
Hai Reader yang baik hati, selalu jaga kesehatan ya π
πΈπΈπΈ
Ayunda berjalan dengan wajah sendu, hal itu mengusik perhatian seorang teman kerjanya.
"Itu muka kenapa?" tanya Lisa dengan mengkerutkan keningnya.
"Emang di mukaku ada apa?" tannya polos.
"Apa perlu aku bawakan cermin, tapi aku takut entar cermin akan menjauh saat melihat wajahmu."
"Apakah wajahku sangat menyeramkan?" tanya Ayunda dengan berpura-pura menyentuh wajahnya.
"Sudah-sudah, aku tau Kau hanya berdalih... ayo katakan, apa masalahmu?"
"Sok tau deh... aku tu gak ada masalah apa-apa", ucapnya dengan masih menatap ke dua pria itu.
"Oke deh, kalau belum mau cerita, aku akan menunggu sampai kamu siap untuk crita ke aku."
Ayunda langsung mengalihkan pandangannya, dia memandang Lisa tanpa suara. Lisa bagaikan tersihir akan tatapan Ayunda, dia pun mematung memandang Ayunda.
"Ay, aku takut orang-orang yang melihat kita akan mengira kita adalah sepasang kekasih yang sedang kasmaran", tuturnya sambil mengedipkan matanya.
Ayunda pun mengalihkan pandangannya dari Lisa, dia merasa temannya ini mulai gak beres.
"Ada pelanggan datang", ucap Ayunda sambil bergidik ngeri, lalu buru-buru meninggalkan Lisa.
Ha... ha... Lisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Ayunda. Dia telah berhasil merubah mood Ayunda.
Ayunda menghampiri pelanggan dengan membawa buku menu, "silakan, Pak", tuturnya dengan menyodorkan buku menu.
"Terina kasih", ucap pelanggan itu sambil menerima buku menu.
Ayunda mulai mencatat satu persatu pesanan pelanggan yang saat ini ada di hadapannya, namun saat dia selesai mencatat tanpa sengaja mendengar perdebatan ke dua pria yang tadi di layaninya.
"Sudah aku katakan berkali-kali, jangan panggil aku dengan nama itu jika kita sedang berdua", ucapnya pada pria satunya.
"Aku akan tetap memanggilmu seperti itu, di mana pun kita berada", sahut temannya yang tak ingin di bantah.
Percakapan yang telah di tangkap oleh telinga Ayunda dari kedua pria itu memiliki arti yang berbeda membuat Ayunda bergidik ngeri.
__ADS_1
Apakah mereka pria normal? Kenapa jaman now banyak yang aneh-aneh ya, batinnya. Lalu dia berjalan meninggalkan meja pelanggan dengan sedikit tergesa-gesa.
Setelah pesanan pelanggan selesai, Ayunda bergegas membawa pesanan itu ke meja pelanggan. Dia menyajikan dan mempersilakan mereka menikmati hidangan dengan ramah.
Saat Ayunda akan membalikkan badannya, ke dua pria itu juga berdiri, tanpa sengaja tubuh Ayunda terdorong ke belakang.
"Maaf... maaf... Ay" ucapnya pada Ayunda.
"Iya, gak apa-apa, Pak", sahut Ayunda ramah.
Lalu pria itu pamit sambil tersenyum.
Senyumnya mengingatkanku pada kak Adrian, batin Ayunda.
***
Ayunda berjalan dengan riang menyusuri koridor kampus, ada perasaan bahagia yang dirasakannya setelah bertemu dengan pria di cafe tempatnya bekerja.
Dia masuk ke dalam kelas dan duduk di salah satu kursi kosong masih dengan tersenyum.
"Hmm... apakah ini rona-rona asmara, aku melihat ada bunga yang sedang bermekaran", ujar Reina sahabatnya saat duduk di sebelah Ayunda.
"Bagaimana dengan tugas pidatomu, apakah sudah selesai?" tanya Ayunda mengalihkan perhatian Reina.
"Apa sih", ujar Ayunda sambil mencubit gemas hidung Reina.
Reina menghembuskan nafas kesal, karena sahabatnya itu tidak mau membagi kebahagiaannya.
"Itu tidak seperti yang Kau pikirkan, aku hanya membayangkan kenangan saat bersama saudara laki-lakiku."
"Kejadian seperti apa yang telah membuatmu tak berhenti tersenyum?" tanya Reina.
