
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ferdo bersama Adrian dan Tony sedang berada di dalam mobil yang masih terparkir. Mereka kembali membahas alat yang telah mereka bawa masuk ke dalam apartemen Siska, semuanya diletakkan pada posisi yang tepat. Dan mereka puas dengan hasil kerja masing-masing, saat sebuah hasil rekaman dari kamera cctv terlihat jelas di layar ponsel Ferdo dan Adrian. Bahkan suara dari di ruang tamu juga terdengar dengan jelas.
"Good job." Ferdo memuji hasil kerja mereka. Adrian dan Tony tersenyum bangga, telah melakukan misi pertama bersama sang bos.
"Thanks, bro. Aku pergi dulu", ucap Ferdo yang telah membuka pintu mobil Adrian, lalu berjalan ke luar menghampiri sang supir yang sudah menunggunya.
Setelah kendaraan Ferdo melaju di depan mereka, Tony juga melajukan kendaraannya meninggalkan basement.
***
Winda berdiri di atas balkon apartemen Siska, merasakan angin malam yang masuk ke dalam pori-pori wajahnya. Senyumnya kembali terukir saat mengingat penampilan Adrian tadi. Namun dia sadar telah membuat Adrian kesal, karena telah mengejeknya.
Conny yang sedari sibuk dengan teman-temannya yang lain, tidak sengaja melihat Winda seorang diri di balkon, dia pun datang menghampirinya. "Apa Kau akan terus senyum-senyum sendiri di sini?" tanya Conny membuyarkan lamunan Winda.
"Jangan ganggu aku! Bergabunglah dengan yang lain, mereka sudah jauh-jauh datang dari Paris." Winda menjawab tanpa menoleh ke arah Conny.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, karena aku sudah melakukan itu, tapi Kau malah meninggalkan mereka."
Winda mendesah, lalu menatap kesal Conny. "Iya, iya bawel", rutuk Winda.
Conny pun menggelengkan kepalanya melihat sikap Winda. Dia curiga ada sesuatu antara Winda dan Adrian. "Aku akan menanyakannya pada Ayunda, nanti", gumamnya.
Pesta yang di adakan Siska seakan tak ingin mereka hentikan. Namun Winda dan Conny mendesak untuk segera pulang, karena malam hampir larut. Walaupun Siska menawarkan pada Winda untuk pertama kalinya nginap di apartemennya, namun Winda menolaknya. Dia lebih memilih menginap di tempat Conny dari pada di tempat saudaranya itu sendiri.
"Pesta terpaksa kita hentikan guys, karena dua sahabat kita ini anak mami, puft", ledek Siska pada Winda dan Conny.
"It's ok! Next time, kita buat pesta lagi, but not here!" seru salah seorang teman mereka yang bernama Cathrine.
"Yes, I agree!" sahut Paula yang saat baru saja meneguk setengah gelas juice jeruk.
Siska tersenyum lebar mendengar penuturan ke dua sahabatnya itu. "Terima kasih teman-teman. Kalian memang sahabat sejatiku." Siska melangkahkan kakinya untuk menghampiri mereka, lalu memeluknya.
"Oke, kalian atur saja, kalau begitu kami permisi duluan, ya", ucap Winda yang tak ingin menyaksikan drama sahabat itu lebih lama lagi.
__ADS_1
Conny pun berpamitan pada sahabat-sahabatnya yang masih ingin menikmati pesta malam itu. Lalu dia dan Winda berjalan bersama ke luar dari apartemen Siska.
***
Malam semakin larut, namun Ayunda belum juga memejamkan matanya. Sorot matanya menyusuri langit-langit kamarnya yang tidak ada perubahan sejak pertama kali dia tinggal di kamar itu.
Ayunda menghela nafas panjang, saat matanya tak kunjung mengantuk. Entah apa yang sedang memenuhi pikirannya saat ini, sehingga guling dalam pelukannya harus berkali-kali berpindah posisi.
Ayunda memutuskan bangkit dari ranjang, lalu ke luar dari dalam kamar tidurnya. Kemudian dia berjalan menuju pantry untuk meraih sebuah gelas dan mengisinya dengan air dari dalam dispenser. Setelah gelas di tangannya telah terisi penuh air, Ayunda kembali melangkahkan kakinya, dia berjalan menuju balkon.
