunda. "Reina!" teriak Ayunda kembali. Dia mengira bahwa Reina tidak mendengar teriakannya. "Tunggu aku!" pintanya masih dengan mengejar Reina.
"Ada apa dengan Reina?" Ayunda berhenti dengan nafas terengah-engah, karena tak dapat lagi menyusul Reina. Dia hanya memandang punggung Reina yang semakin menjauh.
"Apa Kau pikir, kalau Kau hebat, Ayunda?" Seorang wanita yang suaranya tak asing bagi Ayunda datang menghampirinya, dan berbicara di belakang Ayunda dengan nada angkuh.
Ayunda membalikkan badannya untuk melihat wanita yang sedang berbicara padanya. "Sherly!" ucapnya dengan mengernyit. "Apa maksudmu? Aku tak pernah mengganggumu!" seru Ayunda.
"Cih, Kau masih sok polos!" cibirnya. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah Kau lakukan pada perusahaan papaku!" sergahnya. "Kau memang licik! Berpura-pura baik untuk menarik simpati para pria!" Sherly masih melontarkan tuduhan yang sebenarnya tidak dilakukan oleh Ayunda. "Teruskan kebohonganmu!" ujarnya. Lalu berjalan meninggalkan Ayunda yang menatap Sherly dengan wajah bingung.
"Ada apa ini?" Ayunda bergumam. Dia masih mematung di tempatnya semula, saat memikirkan keanehan yang dia alami pagi ini.
*
Jam kuliah berakhir, Ayunda langsung mengejar Reina yang berusaha menghindar darinya.
__ADS_1
"Reina! Reina! Tunggu aku... " Ayunda terus berlari mengejar Reina dan tak berhenti memanggilnya.
Reina akhirnya berhenti saat kaki Ayunda terpelecok. Reina yang mendengar ringisan Ayunda terpaksa menghentikan langkahnya, lalu menghampiri Ayunda.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Reina.
Ayunda pun tersenyum. "Aku tahu Kau hanya berpura-pura menjauh dariku, kan?" ucapnya. Reina tertunduk lesu sambil menghela nafas berat.
"Maafkan aku, Ay", ucapnya masih dengan tertunduk. "Aku tidak pantas menjadi sahabatmu. Jadi tolong jangan temui aku lagi! Dan jangan tanyakan alasannya!" pintanya dengan serius. "Aku pergi dulu", ucapnya tanpa memandang Ayunda, lalu dia meninggalkan Ayunda yang tidak mengerti sama sekali masalah Reina sahabatnya itu.
Drrtt... drrtt.
Ayunda buru-buru merogoh ponsel di dalam tasnya, tatkala mendengar ponselnya berbunyi. Namun raut wajahnya berubah, saat si penelepon bukanlah orang yang sedang di tunggunya.
"Hallo, Kak", sahutnya saat dia telah menggeser icon bewarna hijau itu. "Ada apa, Kak?" tanya Ayunda kemudian.
"Oo, oke Kak", balas Ayunda, saat mendengarkan ucapan sang kakak dari seberang telepon. Lalu mereka saling memutus sambungan telepon.
***
Di tempat lain, yakni di ruangan kerja Ferdo. Tya berdiri di samping meja kerja sang atasan. Dia menunggu sebuah berkas yang ada di hadapan bosnya itu, agar segera di tanda tangani.
"Pak... Pak", panggil Tya berkali-kali, namun Ferdo tetap bergeming sambil memikirkan sesuatu.
"Pak Ferdo!" ucap Tya sedikit berteriak membuat Ferdo tersentak kaget. Tya pasrah jika sang bos akan memarahinya. Tya kesal karena sudah menunggu kurang dari setengah jam di samping sang atasan.
Ferdo menatap tajam sekretarisnya yang sudah tidak sopan itu. "Ada apa?" tanyanya dengan kesal.
"Ma- maaf, Pak", ucap Tya dengan terbata. "Ini Pak, berkasnya tolong di tandatangani, karena divisi marketing membutuhkannya", ucapnya masih dengan rasa gugup.
"Oke", balasnya singkat. Lalu Ferdo langsung membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang di tunjuk Tya.
Setelah selesai Tya meminta izin untuk mengambil berkas dihadapan sang bos. "Terima kasih, Pak", ucapnya dengan tersenyum, saat sebuah berkas sudah berada di tangannya. Lalu Tya pamit pada Ferdo, sebelum meninggalkan ruangan bosnya itu. Namun Tya sempat terkesiap, saat sang bos salah menyebutkan nama, bahkan Ferdo tak menyadari, kalau dia telah salah menyebutkan nama Tya lebih dari dua kali.
__ADS_1
Ya, nama yang selalu ada di hati Ferdo, bahkan dia pernah berjanji akan menikahi Ayunda, sewaktu masih kecil ketika dia tinggal di gudang rumah Ayunda kecil. Ferdo yang sedari tadi memikirkan Ayunda buru-buru meraih ponselnya untuk menelepon seseorang yang saat ini ingin segera di hubunginya.