"Saat dia lelah bermain di luar rumah, dia meminta segelas air padaku. Dia meminta air hangat, bukan air dingin atau air es. Aku mengatakan padanya kalau dia sudah seperti kakek-kakek yang tidak bisa meminum air es. Saat mendengar ejekanku dia langsung berlari mengejarku, namun dia terjatuh sebelum dia dapat menangkapku."
"Trus yang membuatmu sedari tadi tersenyum apa?" tanya Reina memotong ucapan Ayunda.
"Makanya dengerin dulu sampai habis", ucap Ayunda kesal, membuat Reina terdiam dan membujuk Ayunda melanjutkan cerita masa lalunya itu.
"Oke, aku lanjut ya... jadi kakakku terjatuh tepat di atas seorang anak perempuan dan mereka tidak sengaja berciuman, ha... ha...", ujarnya menertawakan masa lalu bersama sang kakak.
Reina tersenyum saat melihat Ayunda tertawa lepas, sangat jarang dia melihat Ayunda sebahagia itu. "Sepertinya, masa lalumu sangat bahagia, Ay. Aku jadi iri padamu, btw di mana kakakmu sekarang?" tanya Reina penasaran.
__ADS_1
Ayunda langsung merubah mimik wajahnya saat mendengar pertanyaan Reina. Dia pun mulai menceritakan kisah 12 tahun lalu, yang belum pernah di ceritakannya pada siapa pun. Dia mengawalinya dengan menceritakan kisah pedih saat terjadinya perceraian ke dua orang tuanya. Ayunda mengatakan, bahwa perceraian itu terjadi hanya karena kesalahpahaman. Ada yang sudah menyebarkan berita hoax tentang perselingkuhan sang bunda.
Ayunda menarik nafas dalam-dalam, ada sesak di dadanya saat akan melanjutkan cerita kenangan itu.
"Kalau Kau belum siap untuk menceritakannya jangan di paksa", ucap Reina dengan lembut.
"Maafkan aku, lain kali akan aku sambung lagi", ujarnya yang sudah mulai menitikkan air mata.
Reina membalas dengan anggukan, dia paham pedihnya hati Ayunda saat ini, meskipun Reina tidak pernah mengalami kejadian seperti itu. Dia berharap kejadian itu tidak akan pernah terjadi pada ke dua orang tuanya. Reina tidak bisa membayangkan, jika dia berada di posisi Ayunda. Mungkin dia akan menjadi anak yang tertutup dan sulit bergaul.
Dosen yang mengajar pun masuk, mengalihkan perhatian mereka pada sang dosen. Reina merasa bersalah telah membuat Ayunda bersedih. Dia berjanji di dalam hatinya akan menjadi sahabat yang selalu ada buat Ayunda.
***
"Ay, kamu pulang bareng aku aja", ujar Reina saat jam kuliah sudah berakhir.
"Aku gak mau merepotkanmu, rumah kita tidak searah."
"Aku tidak merasa di repotkan, aku mau sekalian singgah di rumahmu", ujarnya sedikit memaksa.
"Aku sangat senang jika Kau berkunjung ke rumahku, tapi... gang menuju rumahku sangat sempit, mobilmu tidak akan bisa masuk", sahut Ayunda.
"Aku bisa berjalan kaki", ucapnya bersikeras.
"Terserah Kau, aku sudah mengatakan dari awal, tapi kalau Kau ragu, Kau bisa berubah pikiran. Aku tidak akan tersinggung", sahut Ayunda.
"Siapa yang mau berubah pikiran, ayo kita ke rumahmu", seru Reina sambil menarik tangan Ayunda.
Mereka pun berjalan ke luar kelas, namun Reina merasa ada yang kurang, "Dafa ke mana ya?" tanya Reina saat tak melihatnya masuk kelas.
Ayunda terdiam sejenak sambil berfikir, lalu dia mengatakan pada Reina bahwa Dafa tidak masuk kelas karena ada acara keluarga. Untuk menghindari kecurigaan Reina, dia mengatakan bahwa saat masuk tadi tak sengaja mendengar berita itu dari teman kampus mereka.
Reina hanya membalas dengan anggukan.
Maaf Reina, aku tidak bermaksud untuk membohongimu, tadi Dafa mengirim pesan padaku, tapi aku gak mungkin mengatakannya padamu. Aku berjanji padamu akan tetap menjaga jarak dengannya, batin Ayunda.
Mereka sudah berada di parkiran kampus, Reina dan Ayunda masuk ke dalam mobil. Setelah mereka sudah menempati bangku masing-masing, Reina langsung melajukan kendaraannya meninggalkan kampus.
*
*
__ADS_1
...Tinggalkan jejak dengan like, vote, coment dan rate β Terima kasih π...
...Happy Reading π...