Hamparan langit yang penuh bintang menjadi pemandangan indah yang menemani malam suntuk Ayunda. Dia berdiri dengan meletakkan ke dua tangannya di atas pagar balkon, sambil memejamkan matanya dan merasakan angin malam menerpa wajahnya.
Sudah beberapa menit Ayunda melakukannya, namun rasa kantuk tak kunjung menghampirinya.
"Yunda!" suara bariton Adrian saat memanggil Ayunda membuyarkan lamunannya. Ayunda pun menoleh ke belakang tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Sedang apa Kau di sini? Ini sudah larut, jangan berdiri di sana!" Adrian terus mencecar Ayunda seperti sedang menasehati seorang adik kecil.
"Aku gak bisa tidur, Kak", sahut Ayunda, sambil berjalan menghampiri sang kakak.
"Baik, Kak", balas Ayunda dengan tertunduk lesu.
"Katakan, apa masalahmu?" Adrian bertanya dengan nada lembut, agar sang adik tidak merasa takut padanya.
"Aku tak punya masalah apa-apa, Kak", jawab Ayunda masih dengan menunduk.
"Jangan bohong! Apa Kau sedang memikirkan Alfian?" Adrian menebak untuk melihat reaksi Ayunda. Dan benar saja, saat mendengar nama Alfian, Ayunda pun mendongak ke arah Adrian.
"Hem, berarti benar. Apa Kau menyukai Alfian?" tanyanya to the point.
Dengan cepat Ayunda menggeleng, "bukan seperti yang kakak pikirkan. Kakak sudah salah menduga." Ayunda langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Adrian pun mengikutinya dari belakang.
"Jadi, kenapa Kau memikirkannya?"
"Aku tidak ada bilang sedang memikirkannya. Kakak yang menebak sendiri!" Ayunda berdecak kesal, lalu dia masuk ke dalam kamarnya meninggalkan sang kakak yang masih mematung.
"Maaf, Kak. Aku mau tidur!" seru Ayunda dari balik pintu kamarnya.
__ADS_1
Adrian pun terpaksa kembali ke dalam kamarnya, dan melupakan rasa penasarannya pada Ayunda.
***
Pagi harinya Ayunda banyak diam, saat di meja makan. Bahkan Ayunda dan Adrian terlihat asing satu dengan lainnya. Sang bunda yang melihat sikap ke dua anaknya yang tak biasa, langsung angkat bicara.
"Apa kalian berdua baik-baik saja?" tanya sang bunda.
Dengan senyum di paksakan Ayunda menganggukkan kepalanya, "ya, Bunda."
"Ya, Bun", balas Adrian setelah selesai meneguk setengah gelas air.
"Tapi kenapa kalian diam saja? Biasanya kalian berdua sangat ceria", sang Bunda kembali bicara, membuat Ayunda tersedak.
"Pelan-pelan, Nak", sang bunda memberikan perhatiannya pada putri imutnya itu dengan memberikan segelas air.
"Yunda sudah terlambat, Bun. Yunda berangkat, ya", ucapnya berpamitan pada sang bunda. "Kak, Yunda duluan, ya", ucapnya pada sang kakak dengan melirik sekilas.
"Hati-hati di jalan, Nak", ucap sang bunda dengan sedikit berteriak, karena Ayunda melangkah dengan cepat.
Adrian pun ikut berpamitan pada sang bunda, namun sang bunda menahan tangan Adrian.
"Apa kalian benar-benar tidak punya masalah, Nak?" tanya sang bunda yang masih penasaran.
Adrian tersenyum memandang sang bunda. "Bunda jangan khawatir, kami baik-baik saja. Saat ini Yunda sedang ingin sendiri, kita tunggu saja sampai Yunda mau menceritakan apa masalahnya."
"Oh, jadi Yunda sedang ada masalah?"
"Sebenarnya bukan sedang ada masalah, Bun. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu, tapi Yunda belum mau menceritakannya."
"Nanti bunda coba bicara dengannya", ucap sang bunda dengan wajah serius.
"Kalau begitu, aku sudah boleh berangkat kan, Bun?" tanya Adrian dengan tersenyum simpul.
Sang bunda pun tersenyum. "Ya, boleh dong. Hati-hati di jalan ya, Nak." ucap sang bunda yang di balas dengan anggukan oleh Adrian.
"Semoga tidak terjadi apa-apa pada Yunda", gumam sang bunda, saat Adrian sudah berjalan ke luar apartemen dan menutup rapat pintu.
__ADS_1